Part 22

1259 Words
“Ya gak apa-apa, gue pengen jadi wanita karir” jawab Zanna “Tiba tiba?” tanya Amanda “Sayang aja gitu sama gelar sarjana gue” jawab Zanna “Kita semua sarjana kali, Zan” balas Amanda “Ya lo kan kerja di perusahaan bokap lo, sementara gue?” tanya Zanna “Lo kerja di perusahaan bokap lo aja” jawab Amanda “Gak bisa, seseorang bakalan remehin gue kalau masuk karena orang dalam” ucap Zanna “Lah siapa yang remehin lo?” tanya Gianina “Ada deh pokoknya” jawab Zanna “Kalau gitu di perusahaan Steve” saran Amanda “Kata dia lagi gak buka lowongan” balas Zanna “Ya sama aja gak sih lo kesannya pakai orang dalam gitu? Kan siapa tahu orang lain gitu sembarang bicara tentang lo” ujar Gianina “Iya sih, tapi sebenarnya gue pengen banget satu perusahaan sama Steve” ucap Zanna sedih “Sabar ya” ucap Gianina Tok! Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu rumah Amanda. “Kayaknya Aleeza deh” tebak Gianina Amanda segera membuka pintu rumah dan benar saja bahwa yang datang adalah Aleeza. “Lama banget, Al” keluh Amanda Aleeza hanya menarik nafasnya dalam dalam kemudian membuang nafasnya secara perlahan. Aleeza masuk dan segera merebahkan dirinya pada sofa milik Amanda. “Santai banget, buk” tegur Amanda “Badan gue sakit banget” balas Aleeza “Kecapekan gak sih?” tanya Amanda Aleeza mengangguk. “Makanya Al, jangan lupa istirahat” ucap Zanna yang mendatangi mereka dengan Gianina “Iya benar, monyet itu walaupun banyak gerak tapi tahu kapan waktu istirahat” ucap Amanda “Lo nyebut gue monyet?” tanya Aleeza Amanda tertawa keras. “Lo tuh yang monyet” balas Aleeza “Monyet bilang monyet” balas Amanda Aleeza hanya mendengus kesal sementara Amanda tertawa. “Kalian bukannya lagi makan?” tanya Amanda “Bareng ajalah, ayo Al!” ajak Zanna Aleeza mengangguk dan bangkit berdiri. Mereka sama-sama menuju meja makan. ******** Steve menatap layar komputer miliknya. Ia sedang memeriksa file-file yang berhubungan dengan meeting yang akan diadakan minggu depan. Drrrttt…. Drrtttt…. Drrrttttt…. Steve melihat ponselnya yang bergetar karena ada panggilan masuk dari Sam. “Apa lagi?” tanya Steve saat menjawab panggilan itu “Hei, kamu di mana?” tanya Sam “Tumben lo nanya gue di mana” ucap Steve “Aku gak bisa nih ke kantor kamu sekarang” ujar Sam “Ha?” tanya Steve bingung ‘Nih anak mabuk apa gimana? Geli banget pakai embel-embel aku-kamu’ batin Steve “Oh aku lagi ada di restoran di dekat kantor aku” ucap Sam “Lo kenapa sih?” tanya Steve “Jangan ngambek gitu dong” ujar Sam Steve memilih untuk diam. “Iya-iya aku bakalan ke kantor kamu” ucap Sam “Jangan ngambek lagi ya” sambung Sam sambil tertawa kecil ‘Gila nih anak’ batin Steve “Nanti kalau kamu ngambek, aku sama siapa dong di akhir pekan ini?” tanya Sam “Gue matiin” ucap Steve “Jangan!” seru Sam “Ha?” tanya Steve “Maksud aku jangan tinggalin aku dulu, aku sekarang mau on the way ke kantor kamu, oke?” ucap Sam “Oke, love you too” sambung Sam sambil memutuskan panggilan itu ‘Teman gue pada gila semua’ batin Steve Steve memeriksa social media miliknya, ia membuka akun i********: Zanna. Dan terlihat di story i********: Zanna, bahwa ia dan teman-temannya sedang menghabiskan waktu bersama. Steve tersenyum kecil saat melihat Zanna yang telihat seperti anak kecil karena ia yang paling pendek dibandingkan dengan ketiga temannya yang lain. Pintu ruangan Steve terbuka dan Steve segera mematikan ponselnya. Terlihat Dean yang masuk bersama Sam sambil tertawa. “Lo gila ya?” tanya Steve “Santai bang, biar adek jelaskan” jawab Sam Dean sudah mulai tertawa. “Gue ketemu mantan gue tadi di restoran dekat kantor gue” ucap Sam “Dan lo tahu? Dia udah punya pacar dan menyapa gue” sambung Sam “Terus?” tanya Steve “Ya gue gak mau kalahlah! Apalagi dia bersikap kalau gue belum move on dari dia” jelas Sam “Gara gue sekarang kebetulan lagi gak ada pacar, jadi gue asal tekan aja” sambung Sam “Jadi gue nelpon lo seakan-akan lo pacar gue, hehe” sambung Sam lagi “Tapi masalahnya nih anak, ketawa ketawa mulu. Hampir aja rencana gue gagal” ucap Sam sambil menunjuk Dean “Habisnya geli gak sih kalau cowok sama cowok cara ngomongnya kayak gitu?” tanya Dean sambil tertawa “Geli, gue aja hampir muntah” jawab Steve “Ya mau gimana lagi, nanti kalau gue telepon yang cewek terus dia keburu baper duluan gimana?” tanya Sam “Kan lebih ribet, malah dibilang gue yang ghosting” sambung Sam “Iya sih” ucap Dean “Terus kalian kenapa ke sini?” tanya Steve “Mengambil udara segar” jawab Dean Sam sontak tertawa. “Udara segar mata lo! Udara segar tuh di luar” ucap Steve Dean terkekeh. “Eh Steve, lo udah kasih tahu Ana gak soal perjodohan lo?” tanya Dean “Belum” jawab Steve “Dia hubungi gue loh kemarin lewat i********:, gue gak enak kasih info nanti malah dikira sembunyiin” ungkap Dean Steve hanya diam, ia tidak merespon apa apa. “Eh mana makanan kita tadi?” tanya Dean Sam mengeluarkan makanan yang mereka bawa. “Lo mau?” tanya Sam Steve menggeleng. “YES!” seru Sam dan Dean senang karena bagian mereka tidak diambil “Basa-basi kan lo nanya gitu?” tanya Steve “Iya dong” jawab Sam Steve memutar bola matanya malas. Sementara Sam dan Dean mulai memakan makanan mereka di ruangan Steve. ****** Karina membuka pintu rumahnya setelah mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. “Kamu ngapain ke sini?” tanya Karina saat menemukan Alex “Aku hubungi kamu gak diangkat-angkat, aku kirim chat gak kamu balas juga” jawab Alex “Aku kira kamu kenapa-kenapa, makanya aku ke sini” sambung Alex “Aku gak apa-apa kok, cuman lagi badmood aja” ucap Karina “Badmood kenapa?” tanya Alex Karina menatap Alex. “Karena kamu tadi mau jumpa sama aku tapi akunya gak ada?” tanya Alex “Enggak, bukan karena itu” jawab Karina “Terus?” tanya Alex “Aku gak apa-apa, kamu balik aja” jawab Karina “Kamu kenapa sih, hm? Aku ada salah?” tanya Alex “Enggak, aku cuman lagi pengen sendiri aja” jawab Karina “Kamu pulang aja ya, aku gak marah kok” sambung Karina Alex yang tidak tahu lagi mau melakukan apa memilih untuk menuruti ucapan Karina. “Atau kamu makan?” tanya Alex “Biar aku belikan” sambung Alex yang kembali bertanya “Aku kenyang, baru aja selesai makan” tolak Karina Alex menghembuskan nafasnya berat. Ia menatap mata Karina dengan pandangan dalam. “Aku suruh kamu pulang, bukan suruh kamu lihatin aku kayak gitu” ucap Karina Alex tersenyum kemudian memeluk gadis itu dengan erat. “Kok meluk sih?” tanya Karina bingung “Maaf ya, kalau aku emang ada salah” ucap Alex Karina berteriak dalam hatinya. Alex tidak mungkin menghianati dirinya. Tapi biasanya semakin manis laki-laki maka ada yang disembunyikan oleh laki-laki itu. Untuk saat ini, Karina hanya bisa membalas pelukan kekasihnya itu. Ia menghargai Alex yang berusaha memperbaiki mood dirinya. ‘Maafin aku ya, kamu bersikap hanget tapi aku malah curiga sama kamu’ batin Karina merasa bersalah ‘Soalnya cewek itu cantik, aku jadi gak percaya diri’ batin Karina lagi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD