Penyesalan, itulah yang akan dirasakan bagi siapapun ketika melakukan tindakan tanpa memikirkan dampak ke depannya. Baik dan buruknya suatu rencana akan berhasil bila yang melakukan telah paham apa yang terjadi ke depannya.
Long Kirin masih tertunduk menyesal atas perbuatan yang ia lakukan sebelumnya. Wajahnya sayu saat melihat ke segala arah yang banyak sekali mayat-mayat tergeletak dengan berbagai bentuk luka. Suatu pemandangan yang sangat mengerikan bagi pemuda itu.
Melawan iblis hati harus melewati dua tahap. Pertama seseorang akan di uji amarahnya dan kedua berlanjut ke dalam keputusasaan. Tahap pertama memberikan kehancuran bagi orang lain dan tahap kedua menghancurkan diri sendiri.
Tahap pertama telah Long Kirin lewati ketika telah sadar akan perbuatan. Saat ini ia mulai masuk ke dalam tahap kedua. Sebuah penyesalan dimana dia telah membunuh penduduk kota dari berbagai rentang usia.
Tubuh pemuda itu kini bergetar saat melihat kedua tangannya di penuhi darah manusia yang telah dia bunuh. Wajahnya memucat dengan tatapan kosong.
"Kau tidak berguna!"
"Kau pembunuh!"
"Memang benar-benar keturunan iblis!"
"Membunuh tanpa ampun!"
"Iblis!"
"Iblis!"
"Iblis!" Suara-suara tersebut terus menghantui pikirannya, berusaha membuat Long Kirin putus asa dan bertindak gegabah.
Manusia bilamana telah jatuh dalam jurang keputusasaan, mereka akan menjadi gila bahkan sampai berniat mengakhiri hidup dengan bunuh diri untuk menyelesaikan sebuah masalah. Tindakan bunuh diri nyatanya tak akan menghapuskan sebuah masalah, melainkan menambah masalah lainnya yang mungkin saja lebih besar.
Tempat itu kembali berganti dengan sendirinya menjadi sebuah ruangan berwarna merah gelap. Dari dalam tanah keluar banyak rantai berwarna hitam pekat, benda itu meliuk-liuk menuju tubuh Long Kirin yang sedang terduduk. Long Kirin hanya pasrah tanpa perlawanan ketika rantai itu mulai mengikat tubuhnya.
"Aku tidak berguna, lebih baik aku mati." Begitulah kata-kata yang terus terucap dari lisan Long Kirin.
Sebuah cahaya berwarna ungu muncul dari atas tubuh pemuda itu, dimana perlahan membentuk lima gerbang kecil dengan dua pondasi. Gerbang tersebut melesat ke bawah mengunci leher, kedua tangan dan kaki, sehingga membuat dia dalam posisi tengkurap.
Tidak sampai di situ, dari atas pemuda tersebut kembali muncul gumpalan cahaya berwarna hitam dan membentuk sebuah sangkar burung. Sangkar yang menjadi sebuah penjara bagi Long Kirin.
"Kirin'er, mengapa kau bersedih?" tanya seorang perempuan.
Long Kirin menengadahkan pandangannya ke depan, ia melihat seorang wanita yang paling dicintainya. "Ibu," ucap Long Kirin dengan berlinang air mata.
"Aku telah membunuh orang, Ibu. Aku, aku tidak pantas untuk hidup."
Sosok Lin Xie mendekati Long Kirin, ia duduk dengan kedua dengkul menjadi pondasi. Mengangkat pandangan anaknya dan berkata, "Setiap manusia memiliki kesalahan masing-masing. Itulah cobaan dari Dewa. Kau harus memilih, menebus dosamu atau berdiam diri dalam keterpurukan?"
"A-aku takut dan malu untuk menebus dosa. Tidak ada tempat yang baik bagiku, Ibu."
"Kau telah keliru, Kirin'er. Setiap manusia memiliki kesempatan kedua. Hadapi yang harus dihadapi, menerima apapun yang akan terjadi kedepannya. Kau adalah anakku, Kirin'er." Lin Xie mengelus pelan kepala anaknya. "Tunjukkan kepada Ibumu ini, bahwa ibu tidak menyesal mempertaruhkan nyawa melahirkan kamu ke dunia." Sambung Lin Xie.
Kata-kata dari Lin Xie membuat Long Kirin tersentak dari keterpurukan, karena itu adalah sebuah janji yang pernah ia ucapkan dulu di depan kedua orang tuanya dulu.
"Ibu, aku akan membuktikan semuanya bahwa kau tidak menyesal melahirkan aku ke dunia ini. Ayah! Aku berjanji akan menjadi anak yang berbakti kepadamu!" Itulah janji yang ia ucapkan dulu saat malam hari ketika melihat Long Yan dan Lin Xie berpelukan di bawah sinar sang Dewi Bulan, meratapi nasib anaknya di halaman belakang rumah.
"Janji, aku telah berjanji kepada ayah dan ibu. Aku harus bangkit!" teriak Long Kirin.
Pemuda itu dengan semangat membara mencoba bangkit melepaskan tubuhnya dari belenggu lima gerbang dan rantai hitam.
"HEAAHH!!!" teriak Long Kirin saat sesudah melepaskan seluruh belenggu.
..
Kai Rong tersenyum bangga melihat Long Kirin berhasil melewati kedua tahap untuk melenyapkan iblis hati. Tangan kanannya bergerak ke atas mengambil beberapa buah persik dan memakannya.
"Harapan dan janji adalah kunci melewati kedua tahapan tersebut. Kau telah mendapatkan pelajaran kehidupan, Kirin'er," ucap Kai Rong.
..
Seluruh ruangan berubah menjadi berwarna putih setelah Long Kirin telah bangkit dari keterpurukan. Di depannya saat ini ada sebuah singgasana megah, dimana ada seseorang yang duduk membelakanginya.
Sebelum Long Kirin melangkahkan kaki, tiba-tiba singgasana itu berputar menghadap pemuda tersebut. Tepat di depan hadapannya kini terlihat Long Kirin dengan berpakaian serba hitam. Sebuah pola naga berwarna merah menghiasi jubahnya. Sesekali sulur-sulur kegelapan muncul dari berbagai bagian tubuh sosok Long Kirin hitam.
"Selamat datang di dalam ruang hati, Long Kirin." Long Kirin hitam menyambut pemuda itu dengan senyuman mengejek.
"Tidak perlu basa-basi, tujuanku kesini untuk membunuhmu!" Long Kirin menggerakkan tangan kanannya ke bagian pinggang. Secara perlahan sebuah pedang terlihat sebelum tangannya sampai. Long Kirin mencabut pedang tersebut dan mengarahkan mata pedang ke Long Kirin hitam.
Long Kirin hitam tertawa terbahak-bahak. "Mengapa kau ingin membunuhku? Lebih baik kau menerima keberadaanku ini. Kekuatanmu akan meningkat sangat pesat."
Tentu saja Long Kirin hitam berbohong, karena tidak mungkin terjadi bila seseorang menerima dan bekerja sama dengan iblis hatinya, maka kekuatan orang tersebut meningkat tinggi. Nyatanya hanya meningkat sampai 5 titik dan itulah yang dipilih oleh para pendekar bintang aliran hitam. Apabila seseorang berhasil menguasai iblis hatinya, maka kekuatannya akan meningkat sampai 15 titik. Tentu saja itu akan sangat sulit dan setiap pendekar akan menghadapi cobaan yang berbeda.
"Janjimu hanyalah dusta!" Long Kirin melesat maju dengan pedang yang siap merobek dan membunuh lawan.
Long Kirin hitam tertawa terbahak-bahak saat tebasan demi tebasan pedang menghantam tubuhnya. Ternyata semua serangan itu percuma, karena tubuh Long Kirin hitam layaknya sebuah air yang tidak bisa dipotong-potong oleh pedang.
Long Kirin terkejut ketika tahu semua serangannya percuma, lantas ia mundur beberapa langkah. Matanya fokus mencari kelemahan iblis hati.
"Kau tidak akan mampu membunuhku, karena aku tidak akan bisa tersentuh. Aku hanya sosok iblis hati." Long Kirin hitam kembali tertawa lantang.
Long Kirin masih fokus mencari kelemahan iblis hati, namun tetap saja dia tidak menemukan kelemahannya.
'Mungkin harus membunuhnya dengan sekali serang.' pikir Long Kirin.
Pemuda itu lalu mengalirkan tenaga dalamnya dan menciptakan tanah, air dan api. Long Kirin dengan membabi buta menyerang iblis hatinya tanpa ampun.
Iblis hati menatapi Long Kirin yang tanpa ampun menyerangnya. Sesekali sosok itu menguap seperti mengejek kemampuan Long Kirin.
"Baiklah kalau begitu aku juga akan menyerang dan menguasai tubuhmu!" Iblis hati menggunakan elemen yang sama yang dikeluarkan oleh Long Kirin.
Elemen api dibalas oleh elemen air, begitu sebaliknya dan elemen tanah beradu dengan elemen yang sama.
Pertarungan itu telah memakan waktu hampir satu jam lamanya. Mereka berdua telah bertukar ratusan jurus dari 3 elemen. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa salah satunya akan kalah.
Ini membuat Long Kirin menjadi kesal, lalu ia mengeluarkan jurus yang sama dengan milik ayahnya.
"Pasak Bumi!" teriak Long Kirin.
Seketika dataran bergoncang dan tanah-tanahnya melayang ke atas membentuk sebuah paku yang seukuran gajah. Long Kirin langsung melesatkan kepada Iblis Hati.
Mendapati serangan itu, Iblis Hati membentuk tameng berlapis dari elemen tanah.
Dua kekuatan tersebut beradu sampai menjadi batu-batu kecil yang menyebar ke segala arah.
Saat itu sebuah pecahan batu Pasak Bumi terlempar ke singgasana milik Iblis Hati dan membuatnya berekspresi menahan sakit.
Long Kirin masih belum menyadarinya, ia terus mengeluarkan elemen tanah untuk membunuh Iblis Hati. Sampai sebuah bongkahan batu akibat benturan sesama elemen tanah menghantam singgasana milik Long Kirin hitam.
Iblis Hati teriak kesakitan saat bongkahan batu merusak pondasi singgasana.
Long Kirin mulai menyadari bahwasanya singgasana itulah jantung Iblis Hati, ia kembali menciptakan dua Pasak Bumi berukuran besar dan kecil. Pasak Bumi ukuran kecil tersembunyi di balik yang besar agar Iblis Hati tidak mengetahui bahwa elemen tanah itu mengarah ke singgasananya.
"Kau tidak akan bisa membu-." Ucapan Long Kirin hitam tiba-tiba terhenti saat jurus milik pemuda itu menghancurkan singgasananya.
"Ya kau akan terbunuh," jawab Long Kirin.