Bab 3 Yes, Married

1546 Words
“Kak Raka beneran mau nikah?” “Kalian udah makan siang?” Raka bertanya, mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan Anna. “Kak Raka baru aja balik dari makan siang. Jadi, kalian terlambat kalau mau ngajak Kakak makan siang.” Adik dari adik iparnya itu memang tak jauh berbeda dengan Dera. Lebih parah, bahkan. “Kakak bayar berapa itu ceweknya?” Raka bahkan sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan seperti itu. “Kamu sama Damar kapan acara pernikahannya?” Raka kembali menghindari menjawab pertanyaan Anna. “Bulan depan,” jawab Anna ketus. “Awas aja kalau Kak Raka ngeduluin.” “Nanti Kak Raka nikah seminggu setelahmu,” balas Raka datar. Anna melotot. “Kakak juga udah nentuin tanggal pernikahannya?” Raka mengangguk. “Kakak beneran ngebayar cewek buat nikahin Kakak?” Tuduhan gila itu lagi. Raka berdehem. “Gimana kalau nanti malam kita makan malam bareng? Sama Dera dan Dhika juga.” Anna ternganga tak percaya. “Kakak mau ngenalin calon istri?” Raka mengangguk. “Tapi ... itu Kak Raka nemu di mana?” “Dia calon istri Kak Raka, Ann. Bukan barang,” jawab Raka tegas. “Itu dia maksud Anna. Dia bukan barang. Jadi, gimana bisa dia mau aja langsung nikah sama Kak Raka? Anna sama Damar aja butuh bertahun-tahun bareng. Kak Dhika sama Kak Dera juga. Pernikahan kan, bukan sekadar nyebar undangan dan ngumumin kalau kita udah nggak jomblo lagi.” Anna memutar mata. Raka menarik napas dalam. “Dia putri dari sahabat orang tua Kak Raka, yang juga rekan bisnis Kakak sekarang. Papanya nawarin Kak Raka buat nikah sama dia dan ... yah, kita cocok.” “Cocok dari mananya? Sekali ketemu langsung cocok, gitu?” cibir Anna. “Dua kali,” koreksi Raka. Anna tertawa kering. “Kak, sejujurnya, Anna tertarik buat bikin novel berdasar cerita Kak Raka. Jadi ...” “Jangan ngeledek Kakak,” potong Raka kesal. “Ini bukan novel, tapi kehidupan Kakak.” Anna mengangkat tangan. “Kehidupan yang luar biasa menakjubkan. Kak Dera pasti bakal terharu kalau tahu.” Raka mendecak. “Tadinya, Kak Raka nggak mau nyinggung tentang ini, tapi ...” “Kalau gitu, jangan disinggung,” sela Anna. Mengabaikan itu, Raka melanjutkan, “Hubungan kalian bahkan lebih rumit daripada hubungan Kak Raka sama calon istri Kakak. Kamu tahu, itu karena apa? Karena kalian jatuh cinta. Kalian berantem untuk hal-hal remeh. Tapi, hal kayak gitu nggak akan ada di pernikahan Kakak. Kami menikah karena kami cocok satu sama lain. Kami punya keperluan dan tujuan yang sama. Nggak ada alasan yang lebih sempurna dari ini untuk sebuah pernikahan.” Kali ini, Anna terbahak keras. “Kak Raka terlalu lama makai kepala sampai-sampai hati Kakak beku. Tapi, Kak, biar Anna kasih spoiler nih, ya. Kehidupan pernikahan itu nggak pernah mudah. Anna udah ngamatin hubungan Kak Dhika sama Kak Dera. Bahkan meski mereka saling mencintai ...” “Itu!” Raka memotong. “Saling mencintai mungkin adalah faktor error-nya.” Anna menatap Damar, seolah meminta bantuan, tapi Damar hanya mengedik santai. Raka selalu suka sikap cool Damar. “Kak Raka tahu, nggak? Satu-satunya yang error di sini tuh, Kak Raka,” tandas Anna. Setelah mengatakan itu, Anna berbalik dan pergi lebih dulu meninggalkan ruangan Raka. “Sampai ketemu nanti malam, Kak,” pamit Damar sebelum menyusul Anna. Raka menunggu sampai Damar keluar dari ruangan itu, baru ia bisa mengembuskan napas lega. Bagus. Itu tadi pembelaan yang bagus. Ia sudah cukup berlatih untuk nanti malam. *** Baru tadi siang Febi dan Raka makan siang bersama, dan malam ini, Febi harus makan malam bersama keluarga pria itu. Febi mengecek penampilannya sekali lagi dari kaca spion mobil, lalu menarik napas dalam dan turun. Ia menatap rumah besar di depannya selama beberapa saat. Rumah calon suaminya. Apa setelah menikah nanti, Febi akan tinggal di sini juga? Itu berarti, Febi akan berada jauh dari papanya dan tinggal dengan orang asing. Febi menyingkirkan pikiran itu untuk menenangkan diri. Ia tidak boleh memikirkan apa pun. Ia harus menemui keluarga Raka. Keluarga calon suaminya. Uh, mendadak perut Febi terasa mulas. Febi menekan tangannya di d**a, menarik napas dalam beberapa kali. Ia baru mengambil langkah pertama ketika pintu depan rumah itu terbuka. Lalu, seorang wanita muda dengan pakaian santai, kaos dan celana jeans, keluar dari sana. Wanita itu melambai ke arah Febi, lalu menghampirinya. “Maaf, Kak Raka emang payah dalam urusan cewek.” Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan wanita itu begitu tiba di depan Febi. “Dan aku Anna. Salam kenal.” Febi tersenyum, canggung. Ia belum sempat ganti memperkenalkan diri ketika wanita itu mengajaknya masuk ke rumah. Namun, dalam perjalanan, Febi menunduk dan menatap gaun panjang tanpa lengan dengan belahan tinggi di sisi kiri yang ia kenakan. Sepertinya, ia berlebihan. Ketika Febi akhirnya masuk ke rumah itu, ia disambut ruang depan yang luas, dengan lampu kristal di tengah ruangan. Dekorasi yang tak jauh berbeda dengan rumahnya. Hanya saja, di ruang depan itu ada sofa yang sudah penuh dengan orang-orang yang baru pertama kali dilihat Febi. Kecuali Raka. Namun, melihat pakaian santai mereka, Febi mendadak merasakan keinginan untuk kabur saat itu juga. Bahkan Raka hanya mengenakan kaus polo dan celana kain yang tampak nyaman. “Satu, Kak Raka nggak ngasih tahu dress code acara kita ke calon istri Kakak. Dua, Kak Raka nggak jemput dia ke rumahnya dan malah ngebiarin dia nyetir sendiri ke rumah ini. Tiga, Kak Raka bahkan nggak jemput dia di depan sana tadi. Itu daftar kesalahan Kak Raka malam ini.” Febi melirik Anna yang baru saja mendaftar kesalahan Raka. Meski, Febi tak bisa menyalahkan Raka. Pria itu sempat menawari, apakah Febi meminta dijemput. Tentu saja Febi menolak. Baru dua bulan terakhir ia mendapat izin mengemudi sendiri dari papanya. Ia tak akan mengizinkan siapa pun mengambil itu darinya. Raka berdehem dan berdiri. “Aku ganti baju dulu. Kalian juga ... ganti sama baju yang pantas.” Mendengar itu, Febi kontan berseru, “Jangan!” Seketika, semua mata menatapnya. “Itu ... biar aku aja yang ganti baju. Aku ... bawa baju cadangan di mobil. Jadi ... biar aku aja yang ganti baju. Aku bisa ganti baju di mobil, tapi kalau aku bisa pinjam ruangan di rumah ini ...” “Kamu bisa ganti baju di sini.” Kalimat Raka membuat Febi melotot kaget. “Jangan m***m deh, Kak,” komentar Anna di sebelahnya. Raka berdehem seraya menunduk. “Maksudku, kamu bisa ganti baju di rumah ini. Di kamarku. Itu lebih nyaman daripada di mobil.” Febi menggumamkan terima kasih sebelum berbalik dan bergegas keluar dari sana. Ia sampai menabrak sisi pintu depan karena terburu-buru. Oh, memalukan sekali. *** Seumur hidupnya, Raka baru tahu keluarganya bisa setenang ini ketika berkumpul. Karena, ia tahu lebih baik dari siapa pun, keluarganya selalu berisik jika sudah berkumpul. Namun, saat ini ... Raka tak mendengar satu komentar atau bisikan pun dari mereka. Bahkan tidak satu deheman pun. “Jadi ... ini rumahmu.” Febi yang pertama berbicara sejak mereka pindah ke ruang makan lima menit lalu. Raka mengangguk. “Rumah keluargaku, lebih tepatnya. Aku tinggal di sini sama dua adik laki-lakiku. Angga sama Dimas.” Febi menatap orang-orang di sekeliling meja, tampak mencari. “Yang duduk di sebelahku ini Dimas. Anak kedua di keluargaku. Yang di sebelah Dimas itu Angga. Dan adik bungsuku ...” Raka mengedik ke arah Dera yang duduk di sebelah kanan Febi, “Dera.” Febi mengangguk-angguk. “Itu adik iparku, Dhika, dan keponakanku, Rendra.” Raka menoleh ke arah Dhika dan Rendra yang duduk di sebelah Dera. “Dan itu ...” Raka menoleh ke arah Anna yang duduk di sebelah kiri Febi, “adiknya Dhika, Anna,” Raka menoleh pada Damar yang duduk di seberang Anna, “dan calon suaminya, Damar.” Febi kembali mengangguk-angguk. Lalu, tak ada yang bersuara. Sementara, hampir semua mata tertuju hanya pada Febi. Hanya Dhika, Damar dan Rendra yang tidak memelototi Febi saat ini. “Berhenti lihatin dia kayak gitu. Kalian bikin dia nggak nyaman,” tegur Raka. “Dan kita di sini untuk makan malam.” Seketika, tatapan yang tadinya tertuju pada Febi, berpindah padanya. “Kakak belum ngenalin dia ke kita, omong-omong,” Dera mengingatkan. Raka berdehem. “Ini Febi. Calon istriku. Dia putri Om Anton.” “Aku baru tahu Kakak kenal sama putrinya Om Anton,” ujar Dera, setengah menyindir. “Aku bahkan baru tahu pas pulang kerja tadi kalau kita ada makan malam sama calon kakak ipar kita,” celetuk Angga. “Lebih tepatnya sih, aku sama Kak Dimas baru tahu kalau Kak Raka mau nikah tadi sore. Itu pun dari Anna.” Raka mengabaikan itu dan berbicara pada Febi, “Semoga kamu suka makanannya.” Febi mengangguk dan tersenyum tipis. Ia lalu menatap ke meja makan, dan menggeser piring berisi udang saos tiram di depannya. “Aku alergi udang,” beritahunya. “Aku bisa langsung masuk rumah sakit meski cuma makan sepotong.” “Bagus. Kak Raka hampir bikin calon istri Kakak masuk rumah sakit di pertemuan pertama sama keluarga.” Kalimat sinis itu datang dari Anna. Raka menulikan telinga dan mengambil piring berisi udang yang tadi digeser Febi. Ia memanggil Bi Sumi dan memintanya membawa udang itu ke dapur. Lalu, suasana kembali hening. Canggung. “Kalian akan nikah dengan hubungan kayak gini?” Pertanyaan itu datang dari Anna. Lagi-lagi anak itu. Febi tampak terkejut karena diserang tiba-tiba seperti itu. Ia menoleh pada Raka, tampak bingung. “Hubungan kami baik-baik aja. Aku tahu apa yang perlu aku tahu tentang dia.” Raka memberikan jawaban tegas. Anna mendengus pelan. “Trus, sebanyak apa calon istri Kakak tahu tentang Kak Raka?” Raka terkejut ketika Febi angkat bicara, “Aku cukup tahu tentang Raka.” Kini semua mata menatap Febi, sementara wanita itu menatap Raka. “Dia pemimpin perusahaan besar yang mendedikasikan hidup buat pekerjaan. Dia nggak pernah digosipin sama wanita, nggak pernah terlibat skandal. Dan ...” Tatapan Raka terpaku pada mata abu-abu Febi yang juga tertuju padanya, “dia bisa jagain aku.” Matanya berwarna abu-abu. Raka tak pernah memperhatikan itu sebelumnya. “Itu aja dan kalian akan nikah?” Anna menyangsikan. Kali ini, Raka yang menjawab, “Ya. Kami akan menikah.” Raka tak pernah semantap ini dalam mengambil keputusan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD