“Arvino!”
Merasa dipanggil, aku menoleh, lalu berhenti. Hafiz berjalan ke arahku. Pria berpeci itu tersenyum seperti biasa. Kira-kira apa yang ingin dia bicarakan denganku kali ini. Mengobrol dengan orang alim semacam Hafiz membuatku sedikit kikuk.
Bukan karena Hafiz selalu ceramah. Aku sudah bilang kalau dia teman yang baik. Dia tidak pernah menegurku secara langsung. Meski begitu, tetap saja aku merasa gelisah setiap kali berada di hadapannya.
Mungkin karena aku menyadari betapa pengetahuan agamaku sangat sedikit. Padahal kehidupanku sudah sangat nyaman. Banyak sekali orang yang kurang beruntung di luar sana. Mereka harus bersusah payah menjalani hidup. Sementara aku bisa duduk santai, tanpa perlu bekerja keras.
Sebenarnya tidak juga. Aku juga pernah mengalami yang namanya kesusahan. Memang tidak sampai benar-benar terpuruk, tapi aku sempat merasakan kehidupan yang kejam. Sempat ingin menyerah dan menyalahkan takdir karena memberiku penderitaan.
Jika mengingat semua kejadian yang aku lalui, rasanya banyak yang harus disyukuri. Sayang, aku terlalu takut untuk mengenal penciptaku. Padahal aku hanya perlu belajar dan menjalankan semua perintahnya. Toh, itu demi kebaikanku. Tidak ada ruginya aku mempelajari ilmu agama dan mengenal Allah, Sang Khalik, lebih dekat.
Entahlah. Ada yang bergejolak di hatiku ketika ingin mempelajari Islam lebih dalam. Entah karena sejak kecil aku jarang bersentuhan dengan agama atau karena aku yang belum siap. Rasa ragu terus menerorku saat aku mau memulai langkah menuju kebaikan ini.
Atau ini hanya alasanku. Aku belum siap menjadi pribadi yang agamis. Yang akan dibatasi dengan berbagai aturan. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Harus begini, harus begitu. Aku memang tidak mau dikekang dan sulit bergerak.
Tapi, benarkah ketaatan pada Allah akan membuatku kesulitan. Aku tidak yakin sepenuhnya. Aku percaya pada kekuasaan Allah dan segala yang Dia ciptakan. Lalu, mengapa aku merasa berat untuk mengenal dan lebih mencintai-Nya.
Haruskah aku mulai mempelajari agama lebih baik. Walaupun tidak bisa sealim Hafiz, aku ingin mengerti hukum Islam yang benar. Setidaknya, aku bisa merasa sedikit percaya diri ketika bertemu dengan gadis berjilbab yang menggangguku.
Lagi-lagi aku memikirkan Adila. Mengapa sulit sekali menghilangkan bayangan cewek manis itu. Aku jadi ingat tujuanku ke sini. Bukankah aku datang ke panti asuhan karena mau bertemu dengan pengacau pikiranku itu. Di mana dia sekarang? Aku belum bisa menemukan keberadaannya. Semoga kami bisa segera bertemu.
“Mau menemui Fadil?” tanya Hafiz begitu sampai di hadapanku.
Fadil? Ya, ampun. Aku bahkan tidak terpikir untuk menemui bocah itu. Pikiranku dipenuhi oleh wajah Adila yang tersenyum. Kurasa, ada yang tidak beres dengan pikiranku. Bisa-bisanya aku ke panti asuhan tanpa membawa apa pun.
Otakku hanya dipenuhi oleh Adila, sampai melupakan kebiasaanku saat datang ke panti. Bahkan sekotak kue pun tidak kubawa. Benar-benar sangat mengerikan. Apa Hafiz menyadari keteledoranku karena tidak membawa apa-apa?
Tidak. Aku yakin kalau Hafiz bukan orang yang suka memaksa. Sebagai salah satu pengurus panti, dia termasuk yang disukai anak-anak. Sikapnya yang ramah dan sabar menjadi alasan dia mendapat kasih sayang dari para anak asuhnya.
“Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?” tanyaku basa basi.
“Tidak. Dia anak yang baik sebenarnya. Dia hanya butuh waktu untuk tumbuh menjadi anak yang mengerti agama. Sekarang, dia masih ada di kelas. Mau melihat dia belajar?”
“Boleh. Tapi ... apa dia baik-baik saja?” Hafiz mengerutkan kening mendengar pertanyaanku. “Maksudku, apa dia bisa bergaul dengan baik?”
“Sangat baik, Vin,” kata Hafiz sambil tersenyum lebar. “Kamu sudah menanyakan tentang dia pada pengurus desanya?”
“Aku belum ke sana lagi. Mungkin besok.”
“Baiklah. Kalau butuh bantuan, kamu bisa mengatakannya. Aku akan bantu semampuku.”
“Tidak perlu. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Aku harap, Fadil bisa tinggal di sini dengan lebih nyaman.”
“Amin. Ayo, kita lihat dia sedang belajar apa. Dia pasti senang kamu datang,” kata Hafiz, lalu mulai berjalan. Aku mengikutinya.
Sepanjang perjalanan, aku hanya memikirkan Adila. Aku bertanya-tanya apakah dia sudah ada di panti asuhan. Atau dia masih berada di kampus. Sudah hampir satu jam aku sampai di panti dan mengamati gerbang, tapi dia tidak muncul juga.
Hatiku waswas kalau-kalau Adila tidak jadi datang ke panti. Jika begitu, aku tidak jadi melihat wajahnya. Aku menghela napas. Apa seharusnya tadi aku langsung menemui dan mengembalikan dompet itu. Tidak perlu menguping dan malah berakhir di sini. Belum apa-apa aku sudah kecewa duluan.
Oke. Kalau Adila tak kunjung datang. Aku akan nekat mencarinya di kampus lagi. Jika itu pun tidak bisa membuat kami bertemu, aku bakal mengunjungi rumahnya. Ada banyak jalan menuju Roma. Alamat Adila sudah ada di tangan. Hanya perlu keberanian untuk datang dan menghadapi orang tuanya. Semoga mereka orang yang baik.
Ini sangat mengherankan. Kenapa aku ingin sekali berjumpa dengan Adila. Dompet yang tertinggal bukanlah alasannya. Aku bisa menyuruh siapa saja untuk mengembalikan benda itu. Tapi aku tidak melakukannya, karena aku mau melihat wajah gadis itu lagi.
“Fadil terlihat bersemangat, bukan?”
Mataku mengikuti arah telunjuk Hafiz. Di sanalah Fadil, sedang menceritakan entah apa pada seorang pria berpeci yang berada di dekatnya. Dari jarak yang cukup jauh seperti ini, aku tidak bisa mendengar ucapannya dengan jelas.
Walaupun suara Fadil tak terdengar, aku yakin dia sangat bersemangat. Tangannya bergerak ke sana kemari seiring dengan mulutnya yang terus bercerita. Sesekali dia tertawa sambil menutup mulut, lalu menggaruk tengkuk. Senang rasanya bisa melihat senyum bahagia anak itu. Aku harap dia betah di sini.
Menyaksikan Fadil seperti ini, aku teringat Adila lagi. Gadis itu menyimpan banyak misteri. Aku yakin ada yang disembunyikan olehnya. Bagaimana bisa seseorang yang awalnya berani berteriak, berubah takut saat sudah sampai tujuan. Pasti ada yang memengaruhi sikapnya. Aku jadi penasaran dengan masa lalunya. Mungkinkah dia punya trauma?
“Iya. Aku harap dia betah tinggal di sini.”
“Semoga saja. Tapi sepertinya dia anak yang baik. Mungkin ada alasan dibalik aksi mencurinya kemarin,” ucap Hafiz sambil memperhatikan Fadil.
“Aku setuju. Sepertinya dia hanya hidup di lingkungan yang salah. Bukankah kadang lingkungan juga bisa memengaruhi sikap seseorang.”
“Betul sekali. Lingkungan bisa sangat memengaruhi sikap kita. Kalau kita tidak memiliki fondasi yang cukup baik, kita akan terbawa.” Aku mengangguk. “Tapi, apa kamu memikirkan sesuatu?”
“Memikirkan sesuatu seperti apa?”
“Entahlah. Aku merasa kalau ada sesuatu yang sedang mengganggumu.”
“Sebenarnya ....”
Tidak. Aku tidak bisa menceritakan masalah Adila pada Hafiz. Yang ada aku malah mempermalukan diri. Hafiz memang pendengar yang baik, tapi aku rasa permasalahan ini kurang cocok jika dibahas dengannya.
Aku melirik Hafiz yang menaikkan alis. Dia masih diam dan menunggu kalimat lanjutan dariku. Aku menghela napas dan tersenyum padanya. Kuputuskan untuk tidak menceritakan tantang Adila pada pria religius itu.
Senyumku terbit saat mendapatkan ide cemerlang. Aku mungkin tidak bisa menceritakan masalahku padannya. Tapi ada satu hal yang sangat aku inginkan saat ini dan Hafiz bisa membantuku memenuhinya.
“Sebenarnya aku mau minta bantuanmu,” ujarku dengan senyum mengembang.
“Bantuan apa? Kalau sanggup, insya Allah aku bantu.”
“Aku mau belajar tentang Islam lebih baik. Bagaimana menurutmu?”
“Itu keinginan yang sangat baik, Vin. Tapi ....”
Hafiz memperhatikanku dengan saksama. Apa dia menyadari jika ada sesuatu yang aku sembunyikan? Apa belajar agama demi ingin dekat dengan seseorang itu salah? Bukankah kita diperintahkan untuk selalu menuntut ilmu, selama nyawa masih di kandung badan. Lalu, pentingkah mempertanyakan alasan agar menjadi pribadi lebih baik?
Perkara seperti ini sangat penting, tapi aku sungguh tidak mengerti bagaimana cara belajar agama yang benar. Tentu ada hal-hal yang harus diperhatikan agar kita bisa belajar dengan baik. Apa bijak menanyakan ini pada Hafiz.
Sekali lagi, aku menatap Hafiz yang tak kunjung meneruskan kalimatnya. Aku jadi membayangkan yang tidak-tidak. Apa orang sepertiku tidak berhak mempelajari Islam lebih dalam. Apa Islam hanya bagi mereka yang baik.
Tidak. Meski aku tidak memahami Islam dengan baik, aku tahu kalau Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Mereka saling mengingatkan apabila ada yang salah. Saling menguatkan apabila ada yang lemah. Bukankah Islam begitu?
“Apa yang memotivasimu? Kalau boleh aku tahu.”
“Itu ... sebenarnya ....” Aku menelan ludah.
Masa harus kukatakan kalau Adila yang telah mengetuk hatiku untuk mengenal Islam. Kepribadian gadis yang memesona itu sangat menawanku. Karena dia sepertinya berasal dari keluarga agamis, aku juga ingin menjadi bagian darinya.
Ini tidak benar. Mengapa aku bisa mempertimbangkan Adila dalam keputusan sebesar ini. Agama bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Aku tahu sekali hal itu. Lalu, apa yang sedang aku lakukan sekarang? Mempelajari Islam hanya demi bisa mendekati Adila? Mengapa itu terdengar buruk di telingaku.
Seakan aku mau menggadaikan keyakinanku demi seorang gadis yang belum tentu bisa menerimaku. Eits, tunggu dulu. Apa yang baru saja aku katakan. Apa aku baru mengatakan kalau aku berharap Adila bisa menerimaku? Tapi, menerimaku sebagai apa?
Pikiran-pikiran ini bisa membuatku gila. Apa Adila sebegitu penting sampai aku harus mengatasnamakan dia untuk mempelajari agama. Ada banyak hal yang bisa aku jadikan alasan. Seperti, aku ingin lebih dekat dengan penciptaku atau aku ingin memperoleh ketenangan batin atau apalah. Mengapa alasanku terdengar tidak pantas.
Kalau Hafiz sampai mengetahui alasanku yang sebenarnya, apa dia akan bersedia mengajariku. Jujur saja, aku cukup yakin Hafiz tidak akan mempertanyakan penyebab aku ingin mempelajari agama. Maksudku, dia mungkin bertanya, tapi tidak akan memaksaku untuk memberi jawaban.
“Karena?”
Tampaknya dugaanku salah. Mata Hafiz mengatakan kalau dia ingin tahu alasanku yang sebenarnya. Bagaimana ini? Harusnya aku tidak membahas masalah ini dengan dia. Akan lebih baik jika aku mencari guru lain untuk mengajariku ilmu agama.
Aku menghela napas. Apa aku benar-benar menginginkan hal ini? Aku hanya ingin memastikan bagaimana sosok Adila. Kurasa, aku mau mendekatinya dengan cara yang benar. Tentu saja sebagai teman yang dibutuhkannya.
Pertanyaannya teman seperti apa yang diperlukan oleh gadis itu? Seseorang yang bisa menemaninya ke mana pun? Sepertinya dia tipe cewek yang belum bisa diizinkan pergi sendirian. Aku bisa menemaninya kapan saja dan ke mana saja, jika memang itu yang dia butuhkan. Tapi, apa iya begitu?
“Apa harus ada alasan khusus untuk belajar agama?”
“Tentu saja tidak. Sebagai muslim yang baik, kita memang seharusnya mau terus belajar. Semakin memahami agama yang kita anut, akan semakin baik. Dengan begitu, kita bisa lebih dekat kepada Sang Pencipta.”
“Jadi, bisakah kamu mengajariku?”
“Tentu saja. Kapan kamu mau mulai belajar?”
“Nanti aku kabari. Tapi, kapan kamu punya waktu luang? Kamu, kan, orang sibuk. Ke sana sini memberi pidato.”
Hafiz tertawa pelan mendengar omonganku. Memangnya ada perkataanku yang salah? Bukannya apa, Hafiz itu terlalu jarang tertawa. Kalau dia sampai melakukannya, berarti ada yang salah dengan ucapan kita.
Mataku menatap Hafiz, mencoba mencari tahu apa yang menyebabkannya tertawa. Bagian mana, sih, yang menurutnya lucu. Menurutku, tidak ada yang perlu ditertawakan. Tapi, ya, memang begitu. Selera tiap orang berbeda-beda, kan?
“Ada yang salah dengan ucapanku?”
“Bukan salah, hanya saja ....” Hafiz berdeham agar tawanya bisa berhenti. “Maaf, bukannya tidak sopan. Aku hanya merasa lucu. Itu saja.”
“Lucu di bagian mananya?”
“Sebaiknya kita membahas hal lain. Jadi, kamu bisa kabari aku kapan siap memulai belajar. Kamu tahu, kan, kalau kami ada pengajian rutin tiap minggu. Aku rasa, kamu bisa mulai dengan mengikuti kajian kami dulu. Bagaimana?”
“Oke. Sepertinya itu ide bagus. Gratis, nih? Tanpa biaya?”
“Kamu terlalu banyak berjasa pada panti ini. Bagaimana bisa kami meminta bayaran dari donatur tetap kami.”
“Jangan dibahas. Aku tidak mau mengingat itu,” ucapku agak rikuh. Pembicaraan ini terlalu sensitif dan aku kurang menyukainya. “Kajiannya masih setiap Kamis sore, kan?”
“Iya. Masih Kamis sore,” ujar Hafiz memastikan.
“Baiklah. Aku mau jalan-jalan dulu sebentar sebelum pulang. Aku yakin kalau Ustaz Hafiz sangat sibuk. Sebaiknya Ustaz pergi saja.”
“Kamu ini ada-ada saja. Aku tidak sesibuk kamu. Tapi, aku memang harus pergi,” kata Hafiz. “Omong-omong, apa kedatangan kamu hari ini punya tujuan lain?”
“Tujuan lain?”
Bayangan Adila muncul lagi. Tujuanku memang ingin bertemu dengannya, tapi aku belum melihat gadis itu. Semoga saja dia jadi pergi ke panti ini, agar kami bisa bertemu. Ya, semoga aku cukup beruntung hari ini.
“Sebenarnya memang ada sedikit tujuan,” ujarku sambil mengedipkan mata. “Oke. Aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku berjalan cepat meninggalkan Hafiz. Tak kupedulikan lagi jika dia ingin bertanya. Aku mau menemukan Adila secepatnya dan menyelesaikan masalah kami. Aku menepuk pelan tas ransel yang aku kenakan. Ada dompet Adila di dalamnya. Benda yang akan membawa keberuntunganku kali ini.
Pandanganku menjelajahi seisi panti yang tampak lengang. Semua anak masih belajar di kelas masing-masing. Aku mendengar suara-suara ribut dari beberapa kelas. Mungkin gurunya sedang bercerita dan ditanggapi dengan penuh semangat. Atau gurunya sedang berhalangan hadir. Jadi, mereka bermain sendiri.
Dulu, aku termasuk murid yang usil. Ada saja perbuatanku yang membuat semua guru menggeleng-geleng takjub. Saat itu, menjaili teman adalah sebuah kesenangan. Meski begitu, aku memiliki banyak teman. Mereka sempat mencariku ketika aku menghilang. Tapi aku tidak memedulikan hal itu dan memilih pergi jauh.
Sedih juga merasakan tidak memiliki teman setelah tamat dari sekolah. Padahal aku orang yang suka keramaian. Aku menjalin pertemanan dengan siapa saja. Berbeda dengan sekarang, aku cenderung memilih-milih atau malah menghindar.
“Ketika Nabi Musa dan pengikutnya tiba di tepi laut, mereka sangat panik. Di belakang mereka, pasukan Firaun mengejar. Lalu, pertolongan Allah datang. Nabi Musa diperintahkan untuk mengayunkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah. Nabi Musa dan pengikutnya segera menyeberang. Saat mereka sudah berada di daratan, laut kembali menyatu dan memakan Firaun dan para pasukannya.”
Telingaku menangkap suara yang sangat aku kenal. Senyum mengembang tanpa diminta. Dengan langkah tergesa, aku mendekati arah suara itu. Di sanalah dia berada, Adila. Gadis yang membuatku memikirkannya sepanjang malam. Dia tengah berdiri di antara anak-anak yang mendengarkan ceritanya.
“Nah, itulah kisah Nabi Musa yang dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukannya,” ujar Adila dengan senyum tersungging di bibir. “Jadi, apa mukjizat Nabi Musa selain tongkatnya yang bisa menjadi ular?”
“Tongkatnya bisa membelah laut,” jawab seorang anak penuh semangat.
“Betul sekali. Anak pintar.”
Senyum Adila menular padaku. Aku memperhatikan setiap gerakannya yang mahir menceritakan kisah nabi pada anak-anak. Ketika aku tengah serius mengamati, sepasang mata bulat itu membalas tatapanku. Aku sempat terkejut. Bukannya menghindar, aku justru menantang mata indahnya.
Sayangnya, hal itu hanya berlangsung sekejap. Seperti biasa, Adila menunduk. Dia kembali menceritakan kisah nabi yang lain pada anak-anak. Kali ini tentang kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala dan hendak dibakar, tapi tidak mempan.
Adila semakin memesona di mataku. Rasanya aku ingin langsung menghampiri dan menyapanya. Tapi aku urungkan untuk menghormati dirinya. Aku akan menunggu sebentar dan mengobrol dengan gadis itu. Kuharap tidak lama.
“Adila, aku menunggumu di sini.”