“Kenapa, Dil?” tanya Diva ketika aku menoleh ke segala arah.
“Entahlah. Aku ....”
Rasanya ada yang mengawasiku dari suatu tempat. Tapi, saat aku mencari, tak ada yang mencurigakan. Semua suasana tampak normal. Aku jadi merinding sendiri saat membayangkan ada orang yang mengintai dan memperhatikan setiap gerakanku.
Begitu sadar kalau hal itu sangat menggelikan, aku tersenyum sendiri. Memangnya siapa aku sampai dibuntuti oleh seseorang. Kaya tidak. Cantik tidak. Pintar tidak. Terkenal juga tidak. Aku hanya gadis biasa yang tidak memiliki keistimewaan.
Maksudku bukan tidak mensyukuri pemberian Allah. Nauzubillah. Semoga aku tidak termasuk orang-orang yang kufur nikmat. Aku bukan siapa-siapa yang berhak menghakimi anugerah Ilahi. Yang aku maksudkan adalah aku tidak seistimewa itu sampai ada yang mengikuti pergerakanku.
Meski begitu, aku yakin sekali kalau ada yang memperhatikanku. Pertanyaannya siapa dan untuk apa dia mengawasiku. Aku tidak punya tanggungan yang belum terselesaikan. Tidak mungkin ada mau menagih utang padaku, kan?
“Adila, kamu kenapa?”
“Apa kamu bisa merasakan kalau ada yang mengawasi kita?”
“Mengawasi? Maksudmu ada orang yang membuntuti kita?”
Kepala Diva menoleh ke seluruh sudut. Matanya menyipit untuk memastikan tidak ada yang luput dari penglihatan. Aku jadi ingin tertawa melihat wajah serius Diva yang tengah mencari pengintai kami. Itu pun kalau memang ada.
Nyatanya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin aku terlalu lelah sampai berhalusinasi. Semalam aku memang tidak bisa tidur nyenyak. Aku memimpikan Ibu yang terus menangis sambil memanggil namaku. Pipiku bahkan basah saat terbangun dari mimpi.
Setelah itu, aku tidak dapat memejamkan mata lagi sampai pagi. Sepertinya aku kurang istirahat dan memikirkan masalah Ibu dengan serius. Sampai-sampai aku merasakan hal aneh begini. Ya. Pasti begitu.
“Tidak ada apa-apa, Dil. Kamu nakut-nakutin orang saja. Aku, kan, jadi parno.”
“Maaf. Kayaknya aku kurang tidur, deh. Jadi mikir yang enggak-enggak.”
“Kamu mimpi buruk lagi?” tanya Diva dengan wajah penuh kekhawatiran.
Aku tersenyum, lalu berkata, “Aku baik-baik saja, Va. Aku sudah lumayan lama tidak memimpikan hal itu. Kamu tenang saja.”
“Terus, kamu mimpi apa? Jangan-jangan ....” Diva memajukan wajahnya. “Kamu mimpi si Arvino itu, ya?”
“Astagfirullah. Kamu, kok, jadi suuzan gitu, sih. Kenapa juga aku mimpi dia.”
Harus aku akui, semalam aku juga memikirkan Arvino. Jangan salah sangka dulu. Aku hanya bertanya-tanya apa dompetku memang ditemukan pria itu. Sebatas itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Kenapa Diva melantur begitu?
Pertanyaan Ayah tentang Arvino memang sempat mengusikku. Ada kesan kalau Ayah ingin bertemu dengan Arvino. Aku tidak tahu apa itu benar atau cuma kekhawatiranku. Tapi, Ayah tampaknya tertarik dengan si Penyelamat.
Mungkinkah karena aku. Sejujurnya, aku dibuat penasaran dengan diriku sendiri. Biasanya aku tidak suka berada di tengah-tengah orang yang tidak kukenal. Karena itulah aku lebih baik menghindari orang baru kalau tidak sedang dengan Diva. Aku tidak nyaman dengan segala hal yang berhubungan dengan keramaian.
Wajar saja kalau Ayah ingin mengenal Arvino. Aku pribadi pun ingin menguak rahasia dibalik sikap anehku padanya. Dia orang pertama yang tidak membuatku takut untuk berkenalan. Ada sesuatu yang menarik dari diri Arvino dan membuatku melupakan trauma. Masa lalu yang penuh penderitaan.
“Kenapa marah begitu? Kalau enggak mimpi dia, ya, sudah.”
Aku menghela napas. Diva benar. Kenapa aku mesti marah. Tapi Arvino memang sedikit spesial. Sekali lagi jangan salah mengerti. Aku merasakan adanya daya tarik dalam nama itu. Setiap mendengar namanya, aku jadi gelisah.
Sikap tenang yang selama ini selalu menjadi kebanggaanku runtuh seketika oleh pria asing yang baru aku temui kemarin. Menurutku, ini bukan hal yang baik. Mengingat Arvino penyebab aku melanggar prinsip yang telah kupertahankan sejak dulu. Dia bukan orang yang halal untukku. Aku tidak bisa terus memikirkannya.
Kenapa hanya dengan sebuah kejadian, banyak hal yang berubah. Aku jadi berani dan tidak ragu saat menjawab pertanyaan orang asing. Aku juga bisa mengendalikan ketakutanku saat melihat anak kecil yang dihakimi masa itu. Sekarang, aku malah mulai memikirkan pria yang belum jelas identitasnya.
Yang kuharapkan adalah segera mengenyahkan bisikan setan yang terus saja menggodaku agar mengingat Arvino. Aku cukup senang karena masalah Ibu tadi malam bisa mengalihkan perhatianku. Ya, walaupun aku mendapat mimpi yang sangat sedih. Setidaknya aku memikirkan sesuatu yang berhak dipikirkan.
Seberapa banyak aku memikirkan tentang Ibu tidak akan menambah dosa. Lain halnya kalau aku melukis wajah Arvino di pikiranku. Nah, itu baru bahaya tingkat tinggi. Aku harus waspada pada pria itu. Perlukah?
Ya, Allah. Mengapa aku bisa membayangkan pria asing itu? Aku memejamkan mata dan mencoba menenangkan hatiku. Biasanya ini aku lakukan kalau pikiranku sangat sulit untuk dikendalikan. Sudah lama aku tidak memakai metode pengendalian diri. Arvino membuatku melakukannya lagi.
“Lindungi hamba dari pikiran yang tak pantas, ya, Allah.”
Kalimat itu terus aku ucapkan dalam hati. Aku tidak akan kalah dengan setan yang berusaha merayuku. Arvino harus segera keluar dari pikiranku. Dia sama sekali tidak boleh memengaruhi dan membuatku lemah.
“Adila!”
“Astagfirullah,” seruku sedikit keras.
Sadar dengan kesalahanku, aku menutup mulut sambil melirik Diva sebal. Apa coba maksudnya mengejutkanku seperti ini. Kalau dia selalu melakukannya, bisa-bisa aku akan jantungan. Senang sekali dia membuatku malu.
Mataku ganti melirik sekeliling yang ramai. Beruntung tak ada yang memperhatikanku dan Diva. Aku lega luar biasa. Sepertinya tidak ada yang menyadari kepanikanku tadi. Lalu, aku kembali beralih pada Diva yang malah memasang tampang garang.
Eh, siapa yang salah dan siapa yang marah? Mengapa seakan aku yang berbuat salah dan dia berhak menghakimiku? Diva ini benar-benar keterlaluan. Tidak bisa begini. Aku sudah cukup lepas kendali. Sudah saatnya kembali pada diriku yang bisa menguasai diri dengan cepat.
“Kenapa aku merasa kalau kamu itu berubah?”
“Berubah bagaimana?”
“Kita duduk dan ngobrol dulu, yuk,” ajak Diva, lalu menarikku ke tempat duduk terdekat. “Ada apa, Dil? Kamu tahu kalau aku selalu mendengarkan apa pun masalahmu. Kita saling berbagi, kan? Aku sahabat yang akan mendukungmu di setiap waktu.”
“Makasih, ya, Va. Kamu yang terbaik.”
“Iya, dong.” Diva tersenyum lebar. “Jadi, apa masalahmu?”
“Aku selalu bermasalah dan merepotkanmu. Maaf.”
“Enggak usah lebay. Kayak kita baru kenalan saja.”
Kupandangi wajah Diva yang sangat cantik. Aku bisa melihat ada yang berusaha dia pendam sejak lama. Meski aku sudah mengatakan kalau dia tak perlu menemaniku terus seperti ini, dia masih saja bersikeras.
“Kamu harusnya lebih banyak menghabiskan waktu melakukan hal-hal yang kamu inginkan. Bukannya selalu menemaniku sepanjang hari.”
“Siapa yang menemanimu sepanjang hari? Aku jarang ke rumahmu kalau malam.”
“Kamu tahu apa maksudku, Va.”
Diva terdiam cukup lama. “Aku melakukan ini karena aku menyukainya, Va. Apa kamu meragukan rasa setia kawanku?”
“Bukan begitu, Va. Aku hanya ingin kamu ....”
“Setelah bersahabat sekian lama, harusnya kamu sudah memahami bagaimana diriku. Aku hanya melakukan apa yang aku sukai. Berteman denganmu juga begitu,” ujar Diva meyakinkan. “Aku memang merasa bersalah padamu, tapi bukan itu alasanku bertahan di sampingmu.”
“Diva, aku ....”
“Aku merasa nyaman berteman denganmu. Karena itu, aku di sini sekarang. Bukan dengan siapa pun di luar sana.”
Mata Diva menunjukkan ketulusan. Aku jadi merasa bersalah karena meragukan tujuannya berteman denganku. Maksudku, kami memang sudah sangat lama dekat. Tapi, setelah kejadian itu, Diva jadi semakin dekat denganku. Menemaniku ke mana saja. Dia tidak membiarkanku sendirian. Padahal sebelumnya, Diva juga suka berkumpul dengan yang lain.
Pembahasan tentang ini sudah sering aku bicarakan dengan Diva dan dia selalu memberi jawaban yang sama. Aku berulang kali mengatakan ini bukan karena hal lain. Aku hanya ingin dia lebih menikmati hidup. Bukannya terus berada di dekatku.
Sesekali aku memang masih merasa takut, tapi aku sudah cukup pintar mengendalikan diri. Seperti saat aku melihat Fadil dihakimi kemarin. Walaupun ada sedikit ketakutan ketika menolongnya. Toh, aku berhasil mengendalikan diri.
“Kamu sebenarnya ketakutan, tapi Arvino datang tepat waktu dan menyelamatkanmu.”
Sudut hatiku memperingatkan. Itu juga benar. Jika Arvino terlambat, aku tidak tahu bagaimana akan menghadapi orang-orang yang menghakimi Fadil. Mungkin aku hanya bisa melihat dari kejauhan dan meminta tolong pada Diva.
Lagi-lagi Diva. Aku sudah sering sekali merepotkannya. Suatu hari, aku harus rela melepas dan memberinya ruang untuk mengekspresikan diri. Aku tidak bisa terus menerus menahannya hanya karena masa laluku yang buruk.
Diva tidak ada kaitannya dengan kejadian itu. Dia memang meninggalkanku, tapi bukan berarti dia yang bersalah. Yang kualami adalah ketentuan yang sudah digariskan. Kalaupun Diva tidak meninggalkanku, akan ada kesempatan lain saat aku sendiri.
“Jadi, apa yang kamu mimpikan tadi malam?”
“Ibuku,” jawabku cepat. Wajah sedih Ibu langsung terbayang.
“Ibumu? Apa yang kamu impikan?”
“Ibu menangis, Va. Apa menurutmu saat ini Ibu belum bahagia?”
“Jangan menyimpulkan hal-hal yang belum jelas, Dil. Itu kan hanya mimpi. Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Diva, lalu mengedipkan sebelah matanya.
“Kamu benar. Tapi, aku seolah bisa merasakan kesedihan Ibu. Aku bahkan menangis saat bangun tidur.”
“Oke. Sepertinya kamu sangat merindukan ibumu. Kamu ingat apa yang kamu katakan padaku saat memikirkan sesuatu yang buruk?” Aku mengangguk. “Kamu juga harus melakukannya. Berdoa dan lebih mendekat pada Allah. Insya Allah kegelisahan kita akan hilang.”
“Makasih sudah mengingatkanku. Akhir-akhir ini aku memang sedikit aneh, kan?”
“Yang benar, sejak kamu menyelamatkan anak itu dan bertemu dengan Arvino.”
“Kenapa bawa-bawa orang lain?” protesku.
“Memang benar, kan?” desak Diva. Aku menghela napas. “Sekarang, ceritakan detailnya.”
“Apa yang mau diceritakan? Kami hanya kebetulan bertemu karena menyelamatkan anak itu.”
“Benarkah? Katamu dia datang setelahmu."
“Memang iya. Aku yang berteriak agar mereka berhenti memukuli anak itu. Lalu, dia datang saat salah satu dari mereka membentakku.”
“Jadi, dia penyelamatmu?” Aku mengangguk. Diva tersenyum lebar. Terlalu lebar malah. Aku jadi curiga kalau dia memikirkan yang tidak-tidak.
“Kenapa tersenyum seperti itu?”
“Apa kamu jatuh cinta pada pandangan pertama?”
Bola mataku nyaris melompat keluar. Apa-apaan Diva itu. Seenaknya mengatakan hal tak masuk akal. Bagaimana bisa dia membicarakan cinta lawan jenis di hadapanku. Dia seharusnya tahu kalau aku tidak mungkin jatuh hati pada pria yang belum berstatus sebagai suamiku.
Karena Arvino mengubah sedikit kebiasaanku, bukan berarti aku jatuh cinta. Aku hanya merasa senang sebab dia datang menyelamatkanku tepat waktu. Bagiku, dia hanya pria baik yang memberikan sedikit kebaikannya padaku. Titik.
Jika aku sempat mengaguminya, itu karena aku tidak pernah berada sedekat itu dengan pria asing. Sikapku memang salah saat aku memperhatikannya di pertemuan pertama kami, tapi aku tidak mencintainya. Aku mengagumi sikap baiknya sebagai sesama makhluk Allah.
Astagfirullah.
Semoga Allah selalu menjaga hati dan pikiranku. Jangan biarkan aku terjerumus dalam rayuan semu yang menjanjikan kebahagiaan di awal itu. Jagalah aku sampai menemukan tambatan hati yang telah Engkau tentukan. Amin.
“Diva, kamu sadar lagi ngomong apa?”
Diva mengerjap sambil mengerucutkan bibir. “Iya, iya. Aku salah. Maaf.”
“Tidak masalah. Aku tahu kamu hanya mencemaskanku.”
“Iya. Aku takut kalau Arvino bisa memengaruhimu, terus kamu nikah duluan sama dia. Padahal, kan, aku yang pengin nikah muda.”
“Ya, Allah, Va. Aku kira kamu sudah sadar. Ternyata masih mimpi, ya?” Diva tertawa pelan.
“Tapi dia lumayan ganteng, lho, Dil. Yakin enggak bakal mau kalau dia melamar kamu?”
“Enggak usah kejauhan mengkhayalnya. Kamu terlalu banyak baca novel, jadi pikirannya ke mana-mana,” kataku meyakinkannya.
Sebenarnya aku juga sedang meyakinkan diriku sendiri. Bukannya tidak menyadari kalau Arvino memengaruhiku. Tapi, aku berusaha membantah. Sejauh ini, aku sudah berhasil menjaga keyakinanku. Bagaimana bisa aku menyerah demi pria yang belum jelas.
Cinta bisa tumbuh kapan saja, di mana saja, dan pada siapa saja. Tapi, bagiku, itu sekadar nafsu dan keinginan untuk disayangi. Kitalah yang harus mengontrol hati dan pikiran. Jangan memberi kesempatan setan untuk berhasil.
Yang perlu aku lakukan sekarang adalah menekan rasa kagumku agar tidak tumbuh menjadi cinta tak pantas. Aku harus memperkukuh pertahanan sebelum bertemu dengan Arvino. Tidak boleh ada rasa yang mengganggu ketenanganku.
“Berapa kali, sih, aku harus bilang. Banyak novel yang terinspirasi dari kisah nyata. Lagi pula, kehidupan kita memang berjalan seperti novel. Ada masa pengenalan, konflik, lalu penyelesaian konflik. Iya, kan?”
Aku menghela napas. “Apa katamu saja, Va. Jadi, sebaiknya kita ke panti sekarang, keburu siang. Oke?”
“Oke. Ayo, pergi.”
***
Panti Asuhan Kasih Bunda
Gerbang panti itu berwarna putih pudar. Setelah masuk, aku bisa mendengar suara-suara berisik dari sebuah ruangan. Pandanganku menjelajah seisi panti yang tidak terlalu luas, tapi tertata dengan rapi.
Diva menarikku ke bagian belakang bangunan bertuliskan perpustakaan. Aku menurut tanpa bertanya. Entah apa yang dilihatnya di balik tempat itu. Dia menunjuk sosok yang tengah berbicara dengan pria yang memakai peci hitam.
Itu Arvino. Wajahnya terlihat jelas dari tempatku berdiri, tapi dia tidak melihat ke arahku. Tampaknya dia sedang berbicara serius dengan pria di hadapannya. Tangan pria berpeci itu mengarah ke suatu bangunan. Lalu, Arvino mengangguk sambil tersenyum.
“Itu si Arvino, kan?”
“Kamu juga harus memanggilnya dengan sebutan mas atau kakak, Va. Dia, kan, lebih tua dari kita,” kataku, mencoba mengingatkan.
“Iya, deh. Karena kamu sudah memanggilnya mas, aku akan mengikutimu.”
Aku menutup mulut Diva ketika dia bersiap untuk berteriak. Kurasa, dia mencoba untuk memanggil Arvino. Tapi, itu tidak sopan, kan? Apa lagi kami sedang berada di panti asuhan sebagai tamu. Sudah semestinya kami menjaga sikap.
Diva menyingkirkan tanganku, lalu memelototiku. Aku meletakkan telunjuk di bibir sambil menggeleng pelan. Meski awalnya cemberut, Diva lantas menghela napas dan mengurungkan niat untuk memanggil Arvino dari jauh.
Sebagai gantinya, aku dan Diva mulai melangkah untuk mendekati Arvino. Tapi Arvino malah berjalan menjauh bersama pria berpeci. Diva sudah bersiap berlari, sebelum aku menahan tangannya. Ini bukan waktu yang tepat.
Sepertinya ada hal yang penting antara Arvino dan pria yang memakai peci itu. Mungkin sebaiknya aku dan Diva menunggu Arvino menyelesaikan masalahnya. Baru kami akan menemuinya. Di mana kami harus menunggu?
“Kita ikuti dia?” tanya Diva.
“Itu terdengar tidak sopan, Va. Apa tidak sebaiknya kita menunggu di sini saja.”
“Oke. Aku rasa itu lebih baik. Kita ....”
“Mbak-mbak ini dari kampus?” Tiba-tiba ada seorang wanita berjilbab yang muncul. Aku rasa dia dua atau tiga tahun lebih tua dariku. Senyumnya mengembang.
“Iya, Mbak. Kami memang dari kampus. Ada apa, ya?”
“Bisa ikut saya sebentar? Saya butuh sedikit bantuan.” Aku dan Diva saling pandang sejenak.
“Bisa. Mbak butuh bantuan apa?” Diva bertanya seraya membalas senyum si wanita berjilbab.
“Ikut saya.” Tanpa bertanya lagi, aku dan Diva mengikuti wanita berjilbab itu.