4.

1062 Words
[ Raline ].  ***      Aku melihat Rachal, adik laki-lakiku satu-satunya dengan tatapan tajam. Bercampur lelah karena baru saja melakukan adegan kekerasan. Aku nyaris melemparnya dari jendela lantai tujuh, tepat di jendela kamar apartemenku. Rachal tidak bergeming, masih duduk merapatkan lutut dengan kepala tertunduk. Setidaknya dia tahu apa itu malu.       Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menahan semua rasa marah yang sulit aku jabarkan lagi.      "Kakak mau minjemin kan?" Berani-beraninya dia buka suara! Aku hendak memukulnya dengan lampu tidurku, tapi kutahan mengingat mendiang Mama dan Papa sangat menyayangi Rachal karena dia satu-satunya anak laki-laki di keluargaku.       Lihat Ma, Pa. Anak kesayanganmu mau bikin kakaknya mati miskin.       "Minjem?!" kataku meninggikan suara lagi. "Memangnya nanti kamu mau bayar pakai apa? Hah?! Ginjal kamu???" jeritku.      Rachal meringkuk lagi seperti ular bulu terbakar api.      Huh siapa peduli, siapa yang suruh dia ikut taruhan sampai kalah puluhan juta? Rachal terlihat hendak bersuara lagi, tapi aku segera bangkit dari tempat tidur.           "Kamu pikir kakakmu ini ternak tuyul dan banyak uang?!"   Demi Tuhan Rachal, aku bahkan belum lama keluar dari pekerjaanku. Pekikku dalam hati.      "Nanti aku masuk penjara Kak." katanya lagi, suaranya bergetar.       "Seenggaknya kamu dapet tempat tinggal dan makan gratis. Daripada hidup sama kakakmu yang bentar lagi jadi gelandangan gara-gara ulah adiknya." racauku mencoba menakut-nakuti Rachal.      Dipikirnya uang dua ratus juta itu sedikit kali. Aku mulai menghitung jumlah tabunganku, dan hal itu membuat kepalaku tiba-tiba nyeri minta ampun. Entah ujian atau kutukan macam apa ini, walaupun aku sangat ingin melihat Rachal meringkuk di penjara supaya dia jera tapi dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sangat menyayanginya.      Rachal satu-satunya keluargaku yang tersisa. Semenjak kecelakaan mobil yang membuat Mama dan Papa meninggal beberapa tahun silam, kami hanya hidup berdua. Saling menguatkan satu sama lain, bekerja siang-malam demi mencukupi kebutuhan hidup.            Aku duduk lagi, kakiku rasanya tak kuat menopang tubuhku lama-lama.           "I still can't believe this Rachal. Kamu sangat keterlaluan." kataku lemah.       "Aku cuma mau kakak nggak kerja terlalu keras lagi, kalau kita punya uang banyak kan kakak nggak perlu lagi kerja sampai subuh, nggak perlu lagi Sabtu Minggu kerja." katanya, naif sekali.       Aku melengos, tidak sanggup melihat wajah adikku yang masih bocah ini.      "Kalau kamu mau bantu Kakak, selesaikan sekolahmu itu! Bukan malah begini, kamu mau putus sekolah hah?!" tanpa sadar nada suaraku sudah meninggi lagi.       Rachal diam, aku pun sudah tidak punya tenaga untuk bersuara lagi.      Aku pengangguran level dewan tertinggi, dan sekarang adikku sendiri mau menghabiskan seluruh tabunganku.           "Kemasi pakaian, besok kita cari kontrakan." Rachal menatapku clueless.       "Kamu pikir kakakmu ini masih bisa bayar sewa apartemen kalau semua uang yang kakakmu punya dipakai buat bayar utangmu???"                                                                *****************************************       "Kantorku lagi nyari personal assistant kebetulan, siapa tau lo berminat." kata Abi dengan polosnya. Aku hanya tersenyum seadanya waktu itu. Setelah pertemuan tidak sengaja di toko buku, Abi dan aku memutuskan untuk ngobrol sambil makan. Obrolan yang ajaibnya mengalir begitu saja sampai aku mengatakan bahwa aku sedang jobless.  But No way Abi. Till the end of the time - aku, Ralineda Sakura nggak akan pernah jadi bawahan mantan selingkuhanku sendiri.      Dibayangkan aja nggak make senses.      Lucu aja. (Pikirku saat itu)       High Heels Steve Madden warna coklat muda menimbulkan suara derapan yang natural, memasuki lobi Menara Tower yang sama megahnya dengan gedung kantorku yang dulu.      Sekilas aku mengecek penampilan di pantulan pintu lift. Blazer warna khaki- oke, rok span selutut, cepol rambut hari ini juga sudah oke.       Memakai pakaian terbaik adalah kunci kepercayaan diri saat interview, itu pendapatku.       Ponselku berbunyi.      "Hallo?" sapaku tenang.       "Sudah sampai?" nada suara Abi terdengar tak beraturan.      Ya. Here I am.      Menanggalkan semua gengsi yang aku miliki sejak lahir, lalu menerima tawaran Abi untuk jadi personal assistant nya.      Agnes menertawaiku saat aku meminta pendapatnya. Pilihanku saat ini ada dua, tetap dengan keteguhanku tapi aku jobless dan jadi gelandangan, atau menerima tawaran Abi buat jadi PA nya.           Oh ada satu opsi lagi, kembali ke kantor lama yang mana itu membuatku terlihat semakin menyedihkan.      "Baru aja sampai, lagi di resepsionis." jawabku, tidak lama muncul Abi menghampiriku dengan senyum lebarnya.      Anyway, aku masih tidak tahu apa jabatan Abi di perusahaan ini sampai si Resepsionin bernama Ana mengatakan "Oh, Pak Abi Manager General Affair ya Bu?"       Manager.       Aku, yang keluar dari pekerjaannya sebagai PA Presiden Direktur J Group, yang mimpinya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih sesuai dengan dirinya. Sekarang, saat ini, menit ini, detik ini, melamar sebagai PA manager?      Sungguhlah breaking news. Rachal harus membayar ini dengan jantungnya!!!      Abi menjabat tanganku, hanya formalitas aku rasa.      "Gue udah baca CV lo, impressive." kata Abi.      Pengalamanku mungkin terlewat impresif untuk lowongan PA manager.      PA manager.      Astaga, kepalaku mau pecah.       "Interview disini?" tanyaku to the point.      Walaupun yang menawariku kerja managernya langsung, paling nggak harus sesuai SOP lah. Abi mengangguk, lalu menyuruhku mengikutinya memasuki ruangan Direksi.       Wait. Ruang direksi?       "Lo direksi disini?" tanyaku melongo.       Abi tertawa. "Gue kuliah bareng lo, seangkatan. Darimana ceritanya gue tiba-tiba jadi direksi."       Aku nyengir bodoh. Beberapa menit lalu aku secara tidak langsung merendahkan jabatannya, dan sekarang aku sadar sesuatu.      Kami seangkatan jaman kuliah, dia udah jadi manager di umur 26 tahun.       Dia yang terlalu meroket karirnya, atau karir ku yang separah hutan Kalimantan yang mau gundul?            "Direksi Strategy Plan yang baru butuh personal assistant. Bukan buat gue. Dia mau interview langsung, nggak percaya taste HRD disini." kata Abi, memberi informasi tambahan.      Seolah tahu pertanyaan yang berterbangan di kepalaku. Aku mengangguk spontan. Abi mengetuk pintu ruang direksi, aku mengintip di balik bahunya.       "Pak, perkenalkan kandidat PA yang saya rekomendasikan untuk Bapak." ujar Abi pada sesosok pria yang sedang fokus bermain games di ponselnya.        Bermain games di ponselnya.      Games. GAMES saudara-saudara.      Apa dia dapat inspirasi pengembangan bisnis dari bermain games? Bukan perusahaan Game developer lho padahal.       "Oh." ujar si Bapak Direksi ini.      Aku Lepas dari Lenan, masa iya sekarang dapat yang model begini Tuhan....      Abi keluar, meninggalkanku dan si Gamers berdua.      Aku masih berdiri kikuk tepat di hadapan si Gamers, menunggu dia menyuruhku duduk.       "Duduk." katanya seraya meletakkan ponselnya dan beralih melihatku.       Aku tercengang.      Tidak, tidak. Dia lebih tercengang.      Tepatnya, kami berdua kaget.      Kaget yang alami dan jelas terlihat di ekspresi kami.       "Ralin?" katanya si gamer ragu.      Aku menggigit lidahku.       Anggota duo racun is in this room as Strategy Plan Director????       "Iya Pak." sahutku singkat.      Hamifh berusaha bersikap biasa, menghilangkan raut terkejut di wajahnya yang mana berhasil kataku. Sekarang dia memasang ekspresi layaknya Bos Besar berwibawa yang hidupnya dipenuhi ide-ide brilian.  "Games nya lagi seru ya Pak?" timpalku lagi. Sedetik berikutnya, kami saling diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD