Aku kembali membuka setiap laci meja. Mencari di antara kertas dan buku yang sudah sedikit berantakan. Di mana sebenarnya aku meletakkan dompet oranyeku. Terakhir kali memakainya adalah hari ini. Saat ke kampus, aku yakin jika sudah menggunakan dompet itu. Lalu, di mana dompetnya sekarang.
Sifat lupaku tidak bisa tertolong lagi. Bagaimana bisa aku melupakan barang berharga seperti dompet. Terlebih itu adalah pemberian Ayah pada ulang tahunku tahun lalu. Seharusnya aku lebih berhati-hati saat menyimpan.
Ketika sedang memikirkan masalah dompet, aku mengingat sesuatu. Mungkinkah dompet itu terjatuh saat aku membayar tagihan di kantin rumah sakit tadi. Gawat! Bagaimana aku bisa menjelaskan kecerobohanku kali ini pada Ayah.
“Kali ini, apa lagi yang hilang?”
Suara Ayah membuatku menoleh. Ayah bersandar di dinding kamar, dekat dengan pintu. Pahlawanku itu menyilangkan tangan sambil tersenyum lebar. Matanya mulai menjelajahi seisi kamar yang sudah berubah bentuk. Aku jadi malu.
“Ayah belum tidur?”
“Ayah mendengar ribut-ribut dari kamar anak gadis Ayah, jadi Ayah datang untuk memastikan apa yang terjadi.” Ayah berjalan masuk kamar, lalu duduk di tepi tempat tidur. “Jadi, kali ini kamu melupakan apa?”
“Dompet Dila, Yah. Terakhir kali Dila lihat ....” Aku mencoba mengingat di mana terakhir mengeluarkan dompet. Mataku membola ketika mengingatnya.
Dengan sedikit ragu, aku melirik Ayah yang masih duduk tenang sambil memperhatikanku, menunggu jawaban. Kalau aku tidak salah ingat, dompet itu tertinggal di kantin rumah sakit. Aku tadi bersikeras membayar makananku sendiri. Tidak mungkin aku menerima kebaikan dari orang asing.
Arvino sudah berusaha membujuk agar dia yang membayar semua. Toh, jumlahnya tidak banyak. Tetap saja, aku tidak mengizinkan. Kami sempat berdebat sebentar sebelum Arvino akhirnya mengalah.
Lalu, bagaimana bisa aku malah meninggalkan dompet di sana. Apa aku lagi-lagi lupa memasukkannya ke dalam tas. Sifat lupaku semakin buruk. Dari siapakah aku mewarisi sifat ini? Ayah orang yang sangat cerdas dan teliti. Jadi, tidak mungkin aku mendapatkan dari Ayah. Apa Ibu yang pelupa?
Mengingat sosok yang melahirkanku, tiba-tiba aku ingin mendengarkan cerita tentangnya. Sudut netraku melirik Ayah. Apa Ayah keberatan jika aku mengungkit kisah Ibu? Sudah sangat lama kami tidak membahas tentang Ibu.
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Ayah yakin bukan masalah dompet yang hilang.” Aku menelan ludah.
“Ayah, apa Dila boleh menanyakan sesuatu?”
Waktu seolah ikut terhenti ketika Ayah diam beberapa lama. Sepertinya Ayah tahu ke mana arah pembicaraanku. Aku menggigit bibir bawah untuk menahan sesak yang mendadak singgah di hati. Harusnya aku tidak membuat Ayah gelisah.
Jika Ayah dan Ibu berpisah, itu pasti karena ada yang tidak beres. Senyum Ayah ketika menceritakan tentang Ibu hanya topeng agar aku tetap bahagia. Mengapa aku tidak bisa menahan diri dan mendesak Ayah untuk mengatakan kesedihannya.
“Kamu mau bertanya soal ibumu?”
“Bukan, Yah. Dila hanya ingin tahu, bagaimana kalau dompet pemberian Ayah hilang?”
Dari jarak yang sedekat ini, aku bisa mendengar Ayah menghela napas. Aku tahu kalau Ayah menyadari kebohonganku, tetapi tidak mengatakan apa pun. Semoga saja Ayah tidak membahas masalah ini lebih lama.
Selalu saja seperti itu. Aku tidak pernah bisa berbohong pada Ayah. Sejak kecil, Ayah sudah bisa membedakan perkataanku benar atau hanya kebohongan. Tapi Ayah tidak pernah marah. Sebagai gantinya, Ayah mengatakan padaku agar tidak berbohong.
Ayah bilang, sebaiknya jangan mengatakan hal tidak benar. Jika Ayah bertanya dan aku tidak ingin menjawab, lebih baik diam. Jangan mencari alasan dan membohongi Ayah. Setelah mendengar hal itu, aku berusaha menjadi anak yang tidak merepotkan. Aku tidak ingin Ayah bersedih karena kesalahan yang kulakukan.
Meskipun Ayah tidak pernah melampiaskan kemarahannya, bukan berarti itu hal yang menyenangkan. Justru aku terkadang merasa sedih karena Ayah terlalu menyayangiku. Aku takut jika nanti mengecewakan.
“Kita sudah sepakat kalau tidak akan ada kebohongan di antara kita, kan?”
Nah! Benar, kan? Ayah tahu kalau aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Kalau sudah begini, aku jadi serba salah. Mau mengatakan dengan jujur, aku takut Ayah sedih. Tapi, kalau aku tidak terus terang, Ayah akan bertanya-tanya.
“Kamu mau bertanya tentang ibumu?” ulang Ayah. Aku berdeham, lalu tersenyum canggung. Ayah membalas senyumku. “Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Ayah tidak keberatan?” tanyaku ragu.
“Kamu sudah dewasa. Ayah rasa, kamu sudah bisa mengerti bagaimana hubungan kami dulu. Meski kami berpisah, setidaknya, kami tidak saling membenci.”
“Ayah tidak pernah bertemu lagi dengan Ibu sejak berpisah?”
“Tidak. Dia langsung pindah setelah kami selesai bercerai dan kita juga meninggalkan kampung halaman kita,” jelas Ayah. “Maaf, karena tidak bisa mempertemukanmu dengan ibumu.”
“Jangan minta maaf, Yah. Kalau kami ditakdirkan untuk bertemu lagi, kami pasti akan bertemu. Dila juga tidak mau terlalu berharap.”
“Kamu sudah lebih dewasa,” ujar Ayah sambil tertawa pelan. “Apa yang ingin kamu ketahui tentang ibumu?”
“Sebenarnya banyak, tapi Dila tidak mau membuat Ayah sedih karena harus bercerita.”
“Lebih tepatnya, Ayah tidak ingin kamu bersedih,” ralat Ayah.
“Maksud Ayah apa?”
“Ayah tidak menceritakan terlalu banyak tentang ibumu karena takut kamu akan bersedih. Semakin banyak yang kamu ketahui mengenai ibumu, semakin terluka kamu.” Ayah menghela napas. “Yang terpenting adalah kamu mencintai ibumu. Jangan sampai masalah antara Ayah dan ibumu memengaruhi kasih sayangmu. Kamu tetap anak kami dan kamu lahir dari cinta kami. Ingat, kamu bukanlah kesalahan. Sebaliknya, kamu hal terindah dalam hidup kami.”
“Tapi Dila tidak cukup indah untuk Ibu, kan?”
“Ayah sudah bilang, ibumu hanya sedang bingung saat itu. Kalau ada yang harus disalahkan, maka Ayah yang lebih pantas disalahkan.”
“Kenapa begitu?”
“Karena Ayah terlalu memaksakan diri?”
“Terlalu memaksakan diri?” ulangku tak mengerti. “Bukankah Ayah dan Ibu memang dijodohkan?”
“Memang iya. Tapi sejak awal, Ayah sudah menyukai ibumu. Sementara ibumu mencintai pria lain.” Tidak ada kesedihan ketika Ayah berkata begitu.
Entah Ayah yang terlalu kuat atau aku yang sangat cengeng. Aku ingin sekali menangis. Mataku sudah mulai panas. Refleks, aku mendongak dan berusaha menghalau air mata yang sudah mendesak untuk keluar dari tempatnya.
Berat sekali harus tumbuh tanpa sosok seorang ibu. Ayah memang berusaha keras agar aku mendapatkan segala kebutuhan. Baik itu berupa materi ataupun kasih sayang. Tapi, apa yang dilakukan Ayah tetap tidak bisa menggantikan Ibu.
Bukannya tidak bersyukur karena masih punya Ayah. Bagiku, Ayah adalah segalanya. Tidak ada yang lebih penting selain Ayah. Aku rela melakukan apa pun agar bisa membahagiakan panutanku itu.
Kasih sayang melimpah yang diberikan Ayah nyatanya masih belum cukup untukku. Terkadang, aku masih merindukan sosok Ibu. Orang yang akan memelukku di saat aku sedih dan bahagia. Yang selalu membuatkan bekal lezat untuk dibawa ke sekolah.
Ayah menghabiskan banyak waktu untuk mengurusi bisnis kecilnya di rumah, menjual bibit buah dan sayur. Aku pernah bertanya mengapa Ayah tidak bekerja di kantor seperti tetangga -tetangga kami yang lain. Ayah tersenyum dan mengatakan sesuatu yang membuatku ingin menangis dan berlari ke pelukannya.
“Ayah ingin selalu menemani kamu, Dil. Kalau Ayah kerja di luar, Ayah akan sibuk dan melupakan kamu. Jadi, Ayah di rumah saja, menghabiskan waktu untuk menjaga anak Ayah yang manja dan cengeng ini.”
Menjadi pribadi yang tumbuh tanpa figur ibu sedikit memengaruhi kehidupanku. Aku jadi pendiam dan sulit bergaul dengan orang lain. Ketika aku ingin bergabung dengan mereka, rasanya akan ada yang mempertanyakan keberadaan Ibu dan itu sangat menakutkan bagiku.
Banyak yang sudah meyakinkan jika ketakutanku itu tidak beralasan. Sayangnya, aku tetap tidak mudah menemukan teman yang pas di hati. Beruntung aku memiliki Diva yang setia menemani. Dia tidak pernah protes setiap kali aku menolak bergabung dengan komunitas atau dalam sebuah acara.
Ke mana pun aku pergi, selalu ada Diva yang menemani. Kami sudah seperti lem yang saling menempel satu sama lain. Pernah aku merasa khawatir akan ditinggalkan oleh Diva. Dia tipe orang yang ramah dan bisa berteman dengan siapa saja. Tapi, dia lebih memilih menemaniku dari pada nongkrong dan bergosip bersama teman yang lain.
Sejujurnya, ada alasan lain mengapa Diva tidak membiarkanku pergi seorang diri. Ini berhubungan dengan masa lalu mengerikan yang pernah aku alami saat masih kecil. Kejadian yang menimbulkan trauma berkepanjangan untukku dan membuat semua orang khawatir. Sejak saat itu, aku tidak pernah pergi seorang diri.
“Kenapa malah bengong? Katanya mau mendengarkan kisah ibumu,” ucap Ayah, membuyarkan bayanganku tentang kejadian yang sudah berlalu.
“Maaf. Dila hanya memikirkan bagaimana sosok Ibu. Apa Ibu juga pelupa seperti Dila?”
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena Ayah cerdas dan teliti. Sementara sikap Dila malah sebaliknya. Jadi, siapa yang akan mewariskannya pada Dila kalau bukan Ibu.”
Sekali lagi Ayah tertawa. “Ibumu memang sedikit ceroboh. Dia juga sering sekali melupakan sesuatu, apa lagi hal sepele seperti di mana dia meletakkan sesuatu. Persis seperti kamu.”
“Benarkah? Apa Ibu orang yang menyenangkan?”
“Sebenarnya iya. Dulu, ibumu wanita yang sangat ceria. Dia selalu mencintai semua orang dengan tulus, tanpa membedakan posisinya. Lalu, sebuah tragedi mengubah sosok ibumu.”
“Apa itu ada hubungannya dengan orang yang dicintai oleh Ibu?” Ayah mengangguk.
“Pria itu sangat mencintai ibumu. Ayah bisa melihat dengan jelas di kedua matanya. Dia adalah alasan ibumu selalu tersenyum dan bahagia. Tapi, entah bagaimana, dia memutuskan untuk meninggalkan ibumu. Padahal mereka sudah mempersiapkan pernikahan. Sejak saat itu, kehidupan ibumu kacau. Apa lagi setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, seminggu setelah Ayah dan ibumu menikah.”
“Ayah tidak pernah menyalahkan ibumu. Pasti sangat berat kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup kita. Karena itu, Ayah melepaskan ibumu. Agar dia dapat mencari kebahagiaannya di luar sana.”
“Ibumu seperti orang yang hidup segan, mati tak mau. Meski dia berusaha menutupi semuanya, Ayah sering sekali melihatnya menangis diam-diam di makam orang tuanya. Mengatakan betapa dia menginginkan pria yang dicintainya kembali. Juga mengatakan bahwa dia lelah karena harus berpura-pura di hadapan Ayah.”
Ayah berjalan mendekatiku dan menarik kursi, lalu duduk di dekatku. Tangan besarnya menyentuh kepalaku dan sedikit menekan. Aku bisa melihat mata Ayah yang penuh kabut. Jelas sekali kalau Ayah masih mencintai Ibu. Mengapa Ayah melepaskan Ibu?
Lagi pula, pria yang dicintai Ibu sepertinya bukan orang baik. Apa lagi sebutan bagi orang yang tiba-tiba meninggalkan wanita saat mereka sudah merencanakan pernikahan. Tidakkah dia memikirkan perasaan Ibu saat itu?
Kepalaku menggeleng begitu menyadari sedang berbuat zalim pada orang yang tak pernah aku temui. Bagaimana bisa aku suuzan, padahal tidak tahu duduk permasalahannya. Bisa saja ada sesuatu yang membuat pria itu harus meninggalkan Ibu.
Semoga saja Ibu telah menemukan kebahagiaannya di luar sana. Aku berharap Ibu bisa melupakan semua kesedihan. Tidak peduli bersama siapa dia menghabiskan waktu untuk berbahagia. Aku tidak keberatan, meski Ibu tidak di sini, asal Ibu bahagia.
Jika Ayah yang seharusnya terluka dan membenci Ibu karena telah dikecewakan telah mengikhlaskan kepergian Ibu. Mengapa aku menghakimi Ibu? Aku sudah sangat bahagia karena memiliki Ayah dalam hidupku. Walaupun sesekali aku merindukan Ibu, tapi itu wajar saja, kan? Anak mana yang tidak ingin bertemu dengan ibu kandungnya.
“Jadi, Ayah memutuskan untuk membebaskan Ibu?”
Untuk beberapa waktu, Ayah terdiam, lalu mengangguk sambil menurunkan tangannya. Aku sudah dianugerahi Ayah yang sangat mengagumkan. Mengapa harus bersedih karena tidak mendapatkan seorang ibu. Suatu hari, aku juga akan bertemu Ibu. Entah kapan.
“Ibumu berhak bahagia dan Ayah tidak bisa menahannya di sini.”
“Tapi Ibu tidak hanya meninggalkan Ayah. Ibu juga meninggalkan Dila.”
“Ayah sudah pernah bilang, kan, kalau ibumu itu sedang kalut. Dia juga sedih karena harus meninggalkanmu. Dia menangis sangat lama saat terakhir kali memelukmu dan meminta maaf karena tidak bisa menemanimu tumbuh dewasa. Dia menitipkan kamu pada Ayah dan berharap kamu selalu bahagia.”
Tidak peduli berapa kali Ayah mengatakan kalimat itu, aku selalu saja meneteskan air mata. Seolah aku bisa melihat kejadian saat itu. Aku melihat bagaimana Ibu hancur karena terpaksa meninggalkanku. Aku seakan merasakan betapa eratnya Ibu memelukku. Sementara aku hanya menatapnya dalam diam.
Ingin sekali menangis atau berteriak untuk mencegah kepergian Ibu, tetapi ada yang menahan. Aku belum genap setahun saat itu, jadi tidak ada kejadian apa pun yang bisa kuingat. Kebersamaan dengan Ibu tidak terekam oleh otakku. Karena itu, aku tidak bisa mengingat wajah Ibu yang sebenarnya.
Andai aku berpapasan dengan Ibu di jalan, akankah aku mengingat dirinya? Atau Ibu bisa mengenaliku? Rasanya sangat mustahil. Sudah sembilan belas tahun kami berpisah, bagaimana bisa Ibu tahu siapa diriku.
“Kamu menyalahkan Ibu karena meninggalkanmu?”
Mana mungkin aku punya pikiran seperti itu. Sejak kecil, Ayah terus menanamkan kasih sayang di hatiku. Aku terlalu takut untuk membenci seseorang atau sesuatu. Jadi, bagaimana bisa aku menyalahkan orang yang telah menghadirkanku ke dunia ini.
Pada saat-saat tertentu, terkadang aku memang ingin sekali menyalahkan Ibu. Aku pernah merasa iri pada semua temanku yang memiliki Ibu. Tapi, hanya sebatas itu. Kegundahan karena tidak didampingi sosok ibu bisa aku kendalikan dengan baik. Sudah aku bilang kalau mengendalikan diri adalah keahlianku, kan?
“Tidak, Yah. Dila hanya ingin bertemu Ibu dan duduk di dekatnya. Memeluk dan menghabiskan banyak waktu berdua. Setidaknya untuk sekejap saja,” ujarku penuh harap
.
“Seperti yang kamu katakan, kalau kalian ditakdirkan bertemu, kalian akan bertemu.”
“Semoga kami bisa bertemu lagi suatu hari nanti.”
“Amin. Ayah selalu berdoa agar semua keinginanmu terkabul.”
“Terima kasih, Yah. Ayah yang terbaik.”
“Sama-sama. Mana bisa Ayah membiarkan putri Ayah ini bersedih.” Aku tersenyum lebar. “Sekarang, giliran kamu yang cerita.”
“Cerita soal apa?”
“Ayah dengar, kamu pergi ke rumah sakit dengan pria asing.”
“Namanya Arvino, Yah. Yang sebenarnya adalah kami menolong anak yang dihakimi oleh orang-orang karena mencuri.” Wajah Ayah sedikit tegang ketika aku mulai bercerita.
“Benarkah? Kamu atau dia yang menolong terlebih dahulu?”
“Dila yang pertama melihat dan berteriak, lalu Arvino datang membantu. Kami lantas membawanya ke rumah sakit.”
“Kamu ... sungguh menghentikan orang-orang itu?” Aku mengangguk pelan. “Sendiri? Tanpa Diva di sampingmu?” Aku mengangguk lain.
Wajah Ayah yang awalnya menegang, kini berangsur dihiasi senyum. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca. Aku tahu kalau saat ini Ayah sedang gembira. Senang sekali bisa melihat ekspresi seperti itu setelah sekian lama bersama dengan Ayah.
“Lalu, pria yang bernama Arvino itu bagaimana?” Keningku berkerut. Aku tidak mengerti apa maksud pertanyaan Ayah.
“Maksud Ayah? Arvino bagaimana apanya?”
“Kamu tidak merasa takut saat bersama dengannya? Kamu tidak merasa sesak? Di rumah sakit juga, tidak ada orang yang kamu kenal, bukan?”
“Dila juga heran. Dela tidak merasakan sesak seperti biasa, Yah. Awalnya mungkin sedikit takut, tapi hanya sebentar. Dila bahkan bisa bertanya dan menjawab tanpa khawatir. Apa ....” Aku menatap Ayah ragu, “ini baik bagi Dila?”
“Tentu saja. Ayah senang akhirnya kamu bisa berinteraksi dengan baik. Semoga ini akan menjadi awal yang menggembirakan.”
“Iya. Semoga saja.”
“Omong-omong, apa kamu tahu di mana Arvino tinggal?”
Entah mengapa pertanyaan Ayah menimbulkan desiran aneh di dadaku. Mengapa aku merasa waswas. Aku menatap Ayah sambil menggeleng. Aku memang tidak tahu di mana Arvino tinggal, tapi aku seharusnya bisa mencari tahu. Panti tempat Fadil dititipkan adalah jalan terbaik untuk menemukannya.
Pertanyaannya, kenapa aku harus menemui Arvino lagi?