Part 24

1262 Words
Flashback On “Eh Steve, lo udah dengar belum?” tanya Kevin, teman sekelas Steve Mereka saat ini sedang menikmati jam kosong karena guru Kimia mereka yang sedang sakit. “Apa?” tanya Steve “Adek kelas yang jadi pacar lo itu udah selingkuh sama ketua kelasnya” jawab Kevin “Bohong lo” ucap Steve tidak percaya “Udah banyak yang bilang loh” ucap Kevin “Iya, udah banyak juga yang lihat” ucap Fino “Mereka sering banget pulang sekolah berdua doang di kelas” jelas Kevin “Cewek gue sekelas sama cewek lo, dan dia juga bilang kalau cewek lo sama ketua kelas itu emang dekat terus sering ketahuan saling lihat lihatan” sambung Fino “Diam deh” ucap Steve ketus “Lo jangan mau dong dibodoh- bodohin! Lo udah ditolak terus kan sama dia selama ini?” tanya Fino “Dan dia tiba-tiba terima lo, lo gak merasa aneh gitu?” sambung Fino “Mungkin dia pacaran sama lo cuman untuk tutupi hubungan mereka, kan si ketua kelas itu juga udah punya pacar” ungkap Kevin “Gak usah sok tahu!” seru Steve mulai kesal “Ya kalau karena uang lo gak mungkin deh kayaknya, dia kan juga kaya, untuk apa dia pacaran sama lo demi uang?” ucap Fino “Udah pasti untuk tutupi hubungan mereka, supaya ceweknya si ketua kelas juga gak curiga sama cewek lo” sambung Fino Steve yang sudah merasa tidak tahan dengan ucapan mereka memilih untuk pergi. Sepulang sekolah, Steve memutuskan untuk mencari Zanna ke kelasnya. Steve yang semakin dekat dengan kelas Zanna melihat bahwa Zanna dan ketua kelasnya itu hanya berdua saja di kelas itu. Steve tiba tiba teringat dengan ucapan Fino dan Kevin tadi. Steve semakin panas saat melihat dengan santainya ketua kelas itu merangkul pinggang Zanna. “WOI!” teriak Steve Ketua kelas itu dan Zanna sontak melihat ke arah sumber suara. “Steve!” panggil Zanna “Ternyata ini kelakuan kamu dibelakang aku?” tanya Steve “Yah ketahuan deh kita” ucap ketua kelas itu untuk memperkeruh suasana “Ketahuan apa?” tanya Zanna bingung “Hubungan kita, kamu gak lupa kan kalau kita pacaran?” tanya ketua kelas itu balik Zanna langsung menghampiri Steve yang sudah sangat kesal. Ketua kelas itu tersenyum miring dan meninggalkan mereka berdua. “Enggak! Ini gak seperti yang kamu lihat” ucap Zanna Steve yang melangkah pergi ditahan oleh Zanna. “Kamu coba dengarin aku dulu!” seru Zanna “Ternyata benar rumor yang dibicarakan sama orang-orang tentang kamu dan laki-laki itu!” seru Steve “Rumor?” tanya Zanna “Kamu gak tahu kalau kebusukan kamu udah dibicarakan sama satu sekolah?” tanya Steve balik “Kamu kok tega sih! Udah dibilang aku gak ada hubungan apa-apa sama dia!” seru Zanna “Aku udah lihat dengan mata kepala aku sendiri, dia dengan santainya ngerangkul kamu dan kamu gak marah sama sekali” ungkap Steve “Tadi itu aku hampir jatuh makanya dia gak sengaja ngerangkul” jelas Zanna “Kamu lihatkan di situ ada peralatan untuk perayaan HUT RI?” tanya Zanna “Kita berdua lagi siapin itu dan aku juga gak nyangka kalau Rio bicara soal hubungan-hubungan gak jelas itu” jelas Zanna “Kamu percaya sama aku kan?” tanya Zanna dengan pandangan berharap “Aku kecewa kamu nerima aku hanya karena mau tutupi hubungan kamu dengan dia” ujar Steve “Kamu ngomong apa sih?” tanya Zanna kesal “Kamu tolak aku merasa gak apa-apa, tapi kali ini aku gak bisa toleransi” jawab Steve “Kita putus” sambung Steve Zanna tidak dapat menahan air matanya. “Steve kita udah pacaran satu setengah tahun, kalau aku nerima kamu hanya karena dia ya lebih baik aku pacaran sama dia lah! Kamu gak mikir apa?” tanya Zanna “Ya udah! Sekarang kamu bisa bebas pacaran sama dia!” seru Steve sambil pergi meninggalkan Zanna Zanna sudah tidak habis pikir dengan Steve. Kalau semudah itu dan seegois itu ia meninggalkan Zanna maka Zanna juga akan melakukan hal yang sama. Flashback Off Steve menatap mata Zanna yang sudah membendung air matanya. Steve langsung mengalihkan pandangannya dari Zanna. Sejujurnya ia tak suka melihat Zanna menangis seperti itu. “Aku udah lama pengen cerita sama kamu soal ini” ujar Zanna Steve melihat pengunjung sekitar yang mulai sadar bahwa Zanna menangis. Zanna menghapus air matanya untuk menghentikan perhatian para pengunjung lain terhadap mereka. Steve tersenyum tipis. “Aku gak malu kok, kamu nangis aja, tumpahin rasa kecewa kamu sama aku selama ini” ucap Steve Zanna menggeleng. “Aku capek nangis” ucap Zanna Steve menatap mata Zanna, mereka saling eye contact. “Aku masih sayang sama kamu” ucap Zanna “Bisa gak sih kamu kasih aku kesempatan sekali aja supaya kita balikan?” pinta Zanna Steve menggeleng. “Seharusnya aku yang ngomong kayak gitu” ucap Steve “Aku salah selama ini aku salah paham sama kamu, jadi tolong maafin aku” sambung Steve “Aku juga gak tahu kalau ternyata Fino dan Kevin itu temannya ketua kelas kamu” sambung Steve lagi “Masa gak tahu sih?” tanya Zanna “Serius! Mereka aja terus-terusan sebutnya ketua kelas, kalau emang kenal seharusnya manggil nama dong? Ternyata mereka pura-pura gak tahu” jelas Steve “Aku minta maaf sebesar-besarnya sama kamu” ucap Steve lagi Zanna mengangguk. “Aku boleh gak dapat kesempatan lagi dari kamu?” tanya Steve dengan lembut “Kita balikan?” tanya Steve lagi Zanna mengangguk. Steve tersenyum senang lalu memeluk Zanna dengan erat. Ia sudah lama ingin memeluk gadis yang kembali menjadi kekasihnya ini. Zanna juga tersenyum senang sambil membalas pelukan Steve karena penantiannya tidak sia-sia. ******* “Eh ketemu lagi” ucap Alvis saat ia sengaja mendatangi cafe miliknya “Gue lagi kerja” ucap Aleeza “Gue lagi gabut nih, gak ada teman sejak balik kesini” ujar Alvis “Ya salah lo! Siapa suruh kekurangan teman” ucap Aleeza “Disini posisinya gue termasuk bos lo gak sih?” tanya Alvis “Hormat dong dikit cara bicaranya” sambung Alvis “Ya, baik tuan” balas Aleeza “Ya gak seformal itu juga” ucap Alvis “Mau Anda apa ya?” tanya Aleeza Alvis terkekeh pelan kemudian menggeleng. Aleeza kembali untuk melayani pelanggan lain. Alvis dengan seksama melihat Aleeza yang fokus bekerja. ‘Duh gue beneran bosan, ngapain lagi ya?’ batin Alvis yang merasa dirinya gabut Prangg! Terdengar pecahan gelas dari salah satu meja. “Duh gimana sih kerjanya!” seru salah satu pelanggan “M-maaf, bu” ucap Aleeza “Yang benar dong kalau kerja! Pandai kerja gak sih?” tanya pelanggan itu ketus “Maaf bu” jawab Aleeza “Ada apa?” tanya Alvis mendatangi meja pelanggan itu “Pelayan ini numpahin kopi panas ke saya!” seru pelanggan itu “Maaf bu sebelumnya, tapi tadi kaki anak ibu yang nyandung kaki saya” jelas Aleeza “Kok salahin anak saya sih? Anak saya masih kecil, ya maklum lah” balas pelanggan itu Alvis menatap Aleeza sekilas. “Jadi ibu mau apa sekarang?” tanya Alvis “Kamu siapa?” tanya pelanggan itu “Keluarga saya pemilik cafe ini” jawab Alvis “Saya mau uang laundry baju dan uang obat karena tadi kopi panas itu tumpah ke paha saya” ucap pelanggan itu “Kok-“ “Ini bu uangnya, sekali lagi sebagai perwakilan meminta maaf atas ketidaknyamanannya” ucap Alvis sambil memberikan sejumlah uang pada pelanggan itu dan memotong ucapan Aleeza Pelanggan itu pun melangkah pergi meninggalkan cafe itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD