Kasih Sayang

1284 Words
Keesokan harinya para murid sedang mendengarkan penjelasan dari Lu Mei tentang tingkatan pendekar bintang. Dimana ada 5 tingkatan, dalam satu tingkatan ada 3 tahap, perak, emas dan berlian serta dalam satu tahap ada 9 titik. Artinya setiap pendekar yang ingin masuk dari tahap perak ke tahap emas, dia harus melewati 9 titik tersebut. Pendekar Bintang: -Tingkat 1: Perak: 1-9 Emas: 1-9 Berlian: 1-9 -Tingkat 2: Perak: 1-9 Emas: 1-9 Berlian: 1-9 -Tingkat 3: Perak: 1-9 Emas: 1-9 Berlian: 1-9 -Tingkat 4: Perak: 1-9 Emas: 1-9 Berlian: 1-9 -Tingkat 5: Perak: 1-9 Emas: 1-9 Berlian: 1-9 Saat ini para murid berada pada bintang satu tahap perak dengan 1 sampai 5 titik, dimana hanya Yin Kara yang berada pada titik lima karena jumlah tenaga dalamnya lebih besar dari anak seumuran serta Wong Lee berada dibawah gadis itu, tepatnya pada titik 4. Syarat untuk menaikkan titik, para pendekar harus berlatih dengan keras. Baik menggunakan sumber daya ataupun dengan menghimpun tenaga dalam serta belajar ilmu bela diri. Cara paling mudah menaikan jumlah titik adalah dengan mengkonsumsi berbagai macam sumber daya, namun itu hanya seperti rumah tanpa pondasi. Pondasi dalam pendekar bintang adalah ilmu bela diri. Seorang pendekar bintang tingkat 1 tahap perak dengan 3 titik bisa mengalahkan lawan yang mempunyai 1 sampai 2 titik di atasnya dengan menggunakan ilmu bela diri. Sumber daya pun terbagi-bagi kualitasnya yang ditentukan dari umur sumber daya tersebut, semakin tua umurnya maka semakin tinggi khasiat yang didapatkan. Tentu hari ini tak ketinggalan dengan seorang pemuda yang selalu hadir mengikuti pembelajaran tersebut dengan duduk di luar jendela. Memahami semua penjelasan yang diberikan oleh Lu Mei. Apakah Lu Mei marah? Tentu tidak, karena wanita cantik itu mengetahui Long Kirin tidak akan pernah bisa menjadi pendekar bintang selama dirinya tak memiliki kekuatan elemen, apalagi meridian pemuda itu tak mengalir tenaga dalam sama sekali. Penjelasan selanjutnya anak-anak dipersilahkan mendengar sambil menyantap makanan. Semua hidangan berbagai macam tersaji di meja masing-masing murid, ada yang hanya berupa bakpao berisi kacang hijau sampai makanan mewah seperti ayam goreng, sup daging sapi atau daging rusa yang warna serta rasanya mirip kuah kari. Sedangkan Kirin hanya duduk menahan rasa lapar yang datang ketika mencium semerbak aroma makanan dari dalam ruangan. Untungnya gadis yang selalu membantunya membawa bekal lebih. Kara yang sudah mengambil posisi duduk di dekat jendela, segera memberikan bekal makanan itu secara diam-diam kepada Kirin. Dengan meraba-raba pemuda itu mengambil bekal makanan yang diberikan Kara. Dia juga mengucapkan terima kasih dengan suara sangat pelan. Setelah selesai menyantap makanan itu, Kirin mengembalikan wadah makanan yang terbuat dari kotak kayu kepada Kara. Namun sialnya karena pemuda itu tidak bisa melihat, kotak bekal tersebut terjatuh di samping meja Kara. Sontak seluruh manik mata dalam ruangan menatapnya dengan heran. Gadis itu secepat kilat menyimpan kotak bekal yang sebelumnya jadi wadah santapan, dan berpura-pura mengambil kotak dari Kirin dengan senyum paksa sambil mengisyaratkan kepada mereka untuk lanjut mendengarkan penjelasan Lu Mei. Saat setelah aman, Kirin kembali meraba-raba ke dalam jendela untuk meminta air kepada Kara. Tentu saja Kara telah menyiapkan semuanya untuk Kirin, layaknya seorang istri kepada sang suami. Entahlah apa yang dirasakan oleh Kara terhadap Kirin. Sekedar hanya melindungi atau ada perasaan lain yang terpendam dalam lubuk hati gadis itu. Sialnya Kirin mengulangi kesalahannya, dimana tempat minuman dari bambu itu kembali jatuh saat ia mengembalikan kepada Kara. Semua pandangan kembali tertuju kepada Kara. Mereka penuh tanda tanya, kenapa gadis itu terus menjatuhkan barang-barangnya? "Kamu kenapa, Kara'er?" tanya Lu Mei yang tentu saja tahu fakta sebenarnya, karena matanya sesekali melihat ke arah luar jendela. "A-anu, itu, anu. Tadi tanganku anu. Ke-kesemutan, Guru," jawabnya sedikit terbata-bata. "Begitu rupanya, ya sudah kita lanjut penjelasannya. Jadi...." Sebelum semua murid-murid keluar dari kelas, seperti biasa Kirin telah pergi lebih dahulu agar tidak diketahui oleh mereka. Pemuda itu kembali menuju ke Bukit Ketentraman dengan memukul-mukul pelan tongkat bambunya sebagai petunjuk jalan. Long Kirin kembali melanjutkan latihannya, menyiapkan kuda-kuda yang ia pahami sendiri dari hasil mendengar, lalu memukul-mukul batang pohon persik. "Satu!" "Dua!" "Tiga!" Dia terus berteriak sambil menghitung jumlah pukulan yang ia lancarkan. Setelah sampai lima puluh kali, pemuda itu lanjut melakukan push-up sebanyak 150 kali dan sit-up 150 kali. "Satu! Dua! Tiga! Empat!" Peluh Bulir keringat membasahi tubuh dan bajunya. Tak ada kata pantang menyerah bagi pemuda itu, karena ia masih merasa yakin bahwa dengan berlatih fisik seperti ini akan membentuk tubuhnya menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tentu saja itu hanya hipotesis belaka, karena latihan fisiknya tidak seperti pendekar bintang lainnya yang dimana walaupun dia berlatih keras selama satu tahun, Tubuh Kirin tetap akan lemah karena tidak dilindungi oleh tenaga dalam. Namun setidaknya itulah secercah hal yang paling diyakini dan diharapkan oleh Kirin. Setelah berjuang menyelesaikan push-up dan sit-up, latihan selanjutnya dia mengangkat batu-batu dengan berat 10 kilogram sampai 50 kali angkat. "Satu!" "Dua!" "Empat!" "Eh-?" "Ulang-ulang. Satu!" "Dua!" "Tiga!" teriaknya dengan urat-urat kecil menghiasi leher dan lengan tangannya. Suara burung berkicau riang seperti bersenda gurau di langit berwarna jingga, menandakan waktu latihan kali ini telah selesai. Seperti biasanya Kara telah menanti Kirin di depan pintu masuk Bukit Ketentraman dengan sebuah tabung bambu berisikan air minum. Aliran air sejuk itu membasahi kerongkongan pemuda yang dalam perlindungannya. Mereka berdua duduk di bawah pohon persik sambil memandang langit berwarna jingga dan merasakan nyanyian para binatang dan alam raya. Merasakan sebentar angin sepoi-sepoi yang diberikan oleh Dewa kepada para makhluk di semesta ini. Gadis itu kembali membalut kepalan tangan Kirin dengan sebuah kain bersih yang sudah diberikan ramuan obat herbal untuk menyembuhkan luka. Sekelebat pikiran baik muncul dalam benak Kirin. Dia memang terlahir buta dan tanpa kekuatan elemen, namun dia terlahir dengan memiliki teman yang sangat baik. Itulah yang dipikirkan pemuda itu. Namun berbeda jika orang lain memandangi perlakuan Kara terhadap Kirin, pastilah menganggap mereka berdua adalah sepasang kekasih. "Ayo kita pulang, sebentar lagi waktu makan malam tiba," ajak Kirin. "Kirin, kali ini aku hanya mengantar kau saja sampai di depan rumah. Karena ada kakekku ingin makan malam bersama keluarganya." "Tidak apa-apa, Kara. Ayok kita pulang!" .. Kita tinggalkan kisah percintaan dua remaja itu, saat ini markas tempat Jia Ye berada menjadi heboh, tatkala mereka melihat lelaki itu membawa lima permata siluman puluhan tahun. "Hebat sekali dia!" "Beruntungnya dia mendapatkan lima permata siluman." "Dia pasti kaya dengan menjual permata itu." "Ahh, andai saja aku yang berada di posisinya. Tentu aku akan menjadi lebih kuat dengan menyerap inti kekuatan dalam permata tersebut." Semua orang berbisik-bisik saat Jia Ye berjalan menuju komandan markas pertahanan yang ada di kota Teratai Tunggal. Lelaki tua berambut panjang bersanggul serta janggut sampai perut yang seluruhnya telah berwarna putih. Ada sebuah pedang yang terbelah menjadi dua bagian bersandar di samping kursi duduknya. "Bagaimana kau bisa mendapatkan permata siluman sebanyak itu, Jia Ye?" "Aih, hanya keberuntungan saja. Ketika aku lagi mengelilingi hutan itu, ada lima siluman yang sedang dalam kondisi terluka. Kau pun pasti bisa mengalahkan mereka juga, Chou Ji," jawab Jia Ye. Lelaki tua itu bernama Chou Ji, seorang pendekar bintang empat tahap emas dengan delapan titik. Dia orang terkuat setelah Jia Ye di markas pertahanan itu. Chou Ji memiliki ilmu bela diri pedang ganda, dimana dia mampu membuat pedang lain dari tenaga dalamnya dan mengkombinasikan dengan pedang utamanya. "Apa yang akan kau lakukan dengan permata itu?" tanya Chou Ji. "Tentu saja akan aku serap inti kekuatannya." Jia Ye mengambil satu permata dan memainkan di hadapan komandan itu. "Ambil ini!" sambungnya melemparkan benda itu kepada Chou Ji. "Ahh, kau sangat pengertian kawan!" Jia Ye hanya tertawa dan berlalu pergi menuju ruangannya. Namun sebelum jauh melangkah, Chou Ji menyadari sesuatu. "Jia Ye!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD