[ Raline ]
Resign-lah sebelum resign itu dilarang.
***
Ada nggak, di dunia ini selain aku yang hobi galau sama keputusan yang udah diambil sendiri? Padahal perjuangan mendapatkan tanda tangan Bos Lenan di Exit Formku susahnya ngalahin minta tanda tangan Justin Bieber.
Tapi sekarang setelah semua keribetan proses resign berakhir aku malah bingung. Bingung menata ulang hidupku. Profesi apa yang sekarang ingin aku perjuangkan? Untungnya uang pesangon dari Perusahaan cukup buat menghidupiku at least for six months or more.
Belum lagi kalau aku nyairin iuran pensiun di salah satu lembaga pemerintahan yang udah aku tabung kurang lebih empat tahun ini. Bisa lah buat bertahan lebih lama sampai aku mendapatkan pekerjaan baru.
Tapi tergantung dari level hidupku sih, kalau mau hidup mewah paling cuma bertahan dua bulan, kalau mau hidup serba biasa bisa lah bertahan tujuh bulan, apalagi kalau buat hidup super sederhana. Bisa kali tuh buat setahun. Intinya, aku bisa hidup menganggur sementara waktu sambil memikirkan mau dibawa kemana karirku ini.
[Agnes : dimane lo? DWP yo.]
Gue meringis baca chat Agnes. Yang gini ini nih yang bikin boros. Nonton konser band atau artis luar negeri. Bukan gaya hidupku sebenarnya, cuma kebiasaan aja Agnes minta temani nonton. Kebiasaan buruk Agnes yang lain, minta ditemani tapi nggak mau bayarin.
Jari-jariku menari lincah di layar ponsel, membalas chat Agnes.
[Gue denger lagunya Jamrud aja kejang-kejang, ini lagi nyuruh gue nonton Marshmallow.]
Aku kembali menyesap teh thailand favoritku, sambil melihat orang-orang bule bermain ice skating di Mall Taman Anggrek. Aku sengaja ngafalin hari dimana bule-bule ini emang ngadain pertandingan disini. Best spot kataku kalau lagi jalan sendiri sambil nonton permainan mereka. Siapa tau dapat inspirasi mau dibawa kemana hidupku ini.
Ponselku berbunyi lagi, udah aku duga balasan si Agnes.
[Agnes : gembel ah. Tipis lo. gak kawan.]
Trik kacangan Agnes. Aku langsung membalas lagi.
[Lo g kasian apa sm gue. Pengangguran nih. Harus hemat duit.]
[Agnes : aelah. Tau gue duit pesangon lo banyak]
Kan.
Batu banget emang yang namanya Agnes. Tapi walau keras kepala begitu, dia salah satu teman terbaikku selama di kantor. Dia juga rajin ngasih aku banyak lowongan pekerjaan dari kawan-kawannya yang banyaknya ngalahin ikan teri di lautan.
Emang akunya aja yang belum mantap buat apply apply kerjaan lagi. Basic kuliah ekonomi tapi bisa nyasar jauh jadi sekertaris. Sekarang harus benar-benar dapat pekerjaan sesuai ilmu sekaligus passionku. Gak boleh nyebrang haluan lagi. Niatnya sih gitu. Aku memutuskan untuk beranjak pergi dari singgasana, membawa gelas plastik teh thailand yang sekarang kosong untuk aku buang di tempat sampah. Sekalian pindah tempat buat cari inspirasi.
Lulusan ekonomi itu banyak dibutuhkan sebenarnya. Dari jadi accounting, marketing, audit eksternal atau internal, business development, credit analyst, dan masih banyak lagi yang nggak bisa aku sebutin satu-satu karena banyak nama jabatan yang ribet. Maklum aja, perusahaan punya wewenang sendiri buat memberi nama sebuah jabatan. Ambil contoh, Risk Acquisition Policy Analyst ribet kan namanya. Padahal mentok juga cuma kacung kapret aja.
Demi menghindari terjebak dalam nama jabatan yang ribet seribet pekerjaannya. Ke toko buku aja kali ya, siapa tahu banyak buku yang bisa menginspirasi. Belum sampai sepuluh langkah memasuki toko buku, kok berasa ada yang manggil?
Aku menyapu seluruh sudut Toko Buku dengan cepat. Sialnya lagi nggak pakai kacamata, objek objek yang agak jauh nggak terlalu terlihat jelas.
Tapi samar aku melihat seseorang mulai mendekatiku.
"Raline." sapa orang itu lagi.
Suaranya kok kayak—
"Abi?" gumamku.
Kalau orang yang aku temui sekarang bukan mantan pacar temanku mungkin aku akan terbahak. Pertemuan macam apa yang diawali dengan saling panggil gini. Drama sekali. Abi bukan cuma mantan pacar temanku, tapi juga mantan selingkuhanku.
Bertahun-tahun lalu. Jahat ya aku, macarin pacar teman sendiri. If Karma does exist mungkin memang aku sedang menjalaninya. Setelah konflik cinta segitiga antara Mila teman kuliahku, Abi dan aku berakhir.
Kemudian aku pacaran lagi dengan Yoga, hasil makcomblang Agnes. Tepat enam bulan yang lalu aku putus. Bisa ditebak sebabnya. Yoga selingkuh. Sekarang aku tahu gimana rasanya di selingkuhi. Sakitnya masih berasa.
"Ralineda. Masih inget gue kan?" tanya Abi lagi.
Bisa aja dia becanda. Mana bisa aku lupa sama dia. Sama tragedi kita.
Aku cuma bisa tersenyum tipis sambil mengamati Abi yang sekarang berubah 180 derajat.
Terlihat sangat dewasa dengan tatanan rambut dan gaya pakaian yang sangat berbeda ketika dulu masih di bangku kuliah. Dari sekian banyak Mall di muka bumi ini, kenapa aku bisa ketemu dia lagi. Bukan apa-apa, tapi tiap lihat dia aku jadi malu sendiri mengingat masa-masa kelamku jaman kuliah.
Ralineda, kapan sih lo beruntungnya?!