Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)
***
Di dalam ruangan Kenan, Kyara yang sudah mengganti bajunya yang basah dengan kemeja milik Kenan yang tampak kebesaran di tubuhnya kini duduk berhadapan dengan pria itu. Hanya ada meja yang menjadi batas antara Kenan dan Naya.
“Ken, kamu tuh nggak lihat apa wajahnya Naya yang cemburu kayak gitu?” tanya Kyara yang kdua matanya menatap lurus pada Kenan.
Mata Kenan mendelik. “Cemburu?” Dia bertanya balik pada Kyara seperti tidak mengerti maksud dari ucapan wanita itu.
“Iyalah, Ken. Masa kamu nggak sadar sih kalau sebenarnya sekretaris kamu itu punya perasaan sama kamu.” Kyara mendekatkan tubuhnya ke sisi meja untuk bisa menatap Kenan lebih dekat.
Kenan ikut memajukan tubuhnya mendekat ke sisi meja. “Kalau kamu sendiri masih ada perasaan sama aku nggak, Kya?” tanya Kenan sedikit mengusili Kyara.
“Kenan! Kita kan udah pernah bahas masalah ini. Kamu jangan mancing-mancing deh!” Kyara memarahi Kenan dan langsung memundurkan tubuhnya.
“Hahahaha ….” Kenan tidak bisa menahan tawanya karena reaksi Kyara barusan.
Di matanya, Kyara yang dulu dan sekarang tidak berubah. Sifatnya memang menjadi lebih dewasa mungkin karena dia memang sudah berkeluarga, tetapi Kyara yang masih memenuhi hatinya ini selalu mudah untuk diusili.
“Kyara, aku dan Naya sudah menjadi sepasang kekasih,” ungkap Kenan.
Mendnegar pertanyaan tersebuy kedua mata Kyara langsung membesar seolah tidak percaya. Raut wajahnya juga berubah senang. “Benar itu? Kamu nggak lagi ngusilin aku kan?”
“Benar kok,” jawab Kenan ditambah sebuah anggukkan mantap.
Kyara pun menyunggingkan senyum lebar hingga kedua matanya tampak menyipit. Lalu dia memberikan selamat pada Kenan. “Selamat ya, Ken. Akhirnya kamu akan melepas status duda kamu.”
“Andai kekasihku yang dulu tidak menikah dengan sahabatku, mungkin status duda itu sudah lama aku lepas.”
Kenan berniat menggoda Kyara dengan membahas masa lalu, tetapi akibat dari ucapannya tersebut membuat Kyara menjadi tidak enak hati dan kembali merasa bersalah karena pada pria di depannya.
Kyara menundukkan wajahnya dengan senyum yang tidak selebar sebelumnya. “Maafin aku ya, Ken, kalau sampai saat ini kamu masih sulit menerima pernikahanku dengan mas Rayyan. Mungkin memang sebaiknya aku tidak terlalu sering bertemu denganmu lagi, aku juga harus menjaga perasaan suamiku. Aku tidak mau dua orang sahabat bertengkar seperti dulu hanya karena sikapku yang tidak tegas.”
“Loh kok kamu malah jadi bicara seperti itu? Aku hanya bercanda saja loh, Kyara. Tidak ada maksud untuk mengingatkan cerita kita bertiga di masa lalu.” Kenan berusaha memberi penjelasan pada Kyara.
Di balik pintu ruangan Kenan, Naya yang sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Kenan dan Naya kini menempelkan telinganya lagi berusaha menguping pembicaraan mereka di dalam.
“Duh, Pak Kenan sama Ibu Kyara tuh ngomongin apa sih? Tadi kedengaran Pak Kenan ketawa, sekarang malah bisik-bisik. Mereka nggak lagi ngapa-ngapain kan?” gumam Naya pelan sambil memindahkan posisi telinganya yang menempel di pintu ruangan ke kiri, kanan, atas dan bawah. Mencari posisi yang lebih terdengar jelas suaranya.
Kesal karena tidak juga bisa mencuri dengar dengan jelas, Naya memutuskan berhenti melakukan kegiatan membuang waktu tersebut. Tubuhnya tampak lunglai saat dia kembali ke kursinya. Kepalanya menunduk dengan bibirnya yang mengerucut.
“Huuufff ….” Naya menghela nafas panjang saat melempar bokkongnya ke kursi. Dia juga kemudian meletakkan tangannya lurus di atas meja sebagai bantalan kepalanya.
Beberapa saat kemudian Rayyan memasuki ruangan dan melihat Naya yang dia kira bermalas-malasan di tempatnya.
“Ehem,” deham Rayyan.
Naya terperanjat dan langsung mengangkat kepalanya. “Eh, maaf,” katanya kemudian.
“Bisa saya bertemu dengan Kenan?” tanya Rayyan.
“Bi-bisa, Pak!” jawab Naya bersemangat.
Setidaknya menurut Naya dengan kehadiran Rayyan di sana maka Kenan dan Kyara tidak hanya berduaan saja. Naya bisa sedikit bernafas lega.
“Baiklah, kalau begitu saya langsung ke ruangan Kenan saja.” Rayyan kemudian menjauh dari meja Naya menuju ke pintu ruangan Kenan.
“Pak Rayyan!” seru Naya. “Biar saya yang ketuk pintunya dulu,” sambungnya seraya menghampiri Rayyan yang sudah berada di depan pintu ruangan Kenan.
Rayyan mengernyitkan dahinya bingung dengan sikap sekretaris Kenan tersebut. Namun, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Naya dan membiarkan gadis itu mengetukkan pintu untuknya.
Tok … tok … tok ….
“Silahkan masuk!” Terdengar seruan Kenan yang mempersilahkan orang di balik pintu ruangannya untuk masuk.
Secara perlahan dan sangat hati-hati Naya membuka pintu ruangan Kenan, lalu dia memunculkan kepalanya terlebih dahulu mengecek keadaan di dalam ruangan tersebut.
Aman. Pak Kenan dan Ibu Kyara nggak sedang pangku-pangkuan. Berarti nggak terjadi apa-apa di antara mereka, gumam Naya di dalam hatinya.
“Ehem!” Rayyan berdeham satu kali lagi. “Saya sudah boleh masuk?” tanyanya karena Naya masih menghalangi jalan masuknya.
“Eh, iya silahkan. Pak Kenan dan Ibu Kyara ada di dalam.” Naya mempersilahkan Rayyan untuk masuk.
Sikap sekretaris Kenan tersebut membuat Rayyan ingin menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu bersikap selayaknya seorang detektif yang ingin mencari tahu sesuatu di dalam ruangan Kenan.
Rayyan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Lalu dia berbalik dan hendak menutup pintu ruangan tersebut. “Kamu juga mau masuk?” tanya Rayyan dengan nada sedikit ketus.
“Ti-tidak, Pak,” jawab Naya terbata.
“Kalau begitu saya tutup pintunya.” Pintu ruangan Kenan pun langsung ditutup oleh Rayyan sesaat setelah mengatakan hal tersebut.
Naya tampak terkejut dengan sikap Rayyan yang nyatanya lebih ketus dan lebih mengesalkan dibanding Kenan.
“Sahabat kok bisa sama gitu ya sifatnya???” gumamnya kesal karena perlakuan Rayyan tadi.
Naya pun kembali duduk di tempatnya semula sambil mengumpulkan semangat untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin membuang jauh-jauh rasa cemburu di hatinya serta pikiran negatif yang hinggap di kepalanya. Oleh karena itu dia mencoba memfokuskan perhatiannya pada layar laptop di hadapannya.
Saat hari mulai petang, Naya berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan tanpa adanya gangguan sama sekali.
“Yes!! Kalau kayak gini sih nanti Pak Kenan bakal beri pujian buat aku, hehehe ….” Naya merapikan lembaran-lembaran dokumen yang sudah dia cetak untuk diperiksa oleh Kenan.
Tiba-tiba terdengar suara perut Naya yang keroncongan. “Aku belum makan deh kayaknya dari siang. Lapar banget deh ini perutku,” katanya sambil memegangi perutnya.
Kepala Naya kemudian menoleh ke pintu ruangan Kenan. “Pak Kenan dan yang lain juga belum makan kan? Kok mereka nggak kelaparan sih”
“Okay, Ken. Kita kan juga sudah lama tidak makan bareng di sana. Kyara juga pasti kangen makan masakan Jepang. Iya ‘kan, Sayang?” ucap Rayyan yang baru saja keluar dari ruangan Kenan bersama dengan yang lainnya.
Naya yang tadinya sedang duduk merapikan dokumen kini langsung bangkit setelah melihat ketiga orang itu keluar dari ruangan. Mata Naya tertuju pada kemeja Kenan yang saat ini dipakai oleh Kyara.
“Okay kalau begitu. Naya juga ikut ya, Ken. Kamu traktir kita untuk merayakan hubungan kamu dan Naya,” celetuk Kyara sambil memberi tinjuan tanpa tenaga ke lengan kiri Kenan.
“Wah, boleh tuh! Sudah lama juga kita tidak merayakan sesuatu yang bahagia seperti ini.” Rayyan ikut menimpali.
Kemudian Kyara menghampiri Naya dan merangkul lengan gadis itu. “Kerjaannya tinggal saja dulu. Kali ini Kenan tidak akan memarahimu. Ayo ikut kita makan-makan untuk merayakan hubungan kamu dan Kenan,” ajak Kyara kemudian.
Naya tampak terkejut mendengar hal tersebut. “Apa??? Jadi Pak Kenan sudah ce-”
“Iya, sudah kok. Selamat ya, Naya. Kamu berhasil menaklukan hati duda tampan itu.” Kyara memotong ucapan gadis itu dan memerinya ucapan selamat.
Raut bahagia langsung terlihat jelas di wajah Naya. Dia tidak pernah menyangka jika Kenan akan mengatakan hubungan mereka pada Kyara, wanita yang masih memenuhi seluruh hatinya. Naya tak bisa langi menyembunyikan senyum di wajahnya. Matanya melirik ke arah Kenan, tetapi sayangnya pria itu malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
Pada akhirnya mereka berempat pergi bersama-sama ke sebuah restoran bergaya Jepang yang menjadi restoran favorit Kenan, Kyara dan Rayyan sejak mereka bertiga masih muda. Sebenarnya Kyara yang paing menyukai masakan di restoran ini. Ditambah mereka bisa memasak sendiri makanan yang mereka inginkan di meja mereka.
“Naya, ayo silahkan makan yang banyak!” seru Kyara. Kemudian Kyara mendekatkan bibirnya ke telinga Naya lalu lanjut berbisik, “Tenang saja, Kenan yang bayar.”
Dengan sumpit di tangannya Rayyan mengambil potongan daging sapi yang sudah direbus di dalam panci yang ada di hadapan mereka lalu meletakkannya di piring milik Kyara. Sikap manis Rayyan yang seperti itu membuat Naya juga ingin merasakan hal yang sama dari Kenan. Sayangnya Kenan mengambilkan potongan daging dari dalam panci dan langsung melahapnya sendiri.
Ih, Pak Kenan mah nggak bisa romantis kayak Pak Rayyan. Padahal dari tampangnya lebih galak Pak Rayyan loh, batin Naya mengeluhkan sikap Kenan.
“Wah, jamur shitakenya habis ya? Aku mau ambil lagi ya,” ucap saat tidak bisa menemukan jamur shitake dalam panci tersebut.
Kyara hendak beranjak dari tempatnya, akan tetapi Kenan mendahuluinya dan meminta Kyara untuk tetap duduk di tempatnya. Dia yang akan mengambilkan jamur yang Kyara inginkan.
Kali ini tidak hanya Naya yang melemparkan tatapan cemburu terhadap sikap manis Kenan pada Kyara, tetapi juga Rayyan yang tiba-tiba merasa sikap Kenan tampak berbeda dari biasanya.
“Mas, sini piringnya aku ambilin daging untuk kamu.” Kyara yang tampak biasa saja memilih untuk melayani sang suami.
Rayyan mengubah arah pandangnya pada Naya. Mata tajam Rayyan menatap Naya tanpa berkedip. Naya pun merasa sedikit tidak nyaman karena tatapannya tersebut.
“Maaf, Pak Rayyan. Apa ada yang ingin anda tanyakan?” Naya memberanikan diri untuk bertanya pada Rayyan.
“Kamu serius kan sama Kenan? Nggak cuma karena dia tampan kan?” Rayyan mulai menginterogasi Naya.
“Hush! Nggak boleh nanya-nanya kayak gitu ah, Mas. Naya jadi takut kan kamu lihatin kayak gitu,” tegur Kyara mencoba menghentikan niata Rayyan untuk menginterogasi Naya.
Akan tetapi, Naya kemudian memberikan izinnya dan mulai menjawab pertanyaan Rayyan. “Tidak apa-apa, Bu. Mungkin Pak Rayyan hanya takut kalau saya main-main saja sama Pak Kenan. Saya benar-benar jatuh hati sama Pak Kenan. Ya … memang sih awalnya pasti karena melihat wajahnya yang tampan. Tetapi tidak hanya itu, saya juga ingin menjadi cinta yang baru untuk Pak Kenan.”
“Lalu kamu sendiri akan melakukan apa untuk memastikan Kenan akan tetap bersamamu?” tanya Rayyan lagi yang langsung dihentikan oleh sang istri.
“Mas, sudah deh nggak usah bikin Naya bingung.”
“Kalau itu ….” Naya bersiap memberikan jawabannya. “Saya juga belum tahu, Pak.”
Kemudian Kenan datang kembali ke tampat mereka dengan membawa dua buah piring di tangannya. Tangan kanan membawa jamur dan sayuran lain, sedangkan tangan kiri membawa tambahan daging untuk dinikmati.
“Kalian lagi pada ngobrolin apa? Kok kayaknya seru banget,” tanya Kenan sambil meletakkan kedua piring di tangannya ke atas meja.
Rayyan bersiap menjawab, “Jadi gini, Ken. Si Naya … hmmpphh ….” Kyara langsung membungkam mulut sang suami agar tidak melanjutkan perkataannya.
“Loh, si Rayyan kenapa kamu tutup mulutnya?” tanya Kenan bingung.
“Kebiasaan habisnya Mas Rayyan suka ngomong yang tidak-tidak,” jawab Kyara.
Rayyan kemudian menyingkirkan tangan sang istri dari mulutnya, tetapi dia juga tidak jadi melanjutkan perkataannya. Sambil merengut Rayyan menancapkan sumpitnya di tambahan daging yang baru saja dibawa oleh Kenan, lalu merebusnya ke dalam panci.
“Ayo kita makan lagi, Naya. Oh, iya. Makasih juga yak arena sudah ambilin jamurnya, Ken,” ucap Kyara.
Kyara yang baik hati mengambil daging yang sudah terlebih dahulu di rebus dengan sumpitnya. Kemudian diberikannya daging itu ke atas piring Naya. “Ayo makan yang banyak. Jangan mau rugi mumpung ditraktir, hehehe …,” katanya sambil terkekeh.
Senyum dari bibir Naya kembali tersungging. Dia merasa diterima dalam kelompok itu. Dia pun tidak merasa khawatir lagi jika Kenan tetap berhubungan baik dengan Kyara. Karena tidak ada persaingan yang timbul di antara Naya dan Kyara.
“Kenan, kamu juga tolong ambilin pacar kamu makanan gitu. Masa kamu biarin dia ambil makan sendiri. Kamu nggak romantis deh, Ken!” Kyara memberi sindiran pada Kenan.
“Tahu loh, Ken! Kayak gue dong nyuapin Kyara. Sini, Sayang. Aaa ….” Rayyan pun menimpali dan juga memberikan praktek langsung di hadapan Kenan dan Naya.
Naya tidak berani angkat bicara. Di dalam hati kecilnya tentu Naya sangat menginginkan hal tersebut. Tetapi dia tidak berani ikut menimpali ucapan Kyara.
“Ya sudah, Kya. Aku turuti apa mau nyonya besar sepertimu,” balas Kenan dengan sedikit terpaksa.
Sumpit yang dipegang Kenan mulai mengambil beberapa sayuran dan tofu dari dalam panci dan diberikan langsung ke atas piring Naya. Betapa mereka tidak mengetahui jika Naya sudah melompat kegirangan di dalam pikirannya.
____________________
Yukk ramaikan kolom komentar biar aku makin semangat, hehehe…
Guys, jangan lupa juga ya kalau sedang ada GIVEAWAY yang aku adain. Setiap minggu selama periode GIVEAWAY berlangsung aku akan pilih pembaca beruntung dengan komentar terbaiknya untuk mendapatkan berupa pulsa atau saldo senilai 25 ribu untuk 2 orang pemenang :)
Untuk persyaratan GIVEAWAY kalian wajib tap love, follow akun Dreame / Innovel aku, juga add akun media sosial aku;
FB : Aya Warsita
IG : aya_ayawars
Akun sss juri : Nita Rezky
Lalu kalian gunakan #komenGAaya di komentar kalian agar aku bisa tahu kalau kalian ikut event GIVEAWAY ini.
Untuk kategori lainnya seperti promo atau review kalian bisa lihat persyaatannya langsung di akun media sosial aku. Kalian bisa dapatkan hadiah sampai 100 ribu rupiah jika beruntung :))
Periode GIVEAWAY 1 – 25 Septermber 2021. Masih banyak waktu kan untuk ikutan :))
Yukk ikut meramaikan GIVEAWAY aya kali ini!!