6. Arvino

2268 Words
Pandanganku belum beralih dari dompet berwarna oranye itu. Aku sudah menimangnya berkali-kali dari tadi. Jujur saja, aku ingin sekali meluncur ke kampus Adila dan mengembalikan benda miliknya.  Keberadaan dompet Adila benar-benar membuatku sulit berkonsentrasi. Setiap kali melihatnya, aku selalu teringat wajah manis yang memesona dibalik jilbab. Juga suara merdunya yang menenggelamkan anganku. Sungguh! Semua ini membuatku hilang kendali. Aku merasa gelisah sekaligus bahagia ketika mengingat paras ayu Adila. Terkadang aku tersenyum sendiri begitu mengingat ekspresi lucu Adila selama kami berinteraksi. Adila hanya gadis biasa yang baru aku temui sekali. Mengapa dia bisa memengaruhiku sampai sedemikian rupa. Aku sudah bertemu banyak wanita yang lebih cantik dari Adila. Tidak ada yang bisa memberi pengaruh sepertinya. Mengapa Adila harus berbeda? Jelas sekali ada yang tidak beres. Entah pada diriku atau pada Adila atau pada kami berdua. Apa yang dilakukan Adila hingga membuatku resah. Kami bahkan hanya berbicara beberapa saat. Apa istimewanya gadis itu? “Wah! Dompet siapa, Bos?” “Enggak usah sibuk, deh. Kembalikan!”  Aku menggeram saat Danu malah menjauhkan dompet itu dari jangkauanku. Kapan dia tidak mengacaukan ketenanganku. Aku harus menambahkan kata “Kacau” sebagai nama tengah Danu. Dia sulit sekali dikontrol. “Enggak usah main-main, Dan. Itu punya orang.” “Oh, ya. Coba kita lihat. Siapa pemilik dompet ini.” “Jangan dibuka!” Terlambat. Danu sudah membukanya. Matanya membesar saat meneliti isi dompet. Mungkin karena melihat foto Adila. Lalu, dia beralih menatapku dengan lipatan-lipatan di kening. Kenapa aku bisa punya teman jail seperti dia. “Loe ... goda anak ingusan?” tanya Danu, masih dengan ekspresi syok. “Siapa yang loe sebut ingusan?” “Ini, Bos,” ujar Danu sambil menunjuk foto Adila. “Gue tahu loe pengin punya pengalaman dalam cinta, tapi bukan sama cewek kemarin sore kayak dia. Loe bisa, kan, cari yang lebih dewasa.” Sekarang tangan Danu mengambil kartu mahasiswi milik Adila. Dia mengibas-ngibaskannya di depan wajahku. Aku mendengkus. Memangnya dia tahu apa soal Adila. Mengapa sudah mengatakan omong kosong seperti itu. Aku mencoba untuk merebut dompet Adila, tapi Danu selalu berhasil menghindar. Ini sangat aneh. Biasanya aku lebih gesit dari pada Si Mulut Besar itu. Konsentrasiku jadi menurun gara-gara aku lebih fokus pada benda oranye yang dipegang oleh Danu.  “Ayolah, Vin! Mengapa kamu jadi lemah begini?” Ada suara yang tiba-tiba menghakimi sikapku yang berubah drastis. Aku menggelengkan kepala keras-keras dan menghalau semua bayangan Adila yang memenuhi otak. Sepertinya aku butuh bantuan untuk menyelesaikan masalah ini. Kulirik Danu yang masih menunggu respons dariku. Dia sama bingungnya sepertiku. Wajar saja. Ini pertama kalinya aku bersikap aneh karena makhluk bernama wanita. Sebelumnya, aku selalu menolak kehadiran mereka. Mengusir mereka agar tidak masuk terlalu jauh ke dalam batasan yang telah aku buat. Sekarang, pembatas itu hancur hanya karena gadis imut bernama Adila. Cewek yang bahkan tidak aku kenal, tapi langsung mencuri perhatianku. Aku masih mengingat dengan detail bagaimana struktur wajahnya.  Mata bulat yang lebih banyak menunduk. Pipi chubby-nya memerah setiap aku menggoda. Hidung kecil mancung serta bibir mungilnya yang menggemaskan. Tanganku gatal ingin menyentuhnya, tapi, tentu saja itu tidak mungkin.  Meski tidak terlalu religius, aku tahu kalau wanita sejenis Adila tidak akan mau disentuh oleh sembarang orang. Dia juga tidak menjabat tanganku saat kami berkenalan. Itu artinya, Adila jauh dari jangkauan pria sepertiku. Mana mungkin cewek taat agama mau denganku yang salatnya masih suka bolong. Aku tidak ingat kapan terakhir kali berdoa dengan khusyuk. Ilmu agama hanya formalitas bagiku. Aku tidak pernah benar-benar belajar mengenai Islam. Orang yang paling sering menasihatiku adalah Hafiz, pengurus panti sekaligus temanku. Hafiz itu pribadi yang sangat baik. Dia mungkin lebih mengenal agama, tetapi tidak pernah memaksakan kehendak. Semua nasihat selalu disampaikan dalam balutan canda. Mungkin karena takut menyinggungku atau apa.  Terus terang, Hafiz menjadi alasan terkuatku saat mulai belajar salat dan membaca Al Quran. Aku belum sehebat mereka yang telah mengenal Islam sejak usia dini. Ibadahku sangat jauh dari sempurna.  Jadi, bagaimana bisa aku berani memikirkan cewek berjilbab seperti Adila. Dia pasti bergaul dengan para ustaz yang menguasai ilmu agama. Mana mau dia melirik dan menjadikanku sebagai salah satu teman dalam kehidupannya. Nah, aku mulai lebay. Memangnya kenapa kalau Adila tidak mau berteman denganku. Apa aku akan rugi. Tidak, kan? Tapi mengapa hatiku merasa tidak rela jika dia pergi begitu saja, tanpa menoleh dan mengingatku. Aku ini kenapa, sih? “Loe benaran bakal kencan sama cewek kuliah ini? Ya, ampun, umurnya belum genap dua puluh tahun, Bos? Loe yakin bisa memikat dia?” “Apaan, sih? Siapa yang mau memikat cewek kuliah seperti dia.” “Yakin, Bos? Kok, loe kayak enggak rela gitu?” “Gue sekarang lagi pengin makan orang. Gimana kalau loe diam?” “Ya, elah, Bos. Galak banget. Sarapannya kurang enak, ya?” ujar Danu, lalu terbahak. Aku tidak ikut tertawa.  Suasana hatiku sedang kacau dan Danu justru membuatnya semakin parah. Aku melirik dompet oranye yang masih dijelajahi oleh Danu. Orang itu tidak sopan sekali. Bagaimana kalau ada yang jatuh, terus rusak. Atau yang lebih gawat, kalau ada yang hilang.  Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, aku menyambar dompet itu dengan cepat sebelum Danu menyadarinya. Dia melotot, tapi aku membalas dengan tersenyum miring. Sudah lupa, ya, dia sedang berhadapan dengan siapa. Seenaknya saja mempermainkanku. Dompet ini adalah dompet keramat. Kalau sampai lecet atau ada bagian yang hilang, bagaimana bisa aku mengembalikan pada Adila. Gadis itu bisa saja marah dan menyalahkanku, padahal Danu yang menyebabkan bencana. Sebelum dompet Adila benar-benar membuatku khawatir, sebaiknya aku mengembalikan pada gadis itu. Oke. Pertama-tama, aku akan mendatangi kampus Adila dan mencarinya. Mudah sekali, kan? Kampusnya cukup dekat dengan tempat tinggalku. Kakiku mulai melangkah, tapi baru beberapa langkah, aku berhenti dan memperhatikan penampilanku. Kaos oblong putih dan jeans usang. Aku rasa ini sedikit tidak cocok. Mungkin sebaiknya aku mengganti pakaianku dulu. Jadi, aku bermaksud untuk kembali ke rumah. “Bos, loe dengar gue ngomong apa?”  Aku menoleh dan melihat Danu yang menatapku aneh. Seakan dia tidak mengenal diriku sebelumnya. Dia maju selangkah dan menyentuh keningku sambil mengernyit. Tentu saja aku langsung menjauh. Kenapa dia bertingkah seperti itu?  “Loe kenapa, sih?” “Yang bermasalah itu loe, Bos,” ucap Danu sambil menunjukku.  Ya, ampun. Sopan santunnya mana, sih? Kalau aku bos yang kejam, sudah pasti Danu dipecat seketika. Bisa-bisanya dia mengacungkan telunjuk tepat di depan wajah tampanku ini. Sudah bosan bekerja di tempatku, ya? Tapi aku bos yang cukup baik. Danu itu pekerja yang selalu aku andalkan di setiap kesempatan. Kalau dia berhenti, aku bisa kelimpungan sendiri. Dia sudah seperti asisten atau tangan kananku. Aku hanya perlu sedikit bersabar menghadapi sikapnya yang kadang kelewat batas.  Ya, sebenarnya masih cukup normal. Lagi pula setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, kan? Mana ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Semua pernah berbuat salah dan sudah sewajarnya kita saling memaafkan. Begitulah kehidupan yang baik. Benar, kan? “Loe enggak berniat buat hengkang dari sini, kan?” “Mana mungkin. Gue terlalu sayang sama loe, Bos. Siapa lagi yang kuat sama omelan Bos kalau bukan gue. Benar apa betul?” Aku mendengkus. Keinginan untuk menutup mulut Danu sangat besar. Tapi apa yang dia katakan sangat benar. Hanya Danu yang betah dengan sikapku yang terkadang suka mengeluarkan emosi di tempat yang tidak seharusnya.  Yang lain mungkin akan lari setelah melihat wajah marahku, tapi Danu hanya diam, lalu menepuk pandakku sambil berkata dengan santai “Sudah marahnya? Sudah puas?”. Kalimatnya itu seperti air yang menyiram api kemarahanku. Harus diakui, Danu sangat berjasa dalam hidupku.  “Rasa percaya diri loe tinggi banget, ya? Gue sampai merinding. Lihat, nih,” kataku sambil menunjukkan tangan kananku yang meremang.  “Tega banget, sih, Bos. Gue itu pengikut setia Bos, lho.” “Enggak usah cari muka. Tuh, muka sudah ada capnya,” ujarku, lalu mendekat sambil mengangkat tangan kanan. “Orang paling pede sedunia.” Bukannya mengamuk atau marah, Danu malah terbahak sambil memegangi perutnya. Baiklah. Dia memang orang paling percaya diri sedunia. Mana mungkin dia bisa melihat kekurangannya yang cuma secuil itu. Tidak bisa dipercaya. Sepertinya aku harus mencari orang lain untuk membantu menyelesaikan masalah dompet oranye ini. Kalau aku melibatkan Danu, bisa saja bukannya beres, tapi justru semakin kacau. Dalam hal ini, aku tidak akan memercayai Danu. Biarkan dia berada di sini dan menyelesaikan pekerjaannya. Sementara aku pergi menemui Adila. “Mau ke mana, Bos? Apel ke kampus, ya?” teriak Danu saat aku mulai jauh melangkah. Aku menoleh dan menatapnya tajam. Danu terbahak lagi. Tidak bisakah dia serius sesekali? “Loe di sini saja. Enggak usah ke mana-mana. Masih banyak kerjaan.” “Siap, Bos!” Danu meletakkan tangan di kening seperti sedang hormat pada bendera. Dia pikir ini upacara apa. “Tapi, Bos ....” dia mendekat padaku, “loe yakin bakal kencan sama Adila?” Nama Adila memang mempunyai magnet yang sangat kuat. Aku hanya mendengar namanya disebut dan jantungku sudah berdentam keras. Meski sudut hatiku ingin sekali bertemu dengannya, aku merasa takut. Apa yang harus aku katakan pada Adila ketika mengembalikan dompetnya. Apa aku hanya memberikannya, lalu pergi. Tidak usah berbasa-basi mengatakan ini itu. Kalau aku mengobrol dengannya, aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Bagaimana kalau aku hilang kontrol. Ya, ampun. Belum bertemu saja sudah membuatku gelisah seperti ini. Bagaimana jadinya jika kami benar-benar bersua. Kenapa, sih, aku bisa sangat terpengaruh oleh gadis belia itu. Sangat menyiksa dan merepotkan. Semoga hal ini tidak berlangsung lama atau aku bisa dikatai gila oleh Danu. “Loe mikirin Adila, Bos?” “Enggak usah bilang omong kosong. Sebaiknya loe urus saja semua pekerjaan di sini. Gue pergi. Jangan keluyuran atau bolos. Paham?” “Paham, Pak bos. Gue boleh kasih saran?” “Saran apa lagi? Jangan aneh-aneh.” “Kapan gue pernah aneh?” tanya Danu seraya menaik-turunkan alisnya. Aku mendengkus. “Kalau ketemu Adila, langsung ajak kenalan resmi, ya. Bilang kalau loe mikirin dia terus, jadi loe pengin jadiin dia pengantin loe.” Sudah aku duga. Danu itu tidak benar-benar ingin memberi nasihat. Memangnya siapa yang ingin menikahi gadis belia seperti Adila. Aku hanya merasa penasaran padanya. Sekadar itu. Tidak ada niat untuk menjadikannya pendampingku. Aku berbalik dan kembali melangkah setelah memberi tatapan maut pada Danu. Sudah pasti Danu hanya tertawa dan memberi pandangan menyebalkan. Otakku segera memberi peringatan keras. Jauhi Danu sekarang juga. Dan itulah yang aku lakukan. “Semoga berhasil, Bos.” Danu lagi-lagi berteriak. Aku hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Walaupun sedikit jail dan ceplas-ceplos, Danu adalah teman yang pengertian. Ejekannya hanya bumbu agar suasana tidak terlalu tegang dan serius. Katanya, dia lebih menyukai atmosfer yang nyaman dan penuh canda.  Andai aku juga bisa menganggap semua hal yang kulalui adalah bumbu kehidupan, mungkin jalanku tidak akan terasa seberat ini. Sepanjang waktu, aku menyalahkan Papa atas segala kesedihan yang terjadi. Aku belum siap untuk memaafkan orang yang telah menyakitiku.  *** Aku memperhatikan salah satu gedung di kampus Adila. Aku tahu kalau banyak mata yang tengah memperhatikanku. Tapi, aku berusaha tidak memedulikan pandangan mereka. Sebenarnya sedikit risi diperhatikan begini. Seakan aku melakukan hal yang salah dan pantas diberi hukuman. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Aku sudah memakai pakaian yang cocok, kurasa. Kemeja hitam yang aku gulung sampai sebatas siku dan jeans panjang yang rapi. Di mana coba yang salah. Atau karena aku tampak seperti orang bingung yang tak tahu arah.  Ya. Aku akui. Ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini. Wajar, dong, kalau aku merasa asing dan sedikit kebingungan. Apa lagi gedungnya sangat banyak dan terlihat mirip. Haruskah aku menanyai seseorang. Itu terdengar sebagai solusi paling baik saat ini. “Permisi, boleh aku menanyakan sesuatu?” tanyaku pada dua orang mahasiswa yang berada paling dekat denganku. Mereka sedang duduk di kursi panjang, mengobrol. “Tanya apa?” “Gedung fakultas Tarbiah di mana, ya?” “Itu. Tepat di seberang gedung ini. Mahasiswa baru atau pindahan?” Aku tersenyum. “Aku bukan mahasiswa. Aku cuma mau mengembalikan sesuatu pada orang yang kuliah di sini.” “Oh. Begitu. Jalan lurus saja. Nanti ada tulisan Gedung Fakultas Tarbiah dan Keguruan. Kelihatan dari jauh.” “Oke. Terima kasih, ya.”  “Sama-sama.” Sebelum melangkah, aku berusaha menenangkan detak jantungku yang mulai berulah lagi. Membayangkan akan melihat paras cantik Adila membuatku sulit bernapas. Apakah dia masih ingat denganku. Jangan-jangan hanya aku yang merasa seperti ini. Sementara Adila sudah melupakan semuanya. Konyol sekali kalau memang seperti itu. Bayangan Adila yang tidak mengenalku sangat mengganggu. Aku jadi bertanya-tanya, perlukah aku mengembalikan dompet ini sekarang. Uang yang ada di benda itu hanya tiga ratus. Ditambah KTP, kartu mahasiswa, dan kartu perpustakaan.  Haruskah aku mengembalikannya di rumah gadis itu saja? Tidak! Bagaimana kalau aku berjumpa dengan orang tuanya. Aku tidak tahu mesti bersikap seperti apa. Jadi, keputusan terbaiknya adalah menemui Adila di kampus dan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Bibirku menyunggingkan senyum begitu melihat gedung yang kumaksud. Langkahku semakin cepat. Tak sabar ingin bersua dengan gadis yang sudah menyita waktuku karena terus memikirkannya. Di mana dia berada saat ini. Mataku menjelajahi semua sudut bangunan. Ada banyak mahasiswa mahasiswi yang berjalan memenuhi jalan. Beberapa tersenyum sopan padanya. Mencari Adila di antara kumpulan orang sangat sulit. Di sini semua mahasiswi memakai jilbab. Tentu saja. Ini, kan, universitas Islam. Tentu saja semua mahasiswinya berjilbab. Baju warna apakah yang Adila kenakan hari ini? Bagaimana caraku menemukannya lebih cepat? Bertanya lagi? Aku menghela napas. Memangnya ada pilihan lain selain bertanya pada seseorang. Itu juga akan menghemat waktu. Baru saja aku akan menghentikan segerombolan mahasiswa, ketika mataku menemukan sosok manis itu. Kakiku melangkah begitu saja. Adila memakai gamis cantik berwarna biru tua. Jilbab biru mudanya sesekali dipermainkan oleh angin. Waktu seolah berhenti.  Saat sudah sangat dekat, aku memutuskan untuk menyapa Adila. Tapi rencana itu aku urungkan ketika temannya, kalau tidak salah ingat namanya Diva, malah menyebutkan namaku. Aku pun memutuskan untuk bersembunyi sementara waktu. “Jadi, kamu mau mencari Arvino?” tanya Diva. “Mau bagaimana lagi. Sepertinya dompetku ditemukan dia. Aku harus dapatkan dompet itu lagi, bagaimana pun caranya.” “Apa kita bisa menemukannya di panti itu?” “Aku juga tidak yakin. Tapi itu jalan satu-satunya yang bisa menjadi perantara. Kalaupun Mas Arvino tidak ada di sana, pasti ada yang tahu keberadaannya.” Tubuhku kaku begitu mendengar Adila menyebut namaku dengan menambahkan panggilan “Mas”. Ada semacam rasa hangat yang menjalar ke tubuhku. Dan entah mengapa aku menyukai suasana ini.  “Kamu memanggilnya “Mas”?” “Kenapa? Dia, kan, memang lebih tua dari kita.” Diva tak menyahut. “Sudahlah. Ayo! Kita masih punya banyak tugas. Sebaiknya kita ke panti sekarang.” Senang sekali karena Adila ternyata juga ingin bertemu denganku. Ya, walaupun alasannya hanya demi dompet yang kutemukan. Aku tidak peduli. Yang penting, kami akan bertemu sebentar lagi. Bolehkah aku melompat? Oke. Lebih baik aku ke panti saja. Akan lebih leluasa jika kami berada di panti asuhan. Kampus membuatku tidak nyaman. Seakan banyak mata yang mengawasiku dan ingin menghampiriku. Aku tidak suka terlalu diperhatikan. “Kita bertemu di panti, Adila,” gumamku, lalu memperhatikan Adila sebentar sebelum pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD