Bagian 10 - Aku Cemburu

1920 Words
Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)) ***   Di depan sebuah gerbang sekolah, Kyara berdiri sambil menggenggam tangan Ilona dan juga menggendong Nevan. Langit tampak mendung saat itu. Suara klakson kendaraan bising beradu di hadapan mereka. Saat itu jam pulang sekolah untuk anak-anak yang duduk di kelas satu hingga tiga, sehingga banyak orang tua yang menjemput mereka dengan menggunakan kendaraan pribadi mereka. Kemacetan di jalan depan sekolah pun tidak bisa dicegah. “Ma, Oma sama Opa kok lama ya?” tanya Ilona yang sudah tampak lelah karena harus berdiri lama di sana sambil menggendong tas ranselnya. Dengan penuh kesabaran dan kelembutan Kyara menjawab, “Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi juga Oma dan Opa datang jemput kalian berdua.” “Ilona … Nevan ….” Terdengar suara wanita tua memanggil nama kedua buah hati Kyara. Secara serempak Kyara dan Ilona menolehkan kepala ke sumber suara. Sebuah mobil sedan berwarna hitam kemudian berhenti tepat di depan mereka. Saat pintu bagian belakang terbuka, seorang wanita tua keluar dari dalam sana sambil membuka kedua tangannya. “Omaa!!” teriak Ilona dengan riang serta melompat ke dalam pelukan wanita tua tersebut. “Maafin Oma ya lama jemputnya, karena dari ujung jalan sana sudah macet banget,” ucap wanita tua tersebut. Kemudian Kyara menyerahkan Nevan pada wanita tua yang adalah mama mertuanya sekaligus nenek dari kedua buah hatinya. Ilona dan Nevan di bawa masuk oleh wanita tersebut ke dalam mobil sedan yang sudah menunggu. Kyara sempat menundukkan kepalanya dan melihat jika papa mertuanya duduk dan mengangkat tangannya menyapa Kyara dari dalam. Sebelum menutup kembali pintu mobil tersebut, mama mertua Kyara sempat menanyakan Kyara tentang satu hal. “Kyara, kamu dan Rayyan kapan mau benar-benar kembali ke rumah? Papa dan Mama kan jadi bisa main sama Ilona dan Nevan setiap hari.” “Kalau itu nanti Kyara coba bujuk Mas Rayyan lagi ya, Ma. Karena Mas Rayyan yang masih ogah-ogahan untuk meninggalkan rumah kami yang sekarang,” jawab Kyara. “Jangan terlalu banyak berpikir ya, kalian tinggal kembali saja ke rumah. Rumah sebesar itu terasa sepi tanpa kehadiran kalian semua.” Mama mertuanya benar-benar mengharapkan anak, menantu serta cucu-cucunya bisa kembali ke rumah mewah yang ditempati olehnya. Mobil sedan hitam itu pun langsung melaju membawa kedua mertua dan juga kedua buah hati Kyara. Kini tinggal Kyara sendiri yang berdiri di sana sambil menunggu taksi yang lewat di depannya. Saat sedang menunggu taksi yang akan dia minta untuk mengantarkannya ke kantor Kenan, tiba-tiba hujan deras mengguyur Jakarta tanpa aba-aba sehingga Kyara tidak sempat mencari tempat untuk berteduh. Namun, beruntungnya sebuah taksi berwarna biru lewat di depannya. Kyara mengulurkan tangan kanannya untuk menghentikan taksi tersebut. Saat taksi tersebut berhenti, Kyara langsung membuka pintu dan masuk ke dalamnya. “Pak, tolong antar saya ke Jalan Dr. Saharjo ya,” kata Kyara sambil menutup pintu taksi. Sang pengemudi taksi melirik ke belakang melalui kaca di dashboard mobilnya. “Ibu nggak bawa payung? Baju Ibu basah kuyup gitu loh.” “Nggak, Pak. Tiba-tiba langsung hujan deras gitu. Mau neduh juga sudah nggak sempat,” jawab Kyara. Pengemudi taksi tersebut kemudian menancapkan gas di kakinya mengantarkan Kyara ke tempat tujuan. Jalanan Jakarta yang tadinya macet berubah lengang karena derasnya hujan. Hampir tidak ada kendaraan roda dua di jalan raya karena mereka yang tidak mempunyai jas hujan akan memilih untuk berteduh daripada melanjutkan perjalanan. Suhu dingin dari pendingin udara dalam taksi tersebut menerpa tubuh Kyara yang basah kuyup. Padahal pengemudi taksi juga sudah menyetel pendingin udara di mobilnya itu dengan suhu yang paling rendah, bahkan tidak diarahkan langsung pada Kyara. Kyara tampak mengusap kedua lengannya untuk sedikit menghangatkan tubuhnya. Karena kondisi jalan yang lengang, Kyara bisa sampai dengan cepat di kantor Kenan. Taksi yang ditumpangi Kyara berhenti tepat di depan lobi perusahaan Kenan. Kyara membayar tarif taksi juga memberi tip untuk si pengemudi. Kemudian Kyara keluar dari taksi dan langsung masuk ke dalam gedung perusahaan Kenan. Sementara itu di kursinya kini Naya masih senyum-senyum saat mengingat kecupan yang didaratkan oleh Kenan di keningnya. Telapak tangan kanan Naya perlahan diletakkan di keningnya, lalu dibayangkan kembali wajah Kenan saat mengecupnya. “Uuuhh … so sweet banget sih Pak Kenan itu.” Naya menunjukkan reaksi gemas bercampur bahagianya. “Oh, iya. Katanya kan Pak Kenan mau ganti makan malam yang gagal, kayaknya biar aku aja yang ngajak dia duluan deh malam ini. Lagipula juga dia tidak ada jadwal lagi sepulang kantor,” cetus Naya akan idenya tersebut. Naya bangkit dari kursinya bersiap untuk kembali ke ruangan Kenan. Namun, kemudian dari arah pintu masuk Kyara datang dan langsung menghampiri Naya. “Naya, selamat siang,” sapa Kyara. Bukannya membalas salam Kyara, Naya langsung terfokus pada pakaian Kyara yang terlihat lepek. “Loh, Ibu Kyara kok bajunya basah gitu? Di luar hujan ya?” Naya mengambil sekotak tissue lalu diberikannya pada Kyara untuk sedikit mengeringkan tubuhnya. Kyara menarik beberapa lembar tissue untuk menyeka rambutnya yang masih sedikit basah. Wajah dan lehernya sudah kering berkat pendingin udara di dalam taksi walau akhirnya membuat Kyara menggigil kedinginan. “Iya, di luar hujan deras,” jawab Kyara. “Makasih ya tissuenya, Naya,” sambungnya berterimakasih. “Duh, saya nggak bawa baju ganti. Kalau bawa pasti saya kasih ke Ibu Kyara untuk ganti baju yang basah ini.” Naya kemudian ikut membantu Kyara mengelap pakaiannya. Kyara tersenyum lalu berkata, “Makasih ya, Naya. Kamu baik banget. Tapi nggak apa-apa, sepertinya Kenan punya pakaian ganti di ruangannya.” Tampak keheranan dengan pernyataan Kyara, Naya juga jadi penasaran. Dia mengernyitkan dahi dan menyipitkan kedua matanya. “Tahu dari mana Ibu Kyara kalau Pak Kenan punya pakaian ganti?” tanya Naya untuk menghilangkan rasa penasarannya. “Hmm … itu sih sudah jadi kebiasaan dia sejak dulu. Dia selalu menyimpan pakaian ganti di ruangannya. Sama seperti suami saya,” jawab Kyara dengan mata yang menerawang mengingat masa lalu. Gerakan tangan Naya melambat saat Kyara dengan santai membahas kebiasaan Kenan di masa lalu. Cemburu. Mungkin itu satu kata yang tepat untuk mewakili perasaan Naya saat ini. “Oh iya, Naya. Kenan ada di ruangannya ‘kan?” Kyara memastikan keberadaan Kenan. Naya mengangguk menjawab pertanyaan Kyara barusan. Kemudian Kyara meminta izin untuk masuk ke ruangan Kenan. “Kalau begitu aku masuk ke dalam ya.” “Jangan!” seru Naya dengan lantang. “Jangan? Kenapa? Apa Kenan sedang ada tamu?” Kyara tampak kebingungan. “Bu-bukan. Itu … karena … itu loh, Bu …,” Naya terbata tak menemukan jawaban yang bagus agar Kyara tidak masuk ke dalam ruangan Kenan. Dengan raut wajah bingungnya Kyara masih menunggu Naya memberikan jawaban untuknya. Sebenarnya di dalam hati Naya, gadis itu hanya tidak mau kalau Kyara bertemu dengan Kenan dan nantinya mendapat perhatian dari Kenan karena kondisinya yang basah kuyup. “Hmm … gimana kalau pakaian untuk Ibu Kyara saya yang minta ke Pak Kenan saja?” Naya menjawab Kyara dengan memberikannya penawaran. Kyara yang awalnya tampak bingung kemudian tersenyum lucu melihat sikap Naya yang seolah takut Kenan-nya diambil orang. “Hihihi … ya sudah kalau mau kamu seperti itu.”Sambil tertawa kecil Kyara mengijinkan Naya untuk melakukan yang dia mau. Naya tampak senang karena Kyara tidak menolak tawarannya sama sekali. Naya pun kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Kyara menuju ke ruangan Kenan. “Permisi, Pak,” kata Naya saat membuka pintu ruangan Kenan. Jauh dari tempatnya duduk Kenan yang sibuk dengan laptopnya mendelik ke arah Naya dan bertanya, “Ya, Naya. Ada apa?” Naya melangkahkan kaki mendekat ke arah Kenan. Kemudian langkahnya berhenti tepat di samping meja Kenan. “Maaf, Pak. Apakah Pak Kenan punya pakaian ganti?” tanya Naya secara to the point. Kenan menghentikan kesibukannya sejenak lalu mengernyitkan dahinya pada Nanya sekaligus balik bertanya, “Memangnya untuk apa?” “Anu, Pak. Saya butuh kemeja untuk mengganti pakaian yang basah.” Naya tidak ingin mengatakannya secara jelas untuk siapa sebenarnya pakaian ganti tersebut. Kenan mencium adanya sesuatu yang ditutupi oleh Naya. Sangat jelas terlihat dari caranya menjawab Kenan dan juga pandangan matanya yang tidak berani menatap kedua mata Kenan. Kenan menolehkan kepalanya menghadap jendela. Kemudian dia baru mengetahui jika hujan deras mengguyur bumi. Mungkin karena dia sangat fokus dengan kesibukannya sehingga dia tidak menyadari jika hujan turun. “Siapa yang kehujanan?” tanya Kenan seraya menatap kembali ke arah Naya. “Eh? Itu … yang kehujanan itu ….” Naya tidak masih tidak mau mengatakan yang sejujurnya pada Kenan. Merasa Naya terlalu bertele-tele dan enggan memberitahu Kenan, pada akhirnya Kenan bangkit dari kursi dan mencari tahunya sendiri. Dia berjalan mendekat ke arah pintu melewati Naya yang tidak berani mencegahnya. Dari ambang pintu Kenan melihat Kyara yang berdiri di depan meja Naya dengan pakaian yang basah. “Kyara? Kamu kenapa basah kuyup gini? Kamu kehujanan?” Kenan langsung berlari menghampiri Kyara dengan raut wajah yang tampak mengkhawatirkannya. Kyara sedikit terperanjat dengan kehadiran Kenan. Namun, kemudian dia melirik ke arah Naya yang tidak berani mendekat dan tetap berdiri di ambang pintu ruangan Kenan. “Aku kehujanan tadi saat menunggu taksi.” Kyara menjawab pertanyaan Kenan yang bertubi-tubi. Kemudian dengan sigap Kenan melepaskan jas yang dia kenakan lalu diselimuti bahu Kyara agar tidak merasa kedinginan. “Ayo kita masuk ke ruanganku. Kamu ganti baju di toilet yang ada di ruanganku saja,’ ajak Kenan. Naya bisa langsung menilai jika Kenan memperlakukan Kyara dengan cara tidak biasa. Kyara sangatlah spesial dan berarti bagi Kenan. Bahkan Kenan membawa Kyara melewati pintu dan mengabaikan Naya yang masih berdiri di sana. Naya juga bisa melihat jika Kenan merangkul lengan Kyara dengan sangat erat seperti takut jika akan terjadi sesuatu dengan wanita itu. “Naya, jangan lupa tutup pintunya,” titah Kenan. Tutup pintu? Pak Kenan mengusirku? Hati Naya yang saat ini bergemuruh pun bertanya-tanya. Sesuatu di dalam dadanya sebelah kiri juga terasa nyeri. Naya merasa diusir oleh pria tersebut hanya karena wanita bernama Kyara itu berada di ruangannya. Naya jelas cemburu melihat mereka berdua. Sebelum menutup pintu ruangan Kenan, Naya sempat melirik kembali ke dalam sana. Dilihatnya Kenan yang begitu panik mencari kemeja miliknya untuk Kyara dan mengantarkan Kyara hingga ke depan pintu toilet di dalam ruangan tersebut. “Huuff ….” Naya hanya bisa menghela nafas panjang penuh rasa cemburu setelah dia sudah menutup pintu ruangan Kenan. Kakinya dilangkahkan dengan berat menuju ke tempat duduknya semula. Di kursinya dia pun menyandarkan punggungnya sambil sesekali matanya melirik ke pintu ruangan Kenan. “Pak Kenan masih cinta ya sama Bu Kyara? Lalu aku gimana?” gumam Naya lirih. Apakah perkiraan Naya itu benar? Apa Kenan benar-benar masih mencintai wanita yang sudah mempunyai suami dan juga dua orang anak tersebut?   ____________________   Duhh Naya kasian bener sih, baru juga dicium keningnya sama Kenan eh sekarang udah harus cemburu lagi. Gimana nih?? Tulis komentar kalian ya… Guys, jangan lupa ya kalau sedang ada GIVEAWAY yang aku adain. Setiap minggu selama periode GIVEAWAY berlangsung aku akan pilih pembaca beruntung dengan komentar terbaiknya untuk mendapatkan berupa pulsa atau saldo senilai 25 ribu untuk 2 orang pemenang :) Untuk persyaratan GIVEAWAY kalian wajib tap love, follow akun Dreame / Innovel aku, juga add akun media sosial aku; FB : Aya Warsita IG : aya_ayawars Akun sss juri : Nita Rezky Lalu kalian gunakan #komenGAaya di komentar kalian agar aku bisa tahu kalau kalian ikut event GIVEAWAY ini. Untuk kategori lainnya seperti promo atau review kalian bisa lihat persyaatannya langsung di akun media sosial aku. Kalian bisa dapatkan hadiah sampai 100 ribu rupiah jika beruntung :)) Periode GIVEAWAY 1 – 25 Septermber 2021. Masih banyak waktu kan untuk ikutan :)) Yukk ikut meramaikan GIVEAWAY aya kali ini!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD