“Assalamualaikum.”
Suara Azkia, wanita yang meminta tolong padaku tadi, mengalihkan perhatian anak-anak yang mulanya ribut. Mereka memperhatikan kami yang tengah berdiri, lalu perlahan duduk dengan rapi. Aku memasang senyum sebagai sapaan pada mereka.
Sedikit khawatir saat menatap binar ceria di mata para murid itu. Aku memang menyukai anak-anak, karena itulah aku mengambil jurusan guru madrasah ibtidaiah. Tapi, berada langsung di tengah-tengah mereka terasa berbeda. Seakan aku bisa saja melakukan kesalahan dan membuat mereka kecewa.
Kepalaku menggeleng. Tidak bisa begini. Aku adalah calon guru, sudah sewajarnya aku harus siap mengajar. Setidaknya ini bisa menjadi latihan bagiku, agar kelak menjadi pengajar yang baik dan disukai oleh semua muridku. Impian untuk menghasilkan generasi cemerlang mesti diwujudkan dan ini adalah tangga pertamaku.
Siapa menyangka kalau Azkia meminta kami mengajar kelas yang kosong. Sebenarnya aku tadi mau menolak, tapi Diva dengan semangat menyetujui permintaan Azkia dan berkata kalau ini akan menjadi pengalaman yang baik untuk kami. Aku setuju, walau sempat merasa waswas.
Diva menepuk pundakku dan bertanya ada apa tanpa suara. Aku menggeleng, lalu tersenyum. Saat aku memilih fakultas, Ayah sempat khawatir. Aku tidak bisa berkumpul dengan orang banyak, tapi malah memilih jadi guru. Ketika itu, aku meyakinkan Ayah kalau mengajar adalah keinginanku. Karena inilah Ayah mengizinkan.
“Waalaikumsalam,” jawab semua anak kompak.
“Hari ini, kita kedatangan tamu. Kakak-kakak cantik ini akan mengajar kalian.”
“Assalamualaikum,” sapaku dan Diva berbarengan dan kembali dijawab dengan serentak oleh para murid.
“Saya tinggal dulu, ya. Semoga ini tidak terlalu merepotkan.”
“Silakan. Serahkan mereka pada Adila,” ujar Diva, membuatku melebarkan mata. Bukankah dia yang bersemangat mengajar. Mengapa jadi melimpahkan padaku.
Azkia pergi setelah berpamitan dan memberi salam. Aku langsung dilanda kecemasan. Dalam hati, aku mulai melafalkan doa agar dapat melalui ujian ini. Semoga aku tidak salah menyebutkan sesuatu. Bisa memalukan kampusku.
“Jadi, apa pelajaran kita hari ini?”
“Sejarah Islam, Kak,” celetuk murid manis berjilbab.
“Benarkah? Sebaiknya apa yang harus kita pelajari?” Aku memandangi wajah setiap anak yang berseri sambil memikirkan apa yang cocok aku ajarkan pada mereka. “Bagaimana kalau cerita Nabi Musa?”
Rasa bahagia memenuhi hatiku saat anak-anak menyetujui usulanku. Aku mengerling kepada Diva yang tersenyum lebar. Dia memberi kode oke dengan ibu jari dan telunjuknya. Itu artinya dia memberikan kesempatan untukku untuk bercerita. Sebelum memulai bercerita, aku menghela napas. Ini lebih menakutkan dari pada ujian akhir.
“Baiklah. Kakak akan mulai bercerita, ya,” kataku seramah mungkin, lalu mulai menceritakan kisah Nabi Musa pada mereka.
“Ketika Nabi Musa dan pengikutnya tiba di tepi laut, mereka sangat panik. Di belakang mereka, pasukan Firaun mengejar. Lalu, pertolongan Allah datang. Nabi Musa diperintahkan untuk mengayunkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah. Nabi Musa dan pengikutnya segera menyeberang. Saat mereka sudah berada di daratan, laut kembali menyatu dan memakan Firaun dan para pasukannya.”
“Nah, itulah kisah Nabi Musa yang dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukannya. Jadi, apa mukjizat Nabi Musa selain tongkatnya yang bisa menjadi ular?”
Aku memancing anak-anak di akhir cerita. Ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami dan mendengarkan ceritaku. Jika mereka menyimak dengan baik, pasti tidak akan kesulitan menjawab.
Para murid berbisik-bisik. Mungkin mereka bertukar pikiran untuk meyakinkan jawaban yang benar. Senyumku mengembang menyaksikan antusias mereka memikirkan jawabannya. Senang rasanya bisa sedikit berbagi dengan anak-anak sebaik mereka.
“Tongkatnya bisa membelah laut,” jawab seorang anak penuh semangat.
“Betul sekali. Anak pintar,” ucapku memuji.
Kemudian, aku merasakan aura aneh mengelilingi diriku. Seperti saat berada di kampus tadi. Seakan ada mata yang memperhatikanku dari jauh. Dia mengintai setiap pergerakanku dari suatu tempat. Tapi, untuk apa dan siapa?
Demi mengobati rasa penasaran, aku menggerakkan kepala dan melihat melalui pintu kelas yang sedikit terbuka. Jantungku mendadak berdetak lebih cepat. Apa aku sedang bermimpi atau ini memang benar terjadi.
Arvino berdiri di sana sambil tersenyum ke arahku. Aku menelan ludah. Kami saling tatap sebentar, sebelum aku sadar dan memalingkan wajah, lalu menunduk. Pria itu masih sangat berbahaya. Mengapa dia bisa berada di sini.
Baiklah. Aku memang ingin bertemu dengan Arvino untuk memastikan apakah dia mengambil dompetku atau tidak. Tapi, aku pikir kami akan bertemu dengan cara yang lebih normal. Bukan saat aku berada di kelas dan sedang mengajar. Apa dia tadi melihatku. Ini sedikit memalukan.
“Mau Kakak ceritakan tentang nabi yang lain?” tanyaku pada anak-anak, mencoba mengalihkan perhatian pada sosok Arvino yang mungkin masih melihatku di luar sana.
“Mau.”
“Baiklah. Ada yang tahu apa mukjizat Nabi Ibrahim?” Aku menunggu beberapa saat untuk memberi kesempatan para murid berpikir, tapi sepertinya mereka belum tahu atau lupa. “Nabi Ibrahim itu tidak mempan dibakar api.”
“Wah! Kok, bisa? Cerita, Kak.”
Begitulah. Sekali lagi, aku bercerita. Kali ini tentang Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala dengan kampak, lalu meletakkan kampaknya di leher berhala paling besar. Pada akhirnya, beliau tetap dihukum. Hukumannya adalah dibakar. Tapi, beliau adalah kekasih Allah, jadi Allah menjaganya dari api yang panas.
Setelah itu, aku menoleh pada Diva dan memintanya untuk menggantikanku. Masa aku harus bercerita terus. Gantian, dong. Dia yang punya semangat empat lima ketika disuruh mengajar. Jadi, sekarang giliran dia merasakan asyiknya menjadi guru.
Ingin melihat kembali ke luar. Apa Arvino masih di sana atau dia pergi ke suatu tempat. Apa dia kebetulan berada di sini atau sengaja untuk menemuiku. Tidak mungkin. Dari mana dia tahu kalau aku ada di panti asuhan. Kecuali kalau dia sudah memperhatikanku sebelumnya.
Pikiranku melayang pada kejadian di kampus. Aku juga merasa diperhatikan. Mungkinkah tadi Arvino datang ke kampus untuk menemuiku. Kalau benar begitu, mengapa dia tidak langsung muncul. Atau ini hanya perasaanku saja.
Entah yang mana kejadian sebenarnya. Jika Arvino memang mengambil dompet dan berniat menemuiku di kampus, seharusnya dia sudah melakukan hal itu. Apa aku terlalu percaya diri. Bisa saja dia datang karena ada keperluan lain. Sepertinya dia mengenal orang di panti ini. Karena itu, dia menitipkan Fadil di sini.
“Baiklah. Kelas hari ini kita akhiri di sini, ya.”
Ucapan Diva menyadarkanku. Aku melihat Diva yang juga tengah menatapku. Kurasa, dia tahu kalau ada yang tidak beres. Aku melihat jam di pergelangan tangan. Tak terasa sudah hampir satu jam kami berada di kelas.
Jika diizinkan lagi, aku ingin sekali kembali mengajar anak-anak panti suatu hari nanti. Mungkin aku bisa meminta Azkia untuk memberiku jam. Sekadar berbagi cerita juga tidak masalah. Itu bisa menjadi media belajar untukku agar mahir menyampaikan pelajaran.
Diva mengucapkan salam perpisahan kami dan berpamitan. Kemudian, tangannya menarikku keluar kelas. Mataku menoleh ke sana sini. Arvino tak terlihat di mana pun. Apa dia sudah pergi? Jadi dia bukannya ingin menemuiku.
Astagfirullah.
Mengapa aku merasa kecewa karena bukan akulah alasan Arvino datang ke panti. Bisa jadi bukan dia yang menemukan dompetku. Barang kali, dia datang untuk mengunjungi Fadil. Dia tampak mengkhawatirkan anak itu kemarin.
Pikiranku melantur ke mana-mana dan membayangkan pertemuan dengan Arvino. Kalau dompetku tidak berada di tangannya, untuk apa aku menunggu di sini. Hanya akan menimbulkan lebih banyak hal aneh pada diriku.
“Assalamualaikum.”
Sampai kapan pun suara itu akan selalu menggangguku. Badanku berbalik cepat dan mendapati pria yang tengah kupikirkan di sana. Mengamatiku dengan senyum lebarnya yang khas. Aku melirik Diva yang menghela napas.
“Waalaikumsalam,” jawabku pelan, diikuti oleh Diva.
“Kamu bawa dompet Adila apa tidak?” tanya Diva to the point.
Aku meringis. Tidak bisakah dia berbasa-basi sebentar. Maksudku, bertanya dulu, apa alasannya berada di panti ini. Bukannya langsung menodong dengan pertanyaan seperti itu. Itu, kan, tidak sopan.
Bagaimana kalau bukan Arvino yang mengambil dompetku. Kan, malah memalukan diri sendiri. Kenapa dalam situasi seperti ini kecerdasan Diva tidak membantu. Aku tahu kalau dia orang yang tidak suka bertele-tele, tapi bertanya langsung juga bukan solusi.
“Kalian ke sini hanya untuk bertanya seperti itu atau memang ada kegiatan kampus?” tanya Arvino tenang. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap Diva.
“Kenapa kami harus menjawab pertanyaanmu?”
“Diva,” gumamku sangat pelan. Diva tidak bisa memojokkan Arvino begini. Dia belum tentu bersalah.
“Tidak harus dijawab. Hanya saja, aku penasaran, apa yang membuat kalian ada di sini.”
“Kami mau mencari Mas Arvino,” ujarku sebelum Diva membuka mulut. Gadis itu mengerucutkan bibir. Tak masalah. Nanti dia akan baik dengan sendirinya
“Mencariku? Benarkah? Apa untuk mengambil dompet oranye milikmu?”
“Jadi, Mas menyimpan dompetku?”
Dompetku yang hilang memang berwarna oranye. Warna favoritku. Senang bisa menemukan dompet tersayang itu. Aku memperhatikan Arvino yang sedang merogoh ransel hitamnya. Beberapa saat kemudian, dompet itu sudah di depan mataku.
“Ini dompet milikmu, kan?” Aku mengangguk. “Maaf, aku kemarin sempat membuka dompetnya agar aku bisa menemukan alamatmu.”
“Tidak masalah. Terima kasih,” ujarku sambil menerima dompet itu.
“Mau bertemu Fadil dulu?” Mulutku sudah terbuka, tapi Diva lebih dulu mengeluarkan suara.
“Kami sedang buru-buru. Mungkin lain kali,” ucap Diva sedikit judes.
Aku dan Diva memang harus kembali sebelum zuhur. Ada kajian rutin di kampus. Kami tidak mau ketinggalan acara sepenting itu. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali bertemu dengan anak itu. Apa lagi kemarin aku tidak ikut mengantarnya ke panti.
Ini perasaanku saja atau benar, Arvino terlihat kecewa mendengar perkataan Diva. Mengapa? Dia kecewa karena aku tidak bisa menemui Fadil atau karena aku terlalu cepat pergi. Apa dia berharap kami mengobrol lebih lama.
Astagfirullah.
Hatiku mengucapkan istigfar berulang kali. Mengobrol dengan lawan jenis, terutama Arvino, bukan hal yang baik. Kemarin kami menghabiskan beberapa waktu berbincang dan akibatnya sangat tidak baik untukku.
Inilah alasan kenapa pria dan wanita memiliki batasan dalam bergaul. Akan banyak bencana yang timbul bila kedua makhluk berlawanan jenis ini berkumpul tanpa mengindahkan aturan. Bisa-bisa ada fitnah dan kesalahan lainnya yang lebih fatal.
Manusia memang makhluk sosial. Kita dianjurkan untuk bergaul dengan sesama. Tapi, bukan berarti bisa sembarangan bergaul. Hindari pergaulan yang berpotensi mengakibatkan kita menjadi berperilaku buruk. Pilihlah teman yang baik dan bisa saling mengingat dalam kebaikan.
Aku tidak mengatakan kalau Arvino tidak baik. Hanya saja, kami berasal dari dunia berbeda. Aku tidak bermaksud menghakiminya, tapi dia kelihatan seperti pria yang belum pandai menjaga mata. Dia terang-terangan menatapku, bahkan terkesan menantang.
Sekali lagi, aku bukan menghakimi. Imanku juga masih belum bisa dikatakan sempurna. Aku masih suka terayu bujukan setan. Karena itu, aku butuh teman yang bisa mengingatkanku saat tersesat. Seperti Diva yang walaupun tampak sangar di luar, hatinya sangat lembut dan penuh perhatian.
Belum pernah aku memiliki teman dari golongan adam. Ini sangat dipengaruhi oleh masa laluku yang buruk. Mungkin suatu hari aku akan menceritakan detail peristiwanya. Saat ini, aku sedang tidak ingin mengingatkan.
Terus terang, aku belum siap berbagi dengan orang baru. Trauma masa lalu yang membuatku menutup diri dari keramaian. Kisah pahit yang coba aku sembunyikan selama bertahun-tahun. Cerita yang kuharapkan bisa segera aku lupakan selamanya.
Sudahlah. Aku sudah bilang kalau membicarakan masa lalu itu sangat menyesakkan. Kenapa juga aku mengingat kisah itu. Bukankah tadi kita sedang membicarakan Arvino. Kenapa jadi melebar ke mana-mana.
Sudut mataku melirik Arvino yang mencoba tersenyum. Aku langsung menunduk begitu ketahuan sedang memperhatikan. Sedekat ini lagi dengan Arvino membuat jantungku mau meledak. Sebisa mungkin aku harus menjauh darinya.
Kepalaku sudah membunyikan alarm tanda bahaya. Suaranya memekakkan telinga. Aku mundur dua langkah, lalu mengangkat wajah. Tapi, aku tidak berniat melihat Arvino. Bisa kena peringatan kalau aku sampai melakukannya.
“Sayang sekali. Padahal Fadil ingin bertemu denganmu,” kata Arvino, masih dengan wajah ditekuk. Aku tersenyum singkat.
“Fadil atau Mas Arvino yang mau bertemu dengan Adila?” tanya Diva tanpa berpikir panjang.
Ya, Allah. Diva ini kenapa, sih? Kenapa harus bertanya seperti itu? Membuatku malu saja. Yang lebih memalukan, Arvino malah tertawa. Pria itu semakin aneh saja. Apa coba maksudnya dia tertawa begitu.
“Aku ketahuan, ya?” tanya Arvino di sela tawanya. Aku refleks mendongak mendengar pertanyaan ganjil itu. Kemudian, secepat kilat menunduk lagi ketika dia mengedipkan sebelah matanya padaku.
“Serius? Mas mau ketemu Adila? Kenapa?”
“Diva!” panggilku untuk memperingatkan sahabatku itu agar menjaga ucapannya.
“Maaf. Diva kadang suka bicara sembarangan.”
“Aku tahu, Adila. Temanmu itu punya selera humor yang bagus,” ujar Arvino, masih tertawa. “Tapi, aku serius dengan apa yang aku katakan tadi.”
Jantungku berdetak kencang. Kedua tanganku mencengkeram kedua sisi gamis dengan erat. Aku ucapkan berbagai doa agar aku tidak termakan bujuk rayu pria di hadapanku. Tapi, kalimat yang diucapkan Arvino selanjutnya kembali menggoyahkan pertahananku.
“Aku memang sangat ingin bertemu denganmu, Adila.”