Roh Pedang Dewa itu tersenyum bangga atas keberhasilan Long Kirin melawan Iblis Hati dalam kurun waktu 10 jam. Sungguh menakjubkan karena tidak semua orang bisa melawan iblis hati dalam waktu secepat itu
Biasanya setiap para pendekar membutuhkan waktu setidaknya 10 hari untuk mereka yang dianggap jenius dan lebih dari 1 bulan bagi mereka yang tidak jenius.
Ada sebuah alasan mengapa Long Kirin mampu melakukan dengan cepat. Kesengsaraan yang ia terima sejak mengenal dunia luar serta indra penglihatannya tidak bekerja, membuat Long Kirin belum jauh mengenal hawa nafsu. Tidak lupa juga ada sebuah janji terikat kepada kedua orang tuanya.
Saat ini setelah Long Kirin selesai bermeditasi, dia merasakan ketenangan yang sangat amat berbeda dari yang pernah dia rasakan sebelumnya. Sebuah rasa seperti berada di sebuah taman bunga berbagai macam warna dimana banyak burung kicau menghias suasana. Tidak ada masalah yang membebaninya.
Long Kirin menghampiri Kai Rong setelah selesai memakai kembali bajunya. "Aku telah menyelesaikannya, Paman," ucap Long Kirin sambil memberi hormat.
Kai Rong memberikan senyuman. "Mulai saat ini, kau adalah muridku, Kirin'er."
"Murid memberi hormat kepada, Guru!" Long Kirin kembali membungkukkan tubuhnya dan kedua tangan menyatu, dimana tangan kanan mengepal menyentuh telapak tangan kiri.
Long Kirin saat ini berada di bintang 4 tahap perak dengan 4 titik. Sebuah kemajuan pesat setelah ia berhasil melenyapkan iblis hati dalam ruang hatinya.
"Sekarang buka lah kitab ini." Kai Rong menjentikkan jemarinya, lalu muncul kitab Dewa Perang di depan hadapan Long Kirin.
Long Kirin segera mengambil kitab tersebut, dengan hati yang tenang dia membukanya. Sebuah cahaya kebiruan keluar ketika kitab tersebut dibuka.
Pemuda itu terus membuka setiap lembar demi lembar kitab Dewa Perang sampai halaman terakhir. Ini membuat Kai Rong merasa heran, apakah dia telah selesai membaca dan memahaminya atau bagaimana?
"Apa kau sudah selesai membacanya?" tanya Kai Rong.
"Anu, Guru. Aku terlahir buta, bagaimana aku bisa membaca? Aku hanya melihat sebuah tulisan yang aku sendiri tidak tahu dibaca apa." Long Kirin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Kai Rong segera menyentuh kening Long Kirin dengan telunjuk tangan kanannya. Sebuah cahaya berwarna biru melesat masuk ke dalam kepala Long Kirin.
Seketika otak Long Kirin terangsang menerima berbagai macam ilmu pengetahuan dasar, baik membaca dan menghitung.
"Sekarang bacalah kembali," Ucap Kai Rong.
Long Kirin mengangguk dan mulai kembali membuka halaman pertama dari kitab Dewa Perang. Pemuda itu terkejut karena bisa membaca setiap kata yang ada dalam kitab tersebut.
Kitab Dewa Perang memiliki beberapa tahap, dimana tahap pertama adalah pembentukan tulang. Tahap pertama harus dibantu oleh orang yang sudah menguasai kitab tersebut, dengan menggunakan tenaga dalam dan indra spiritual yang sangat tinggi. Tenaga dalam untuk menghancurkan tulang dan indra spritual untuk menenangkan mental serta kejiwaan.
Proses ini akan sangat amat menyakitkan bagi mereka yang ingin mempelajarinya, karena seluruh tulangnya akan dihancurkan dan dibentuk ulang menjadi tulang baru.
Long Kirin menelan ludahnya setelah mengetahui tahap pertama dalam kitab seperti itu, dia menengadahkan pandangannya ke Kai Rong lalu kembali menatap kitab Dewa Perang.
"Apakah kau takut?" tanya Kai Rong ketika merasakan keraguan dari wajah Long Kirin.
Long Kirin menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. "Aku akan melakukannya, Guru," jawab Long Kirin.
"Baiklah, sekarang ikuti aku." Kai Rong kembali mengibaskan tangan kanannya untuk mengganti tempat.
Sekarang mereka berada di dalam sebuah gua raksasa yang ditumbuhi rumput dan bunga, tepat di tengah-tengah tempat tersebut ada sebuah kolam berwarna putih. Kolam itu bernama Air Surga.Air Surga berfungsi untuk membantu proses pembentukan tulang, karena setiap tetesnya mengandung obat penyembuh.
Kai Rong memerintahkan Long Kirin untuk sekali lagi melepas seluruh pakaiannya dan menyisakan celana menutupi k*********a.
Perlahan Long Kirin menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam kolam Air Surga yang hanya menyisakan kepala agar bisa bernapas.
"Bulatkan tekad dan keberanianmu, Kirin'er. Kita mulai pembentukan tulang." Kai Rong menggerakkan tangan kanannya dan muncul cahaya biru muda, lalu secara perlahan dia menempelkan ke kepala Long Kirin.
Muncul sebuah akar dari dalam kolam Air Surga dan mengikat seluruh tubuh Long Kirin agar tidak terpental saat proses berlangsung.
Seketika Long Kirin berteriak amat sangat keras karena seluruh tulang dalam tubuhnya secara perlahan retak dari dan menghancurkan diri. Tubuh pemuda itu bergetar sangat hebat, sampai-sampai air dalam kolam itu beriak-riak.
Pembentukan dimulai dari tulang tengkorak, leher, punggung, bahu, kedua tangan dan kaki. Long Kirin berteriak sangat kencang saat proses berlangsung. Tidak ada kata berhenti untuknya, karena setelah seluruh tulang dalam tubuh retak dan hancur, maka dia harus menyelesaikan prosesnya. Apabila berhenti, Long Kirin dapat dipastikan akan mati seketika.
Air mata Long Kirin terus mengalir tanpa henti karena menahan rasa sakit yang menyiksa. Dia terus bertanya dalam benaknya, kapan ini akan segera berakhir.
Akhirnya setelah lima hari lamanya proses pembentukan, seluruh bagian tulang Long Kirin menjadi lebih kuat menahan dan menyimpan tenaga dalam dalam jumlah yang besar. Waktu yang sangat sebentar, namun bagi Long Kirin itu amat sangat lama.
"Sekarang kekuatan tulangmu berada di tingkat tulang Dewa Perang. Kekuatan daya tahan tubuhmu menjadi lebih keras dari sebelumnya."
Saat ini terlihat tubuhnya lebih kekar dari sebelumnya setelah keluar dari dalam kolam Air Surga. "Terima kasih, Guru." Long Kirin kembali memberi hormat kepada Kai Rong.
"Lanjutkan ke tahap berikutnya," ucap Kai Rong sambil mengibaskan tangan kanannya. Ruangan kembali berganti menjadi sebuah halaman luas seperti tempat para pendekar berlatih yang dikelilingi oleh hutan.
Tahap kedua dari kitab Dewa Perang adalah ilmu bela diri yang memiliki 10 jurus. Long Kirin diperintahkan oleh Kai Rong untuk menguasai 3 dari 10 jurus yang ada.
Jurus pertama adalah dasar dari ilmu pedang, dimana penggunanya harus bisa menguasai pedang tersebut layaknya mata dan jiwa. Membunuh mereka yang bersalah dan melindungi mereka yang membutuhkan.
Long Kirin melangkah menuju meja yang dimana terdapat sebuah pedang dari kayu. Ia mulai membuat kuda-kuda yang kokoh, lalu menghirup napas dalam-dalam dan mulai menirukan setiap gerakan di jurus pertama. Gerakan-gerakannya yang fleksibel namun mematikan bagi musuhnya.
Setelah menguasai dasar ilmu pedang, Long Kirin melanjutkan ke jurus kedua yaitu 'Auman Naga', dimana penggunanya menarik banyak oksigen lalu melepaskan dengan kekuatan tenaga dalam.
Jurus ini daya rusaknya sangat luas. Siapapun yang berada di dalam radius area 100 meter di dekatnya akan terpental jauh dengan gendang telinga menjadi hancur. Tentu saja ini bisa dikendalikan agar berdampak hanya kepada musuh.
Long Kirin mulai menarik oksigen di tempat tersebut sampai dadanya membesar. Lalu pemuda melepaskannya dengan sekuat tenaga menggunakan tenaga dalam.
"ROARR!"
Teriakan Long Kirin amatlah kuat, namun daya tekanannya masih lemah. Kodok dan hewan kecil lainnya yang berada di sekitar halaman hanya menatap sayu karena kecewa kepada Long Kirin, padahal mereka telah menyiapkan diri untuk menahan tubuh dari terjangan gelombang.
Kai Rong tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi para binatang. "Jika kau ingin menghasilkan lonjakan energi lebih besar, tahan nafasmu selama 10 detak jantung dan lepaskan sekuat tenaga."
Long Kirin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum memaksa. "Akan aku coba lagi, Guru," ucap Long Kirin.
Long Kirin kembali menarik dalam-dalam nafasnya, lalu menahan selama 10 detak jantung. Wajahnya terlihat memerah karena menahan nafas, membuat para binatang di sekitar halaman kembali tertawa.
'Awas kalian!' Long Kirin membatin.
Sayangnya tawa mereka hanya sebentar saja, karena saat Long Kirin melepaskan 'Auman Naga' mereka terpental sampai puluhan meter.
"Rasakan itu binatang sialan!" teriak Long Kirin yang memancing gelak tawa Kai Rong.
Kali ini daya tekanan dari Auman Naga lebih besar dari sebelumnya yang menciptakan gelombang angin dalam radius 10 meter.
Setelah keberhasilannya, Long Kirin terus berlatih dengan menambah waktu saat menahan nafas. Sampai pada akhirnya dia mampu mengeluarkan Auman Naga yang berdampak dalam radius 40 meter.
Kai Rong tersenyum dan berkata, "Lanjutkan ke jurus ke tiga. Jurus kedua bisa kau lanjutkan kapanpun."
"Baik, Guru," jawab Long Kirin sambil memberi hormat.
Long Kirin kembali membuka kitab Dewa Perang untuk melihat jurus ke tiga.
Jurus ke-tiga adalah 'Seratus Pedang Keadilan', dimana penggunanya dapat mengeluarkan pedang berwarna biru muda yang akan menghujam musuh dari segala arah. Tentu saja ini membutuhkan tenaga dalam 100 lingkaran.
Saat ini setelah mendapatkan anugrah serta melewati tahap pertama dalam kitab Dewa Perang, jumlah tenaga dalam milik Long Kirin sudah menjadi seribu lingkaran. Dimana dia telah mampu menggunakan jurus ke tiga sebanyak sepuluh kali.
Kai Rong menciptakan sepuluh boneka kayu untuk alat latihan bagi Long Kirin. Bukan sembarangan boneka kayu, karena yang diciptakan olehnya memiliki daya tahan amat sangat keras. Tujuannya agar tebasan dari jurus ke-tiga menjadi lebih kuat dan tajam.
Roh Pedang Dewa itu memberikan aba-aba untuk Long Kirin memulai menggunakan jurus ke-tiga.
Long Kirin mulai membuat kuda-kuda sesuai arahan dari jurus 'Seratus Pedang Keadilan'. Mengambil nafas dan berkonsentrasi, lalu dia mengeluarkan jurus tersebut.
"Seratus Pedang Keadilan!"
Seketika dari belakang tubuhnya muncul seratus pedang berwarna biru. Long Kirin mulai menebas ke arah para boneka kayu. Seketika seratus pedang itu mulai bergerak cepat menghujam para boneka kayu sampai hancur berkeping-keping.
Kai Rong terkesima akat keberhasilan muridnya. Dia tidak menyangka bahwa kekuatan Long Kirin menaik pesat lebih cepat.
Roh Pedang Dewa itu menghampiri Long Kirin. "Sekarang sudah saatnya kau kembali," ucap Kai Rong.
"Terima kasih, Guru!" Long Kirin memberikan hormat pendekar kepada Kai Rong.
"Aku akan selalu berada dalam pikiranmu, bila kau butuh tinggal panggil saja, maka aku akan langsung muncul di sampingmu."
"Berarti orang lain akan melihatmu, Guru?"
"Tentu tidak, hanya kau saja yang mampu melihatku. Pejamkan kedua matamu." Kai Rong kembali mengibaskan tangan kanannya.
Seketika Long Kirin berada di pinggir hutan dekat tempat tinggalnya. Dia membuka mata perlahan-lahan melihat sekeliling area. Setelah mendapatkan penglihatan lebih baik, dia mulai melangkah ke luar hutan dan menuju kediamannya.
"Kirin!" panggil Yin Kara dari kejauhan.
Long Kirin melambaikan tangan kanannya ke arah Yin Kara, membuat gadis itu merasa bingung.
'Dia melambaikan tangannya tepat ke arahku? Kenapa bisa? Dia kan buta.'
Long Kirin langsung menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan. Pemuda itu berniat untuk tidak langsung memberitahu kepada siapapun tentang kejadian ini, karena dia merasakan takut bila mereka mengetahui fakta sebenarnya.
Long Kirin segera mencari tongkat bambunya. Saat sedang mencari, dia merasakan keanehan. Cincin biru masih berada di jari manisnya, namun dimana pedang yang telah ia dapatkan itu?
"Tenang saja pedang itu berada dalam cincin pada jari manismu, kau hanya perlu memikirkannya. Maka pedang itu akan muncul di tanganmu." Kai Rong memberi penjelasan kepada Long Kirin lewat telepati.
Pemuda itu bernafas lega, dia mengira sebelumnya pedang itu hilang. "Syukurlah," ucap Long Kirin.
Long Kirin segera berjalan menuju Yin Kara dan menutup mata rapat-rapat ketika merasa jarak pandang mulai terlihat jelas, agar gadis itu tidak mencurigai dia.
"Aku kira kau akan lama perginya, Kirin?" tanya Yin Kara.
"Maksudnya? Memang aku pergi berapa lama?"
'Aneh? Kenap dia tidak mengetahuinya?' pikir Yin Kara.
"Kara? Berapa lama?" Long Kirin kembali bertanya.
"Hanya sepuluh menit, memangnya apa yang dapatkan di sana?"
Sontak Long Kirin terkejut, padahal ia merasakan bahwa telah pergi berhari-hari.
"Tidak perlu dipikirkan, karena kemarin kau berada di dimensi ciptaanku, Kirin'er," ucap Kai Rong.