Suara

1171 Words
Jia Ye merasa waspada ketika Chou Ji memanggilnya dengan nada sedikit meninggi. Tangannya perlahan menuju gagang pedang untuk berjaga-jaga bila Chou Ji mengetahui fakta sebenarnya. Komandan pasukan itu berdiri dari singgasana miliknya dan berjalan dengan kedua tangan di belakang badan. Dengan wajah yang serius ia berdiri di depan Jia Ye. Suasana menjadi hening dan menegangkan, bahkan para pendekar yang sedang asik pesta arak tidak melanjutkan obrolannya. Chou Ji tertawa lantang dan merubah mimik mukanya berubah menjadi bersahaja. "Apakah aku bisa minta satu lagi? Aku ingin segera naik ke tahap berlian." Jia Ye segera melepaskan tangannya dari gagang pedang. "Sialan kau! Aku kira kau ingin mengajak bertarung. Udah ini ambil satu lagi!" Lelaki itu melemparkan permata itu kepada Chou Ji dan berlalu pergi. "Terima kasih, Teman!" teriak Chou Ji sambil melambaikan tangan kanannya. Setelah berada di dalam ruangan pribadinya, Jia Ye segera mengunci tempat itu dengan tenaga dalam agar tidak diketahui orang lain atas apa yang akan ia lakukan nanti. Jia Ye segera duduk bersila dan mengeluarkan semua permata siluman yang kini tinggal 13 buah, lalu menyerap seluruh inti siluman itu. Butuh waktu selama satu jam untuk dia menyerap seluruh energi dalam benda tersebut. Saat ini kekuatan yang dimiliki Jia Ye telah berada di bintang 5 tahap emas dengan 7 titik, sebuah peningkatan yang sangat mencengangkan. Jia Ye sadar harus menutupi kekuatannya dan memanipulasi agar orang lain hanya tahu bahwa saat ini dia berada di bintang 4 tahap emas dengan tujuh titik. Jika tidak, maka semua orang akan menaruh curiga terhadap dirinya. Lelaki itu kini telah sangat kuat dan masuk dalam jajaran 10 pendekar terhebat di seluruh benua, dimana posisinya berada di urutan yang ke lima. ​​​​​​Bila dia ingin mengendalikan ke lima siluman kuno, dia harus berada di puncak kekuatan, yaitu bintang 5 tahap berlian dengan sembilan titik. Tapi, bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkannya? Pada saat ini dia hanya tahu cara menuju ke sana hanya dengan menyerap inti siluman, entah 100 atau bahkan lebih 1000 permata. "Inti siluman? Apa aku harus mendapatkan inti dari kelima siluman kuno?" Dia berpikir sejenak dengan ke tangan kanan mengelus jenggotnya. "Ya! Hanya dengan itu caranya!" Jia Ye langsung berdiri dan ingin melangkah pergi, namun keinginannya terhenti ketika dia menyadari bahwa tempat dimana siluman kuno itu tersegel tidak diketahui oleh siapapun saat ini. "Argh!! Sialan! Apa yang harus aku lakukan!" Lelaki itu berjalan mengelilingi ruangan pribadinya. Sebenarnya dengan mengandalkan kekuatan kegelapan yang telah bersarang dalam tubuhnya, Jia Ye mampu mencari keberadaan para siluman kuno. Namun segel yang menahan siluman kuno itu menutupi aura kegelapan. Sehingga Jia Ye hanya bisa mencari dengan kemampuan dirinya sendiri. "Perpustakaan Benua Timur! Ya, ya pasti di sana ada buku yang menjelaskan keberadaan segel itu." Namun sekali lagi niatnya terhalang sesuatu, yaitu jarak tempuh. Jarak antar benua ke benua lain adalah 1 juta kilometer dan luas benua itu juga 1 juta kilometer. Bila menggunakan ilmu meringankan tubuh, Jia Ye membutuhkan setidaknya 3 tahun perjalanan dan 5 tahun bila menggunakan kendaraan. Apalagi saat ini harapan itu masih berbayang-bayang karena tidak tentu tempat yang akan dikunjungi olehnya memiliki petunjuk tempat segel tersebut. Makin pusing lelaki itu saat menyadari halangan dan rintangan untuk menjadi orang terkuat di seluruh benua. Bagian keningnya sampai memunculkan urat-urat karena berpikir sangat keras. "Ternyata benar kata para penyair yang sering ada di kota, kesabaran adalah kunci kesuksesan." Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menuju perpustakaan yang ada di Benua Timur, walau harus menempuh jutaan kilometer. .. Malam itu sang rembulan menerangi bumi sangat indah, ditambah deru angin sepoi-sepoi menciptakan kenyamanan bagi para makhluk. Seperti Long Kirin yang saat ini tengah santai berbaring di atap rumahnya yang di temani oleh Kara. Kedua manusia yang berbeda jenis kelamin sedang asik bersenda gurau sambil menikmati nuansa malam. "Bagaimana bulan saat ini, Kara?" tanya Long Kirin. "Indah.. Sangat indah. Cahayanya membuat perasaanku menjadi nyaman." "Seperti itu. Kara, apakah boleh aku tidur dalam pangkuanmu?" "Ada angin apa kau ingin tidur dalam pangkuanku?" "Ingin merasakan kenyamanan seperti yang kau rasakan saat menatap rembulan." "Ya udah, nih silahkan." Yin Kara meluruskan kedua kakinya. Bila manusia normal yang tanpa kekurangan, amat lah mudah baginya meletakkan kepala dalam pangkuan seseorang. Namun berbeda dengan Long Kirin yang indera penglihatannya tak berfungsi, membuat dia harus meraba-raba dengan tangannya. Tangan kanannya mulai meraba untuk menggapai pangkuan milik Kara, namun bukan bagian kaki gadis itu yang ia genggam, melainkan dua harta kembar berharganya yang selama ini ia jaga yang digenggam oleh Long Kirin. ​'Kenyal? Empuk?' Apa ini?' pikir Kirin. ​"Kara, pahamu sangat empuk dan kenyal sekali. Bagian apa ini?" tanya Long Kirin yang mulai meremas-remas gundukan itu. "Kirin!! Lepaskan!!" teriak gadis itu. Ia juga menampar lelaki yang telah menodainya. "Aduh! Kamu kenapa menampar aku sih? Kenapa juga teriak-teriak? Nanti ...." Sebelum dia melanjutkan omongannya, sang ayah berteriak dari bawah. "Kamu kenapa, Kara'er?!" tanya Long Yan, ayah dari Long Kirin itu segera berlari dari kamarnya saat mendengar Kara yang berteriak. Padahal saat itu dia lagi mesra bersama istrinya tercinta. Mungkin ingin memberikan adik kepada Kirin. ​'Mati aku!' gumam Kirin. "A-anu, tadi a-anu itu," jawab Long Kirin. "Ha?! Anu apa?" "Ke-kecoa, ya tadi ada kecoa hinggap di leher Kara, Ayah!" "Kecoa rupanya, Ayah kira kamu ngapa-ngapain sama Kara! Bisa mati Ayah di tangan Patriark Jiang Yu!" Long Kirin hanya tertawa palsu saat sang ayah mempercayai omongan itu. "Ya sudah lanjutkan! Ayah mau berkuda dengan ibumu!" Long Yan segera pergi menuju kamar, dimana sang istri telah menanti dengan manja. 'Berkuda? Maksudnya?' pikir Long Kirin. Plakk!!! Yin Kara kembali menampar pemuda itu, dia sangat marah karena telah ternodai. "Aduh! Kamu kenapa sih menampar aku lagi?" "Kamu menyentuh kesucianku," jawabnya gadis itu dengan tersedu-sedu. "Maksudnya? Katakan apa itu, Kara? Aku tidak paham maksudmu." '"Jangan pura-pura gak paham! Aku tahu kamu ...." "Aku kenapa?" tanya Kirin bingung. Saat ini pemuda itu benar-benar sangat bingung dengan apa yang dimaksud oleh Yin Kara. Apalagi ucapan ayahnya tentang kuda-kudaan. "Sudah lupakan. Ingat! Jangan cerita dengan siapapun. Atau benda kecil di tengah kedua kakimu akan aku potong!" jawab Yin Kara. Dia segera menarik kepala Long Kirin dan meletakkan dalam pangkuannya. Pemuda itu hanya menelan ludahnya saat mendengar ancaman dari Yin Kara. Setelah kejadian itu sampai 30 menit kemudian, tidak ada satupun percakapan antar keduanya. Yin Kara yang merasa ternodai dan malu akibat ulah pemuda itu, sedangkan Long Kirin terdiam kaku ketika mendengar ancaman darinya. Sampai akhirnya kedua manusia berbeda kelamin itu tertidur pulas. Yin Kara menyenderkan kepalanya di tumpukkan jerami yang sebelumnya telah disiapkan oleh dia. Setelah dua jam telah berlangsung mereka terlelap dalam lautan mimpi. Tidak ada satupun yang mengganggu mereka berdua. Sang nyamuk pun entah kenapa tak memburu darah segar dari mereka berdua. Hingga saat sebuah suara bising membangunkan Long Kirin. Suara seperti benda yang berputar sangat cepat. Akibat Long Kirin yang tidak tenang, dimana kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, Yin Kara menjadi terbangun dari mimpi indahnya. "Kamu kenapa, Kirin?" tanya gadis itu, ia mengusap-usap ke dua matanya sambil menguap. "Aku mendengar suara yang sangat bising." "Suara? Suara apa? Aku tak mendengar apapun selain suara hewan malam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD