“Ini Mas Hafiz. Mulai hari ini, Fadil tinggal di sini saja, ya,” kataku selembut mungkin. Fadil menatap Hafiz sejenak, lalu kembali menunduk.
“Kenapa Fadil enggak tinggal sama Mas Arvin saja?”
Aku mengusap rambut Fadil. “Karena Mas sering pergi dan Mas enggak mau meninggalkan Fadil sendirian di rumah. Fadil akan menemukan banyak teman di sini.”
“Fadil enggak akan diejek?” tanya Fadil pada Hafiz.
“Tidak. Di sini semuanya saling sayang,” jawab Hafiz sambil tersenyum.
“Benar, Fadil. Mas Hafiz yang akan menjaga setiap anak di sini, termasuk Fadil.”
Fadil terdiam lama. Aku mulai khawatir. Mataku melirik Hafiz yang sedang mengamati Fadil. Dia terlihat tenang seperti biasa. Semoga saja Fadil mau tinggal di panti. Orang yang tadi mengantar kami ke rumah sakit, Handoko, bilang jika keluarga Fadil meninggal dalam kecelakaan mobil sebulan lalu.
Karena tidak memiliki keluarga, Fadil diajak tinggal oleh seorang warga di sekitar rumahnya. Namun, sepertinya Fadil tidak merasa puas dan sering kelaparan. Entah apa yang dilakukan oleh keluarga yang menampungnya. Fadil jadi sering mencuri saat merasa lapar. Kejadian tadi sudah yang ke sekian kalinya dan warga mulai geram.
Aku miris membayangkan bagaimana anak kecil seperti Fadil bisa menjadi korban pemukulan warga. Seharusnya kan mereka menjaga anak terlantar, bukan malah menganiaya. Mungkin sebaiknya aku menemui tetua di daerah Fadil besok. Sekalian mengatakan jika Fadil sudah berada di panti.
“Baiklah. Fadil mau tinggal di sini.” Ucapan Fadil membuatku lega. Aku bersyukur dia mau tinggal di panti. Setidaknya, dia akan lebih aman dan terjaga.
Suasana Panti Asuhan At-Taufiq masih tampak ramai meski sudah hampir jam sepuluh malam. Tempatnya tidak terlalu luas, hanya satu hektare. Ada empat bangunan untuk tempat tinggal para anak. Satu bangunan bertingkat dua untuk para pengurus panti. Satu bangunan kantin dan satu bangunan perpustakaan.
Semua tempat dicat dengan warna kuning kombinasi hijau. Warna kesukaan Bunda Husna, sang pemilik panti. Wanita berhati baik yang lebih memilih membangun panti ini dan mengurusnya sendiri. Dia memiliki usaha butik yang besar di dekat panti. Butik itulah yang menjadi satu-satunya harapan memenuhi kebutuhan semua anak.
Dua tahun lalu, saat pertama kali ke sini, panti belum terlalu besar. Bangunannya juga belum sebaik sekarang. Aku berterima kasih pada orang-orang yang memiliki niat tulus untuk membantu anak-anak kurang mampu di tempat ini. Menjadi donatur tetap dan memperbaiki kualitas bangunan panti.
Letak panti hanya berbeda lima blok dari rumahku. Aku mengenal Hafiz sejak pindah ke rumah baruku. Melihat kondisi anak-anak panti yang kurang beruntung, membuatku ingin membantu mereka. Hal itu semakin membuatku bersemangat membesarkan usaha. Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana cara mendapatkan banyak uang agar bisa menghidupi mereka.
Aku tahu jika anak-anak itu bukan hanya membutuhkan materi, tapi paling tidak mereka memiliki biaya hidup yang cukup. Para pengasuh di panti tentu sudah melimpahkan kasih sayang pada mereka. Jadi, tugasku adalah mencukupi kebutuhan lahir mereka.
Terkadang aku merasa prihatin melihat ada yang sengaja meninggalkan seorang anak di depan panti. Ini sangat sering terjadi. Aku tidak mengerti mengapa mereka tega membuang makhluk tak berdosa seperti itu. Padahal setiap orang tua seharusnya menyayangi anak mereka, kan?
Apa pun alasan mereka, menelantarkan anak bukanlah hal yang baik. Aku tahu kesulitan kadang bisa saja datang, tapi itu tidak lantas membenarkan perbuatan mereka. Seharusnya mereka lebih bertanggung jawab. Ya, setidaknya begitulah pendapatanku.
Jangan memandangku dengan sinis. Aku menjadi salah satu korban anak yang tidak diinginkan oleh orang tua, lebih tepatnya oleh Papa. Buktinya, dia lebih memilih bersama dengan wanita lain, dibanding dengan anak kandung. Sedih rasanya ditinggalkan oleh orang yang disayangi karena masih terpenjara dengan masa lalu.
Ternyata pengaruh wanita masa lalu Papa begitu kuat sampai aku dilupakan. Padahal aku anak tunggal. Papa sangat menyayangiku. Tidak pernah sekalipun Papa memarahiku. Dia membela dan mendukungku di setiap kesempatan. Aku mengidolakan sosok Papa.
Sampai hari itu datang. Hari di mana aku merasa dikhianati oleh Papa. Aku sudah curiga ketika Papa pulang dengan membawa seorang wanita. Mama mengenalkannya sebagai sahabat dekat. Kecurigaan membuatku menyelidiki segala hal mengenai wanita itu.
Aku terkejut mengetahui kenyataan jika wanita asing itu adalah mantan tunangan Papa. Sebulan setelah membatalkan pertunangan, Papa malah menikah dengan Mama. Penasaran dengan apa yang terjadi, aku mencari informasi lebih banyak. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa.
Karena tidak menemukan jawaban dari pertanyaanku, aku menanyakan hal itu pada Mama. Mama membenarkan jika wanita yang datang ke rumah itu adalah mantan tunangan Papa. Rencana pernikahan mereka batal karena suatu yang belum bisa Mam ceritakan padaku. Mama berjanji akan mengatakan kebenarannya di saat ulang tahunku yang ke delapan belas tahun.
Kenyataannya, Mama meninggal sebelum aku genap berumur delapan belas tahun. Meninggalkanku dengan rasa penasaran yang tidak pernah bisa dipecahkan. Aku merasa kehilangan pegangan. Seolah belum cukup, Papa tiba-tiba mengatakan akan menikah dengan wanita itu, hanya dua minggu setelah Mama meninggal.
Tentu saja aku menentang rencana Papa dan itu menjadi pertengkaran pertama kami. Aku tidak menyangka Papa begitu emosi ketika aku melarangnya menikah. Memangnya aku salah? Mama baru saja pergi. Aku masih berduka. Tapi Papa malah memutuskan untuk memperistri sahabat Mama? Apa itu masuk akal?
Papa tetap menikahi wanita itu seminggu kemudian. Aku benar-benar marah padanya, jadi aku memutuskan untuk pergi sehari setelah pernikahan. Aku tidak peduli dengan apa pun lagi. Aku sudah ingin mengamuk di hari pernikahan Papa. Jangan sampai aku melampiaskan setelah melihat kemesraan pengantin baru itu.
Beberapa hari kemudian, wanita itu datang menemui dan memintaku untuk merestui pernikahannya dengan Papa. Entah dari mana dia tahu persembunyianku. Dia datang sendiri tanpa Papa. Kamu tahu apa yang dia katakan padaku saat membujuk?
“Tolonglah, Nak. Ini semua demi janji Tante pada ibumu,” katanya dengan mata yang basah.
“Aku tidak sudi punya ibu baru. Katanya sahabat, mengapa malah merebut suaminya?”
“Tante sudah bilang kan kalau ini permintaan ibumu? Tante bersalah pada ibumu dan ingin menebusnya dengan pernikahan ini.”
Aku tertawa sumbang. Mana mungkin seperti itu. Wanita itu pasti hanya mencari-cari alasan agar aku pulang. Maaf saja. Aku tidak semudah itu. Apa lagi Papa juga tidak berniat membujukku. Sepertinya, Papa memang lebih suka aku hengkang dari kerajaannya.
Aku menghela napas. Hidupku sangat menyedihkan, bukan? Delapan tahun lebih tanpa Papa rasanya sangat lama. Tapi aku tidak berniat untuk kembali ke rumah. Kenapa harus pulang? Toh, Papa tidak peduli lagi padaku.
Wanita asing itu terus saja datang, membuatku merasa terganggu. Jadi, aku memutuskan untuk pindah ke luar kota. Jakarta menjadi tempat tujuanku. Aku meninggalkan Bandung dan hidup di Jakarta seorang diri.
Bisa kamu bayangkan bagaimana remaja seumurku bisa kabur begitu? Aku ini pria sejati. Tentu saja aku bisa. Walaupun harus menjadi pengangguran beberapa saat, aku akhirnya menemukan jalan. Aku mulai menata hidup dan meraih keberhasilan.
Suara getaran gawai dalam saku baju mengejutkanku. Aku mengambil benda itu dan langsung menjawab, “Kenapa?”
“Ya, ampun, Bos! Salam dulu kenapa? Assalamualaikum,” kata Danu dengan suara menyebalkan.
“Waalaikumsalam. Mengapa menelepon?”
“Bos seharian ke mana? Dicari sama orang bagian gudang, tuh. Jadi ambil pakan enggak, sih?”
“Jadi. Itu sudah ada di mobil.”
“Memang loe di mana sekarang?”
“Gue di panti.”
“Kenapa? Kan belum waktunya ke sana.”
“Ceritanya panjang. Nanti aja gue cerita. Gue mau pulang.”
“Oke,” jawab Doni, langsung menutup panggilan. Benar-benar tidak sopan. Masa dia begitu sama bosnya.
Mataku memandangi gawai dengan dongkol. Danu itu memang tidak pernah mau repot-repot berlaku sopan kepadaku. Heran, deh. Bagaimana dia bisa kenalan sama istrinya yang super pendiam itu. Pasti dia pakai ilmu khusus.
Kaum hawa itu kan mudah terlena. Eits! Jangan marah dulu. Pada dasarnya mereka itu suka dipuji. Ya, walaupun ada juga yang tidak terang-terangan menyukainya. Mungkin ada yang tidak mempan, tapi itu kan hanya sedikit sekali. Sekali lagi, jangan marah. Ini pengalaman setelah melihat beberapa wanita di sekitarku. Mereka akan merona ketika kita, para pria, mulai menjunjung.
Pandanganku teralih oleh suara langkah kaki dari dalam masjid. Siapa yang masih berada di tempat itu di jam seperti ini? Mataku menyipit untuk memastikan dua sosok yang berjalan menuju asrama para anak. Ah, ternyata mereka dua pengurus panti yang kukenal. Jilbab kedua wanita itu melambai ditiup angin malam.
Aku tersenyum memandang kedua pengurus wanita itu. Ingatanku kembali pada gadis tadi sore, Adila. Wanita itu terlihat berani ketika berteriak keras kepada para pria yang memukuli Fadil. Dia pasti hanya bertindak spontan dan tidak memikirkan akibat perbuatannya.
Wajah Adila tampak syok ketika salah satu pria menatapnya. Aku masih ingat betul bagaimana rupa cantiknya berubah menjadi pucat. Bukan hal itu yang membuatku penasaran. Dia mungkin takut, tapi aku yakin, ada alasan lain mengapa dia bersikap begitu.
Apakah dia memiliki masalah dengan keramaian? Tidak mungkin. Dia sepertinya malah tidak nyaman ketika harus pergi sendiri. Aku ingat tentang pembicaraan sekilas di telepon dengan temannya saat berada di rumah sakit tadi.
Pembicaraan mereka memang tidak terdengar jelas, tapi aku bisa merasakan kekhawatiran temannya. Seolah Adila memang tidak pernah pergi seorang diri. Dia itu kan sudah kuliah, masa masih belum berani ke mana-mana sendiri?
Pasti ada alasan yang lebih masuk akal mengenai ketakutan Adila, tapi apa? Mungkinkah dia memiliki masa lalu yang buruk saat sedang pergi sendiri? Atau dia memang tidak boleh pergi seorang diri oleh orang tuanya?
Aku menggeleng keras dan tersenyum lebar. Kenapa aku jadi memikirkan Adila? Kenapa aku merasa penasaran dengan gadis cantik yang baru aku temui? Hai! Adila memang cantik. Kulit wajahnya sangat halus dan putih. Aku memang belum menyentuhnya, tapi aku percaya pada penglihatanku.
Tidak ada make up berlebih pada wajah Adila. Sepertinya dia memang tidak suka berdandan. Bibirnya yang tipis juga terlihat alami. Hidung mancung itu tampak cocok dengan wajah bulatnya. Bahkan jilbab menambah kecantikannya.
Senyum kembali menghias bibirku. Aku mengusap wajah, lalu mendongak menatap langit malam yang bertabur bintang. Tangan kananku terangkat dan mencoba menggapai angkasa. Tiba-tiba sosok Adila tergambar jelas di hamparan awan. Dia melambai dan membalas senyummu.
Ya, ampun! Aku pasti sudah gila. Bagaimana aku bisa membayangkan seorang gadis dengan perasaan sebahagia ini? Aku bahkan tidak tahu apa-apa mengenai dirinya. Bisa saja dia sudah memiliki sosok lain yang dicintainya.
Entah mengapa, membayangkan Adila tersenyum manis pada pria lain membuatku menggeram. Aku ini sebenarnya kenapa? Mengapa aku harus marah pada sesuatu yang tidak penting. Memangnya Adila itu siapa?
“Mas Arvin memikirkan aku, ya?”
Aku menoleh pada asal suara itu, tapi tidak ada apa-apa. Untuk ke sekian kalinya, aku tersenyum sendiri. Apa istimewanya Adila sampai membuatku menjadi linglung begini? Ini bahaya! Aku harus cepat-cepat mengenyahkan bayangan Adila yang terus meneror.
Mengapa jadi aku yang memikirkan Adila? Padahal tadi akulah yang menggodanya di rumah sakit agar tidak terlalu lama memikirkanku. Wajah manisnya semerah tomat ketika aku mengatakan hal itu tepat di hadapannya. Dan aku sangat menyukai ekspresinya.
Wajah tersipu Adila membuatku merasa terhibur. Dia bertambah imut dan manis. Sangat menarik. Aku harus sering-sering menggodanya agar bisa melihat wajah itu. Mungkinkah aku akan bertemu dengannya lagi?
Belum apa-apa, aku sudah berharap. Rasanya ada yang salah pada diriku. Aku mengembuskan napas kasar. Daripada bingung dengan pikiran konyol tentang Adila, sebaiknya aku pulang dan beristirahat. Setelah tidur, mungkin aku akan terbangun dan menyadari kesalahanku karena memikirkan wanita asing.
Kakiku melangkah mendekati mobil dan perlahan memasukinya. Aku baru saja akan memutar kunci ketika mataku menangkap sesuatu di jok sebelah. Tanganku meraih sebuah dompet berwarna oranye itu. Membolak-baliknya dengan hati gamang.
Warna oranye mengingatkanku pada Adila lagi. Gadis itu juga mengenakan jilbab oranye. Aku mengibaskan tangan ketika pikiranku kembali mengingat sosoknya. Mengapa segala sesuatu harus terarah pada dirinya?
Tanpa bermaksud lancang, aku membuka dompet itu. Foto Adila yang tersenyum manis langsung menyambutku. Aku mengerjap. Tanganku bergerak begitu saja untuk mengusap permukaan foto. Lagi-lagi Adila memakai jilbab oranye. Apa itu adalah warna kesukaannya?
Sebuah kartu mahasiswi aku temukan. Aku mengamati benda tipis itu dan mulai membacanya. Kedua sudut bibirku terangkat karena menemukan fakta baru mengenai Adila.
Nama lengkap: Adila Shakila
Tempat/tanggal lahir: Bandung, 28 Juni 2001
Fakultas: Ilmu Tarbiah dan Keguruan
Program Studi: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiah
Jadi, si cantik itu belum genap berusia dua puluh tahun? Aku tertawa. Adila enam tahun lebih muda dariku. Bisa-bisanya aku terpesona pada gadis kemarin sore. Apa yang akan dikatakan oleh Danu kalau tahu aku memikirkan gadis belia. Dia bisa mengejekku dengan sebutan pemangsa anak kecil.
Anak kecil? Adila sudah dewasa. Dia pasti sudah bisa diajak menikah. Aku memukul kepalaku berkali-kali. Apa sih yang aku pikirkan?
Aku. Arvino Fahreza Aditama. Pria yang tidak memercayai cinta, wanita, dan komitmen berumah tangga. Telah tergoda oleh gadis mungil bernama Adila. Sulit dipercaya! Ini tidak mungkin! Aku pasti terlalu lama menyendiri sampai kehilangan akal sehat.
“Kamu tidak pernah mendengar kalau cinta itu kadang tidak menggunakan logika?”
“Namanya juga cinta, Bro. Sesuatu yang enggak mungkin, bisa jadi mungkin,”
Kalimat Mama dan Danu melintas di pikiranku. Aku sekarang menertawai diriku sendiri. Cinta tidak mungkin datang tiba-tiba seperti ini, kan? Aku harus mengenal wanita itu sebelum memutuskan untuk jatuh cinta. Jadi, bagaimana bisa aku terpikat oleh sosok yang baru aku temui satu kali?
Ini benar-benar tidak mungkin. Aku harus secepatnya pulang dan mandi dengan air segar. Pikiranku sedang kacau, jadi aku berpikir terlalu jauh. Ya. Aku hanya butuh mandi dan tidur. Setelah itu semuanya akan kembali normal. Ya, pasti begitu.