Berbeda dengan pernikahan Damar dan Anna yang dirayakan dalam nuansa romantis di tepi pantai, pernikahan Raka dan Febi diselenggarakan di hotel mewah dengan dekorasi serba putih yang sama mewahnya. Jika di pesta pernikahan Damar dan Anna hanya dihadiri keluarga dan teman dekat, pesta pernikahan Raka dan Febi justru penuh dengan para petinggi perusahaan.
Ke mana pun Raka melihat, ia hanya bisa melihat tamu undangan yang berdandan terlalu glamour. Raka terbiasa berada di tengah pesta seperti ini. Di sebelahnya, Febi juga tampaknya baik-baik saja. Namun, ketika tatapan Raka jatuh pada meja tempat keluarganya duduk, melihat mereka tertawa bersama, Raka mendadak merasa begitu kesepian di tempatnya duduk.
Saat itulah, Raka melihat Dera menoleh ke arahnya. Adik bungsunya itu seketika berdiri dan menghampiri Raka.
“Kak Raka butuh sesuatu?” tanya Dera begitu ia membungkuk di depan Raka.
Raka menggeleng.
“Kak Febi?” Dera bertanya pada Febi juga.
Di sebelah Raka, Febi menggeleng. Agaknya terkejut karena Dera menanyakan itu juga padanya. Dera lantas menegakkan tubuh, menatap Raka dan Febi bergantian.
“Apa kalian nggak bisa senyum sedikit aja di hari pernikahan kalian?” tuntut Dera.
Raka menoleh pada Febi dan mendapati wanita itu juga menoleh ke arahnya. Ia tampak terkejut dan bingung.
“Aku tahu, pesta kayak gini melelahkan. Tapi, tolong jangan kompak merengut di depan orang-orang, dong,” kata Dera geli. “Kalau kalian butuh sesuatu, ada aku sama yang lain.” Dera mengedik ke arah meja tempat keluarga mereka berada.
Raka tersenyum mendengar itu. “Makasih, Ra.”
Dera balas tersenyum. “Akhirnya, aku lihat Kak Raka senyum juga.” Ia lalu menatap Febi. “Kak Febi juga. Senyum, dong. Kak Febi tambah cantik kalau senyum. Kak Febi lagi makai gaun pengantin paling mewah yang bakal jadi sorotan media. Hari ini, Kak Febi ratunya.” Dera mengerdip pada Febi.
Febi menggumamkan terima kasih sembari tersenyum. Dera merapikan helaian rambut Febi sebelum kembali ke mejanya.
“Kamu punya adik cewek yang manis,” komentar Febi di sebelahnya.
Raka menoleh pada wanita itu. “Kamu nggak tahu masalah apa yang bisa dia lempar ke aku.”
Febi mengangkat alis. “Masalah? Dera?”
Raka mengangguk. “Dia kabur waktu aku mau ngirim dia sekolah ke luar negeri. Itu awal cerita dia bisa ketemu sama suami dan teman-temannya,” ceritanya.
Febi menatap ke arah meja Dera dan tersenyum sendu. “Aku envy sama dia.”
Raka mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Karena dia bisa ngelakuin apa yang dia pengen,” jawab Febi seraya menatap Raka.
Selama beberapa saat, mereka hanya saling menatap. Hingga Raka berkata,
“Kamu juga bisa ngelakuin apa yang kamu pengen sebagai istriku.”
“Beneran? Apa pun yang aku pengen?” Febi memastikan.
Raka tersenyum dan mengangguk.
“Sejujurnya, itu emang rencanaku begitu aku nikah. Aku udah janji sama diriku sendiri, aku akan ngelakuin apa pun yang aku pengen begitu aku nikah,” ungkap Febi.
“Dan aku ngedukung kamu dalam hal itu,” janji Raka. Setidaknya, hanya itu yang bisa ia berikan pada wanita yang telah memberinya tiga hal yang ia butuhkan sekaligus. Perusahaan, pernikahan, kebebasan.
***
“Kenapa kita harus pergi bulan madu segala?” tanya Febi ketika mobil pengantin yang mereka tumpangi membawa mereka dari hotel ke bandara.
“Karena ini hadiah dari teman Dera, rekan bisnis tapi juga saingan bisnisku, sekaligus anak dari teman papamu. Putri keluarga Brawijaya,” sebut Raka seraya memberikan tiket dan passport Febi. “Dia juga datang tadi.”
Febi tahu sedikit tentang putri bungsu keluarga Brawijaya. Cantik dan menakutkan. Bahkan setelah menikah pun, kecantikannya tak berkurang, dan auranya tetap sekuat sebelumnya.
“Aku juga pernah ketemu dia beberapa kali di pesta perusahaan,” sahut Febi.
“Kita akan pergi ke resort yang dulu dia bangun. Shine World resort,” terang Raka.
Shine World resort? Itu salah satu resort favorit, terbaik, dan populer di kalangan eksekutif. Bahkan sampai saat ini, mereka perlu memesan jauh-jauh hari untuk mendapatkan kamar.
“Kamu sedekat itu sama putri Brawijaya itu?” Febi penasaran.
“Adikku yang dekat sama dia. Sementara kalau sama aku ... lebih banyak ke saingan bisnis.” Raka meringis. “Kalau nanti kamu ketemu dia lagi dan dia ngomongin hal-hal aneh tentang aku, jangan didengerin.”
Febi mengerutkan kening. “Ngomongin hal aneh kayak apa, maksudnya?”
Raka berdehem. “Apa aja. Dia ... orang yang usil dan suka ikut campur urusan orang lain.”
“Itu ... aku baru dengar. Yang aku tahu, dia bukannya nggak pernah peduli sama orang lain, ya?” tanya Febi.
“Ya, dia nggak peduli sama orang lain. Cuma sama keluarganya. Sayangnya, berkat adikku, aku masuk di daftar itu.” Raka mengedikkan bahu, sok cuek. Namun, dari ekspresinya, Febi bisa melihat pria itu tampak terganggu.
“Padahal, banyak orang yang pengen dapat perhatian dia,” sebut Febi.
“Orang itu bukan aku.” Raka mengedik. “Lagian, orang yang pengen dapat perhatian dia itu sebenarnya pengen dukungan kekuasaan dia aja. Baguslah, anak itu nggak pernah ngasih kesempatan siapa pun buat manfaatin dia.”
Febi tersenyum. “Kamu ternyata juga peduli ya, sama dia?”
Raka berdehem. “Perjalanan kita masih panjang. Kamu bisa tidur dulu. Nanti aku bangunin begitu kita sampai di bandara.” Ia mengalihkan pembicaraan.
Febi mengangguk dan meregangkan tubuh. “Hari ini emang hari yang berat,” akunya. Ia bersandar dan membuat dirinya nyaman di kursinya.
***
Raka menunggu selama setidaknya tiga puluh menit setelah tiba di tempat parkir bandara. Toh jadwal penerbangannya tidak begitu mepet. Ia melirik Febi yang tampak lelap dalam tidurnya. Setelah melewati hari yang berat, ia pasti sangat lelah. Ketika Febi bergerak pelan dalam tidurnya, Raka berdehem. Saat itulah, perlahan mata wanita itu terbuka.
Ia menoleh pada Raka, masih tampak mengantuk. Juga lelah.
“Kita udah sampai,” Raka memberitahu.
Febi mendesah pelan, mengangguk. Ia menarik rambutnya ke belakang dan menyanggulnya dengan asal. Meski begitu, sanggulan itu tetap tampak rapi. Febi tak menunggu Raka dan turun lebih dulu. Namun, wanita itu langsung pergi tanpa mengambil kopernya.
Raka meminta Jonas, asistennya, untuk membawakan koper Febi dan segera menyusul wanita itu. Namun, tanpa menunggu Raka, lagi, wanita itu sudah siap untuk check in. Menganggap itu bukan masalah besar untuk diributkan, Raka melanjutkan kegiatannya mengurus koper miliknya, juga milik Febi. Meski kemudian, seorang petugas bandara membereskan masalah itu untuknya.
Raka lantas menyusul Febi ke ruang tunggu boarding. Di sana, wanita itu tampak sibuk dengan ponselnya. Raka melirik ke arah ponsel Febi begitu duduk di sebelah wanita itu. Dilihatnya wanita itu sedang browsing tempat wisata di Kanada.
Ia ingin memberitahukan beberapa tempat bagus di sana, juga tentang resort yang memiliki banyak fasilitas, tapi Raka menahan diri. Untuk apa juga ia ikut campur?
Raka kembali melirik ke arah ponsel Febi. Melihat jembatan gantung muncul di layar ponsel wanita itu, Raka sudah akan menyarankan jembatan gantung terbesar di sana. Namun, Febi tiba-tiba berdiri dan berjalan pergi. Kemudian, terdengar suara pemberitahuan untuk boarding.
Raka menghela napas seraya berdiri dan menyusul Febi. Wanita itu bahkan tak menunggu Raka. Ketika Raka tiba di kursi mereka, Febi bahkan tak menoleh ke arahnya. Tak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk memejamkan mata begitu kepalanya mendarat di sandaran kursi.
Bahkan esok malamnya, setelah mereka transit dan ganti penerbangan, Febi masih tak mengajak Raka bicara. Di penerbangan malam itu, seorang pramugari datang untuk menyiapkan tempat tidur mereka. Begitu tempat tidurnya sudah disediakan, tanpa menunggu waktu lama, Febi naik ke tempat tidurnya.
Setelah menaikkan pembatas di antara kursi mereka, wanita itu berbaring, menarik selimutnya dan memejamkan mata. Ketika pramugari menanyakan apakah ada hal lain yang yang ia butuhkan, Raka menggeleng dan mengucapkan terima kasih.
Seperginya pramugari itu, Raka baru berbaring di tempatnya. Namun, meskipun ada pembatas di antara mereka, Raka mendapati dirinya tak bisa langsung tertidur. Pikirannya otomatis melayang pada sosok yang berbaring di sebelahnya.
Di pesta pernikahan mereka, ketika Raka dan Febi dinyatakan sebagai suami-istri, Raka tak merasakan apa pun. Ia tahu, apa arti pernikahan ini. Begitu pun Febi. Namun, saat ini, memikirkan istrinya tidur di sebelahnya, Raka merasa ... aneh. Ia seolah disadarkan bahwa ia benar-benar sudah menikah. Ia punya seorang istri sekarang.
Raka tersenyum. Ia memilih istri yang tepat.
***
Febi meregangkan tubuh ketika akhirnya keluar dari bandara. Ia menoleh ke kanan-kiri, tapi tak menemukan Raka. Ke mana pria itu?
Febi sudah akan kembali ke dalam ketika seorang wanita yang mungkin seusianya, menyebutkan namanya,
“Miss Febiana Stella.”
Febi mengamati wanita itu. Orang Indonesia.
“Oh, maaf, seharusnya Mrs. Fabian,” koreksi wanita itu sembari tersenyum.
Fabian? Oh, nama belakang Raka. Raka Jendra Fabian.
“Saya Milla, sekretaris Bu Lyra yang dikirim kemari untuk mendampingi Pak Raka dan Bu Febi,” terang wanita itu.
Febi sudah akan memberitahu jika Raka menghilang, ketika wanita di depannya tiba-tiba berlari ke arah pintu keluar bandara. Febi memutar tubuh dan melihat Raka mendorong troli berisi koper pria itu, juga koper Febi. Ia mengerutkan kening. Kenapa Raka repot-repot membawa kopernya? Selama ini, Febi tak pernah mengurus semua barang-barang bawannya sendiri jika pergi ke luar negeri.
“Maaf, Pak, saya terlambat menjemput Pak Raka dan Bu Febi,” ucap Milla seraya hendak mengambil alih troli di tangan Raka.
“Nggak pa-pa,” balas Raka seraya menolak bantuan Milla. “Di mana mobilmu?” tanyanya.
Milla akhirnya menunjukkan jalan pada Raka. Ketika melewati Febi, Milla juga mempersilakan Febi untuk mengikutinya. Febi sempat melirik Raka yang ternyata sedang menatapnya. Febi kontan memalingkan wajah, pura-pura tak melihat.
Begitu mereka di dalam mobil, itu pun duduk bersebelahan di kursi belakang, tak satu pun dari mereka berbicara. Hanya terdengar suara Milla yang memberitahukan bahwa mereka nanti akan menyeberang dengan kapal, alih-alih helikopter.
Bahkan hingga mereka berpindah ke kapal pun, Milla yang masih terus berbicara. Memberitahukan tentang ini-itu, menyebutkan berbagai hiburan di resort. Febi bisa melihat, Milla adalah pekerja keras. Mungkin juga karena ia adalah sekretaris si putri Brawijaya itu.
Saat mereka berpindah ke mobil, hendak menuju ke tempat istirahat mereka, barulah Febi mendengar suara Raka,
“Milla, bisa saya minta tolong?”
Febi melirik pria yang duduk di sebelahnya itu dengan kening berkerut.
“Ya, Pak? Apa yang bisa saya bantu?” balas Milla sopan.
“Kalau bisa, selama acara bulan madu kami di sini, tolong temani istri saya ke mana pun dia pergi.” Raka menyebutkan permintaannya.
Menemani istrinya? Memangnya ... tunggu! Istri Raka, kan, Febi?
“Kenapa dia harus nemenin aku?” protes Febi.
Raka menatap Febi, tampak terkejut.
“Aku lebih suka jalan-jalan sendiri,” tukas Febi. “Aku udah cukup ngelewatin waktu jalan-jalan bareng bodyguard, sopir, sekretaris dan orang-orang yang dikirim Papa.”
Raka mengerjap. “Aku ... maaf, harusnya aku tanya ke kamu dulu.” Pria itu lalu menatap ke arah Milla. “Milla, lupain aja permintaan saya tadi.”
Milla menatap Raka dan Febi bergantian, lalu mengangguk.
Namun, sepanjang sisa perjalanan, Febi merasakan kecanggungan yang mencekik di mobil itu.
Seharusnya ia bisa menahan diri. Dan seharusnya, ia ingat jika ia adalah seorang istri sekarang. Istri dari Raka. Ditambah, mereka kemari untuk berbulan madu. Oke, Febi mencatat itu dalam kepalanya.
***