FIFTEEN

1285 Words

Terbersit rasa perih di hatiku tatkala melihat mata Alan yang menatapku kalut. Tatapan yang selalu mampu menarik perhatian lawan jenis itu tiba-tiba mengandung sebuah kepahitan. Maniknya dipenuhi oleh rasa kecewa dan kepedihan yang mendalam. Aku dapat merasakannya. Namun aku tak ingin mengakuinya. Aku tak mau mengakui bahwa aku merasakan betapa sakitnya perasaanku ketika melihatnya seperti itu. Egoku terlalu tinggi. Aku tak ingin merendahkan diriku dan membuatku terlihat murahan di hadapan Alan untuk kesekian kalinya. Tidak akan kuulangi kebodohanku itu. "Giz, kamu nggak lagi bohong, kan?" ...kamu. Terdengar sangat asing di telingaku. Alan tidak pernah berbicara dangan bahasa yang lebih sopan seperti ini sebelumnya. Dia adalah seorang womanizer. Dia adalah dewa bagi para wanita yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD