Saya Laras.

1364 Words
Hancur sudah seluruh dunia yang dimiliki Laras melihat dengan kedua mata dan kepalanya sendiri, penghianatan yang dilakukan Gian bersama Riska, sahabat yang dulu sangat dia sayangi. Sekaligus orang yang mendesaknya untuk segera pergi ke ibukota dan ternyata wanita itu merupakan orang ketiga di dalam pernikahannya dan Gian. Lihatlah perut Riska yang buncit kini diusap Gian, dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka berdua bisa bertemu? Mereka berdua bisa menikah dan kini sedang menunggu kehadiran buah hati sama seperti dirinya. "Mari saya bantu!" ucap seorang pria berpakaian serba hitam mengulurkan tangannya untuk membantu Laras berdiri, sekaligus memutuskan pandangannya pada Gian dan Riska. Namun Laras menggelengkan kepalanya menolak bantuan dari pria tersebut. "Terima kasih. Tapi saya bisa sendiri," tolak Laras membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya. Dia juga berusaha berdiri tegak meskipun sebenarnya tak lagi mampu karena kedua kakinya terasa lemas harus melihat kenyataan pahit di depan sana. "Kalau boleh saya tahu mereka berdua siapa?" tanyanya menunjuk Gian dan Riska yang ada di teras rumah. "Oh, itu majikan saya. Kenapa Mbak apakah mengenal mereka berdua?" Laras menganggukkan kepalanya. "Saya mengenal majikanmu yang perempuan. Namanya Riska, bukan?" "Benar sekali. Apakah Mbak ini Laras, teman bu Riska?" "Benar saya Laras." "Ah, kalau begitu silakan masuk Mbak karena saya memang ditugaskan untuk menunggu kedatangan Mbak di depan gerbang." "Terima kasih." Laras memaksakan senyumannya meraih ransel yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. "Biar saya bantu. Mbak-nya jalan terlebih dahulu." Security tersebut mempersilahkan Laras berjalan terlebih dahulu. Barulah dia mengikuti dari belakang membawa ransel milik wanita itu. Memaksakan langkahnya memasuki rumah mewah tersebut Laras berusaha agar senyuman tetap terukir di bibir tipisnya. Dia juga melambaikan tangan kepada Riska seolah-olah tidak mengenal siapa pria yang kini tersentak melihat kedatangannya. "Astaga … Laras, dari tadi aku menunggu kedatanganmu. Aku pikir kamu tidak jadi datang dan hanya mengajakku bercanda saja!" sorak Riska bergegas menghampiri Laras dan memeluknya. "Pak tas itu langsung antarkan ke kamar tamu!" perintah Riska kepada pria yang baru saja membantu Laras membawa ranselnya. "Kamu tahu tidak, suamiku dari tadi sudah tak sabar mengajakku makan di luar. Tapi aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan datang. Karena aku tidak ingin melewatkan kedatanganmu, alhasil dari tadi aku selalu mengulur waktu. Dan sekarang, kamu datang. Ras, aku rindu." Kembali memeluk Laras. Riska tampak bahagia menyambut kedatangan Laras di rumahnya berbeda dengan Gian. Dia terlihat gelagapan dan bingung harus berkata apa ketika kedua istrinya saling berpelukan satu sama lain. "Oh, ya, Laras ini Gian suamiku. Dan Mas Gian ini Laras, sahabat yang aku ceritakan semalam. Betapa berengsek suaminya meninggalkan dia dalam keadaan hamil tua seperti ini. Makanya aku rela mengeluarkan uang agar dia datang ke kota ini. Agar aku bisa menjaganya seperti dulu dia menjagaku," terang Riska begitu antusias memperkenalkan Laras pada Gian. "Gian," ucap Gian mengulurkan tangannya pada Laras untuk berkenalan layaknya seperti orang yang baru saja bertemu. "Laras," sahut Laras menerima uluran tangan Gian. Dia juga mengulas senyum menyembunyikan luka menganga yang tertoreh di hatinya. "Senang berkenalan denganmu," sambung Gian bergegas melepaskan genggaman tangan Laras di tangannya. Genggaman tersebut terasa begitu dingin dan erat. Dia yakin saat ini Laras sudah bersiap untuk memaki dirinya. Sesegera mungkin Gian mencari alasan untuk membela diri agar rumah tangganya dan Riska tidak selesai cukup sampai hari ini. "Loh, kamu kok menangis?" Riska bergegas menyapu air mata di pipi Laras. Wanita itu sudah sekuat tenaga menahan dan menyatakan kepada dirinya semua ini tidak akan membuat kehidupannya selesai namun sial bagi Laras jeritan hatinya tidak bisa disembunyikan. Sehingga air mata mengalir di kedua pipinya begitu deras tak sanggup ditahan sama sekali. "Aku tidak menangis." Laras menghapus air matanya. "Aku hanya terharu dan iri melihat kamu memiliki segalanya. Tidak seperti aku, sudahlah hamil tapi malah ditinggal pergi oleh suamiku. Sedangkan kamu selalu didampingi oleh suamimu, memanjakanmu dan aku lihat betapa besar cinta yang kalian berdua miliki." "Kamu tidak boleh seperti itu." Riska kembali memeluk Laras dan mengusap punggungnya. "Aku yakin laki-laki itu pasti akan menyesal karena telah membuangmu. Kamu itu wanita baik tidak layak diperlakukan seperti ini. Katakan kepadaku seperti apa orangnya aku akan pastikan hidupnya tidak akan tenang karena telah berani membuatmu seperti ini." "Tidak, kamu tidak boleh berbuat buruk padanya." Laras menatap Gian bibirnya bergetar ketika berucap syarat akan besarnya luka yang kini dia tanggung. "Aku yakin tak ada gunanya membalas apa yang telah dia lakukan karena aku yakin setiap luka yang dia torehkan padaku akan ada balasannya suatu saat nanti. Dia akan tau bagaimana menjadi aku, menunggu kepulangannya dalam keadaan hamil muda. Menghadapi cibiran dari para tetangga, harus bekerja serabutan demi menyambung hidup karena seluruh harta peninggalan kedua orang tuaku telah habis dijualnya. Bukannya membahagiakanku tapi, dia malah membuangku seperti sampah." "Lara sudahlah." Riska mengurai pelukannya. "Jangan lagi kamu ingat-ingat masa lalu, sekarang kita tata masa depan dan aku harap ketika kamu bertemu dengannya jangan lagi pernah mau dibujuk untuk kembali membina rumah tangga. Sumpah, aku tidak rela kamu disakiti secara terus-menerus seperti ini. Aku berharap ketika kamu bertemu dengannya langsung saja menuntut perceraian, akhiri rumah tanggamu dan bangkitlah. Aku yakin di luar sana masih banyak pria baik yang layak menjadi suamimu." Laras mengangguk, tanpa memutuskan tatapannya dari Gian yang tertunduk mendengar penuturannya. Meskipun Laras tidak menyebut namanya tapi, Gian tahu kata-kata barusan tertuju padanya. Dia juga bisa melihat dengan jelas kandungan Laras yang sangat besar. Seandainya dia tidak salah menebak sebentar lagi Laras akan melahirkan buah hati mereka. Masih segar di ingatan Gian saat dia meninggalkan Laras. Wanita itu dalam keadaan hamil muda, mual muntah begitu parah di pagi sebelum keberangkatannya. Sekarang istrinya itu berdiri tepat di hadapannya dan jelas terlihat Laras sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Laras terlihat kurus dan kantung matanya yang menghitam. Tanpa dijelaskan Gian tahu hari-hari yang dilewati Laras pastilah amat berat tanpa pendamping. Sangat berbeda dari Riska wanita itu tampak segar dan berisi. "Ayo kamu ikut dengan kami makan siang di luar, sekalian memeriksakan kandunganmu ini!" Laras menggelengkan kepalanya, dia kembali tersenyum. "Bolehkah aku menolak kali ini? Jujur saja aku benar-benar lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Kalau boleh aku ingin beristirahat saja di dalam." "Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkanmu ke kamar." Memeluk lengan Laras dan membawa wanita itu memasuki rumahnya. Ketika Laras menginjakkan kaki di ruang tamu semakin sesak saja dadanya melihat foto pernikahan Riska dan Gian, yang terpampang di ruangan tersebut. Sangat jelas terlihat pernikahan antara Gian dan Riska dilangsungkan secara meriah. Berbeda dengan pernikahannya dan Gian dahulu. Laras juga melihat begitu banyak foto kemesraan antara Gian dan Riska terpampang di dinding dan lemari pajangan di sepanjang ruang tamu. "Nah, kamu akan tinggal di sini sampai kapanpun yang kamu inginkan." Membuka pintu sebuah kamar dan mempersilahkan Laras untuk memasukinya. "Terima kasih," gumam Laras tak sanggup lagi berkata-kata ini baru sebatas kamar tamu saja, sudah mewah dan nyaman apalagi kamar utama atau ruangan-ruangan lainnya yang ada di rumah tersebut. "Kalau kamu lapar langsung ke ruang makan saja di belakang ada asisten rumah tanggaku yang akan melayanimu. Aku sudah menyampaikan kepada mereka bahwasanya sebentar lagi kamu akan datang berkunjung dan meminta mereka untuk melayanimu seperti mereka melayaniku. Dan sekarang kamu istirahat." Menuntun Laras untuk duduk di tepi ranjang. "Aku pergi keluar sebentar bersama suamiku, sekalian untuk memeriksakan kandungan. Setelah itu aku pasti akan langsung pulang." "Berapa bulan kehamilanmu?" tanya Laras. Akhirnya lidahnya mampu mengajukan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di hati. Tangannya juga terulur untuk menyentuh perut buncit Riska. "Jalan empat bulan. Doakan semoga sehat sama seperti kandunganmu. Seandainya nanti anakmu laki-laki dan anakku perempuan, atau sebaliknya aku ingin menjodohkan mereka agar tali silaturahmi di antara kita tidak pernah putus." Laras tersenyum masam. Bagaimana mungkin anak mereka bisa dijodohkan sedangkan ayah mereka sama, Gian. Laki-laki yang telah merenggut kebahagiaannya dan malah memulai rumah tangga baru dengan wanita lain. "Ya, sudah kalau begitu aku jalan dulu takutnya Mas Gian terlalu lama menunggu di luar," pamit Riska bergegas keluar dari kamar tamu untuk menghampiri Gian yang tengah menunggunya di teras rumah. Begitu pintu tertutup Laras menelan kuat bongkahan pahit yang kini mengganjal tenggorokannya . Tatapannya begitu nanar, tertuju pada pintu kayu yang menjadi penghalang baginya menjangkau Gian. Laras berusaha menangis seperti tadi agar sakit hatinya sedikit berkurang. Namun, air mata itu telah hilang entah kemana. Menyisakan rasa sakit yang menusuk di dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD