Walaupun Jia Ye telah mendapatkan kekuatan yang menaikan setiap aspek kekuatannya, ia memilih untuk lebih meningkatkan lagi kemampuannya. Menurut cerita dari turun temurun, kekuatan yang di miliki oleh para siluman kuno sangatlah luar biasa kuat. Lelaki itu menyadari bila ingin mengendalikannya, ia harus meningkatkan kekuatan sampai batas di mana dia mampu melakukannya.
"Hmm, sebelum pergi akan lebih baik aku membawa permata siluman ini," ucap Jia Ye.
Lelaki itu mengumpulkan semua permata dengan menggunakan tenaga dalamnya, sehingga permata yang ada di tanah menjadi melayang-layang dan perlahan menuju ke kepalan tangan Jia Ye.
Dia mengantongi lima belas permata siluman untuk dirinya sendiri dan sisanya ditunjukkan kepada para petinggi.
Ini akan menaikan popularitas kemampuan Jia Ye, dimana sangat jarang sekali seorang pendekar bintang mampu membunuh dan mendapatkan permata yang dimiliki oleh siluman puluhan tahun. Biasanya siluman hanya keluar satu persatu dalam sekali serang, jika lebih dari satu, biasanya para siluman berpencar. Itulah alasannya mengapa sangat jarang sekali para pendekar bintang mendapatkan permata siluman lebih dari satu.
Setelah semuanya telah siap, lelaki itu segera beranjak pergi menuju markas yang ada di Kota Lembah Hijau.
...
"Apa yang terjadi denganmu?" Seorang wanita berumur 40 tahun berlari mendekati Kirin. Wajahnya terlihat cemas melihat keadaan anaknya yang babak belur dibopong oleh Kara. Ya dia adalah Lin Xie, ibu kandung dari Long Kirin.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Tadi aku terjatuh dari tangga saat pulang dari Bukit Ketentraman," jawab Kirin.
"Lain kali pilihlah jalan yang bagus dan berhati-hati. Sudah kamu duduk di kursi, Ibu akan mengambilkan obat-obatan."
Perlahan gadis manis yang telah menyelamatkan Kirin membantunya untuk duduk, lalu berlalu menuju ke tempat Lin Xie berada.
Lelaki itu meringis kesakitan pada wajah, bahu dan perutnya akibat dari pukulan Wong Lee dan teman-temannya.
'Setiap hari! Setiap hari! Mengapa anakku selalu mendapatkan perlakuan tidak pantas seperti ini. Wahai Dewa! Apa yang dilakukan Kirin pada kehidupan sebelumnya.' Lin Xie menangis tersedu-sedu sambil menumbuk beberapa tanaman obat.
Ini sudah puluhan kali anaknya pulang dalam kondisi terluka dari pukulan. Lin Xie tidak bisa menuntut dan membalaskan kepada mereka yang menyiksa, karena ia dan suaminya tak mampu menghadapi keluarga mereka yang kuat dalam tenaga dalam serta politik. Ditambah lagi sebuah tulisan dalam sebuah kitab bernama 'Manusia Dan Kekuatan' menjelaskan bahwa manusia yang terlahir tidak memiliki kekuatan elemen, dianggap sebagai keturunan iblis. Dimana pada kehidupan sebelumnya orang itu berbuat dosa besar dan pantas untuk dikucilkan serta memperlakukannya selayak malaikat kepada para iblis.
Entah siapa yang menuliskan kitab itu, namun yang pasti orang tersebut berhak mendapatkan hukuman berat. Karena tulisannya lah yang membuat Kirin menderita saat beranjak masuk umur lima tahun.
Dalam kesedihan Lin Xie akan nasib anaknya, sebuah tangan kecil menyentuh pinggangnya.
"Kara," ucap Lin Xie. Ia buru-buru menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Bibi, jangan menangis lagi. Aku berjanji akan terus melindunginya."
"Terima kasih, Kara'er. Kau anak yang baik." Lin Xie memeluk tubuh gadis itu.
"Bibi, kenapa kau percaya dengan omongan dia."
"Omongan? maksudnya?" Lin Xie berpura-pura bertanya, nyatanya dia paham apa yang dimaksud oleh gadis itu.
"Kalau dia jatuh dari tangga. Bibi kenapa percaya?"
Wanita itu segera berjongkok di depan Kara, ia menjelaskan tentang apa itu kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Lin Xie sangat tahu bahwa Kirin terus berbohong selama ini, namun ia sangat yakin kalau tujuan anaknya berbohong untuk tidak membuat Lin Xie khawatir. Dia yakin bahwa anaknya seorang manusia tangguh dan pasti akan ada masa dimana Kirin mendapatkan anugrah dari Dewa.
"Seperti itulah, Kara. Sekali lagi Bibi minta tolong untuk terus membantu dan menemani Kirin ya."
Kara mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo kita obati dia," ajak Lin Xie.
Sambil mengobati Kirin, gadis itu menceritakan bahwa sebulan lagi akan ada pertandingan para pendekar bintang. Dimana ada dua kelas dalam pertandingan itu, kelas pemula dan menengah.
Akan ada banyak para pendekar dari seluruh sekte yang ada di Benua Barat, tentunya dari perwakilan sekte akan ada para pendekar jenius.
Gadis itu juga menjelaskan bahwa ia akan berlatih keras untuk memenangkan pertandingan itu.
"Kau harus hadir saat aku berjuang memenangkan pertandingan itu, Kirin!"
"Aku tidak bisa melihat, mengapa harus hadir?"
"Kau masih bisa mendengar, itu sudah cukup untuk aku." Kara sedikit menekan saat mengolesi obat pada pipi Kirin sampai lelaki itu meringis kesakitan.
"Aww! Pelan-pelan dong!"
"Kalau sampai kau tidak datang. Aku akan buat kau menyesal, Kirin!"
"Iya-iya. Seratus persen aku akan hadir untuk melihat kau berjuang."
"Bagus." Kara tersenyum dan melanjutkan mengolesi obat herbal itu ke tubuh Kirin.
Setelah selesai menyembuhkan Kirin, Lin Xie dan Kara bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sebentar lagi Long Yan—ayah Kirin—pulang dari pekerjaannya menjaga gerbang kota.
Makan malam kali ini Lin Xie menyiapkan makanan kesukaan anaknya, yaitu daging rusa hutan yang dipanggang dengan bumbu rahasia dari keluarga Lin. Sebuah bumbu yang diracik dengan bahan dasar kecap manis dan bawang putih, akan menciptakan semerbak harum menggiurkan perut-perut yang lapar.
Keesokan harinya setelah mendengar ilmu dari Lu Mei dari hasilnya menguping, Kirin kembali pergi ke Bukit Ketentraman untuk mempraktikkan ilmu itu.
Bernapas panjang lalu menahannya selama sepuluh detak jantung. Ini ia lakukan berulang kali dan terus meningkat sampai dua puluh detak jantung. Seperti yang ia dengar dari Lu Mei, bahwa seorang pendekar harus bisa mengendalikan aliran tenaga dalamnya dengan cara seperti ini. Walaupun nyatanya dia tidak memiliki lingkaran tenaga dalam.
Setelah selesai berlatih napas, Kirin berdiri dan menghadap di depan pohon persik kesukaannya.
"Izinkan aku memakai tubuhmu untuk latihan pukulan." Kirin memberi hormat kepada pohon persik itu dengan kepalan tangan kanan bersatu dengan telapak tangan kiri.
Pukulan demi pukulan ia lancarkan ke batang pohon persik itu, sampai tangannya lecet mengeluarkan darah. Ini terus ia lakukan sampai benar-benar tidak sanggup lagi. Setidaknya walaupun dia tak memiliki kekuatan elemen, ia harus memiliki kekuatan fisik untuk menahan pukulan dari mereka yang akan melukainya.
Dari hasil puluhan pukulan ke arah batang pohon persik itu, hanya menghasilkan sedikit cekungan bulat sebesar ukuran kepalan tangannya. Ini dikarenakan Kirin memukul menggunakan tenaga fisiknya, jika ia bisa menggunakan tenaga dalam, tentu saja hanya dengan sekali pukul akan menghasilkan cekungan yang lebih dalam dari hasil saat ini.
Setelah selesai latihan memukul pohon persik, Kirin melanjutkan untuk push-up dan sit-up sebanyak 100x dan dilanjutkan mengangkat batu-batu yang ada di Bukit Ketentraman. Dimulai dengan ukuran sebesar dua kepalan tangan dan meningkat terus menerus.
Tidak terasa sang surya telah berada di arah barat, menandakan sebentar lagi sinar senja akan menghiasi langit pada bumi.
Kirin menyeka bulir-bulir keringat yang membasahi kening dan lehernya dan mengambil tongkat bambu andalannya yang tersandar di bawah pohon persik.
Walaupun Kirin tidak bisa melihat perbedaan pagi, siang, sore dan malam, namun ia bisa mendengar suara para hewan yang ada di Bukit Ketentraman. Dimana ada perbedaan bunyi suara dari gerakan yang ditimbulkan oleh para hewan dan merasakan suhu udara di sekitarnya.
Sebelum Kirin beranjak pergi, seorang gadis telah menantinya di bawah pintu masuk tempat itu dengan tabung bambu berisi air minum di genggamannya.
"Kara? Apa itu kau, Kara?" tanya Kirin.
"Tentu saja, kalau aku Wong Lee sudah pasti kau akan dipukuli." Gadis itu melangkah mendekati Kirin, lalu memberikan tabung bambu. "Minumlah, aku tahu kau berlatih sangat keras hari ini."
"Terima kasih, Kara," ucap Kirin dengan senyuman.
'Tangannya terluka,' gumam Kara.
Gadis itu segera merobek lengan bajunya untuk membalut luka pada tangan Kirin.
"Aw!" keluh Kirin menahan sakit.
"Berapa kali kau memukul pohon itu?" tanya Kara.
"Hmm, mungkin 30 pukulan. Eh? Tunggu, bagaimana kau tahu aku memukul pohon?"
"Semua orang akan tahu dari melihat tempat ini saja, hanya ada pohon persik dan beberapa batu kecil. Tidak mungkin kau memukul batu, pastinya pohon persik bukan?"
Setelah selesai mereka kembali melangkah pulang, tentu saja Kara menemaninya sampai di depan rumah Kirin. Dia sudah janji untuk selalu ada dan melindungi pemuda itu dari gangguan Wong Lee dan lainnya.
Dalam perjalanan pulang, Kara menceritakan latihannya di halaman sekte Api Pelindung milik kakeknya. Beberapa hari ke depan dia juga akan berlatih meningkatkan tenaga dalamnya dan meningkatkan ilmu bela diri dari salah satu kitab yang ada di tempat itu, yaitu kitab Kristal Awan.
"Kirin," panggil Kara.
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita taruhan."
"Taruhan? Taruhan apa?"
"Siapa paling cepat menjadi kuat, dia akan menang dan berhak meminta apapun dari yang kalah."
"Jelas saja kau yang menang Kara," cetus Kirin.
"Tenang saja, aturannya itu kamu harus bisa membuat pohon itu berlubang sampai kepalan tangan muat di dalamnya."
"Lalu kamu?" tanya Kirin.
"Aku harus bisa naik ke bintang dua tahap satu perak. Siapa yang berhasil duluan, maka dia yang menang."
"Hmm, kalau begitu aku setuju."
"Ayo kita berjuang bersama-sama!" teriak Kara.