Ruang dimensi adalah tempat dimana seseorang akan mendapatkan waktu lebih lama dari waktu yang sebenarnya. Perbandingan antar waktu dalam ruang dimensi dan waktu sebenarnya tergantung dari kemampuan pemilik ruang. Saat ini diketahui Kai Rong bisa membuat ruang dimensi dalam waktu sangat lama. Mungkin saja bisa lebih dari itu.
Pemuda itu terkesima mengetahui bahwa seseorang yang kuat bisa membuat ruang waktu untuk dirinya dan orang yang diizinkan. Suatu kemampuan yang sangat berguna bagi seorang pendekar.
"Lalu bagaimana memiliki kemampuan tersebut?" tanya Long Kirin.
"Belum saatnya kau untuk mengetahui itu, karena saat ini kau belum mampu membuatnya."
Percakapan mereka tidak akan diketahui oleh Yin Kara, karena mereka berkomunikasi lewat telepati.
Kai Rong berpesan kepada Long Kirin setelah menjelaskan tentang Ruang Dimensi, kalau saat ini dia akan bermeditasi sampai waktu yang belum ditentukan. Roh Pedang itu meminta kepada Long Kirin, selama Kai Rong tidak ada, Long Kirin harus berlatih fisik di Bukit Ketentraman.
"Baik, Guru," jawab Long Kirin.
Setelah Kai Rong pergi, Long Kirin mengajak Yin Kara untuk masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan istirahat. Sebenarnya ada keinginan untuk melihat wajah gadis itu, namun Long Kirin tidak ingin mengambil resiko. Dia merasa bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan semua yang telah terjadi padanya.
Ketika telah berada di kamar, Long Kirin segera mencari topeng yang pernah dibelikan oleh Long Yan. Topeng ini akan dia gunakan untuk menutupi setengah wajahnya, agar dia dengan leluasa melihat keindahan dunia.
"Ini dia!" seru Long Kirin saat berhasil menemukan topeng tersebut.
Long Kirin sangat terkesima dengan bentuk benda tersebut, topeng berwarna biru langit yang memiliki ukiran dan bentuk seperti wajah seekor naga, dimana ada anting-anting berbentuk bulan sabit tergantung di sisi kanan dan kiri bawah topeng. Long Kirin langsung memakainya untuk memastikan bahwa topeng tersebut sesuai dengan ukuran wajahnya.
Long Kirin segera menuju kendi tanah liat di samping tempat tidur, berisikan air jernih yang selalu dia gunakan untuk membasuh wajah ketika bangun tidur.
"Seratus persen sempurna."
Setelah melepas topeng itu, dia kembali memandangi wajahnya. Memiliki mata berwarna biru muda dengan alis yang proporsional, hidung mancung serta bibir yang sesuai dengan bentuk wajahnya. Ketika Long Kirin tersenyum, terlihat satu gigi gingsul yang menjadi pemanis tampilan.
Bentuk wajah Long Kirin bisa dikatakan dalam kategori tampan, namun karena kekurangannya yang tidak bisa melihat dan tidak memiliki elemen membuat orang lain acuh kepadanya.
Seperti mimpi, itulah yang dia rasakan saat ini. Long Kirin masih belum percaya bahwa dia mendapatkan anugrah dari Dewa.
Perlahan manik matanya meneteskan air mata ketika ia teringat ayah dan ibunya—Long Yan dan Lin Xie—yang sedang berdoa penuh haru meminta kepada Dewa untuk memberikan anugrah penglihatan kepada Long Kirin. Pemuda itu juga mengetahui bahwa selama ini Lin Xie bekerja keras mencari obat untuknya.
"Kirin'er!" teriak Lin Xie dari dalam kamar. Dia terbangun dari mimpinya.
Long Yan yang sedang tertidur segera terbangun. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.
"A-a-aku bermimpi bahwa anak kita bisa melihat." Lin Xie menjawab sambil meneteskan air mata.
Long Yan langsung memeluk istrinya. "Sudah itu hanya bunga tidur, tenangkan dirimu dan berdoa saja semoga itu benar adanya."
"Aku sudah ...." Lin Xie kembali bercerita kepada suaminya tentang apa yang sudah ia lakukan untuk membuat Long Kirin bisa melihat indahnya dunia.
Yin Kara yang terbangun akibat teriakan Lin Xie hanyamenatap dinding dengan tatapan kosong, hatinya ikut merasakan kesedihan mendalam dari ibu Long Kirin.
Dari dalam kamar, Long Kirin kembali meneteskan air mata saat mendengar semua ucapan dari ibunya. Dia tidak menyangka bahwa selama ini ibunya mencari berbagai cara, sampai-sampai mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membuat dirinya bisa melihat.
Tanpa berpikir panjang, Long Kirin segera memakai topeng yang dia letakkan di tempat tidur sebelumnya. Dia harus memberitahu tentang ini semua, demi membuat ibu dan ayahnya bahagia.
Tak lama Long Kirin telah berada di depan pintu kamar kedua orang tuanya. Dia segera membuka pintu tersebut dengan menggunakan tenaga dalam, karena sebelumnya dikunci.
Long Yan dan Lin Xie terkejut saat anaknya masuk secara tiba-tiba. Suami dari Lin Xie merasa heran, bagaimana anaknya bisa membuka pintu yang telah di kunci dengan kokoh.
"Ibu, Ayah, Ikut aku ke Bukit Ketentraman sekarang! Aku ingin memberikan sesuatu kepada kalian," ucap Long Kirin pelan agar tidak didengar oleh Yin Kara. Pemuda itu lalu melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Lin Xie.
Long Yan langsung menarik tangan kanan istrinya, dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari anaknya. Apalagi dia memakai topeng Naga Langit yang pernah dia beli saat acara di tengah kota.
Ayah dari Long Kirin itu terkejut ketika dia dan istrinya tidak lagi melihat Long Kirin saat keluar kamar.
"Ada yang berbeda dengan anak kita." Long Yan segera mengambil pedangnya di samping tempat tidur.
"Ayo kita ke Bukit Ketentraman."
Long Yan dan Lin Xie bergerak secara diam-diam dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh agar tidak mengganggu tidur Yin Kara, jelas mereka tidak ingin melibatkan cucu dari orang terkuat di kota Lembah Hijau.
Setelah beberapa menit, mereka telah berada di depan gerbang Bukit Ketentraman. Long Yan dan Lin Xie melihat Long Kirin berdiri di bawah pohon persik sambil menatap sang rembulan yang saat ini bersinar sangat indah.
Mereka berdua bergerak mendekati Long Kirin dengan kewaspadaan sangat tinggi, karena sudah merasa bahwa sosok yang berada di depan bukan lagi anaknya. Apalagi saat ini Long Yan sedikit merasakan aura aneh dari tubuh Long Kirin.
"Ibu, Ayah, apa kalian percaya akan keajaiban yang diberikan dari Dewa?" Long Kirin masih terus menatap rembulan.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, katakan siapa kau sebenarnya!" Long Yan mengarahkan pedangnya tepat di samping leher Long Kirin.
Long Kirin tidak menjawab, dia dengan santainya membalikkan badan tanpa takut akan ancaman yang diberikan ayahnya. "Sekali lagi aku ingin bertanya. Apakah Ibu dan Ayah percaya keajaiban dari sang Dewa?"
"Tentu saja, kita sangat percaya kepada mereka." Long Yan masih mengarahkan pedangnya di leher Long Kirin.
"Apa kalian percaya bahwa aku mendapatkan keajaiban itu."
Long Yan menaikan satu alisnya, dia tidak paham dengan maksud ucapan Long Kirin.
"Ibu, Ayah, Xiao Kirin ingin memberikan hadiah untuk kalian." Long Kirin menyebut dirinya Xiao yang artinya si kecil, karena di mata kedua orang tuanya, dia tetaplah anak kecil yang selalu dilindungi.
Long Kirin dengan perlahan membuka topeng, lalu membuka kedua mata dan menatap mereka berdua. "Aku bisa melihat wujud kalian."
Lin Xie dan Long Yan terkejut ketika melihat mata anak mereka berwarna biru muda yang sangat indah.
"Ba-bagaiman bisa? Sayang! Jangan percaya kepadanya! Aku yakin itu bukan anak kita!" Long Yan melompat jauh sambil menarik Lin Xie. Dia masih tidak percaya bahwa anaknya bisa melihat.
Long Yan masih teringat dengan kata para tabib yang pernah mencoba menyembuhkan Long Kirin. Tidak ada cara apapun untuk menolong Long Kirin.