2.

498 Words
[ Raline ]   Hujan hari ini drama. Sedrama film korea—Raline, unlucky woman-self proclaimed  ***      "Ebuset, nape lo basah kuyup begitu? " Sambar Agnes ketika melihat aku datang ke kantor dengan baju basah dan telat pula.   Aku menghela nafas.      "Nggak liat jendela lo ujannya begitu?" Jawabku ketus sambil buru-buru mencopot sandal dan menggantinya dengan heels. Agnes kembali menghilangkan wujudnya bersembunyi di dalam kubikel. Lagi ngunyah bubur pasti.       "Tau nggak— " Kataku dengan nada setengah menggantung. Mencoba membangun suasana biar Agnes penasaran.       "Nggak." kata Agnes singkat, lebih banyakan suara kunyahan kerupuknya daripada jawabannya.   "Itu bukan pertanyaan sisteur. Pembukaan aja." Ujarku sambil menancapkan kabel hair dryer. "Gue mau resign." lanjutku yang membuat Agnes tersedak sledri bubur-atau-kuah-atau-entahlah aku nggak tahu pasti, karena hanya ubun-ubunnya yang nampak dari luar kubikel.   "Demi apa lo? " Agnes muncul dari persembunyiaan dengan bubur yang muncrat sedikit dari mulutnya.  "Udah cukup empat tahun gue mengabdi sama Bos super absurd kayak Lenan Jahja. Udah cukup sabar gue. Gue mau hidup tenang."   Sekarang Agnes sudah menghampiri mejaku. Menatapku dengan tatapan tidak percaya, tangannya bersedekap.   "Gue udah cukup sabar nyiapin bunga aneh-aneh tiap tanggal 18 bertaun-taun. Tobat gue tobat!" Kataku dramatis. Padahal ya Lenan nggak seburuk itu kok, dia baik cuma memang agak rumit.   "Kan doi udah putus sama si Nyonya-Yang-tinggal-di-Luar-Negeri dan gak balik-balik itu."   "Yasih, gue udah jenuh aja kayaknya. Eh, minggu kemarin dia nanya gue kenapa gue pake baju warna merah. Weird banget, pertanyaan macam apa itu." Aku masih merinding kalau ingat.   "Dia naksir lo kali?" sahut Agnes sembarangan.   "In your dream." Kataku sambil mencabut kabel hair dryer yang sudah selesai aku gunakan. Lenan Jahja bukan tipe bos yang akan suka sama bawahannya.   "Lagian ya— " Imbuhku. "Pas doi tanya. Doi sama sekali nggak liat wajah gue. Beda lah gesture orang naksir sama nggak."   "Lo udah dapet kantor baru emang?"  Pertanyaan Agnes membuatku diam. Menjadi seorang sekertaris bukan cita-citaku memang. Awal-awal taun kerja sebagai sekertaris banyak sekali pertanyaan untuk diriku sendiri yang nggak bisa aku jawab. Seperti, apa ini memang pekerjaan yang aku mau? Sampai kapan aku harus bekerja jadi seorang sekertaris? Apa gaji dan karirku cukup baik? Yah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Apalagi kalau Lenan Jahja memberikan pekerjaan yang aneh-aneh dan menguras kesabaran. Sudahlah, ingin loncat dari atap gedung aja rasa-rasanya. Semakin bertambahnya usia, aku hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang nyaman, tenang dan Bos yang normal.   "Dari muka lo kayanya belum dapet." Kata Agnes membuatku sadar dari lamunan.  "Gue cuma pengen hidup tenang Nes. That's what I need for now."   Empat tahun aku rasa cukup. Aku memutuskan untuk kembali mengembara di pasar bebas. Mencari pekerjaan baru yang sesuai untukku. Pekerjaan yang ada ketenangan dan kenyamanan di dalamnya. Well Lenan Jahja gak seburuk itu sih. Pintar, tampan, dan pekerja keras. Sangat berbeda dengan kedua temannya. Tapi, nggak tahu kenapa kebanyakan konglomerat punya kepribadian yang sangat sulit dipahami rakyat jelata.  Doaku hari ini.   Dear Tuhan... Please send me a nice Boss. I really need that. Give me a nice job and.... A nice boyfriend too. I really need that.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD