3. Adila

2072 Words
Aku memandang pria di hadapanku dengan rasa terima kasih. Untunglah dia datang. Rasanya tadi aku akan pingsan saat salah seorang pelaku pemukulan menatapku dengan mata berkilat. Dia seolah akan menerkamku.  Pria yang baru saja menghampiriku, mendorong pelan pundakku. Aku mundur beberapa langkah dan dia berdiri tepat di depanku. Mataku mulai mengamati sosok itu. Pria itu tinggi sekali. Aku hanya sebatas dadanya.  “Kamu mau melindungi dia?” tanya pria yang tadi menggertakku.  “Sebaiknya masalah ini diselesaikan baik-baik, Mas. Kasihan anak itu. Dia kan cuma bocah ingusan.” Suara pria itu terdengar lembut di telingaku.  “Dia itu sudah sering mencuri,” ucap pria lain yang memegangi si anak malang yang sudah terlihat lemas itu. Aku tersentak saat anak itu menatapku sambil tersenyum. Sesekali dia meringis. Mungkin karena merasakan sakit di bagian tubuhnya.  “Tetap saja, Mas. Memukulinya seperti itu bukanlah solusi,” kata pria penolongku. Mendengar perkataan yang sangat tenang itu, aku jadi penasaran dengan wajahnya.  Aku menggeser tubuh dan berdiri di samping pria itu. Dia menatapku dengan kening berkerut. Aku menahan napas melihat wajahnya yang memesona. Tersadar jika perbuatanku sangat memalukan, aku berusaha tersenyum padanya. Kuharap dia tahu kalau aku baik-baik saja sekarang.  Dia berpaling dan kembali menatap pemuda di depannya. Diam-diam aku lega sekali. Bagaimana bisa di situasi seperti ini, aku malah memikirkan wajah tampan dan mata setajam elang milik pria itu?  Astagfirullah.  Baru saja aku menegur Diva tentang zina mata. Sekarang aku malah dengan berani menatap pria yang baru kukenal. Bukan satu atau dua detik, melainkan sudah hitungan menit. Sadar, Dil! Kamu itu seorang muslimah. Kamu tidak pantas memandang lawan jenis seperti itu.  “Dia harus diberi pelajaran,” kata pria yang memegang si anak. Aku menghela napas.  “Tapi bukan dengan kekerasan seperti itu, Mas. Itu pelanggaran hukum,” ucapku berusaha tenang. Semua mata menatapku, termasuk pria itu. Namun, aku tidak mau repot-repot membalas tatapan mereka. Aku memilih untuk menghampiri anak kecil yang sudah memejamkan mata itu.  “Merasa sakit?” Anak itu membuka mata perlahan, lalu mengangguk.  “Mbak sama Mas tidak mengenal dia. Dia itu tidak sebaik penampilannya.”  “Benar, Mas. Kami sudah berbaik hati karena dia itu yatim piatu, tapi semakin lama dia semakin menjadi. Dia perlu diberi pelajaran.”  “Jadi begitu?” Si pria penolong bersuara lagi. “Kalau begitu, biarkan dia menjadi tanggungan saya. Saya yang menjamin kejadian ini tidak akan terulang. Ini kartu nama saya. Jika Mas-Mas nanti menemukan anak ini lagi dan dia melakukan kejahatan, saya yang memastikan dia akan dihukum.”  Si pelaku pemukulan membaca sekilas kartu nama yang diterima. “Mas Arvino yakin akan menjaga anak itu?”   Jadi, namanya Arvino? Bahkan namanya saja keren. Aku menggeleng dan mengenyahkan pikiran tentang pria bernama Arvino itu. Beristigfar di dalam hati. Menenangkan jantungku yang entah sejak kapan berdetak tidak beraturan seperti ini.  “Mas tidak akan menjual anak itu, kan?”  Arvino tertawa kecil, kemudian menggeleng. Dia kembali menyerahkan sebuah kartu nama. “Silakan mengunjungi tempat itu kapan pun kalian mau. Anak itu akan saya titipkan di sana.”  Setelah membaca kartu nama yang baru diberikan oleh Arvino, pria pemukul itu menghampiri teman-temannya. Bahkan pria yang tadi memegangi si anak sudah ikut berdiskusi. Mereka berbisik-bisik beberapa waktu.  “Oke. Kami percaya sama Mas,” ucap salah satu pria.  Arvino tersenyum sekali lagi. Aku terkesiap melihat senyum manis itu. Matanya tampak berbinar-binar, seolah dia telah melakukan sesuatu yang sangat disukai. Bibirnya menyunggingkan senyuman paling tulus yang pernah aku lihat.  Aku terkejut dengan pikiran yang menguasai hatiku. Setelah cepat-cepat berpaling dan mengucapkan istigfar, aku mulai bisa menguasai diri. Mengapa sosok Arvino yang baru kukenal bisa begitu berpengaruh.  “Bisa tolong bantu saya membawa anak itu ke rumah sakit?” Pertanyaan Arvino pada para pria pemukul tadi mengalihkan perhatianku padanya lagi.  “Aku ikut, ya,” pintaku pada Arvino. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi didahului oleh yang lain.  “Pakai mobil saya saja, Mas,” kata pria yang tadi memegangi si anak. Dia melihat mobil Arvino yang penuh dengan karung. “Sepertinya mobil Mas sudah banyak muatannya.” Arvino mengangguk setuju.  *** “Dia akan baik-baik saja, kan?” tanyaku pada Arvino yang berdiri di depan ruang rawat si anak tadi. Omong-omong, nama anak itu Fadil. Aku tahu dari orang yang sudah mengantar kami ke rumah sakit. Sekarang kami sedang menunggu dokter memeriksanya, sementara si pengantar sudah pamit lebih dulu.  “Tentu saja. Dokter kan sudah bilang kalau lukanya tidak terlalu serius,” kata Arvino dengan tersenyum. Aku bisa melihat matanya yang menilai penampilanku. Kenapa? Apa aku terlihat berantakan? Ya, Allah. Bikin malu saja. Tanpa sadar, aku memperbaiki posisi jilbabku. “Aku Arvino.”  Arvino mengulurkan tangan. Aku menatap ragu tangan itu. Lalu, menatap Arvino yang masih setia tersenyum. Bingung, aku tidak tahu harus melakukan apa.  “Aku Adila,” ucapku, menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Arvino tertawa kecil dan menarik tangannya menjauh. Aku merasa tidak enak. Jangan-jangan dia berpikir aku gadis sok alim.  “Maaf.” Aku mendongak mendengar permintaan maafnya. Kenapa meminta maaf? “Karena membuat kamu tidak nyaman.”  “Hah?” Aku melongo mendengar kalimat lanjutan dari Arvino. “Bukan begitu. Aku hanya ....”  “Tidak masalah. Serius,” kata Arvino. Aku mengerutkan kening saat menyadari dia kembali tertawa. Memangnya apa yang lucu, sih? Sekali lagi, aku memperhatikan penampilanku. Tidak ada yang salah, kok.  “Kenapa tertawa terus?” tanyaku penasaran.  “Sori. Bukannya apa-apa. Aku cuma merasa senang saja.”  Keningku semakin berkerut. Senang? Kok bisa sih dia merasa senang dalam situasi seperti ini. Harusnya kan sedih atau panik, gitu. Aku saja dari tadi merasa gelisah karena dokter yang memeriksa Fadil belum juga keluar dari ruang pemeriksaan.  “Kamu masih sekolah?” tanya Arvino. Matanya kembali menilik penampilanku. Jujur saja, aku sedikit risi ditatap seperti itu. Apa aku terlihat seperti anak sekolah? Ya, walaupun aku memiliki tubuh yang kecil, tapi bukan berarti aku mirip anak sekolah, kan?  “Aku sudah kuliah, Mas,” ujarku sedikit sebal. Masa iya aku dianggap anak sekolah. Lagi pula, aku tidak sedang memakai seragam.  “Sori. Soalnya kamu ... hmmm ... terlihat imut,” kata Arvino sambil menggaruk tengkuk. Imut? Maksudnya aku mungil gitu? Kok, lama-lama menyebalkan, ya. Aku jadi ingin menutup mulut Arvino dengan tas. Apa lagi ketika dia lagi-lagi tertawa.  “Memangnya umur Mas berapa?” tanyaku dengan berani.  “Kenapa jadi bahas umur?”  “Soalnya Mas menganggapku seperti anak kecil,” protesku.  Arvino tertawa keras. Dia menutup mulut saat menyadari sedang berada di rumah sakit. “Mungkin kita berbeda tujuh atau delapan tahun.”  “Oh ya?”  Aku meneliti wajahnya yang masih terlihat muda. Dia tidak terlihat setua itu. Apa karena dia selalu merawat wajah? Atau dia memang terlahir dengan wajah baby face? Aku percaya kalau dia bilang masih kuliah. Mungkin kami hanya terpaut satu atau dua tahun.  “Sudah selesai penelitian wajahnya?” tanya Arvino geli. Wajahku langsung memerah begitu menyadari kelakuanku yang memalukan. Aku berdeham dan mengubah posisi membelakangi pria itu.  Alarm tanda bahaya menggaung keras di kepalaku. Pria bernama Arvino itu harus dijauhi. Dia sepertinya punya mantra yang bisa menyihirku kapan saja. Aku harus menghindarinya sebisa mungkin. Jangan melihat atau bahkan meliriknya. Bisa hancur harga diriku.   “Biar kutebak, umurmu pasti tidak lebih dari dua puluh tahun.”  Aku menghela napas dan berusaha tidak memedulikan Arvino. Aku memang masih sembilan belas tahun, tapi dua bulan lagi aku berulang tahun ke dua puluh. Kenapa dia malah menebak-nebak usiaku, sih? Mau membuktikan kalau aku ini masih bocah?  “Kamu benar-benar sensitif ya, Adila.” Aku menoleh saat dia memanggil namaku. Sekali lagi, aku terpesona oleh matanya yang tajam, tapi menenangkan.  “Mas, aku ....”  Ucapanku terputus karena suara nada dering dari gawaiku. Tanganku meraih benda itu secepat mungkin. Mataku melebar begitu membaca nama yang muncul di layar. Aku menelan ludah dan menggeser tanda hijau.  “KAMU DI MANA?” teriak Diva dari seberang sana. Aku menjauhkan gawai saat merasa perlu menjaga pendengaranku.  “Maaf, Va. Aku sekarang sedang di rumah sakit,” jawabku pelan. Aku melirik Arvino yang sudah melipat tangan di depan d**a. Mengedikkan dagu ke arah gawaiku. Mulutku mengatakan ‘temanku’ tanpa suara. Dia mengangguk paham.  “Rumah sakit? Kamu kenapa di rumah sakit? Kamu sakit lagi? Kenapa enggak telepon aku? Aku tuh cari kamu kayak orang gila, tahu?”  “Maaf. Aku mengantar anak kecil yang terluka. Tadi aku sedikit panik, makanya lupa menghubungi kamu,” ucapku menyesal. Aku bisa membayangkan bagaimana cemasnya Diva ketika tidak menemukanku.  “Kamu di rumah sakit mana? Aku jemput, ya?”  Aku menyebutkan nama rumah sakit tempat Fadil dirawat, lalu panggilan berakhir. Aku menatap layar gawaiku yang sudah menghitam. Seharusnya aku tidak membuat Diva khawatir lagi. Dia pasti sangat mencemaskanku. Aku harap dia tidak mengendarai motornya dengan terburu-buru.  “Teman apa pacar?” Pertanyaan Arvino membuatku tersadar. Dia menatapku lurus. Aku bergidik menyadari tatapannya yang mengintimidasi.  “Teman,” jawabku kalem. Aku kembali memasukkan gawai ke dalam tas. Mataku tertuju pada pintu ruangan Fadil yang tidak kunjung terbuka.  “Kamu tidak pernah pergi sendirian?” tanya Arvino. Aku menahan napas saat dia mendekatiku. Aku menunduk dalam-dalam. Jantungku mulai berdentam keras. Anehnya, itu bukan karena aku merasa takut. Lalu, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa gemetar seperti ini? “Kamu baik-baik saja?”  Tangan Arvino terulur untuk menyentuh keningku. Aku yang terlalu syok dengan reaksinya, langsung berdiri dan merapat pada tembok. Mataku melihat ke kanan kiri, sepi. Tidak ada yang berada di sekitar kami. Aku menepuk-nepuk d**a yang mulai terasa sesak.  “Adila, are you okay?” Arvino kembali bertanya. Dia berjalan mendekat. Aku mengangkat tangan kananku, menyuruhnya berhenti. Entah bagaimana ekspresi wajahnya, aku tidak berani memandang pria itu. Aku terlalu sibuk menenangkan hatiku yang berdesir aneh. “Adila, kamu ....”  “Walinya Fadil?” Aku mengalihkan pandangan pada dokter yang keluar dari ruangan Fadil. Dalam sekejap, aku merasa terbebas, entah dari apa.  Arvino berjalan mendekati dokter itu. “Saya yang membawa Fadil ke sini, Dok. Bagaimana keadaannya?”  “Tidak terlalu buruk. Dia sedang beristirahat. Apa dia tidak makan beberapa hari ini?”  “Sepertinya begitu, Dok. Apa ada masalah?”  “Saya rasa lambungnya sedikit bermasalah. Pastikan dia makan teratur dan minum obatnya,” pesan dokter itu sambil menepuk pundak Arvino, lalu pamit pergi.  Arvino menoleh padaku dan rasa sesak itu kembali. Aku tidak tahu mengapa bisa sesesak ini, padahal dia hanya memandang. Apa dia sungguh memiliki kekuatan tertentu? Mengapa aku selalu seperti ini setiap kali dia menatapku?  “Mau aku antar pulang?” tawar Arvino.  “Tidak perlu. Temanku sedang dalam perjalanan ke sini.”  Arvino mengangguk. Dia membuka ruangan Fadil dan melongok ke dalam sebentar. “Sebaiknya kita tidak mengganggu dia. Mau makan dulu?”  “Aku ....” Mataku melotot ketika mendengar suara berisik dari perut. Ya Allah. Kenapa harus berbunyi? Padahal tadi aku mau menolak ajakan makan Arvino.  “Sepertinya kamu memang lapar. Ayo, makan dulu.” Aku pasrah dan mengikuti langkah lebar Arvino. *** “Alhamdulillah,” ucapku setelah menghabiskan semangkuk mi ayam. Aku menelan ludah saat menyadari sosok yang memperhatikanku. “Makanan Mas belum habis?” Aku melirik piring Arvino yang masih belum kosong.  “Sudah kenyang,” ujar Arvino. Dia meletakkan sendok dan garpu dengan cepat.  “Mubazir, Mas. Dihabiskan, dong. Sayang kan kalau dibuang. Di luar sana, banyak orang yang enggak bisa makan. Masa Mas seenaknya saja membuang-buang makanan.”  “Iya, deh. Aku habiskan,” ujar Arvino dengan wajah cemberut. Dia kembali melahap nasinya dalam diam.  Aku terus memandangi Arvino yang sedang menikmati makanannya. Dia sama sekali tidak mengalihkan matanya dari piring. Aku tersenyum melihat sikap lucunya itu. Ternyata dia bisa bersifat kekanakan. Jadi, kira-kira berapa umurnya?  “Sudah habis,” lapor Arvino. Aku buru-buru berpaling. Malu kan kalau ketahuan memperhatikan pria yang baru dikenal. Aku hanya tersenyum untuk menanggapi laporannya. “Jadi, kamu memang tidak pernah pergi sendirian?”  Nafasku tertahan mendengar pertanyaan Arvino. Aku tidak bisa begitu saja menceritakan masalah sensitif seperti itu pada orang asing. Jadi, yang kulakukan hanya memilin-milin ujung jilbab yang saat ini terasa lebih menyenangkan. Kepalaku menunduk dalam, menyadari jika dia sedang memperhatikanku.  “Adila!”  Hatiku lega luar biasa begitu mendengar suara Diva. Aku mendongak dan menemukan sosoknya yang sedang mengatur nafas. Kurasa dia tadi berlari. Dia meletakkan tangan kanannya di badan kursiku, sementara tangan yang lain memegangi perut.  “Kamu lari-lari di rumah sakit? Ketahuan baru tahu rasa.” Aku menggeser kursi agar Diva bisa duduk di sampingku. Dia meminum jus jerukku tanpa permisi. Sepertinya dia tidak menyadari jika ada orang lain di depannya. Arvino mengerutkan kening melihat tingkah Diva yang unik.  “Kita pulang sekarang. Ini sudah sore,” ujar Diva, tetapi dia mematung begitu melihat Arvino. “Kamu siapa?”  “Aku Arvino.” Arvino mengulurkan tangan. Diva menatapnya lama.  “Kata ustazku, menyentuh tangan cowok itu bahaya,” kata Diva. Aku menyenggol lengannya dengan keras. Kupikir Arvino marah, tetapi dia malah tergelak.  “Temanmu lucu, Dil,” ujar Arvino sambil menarik tangan. Dia mengamati Diva yang mulai mencomot gorengan di meja. Kebiasaan, deh. Diva itu kalau sudah melihat tahu isi, dia tidak peduli keadaan. Selama bisa diambil, dia akan menghabiskannya. Aku segera mengambil piring berisi gorengan itu dan menjauhkannya dari jangkauan Diva.  “Sudah hampir magrib, Va. Tahunya dibungkus saja, ya.” Tanpa menunggu jawaban Diva, aku memasukkan tiga tahu isi ke dalam plastik. Lalu, berpaling pada Arvino.  “Mas bakal bawa Fadil ke panti, kan?” tanyaku memastikan.  “Iya. Datang aja kalau kamu mau mengunjungi dia. Kamu sudah catat alamatnya, kan?”  Aku mengangguk. “Terima kasih sudah menolong Fadil. Maaf tidak bisa menemani sampai dia sadar.”  “Aku juga ikhlas kok bantu Fadil. Hati-hati di jalan.”  Setelah menangguk, aku beranjak dari kursi dan menyeret Diva yang masih memandangi Arvino penuh selidik. Bisa panjang urusannya kalau dia ngobrol sama Arvino. Namun, langkahku terhenti saat Arvino memanggil. Aku menoleh padanya yang kini sedang melangkah mendekat.  “Jangan kelamaan memikirkanku, ya,” ucapnya lirih, lalu pergi begitu saja. Meninggalkanku yang bengong dan Diva yang menatapnya tak percaya.  “Kamu harus jelasin semuanya sama aku,” tuntut Diva. Aku hanya menghela nafas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD