Bagian 9 - Apa Hanya Mimpi?

2301 Words
Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :))   *** Setelah mobilnya terparkir dengan rapih di parkiran basement apartemen tempat tinggalnya, Kenan pun keluar dari mobil dengan sedikit tergesa. Tidak lupa dia menekan remote kecil di tangannya untuk mengunci mobilnya tersebut. Kakinya dibawa berlari kecil hingga ke depan pintu lift. Kebetulan sekali saat dia menekan tombol yang menunjukkan arah ke atas pintu lift pun langsung terbuka. Kenan masuk ke dalam lift lalu menekan tombol lantai dimana unit tempat tinggalnya berada. Kenan hanya berdiri tegak dengan kepala sedikit menengadah ke atas melihat angka-angka yang secara bergantian menyala berwarna merah ketika lift yang dinaikinya itu melewati lantai-lantai tersebut. Ting! Kenan tiba pada lantai tujuan. Pandangan Kenan kembali ke arah depan. Saat pintu lift baru terbuka setengahnya Kenan sudah melangkahkan kakinya keluar lalu dengan sedikit berlari lagi dia menuju ke unit tempat tinggalnya. Ternyata di dalam unit tempat tinggal Kenan kini kedua orang tuanya yang tinggal di Singapore sudah duduk menunggunya di ruang tamu. “Ma, Pa, kok tiba-tiba datang ke sini?” tanya Kenan sesaat setelah membuka pintu dan melihat kedua orang tuanya. Seorang wanita tua bangkit berdiri dan membawa langkahnya menghampiri Kenan. “Disambut dulu dong kedatangan Mama dan Papa, Ken. Kok terkesan kamu tidak suka dengan kedatangan kami sih,” ucap wanita tua. Kenan menyambut mamanya dengan menerima pelukan yang diberikan olehnya. Dikecup juga pipi kiri dan kanan sang mama yang sudah sangat merindukannya. “Kenan, sini duduk di dekat Papa,” pinta seorang pria tua berkacamata yang adalah papanya Kenan. Mamanya pun menggandeng lengan Kenan dan menggiring putra tunggalnya itu untuk duduk bersama di sofa. Kenan hanya bisa menurut dan kemudian dia duduk bersebelahan dengan papanya, sementara mamanya duduk di sofa yang terpisah. Entah kenapa kedatangan kedua orang tuanya yang sangat mendadak ini membuat Kenan merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Hanya ada satu hal yang Kenan takutkan dari kedatangan mereka; perjodohan.   ***   Keesokan paginya di kediaman keluaga kecil Rayyan, kini empat orang anggota keluarga di rumah itu sedang berkumpul di ruang makan. Mereka tampak menikmati sarapan yang sudah dibuat oleh Kyara dengan segenap cinta, juga dengan bumbu-bumbu masakan yang pas. Rayyan dan Ilona, putrinya, berlomba untuk menghabiskan makanan yang tersedia di atas piring mereka. Sedangkan Kyara memperhatikan pasangan ayah dan anak tersebut sambil menyuapi Nevan. “Sayang, sore ini aku akan mampir ke kantornya Kenan,” ucap Rayyan dengan mulut yang masih mengunyah makanan. “Memangnya ada pekerjaan bareng dia?” tanya Kyara. “Hmm … nggak ada sih. Aku hanya ingin mampir saja,” jawab Kenan dengan diakhiri sebuah senyum lebar. Kyara melirik ke arah suaminya dengan dahi yang berkernyit. Kemudian Kyara menyunggingkan senyum sambil tetap fokus menyuapi Nevan. “Papa kalau mau ke kantor Om Kenan, aku ikut boleh ya.” Putri mereka yang cukup dekat dengan Kenan mengajukan permintaannya. Dia sampai mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. “Loh, bukannya kamu mau ke rumah Oma dan Opa?” tanya Kyara dan membuat Ilona teringat jika hari ini sepulang sekolah nanti dia dan Nevan akan dijemput oleh kakek dan neneknya yang mereka panggil dengan sebutan Oma dan Opa. Ilona pun menyengir seperti kuda hingga terlihat barisan gigi depannya yang rapi juga kedua matanya yang menyipit. Kyara kemudian membelai kepala putrinya itu dengan lembut. Merasa gemas dengan putrinya, Kyara pun memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening sang putri. Sikap manis sang istri barusan tidak luput dari pandangan Rayyan. Tersungging senyum penuh rasa bangga di wajah Rayyan karena beruntung bisa memiliki Kyara sebagai pendamping hidupnya. Setelah mereka semua sudah selesai menyantap sarapan yang tersedia, kini Rayyan langsung mengemudikan mobilnya membelah jalanan Jakarta. Sama seperti Kenan yang juga sudah berada di jalan menuju ke kantornya. Kenan tampak tidak bersemangat seperti biasanya pagi ini. Wajahnya tampak lesu, bahkan beberapa kali dia menghela nafas panjang seperti ingin melepaskan sedikit beban di dalam dadanya. Sesampainya di kantor, Kenan sama sekali tidak menyapa ataupun membalas sapaan dari karyawannya. Tatapan matanya lurus dan kosong. Sepertinya terjadi perbincangan yang membuat Kenan tertekan dengan kedua orang tuanya semalam. Saat pria itu memasuki ruangan, Naya yang sudah datang terlebih langsung bangkit dari kursinya bersiap memberi salam. Naya memasang senyum di wajahnya. Dia menekan segala kekecewaannya semalam untuk bisa menunjukkan sikap yang baik dan hangat di depan Kenan. “Selamat pagi, Pak Kenan!” Naya tampak bersemangat saat memberikan salam pada Kenan. Namun, sayangnya Kenan tidak membalasnya sama sekali. Pria itu terus berjalan melewati meja Naya kemudian membuka pintu ruang kerjanya dan masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Naya yang kebingungan dengan sikap Kenan kini memiringkan kepalanya dan mengernyitkan dahinya. “Itu Pak Kenan kenapa ya? Kok mukanya kayak orang punya banyak masalah sih? Cemberut gitu nggak ada manis-manisnya,” gumam Naya yang kebingungan. Kemudian pandangan mata Naya turun ke bawah dan melihat beberapa dokumen yang menumpuk di atas mejanya. “Aku antar ini aja deh ke Pak Kenan. Siapa tahu nanti di dalam sana dia mau curhat sama aku, hehehe ….” Naya terkekeh karena idenya sendiri. Bohong jika dibilang Naya tidak penasaran dengan sikap Kenan pagi ini. Pria yang memang dikenal dingin dan terkadang ketus padanya itu berbeda dari hari-hari biasanya. Walau biasanya juga Kenan jarang melirik ke arah Naya apalagi menyapanya terlebih dahulu, tetapi Kenan selalu menjawab salam Naya walau hanya sengan senyum tipis di wajahnya. Naya membawa langkahnya mengendap hingga dia sampai tepat di depan pintu ruangan Kenan. Terlebih dahulu dia menempelkan telinga kirinya di pintu, memeriksa dengan telinganya apakah Kenan sedang melakukan sesuatu atau sedang berbicara dengan seseorang di telepon. “Ini aku gak bisa dengar apa-apa, mungkin memang Pak Kenan sedang duduk saja ya?” gumamnya sambil tetap menempelkan telinganya di pintu. Akan tetapi suatu hal tak terduga terjadi. Kenan membuka pintu ruangannya dari dalam sehingga membuat tubuh Naya meluncur ke depan dan berakhir dengan telinganya yang menempel di dad* bidang Kenan. Deg … deg … deg … deg …. Naya bisa mendengar dengan jelas irama degupan jantung Kenan yang stabil. “Sedang apa kamu?” tanya Kenan yang berdiri di ambang pintu. Dengan cepat Naya menjauhkan telinganya serta menegakkan tubuhnya. Gadis itu tampak salah tingkah dan tergugu menjawab pertanyaan Kenan. Kemudian Naya berbalik dan hendak melangkahkan kakinya kembali ke tempatnya semula. Sayangnya Kenan segera menghentikan gadis itu dengan menyerukan namanya. “Nayara!” “I-iya, Pak,” jawab Naya dengan perasaan takut. Kepalanya menoleh perlahan ke belakang. Netra kecoklatan Kenan melihat setumpuk dokumen yang dipegang oleh Naya. “Kamu mau memberikan dokumen itu pada saya?” tanya Kenan kemudian. “Dokumen???” Naya tampak bingung, tetapi kemudian dia segera tersadar setelah melihat tangannya memegang tumpukan dokumen. “Eh, iya. Ini saya mau antar ke Pak Kenan,” katanya sambil sedikit mengangkat dokumen tersebut. “Kalau begitu cepat masuk ke ruangan saya. Jangan lama-lama bengong di sana,” perintah Kenan. Pria itu kemudian membuka lebar pintu ruangannya lalu berbalik dan kembali ke kursinya. Berkat peritah dari Kenan, kini Naya bisa melangkahkan kakinya dengan ringat masuk ke ruangan Kenan. Di dalam ruangan tersebut Naya meletakkan setumpuk dokumen untuk diperiksa dan juga ditandatangani oleh Kenan di atas meja. “Ini Pak, silahkan diperiksa terlebih dahulu. Jika sudah tidak ada yang perlu diperbaiki, silahkan langsung ditandatangani,” ujar Naya. Kenan mengambil sebuah dokumen yang posisinya berada di tumpukan paling atas. Dibacanya baik-baik isi dokumen tersebut. Kepalanya tampak mengangguk-angguk saat berusaha memahami isi dari dokumen yang akan dia tanda tangani. Dalam kesempatan ini, Naya yang berdiri di depan meja Kenan tampak puas memperhatikan wajah pria tersebut. Alisnya yang tebal, mata kecoklatannya yang indah, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sedang merapal isi dokumen, juga rambut-rambut tipis yang selalu dia cukur setiap hari di bawah hidung juga sekitar dagu dan setengah pipinya. “Tampannya.” Tanpa sadar Naya memuji ketampanan Kenan. Kedua mata Kenan mendelik. Dilihatnya Naya tidak berkedip dan terus menatap lurus ke arah Kenan dengan tatapan penuh kekaguman. “Apa kamu belum bosan saya marahi hanya karena tidak bisa fokus bekerja dan hanya mengurusi ketampanan saya saja?” tegur Kenan. Indera pendengaran Naya seperti tidak berfungsi. Dia tidak mengindahkan teguran Kenan dan terus mengagumi ketampanan pria itu. Sepertinya benih-benih cinta dalam hati Naya sudah tumbuh subur dalam waktu yang sangat cepat. “Naya! Kamu tidak mendengar saya?!” Suara lantang Kenan kali ini berhasil mengembalikan pikiran Naya hingga gadis itu terperanjat. “I-iya, Pak?” “Kamu dengar apa yang saya katakan tadi?” tanya Kenan dengan nada sinis. Tanpa berpikir apapun Naya menjawab dengan cepat, “Dengar, Pak.” “Coba ulangi apa yang saya katakan tadi,” pinta Kenan. “Eh?” Kedua alis Naya terangkat, bola matanya membesar. Tentu Naya menjadi bingung harus mengulangi perkataan Kenan yang mana. Sedari tadi dia hanya fokus pada satu hal, ketampanan Kenan, jadi dia sama sekali tidak mendengar apapun  yang Kenan ucapkan kecuali saat pria itu memanggil namanya dengan lantang. “Memangnya Pak Kenan bilang apa tadi?” tanya Naya dengan wajah lugunya. Ditariknya nafas dalam lalu dihembuskannya panjang. Kenan menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian karena merasa lelah mengurusi Naya sebagai sekretarisnya. Kenan pun meletakkan kembali dokumen yang sedang diperiksanya di atas meja. Lalu Kenan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Naya, sebenarnya kamu itu punya niat bekerja tidak?” tanya Kenan kemudian. Naya menjawab dengan lugas, “Niat, Pak.” “Hanya niat saja? Tetapi sedari awal saya menerima kamu bekerja kamu belum menunjukkan kinerja yang patut diacungi jempol. Malah yang ada kamu selalu membuat saya naik darah,” ungkap Kenan. Naya menundukkan wajahnya. Dia menyadari jika kinerjanya masih buruk. Namun, dia sudah berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan tugasnya. Hanya saja ketampanan Kenan terkadang membuat fokusnya berantakan. “Maafkan saya, Pak,” lirih Naya. Kali ini untuk beberapa saat giliran Kenan yang memperhatikan wajah gadis itu. Diperhatikannya dengan seksama wajah Naya mulai dari kening hingga dagu. Wajah yang cukup lugu seperti tidak berdosa untuk seorang gadis berusia 28 tahun. Jika diperhatikan benar-benar seperti itu wajah Naya tampak seperti masih berusia 20 tahun. Cukup awet muda. “Naya, mungkin seharusnya saya yang meminta maaf padamu.” Ucapan Kenan membuat Naya menaikkan pandangannya. “Pak Kenan minta maaf? Memangnya kenapa?” tanya Naya. Kenan bangkit berdiri lalu berjalan menghampiri Naya. Melihat Kenan yang datang dari arah samping membuat Naya sedikit memutar tubuhnya agar berhadapan dengan pria tersebut. “Saya mau minta maaf, karena pasti saya sudah membuat kamu sedih semalam.” Kenan mengulurkan tangannya ke hadapan Naya. Jadi ternyata dia juga kepikiran masalah semalam? Aku kira dia memang tidak serius dan melupakannya dengan mudah, gumam Naya dalam hatinya. Disambut uluran tangan Kenan dengan senang hati, lalu tersungging senyum lebar di wajah Naya. “Saya sudah maafkan kok, Pak,” kata Naya menanggapi permintaan maaf Kenan. “Kenapa kamu sangat mudah memaafkan saya? Kamu pasti kecewa karena saya seenaknya memerintahkan kamu untuk bersiap-siap lalu membatalkannya begitu saja. Kamu pasti mengira jika saya hanya ingin mempermainkan kamu ‘kan.” Kemudian Naya melepaskan jabatan tangannya dan berkata, “Karena saya menyukai Pak Kenan, jadi saya juga harus bisa mengerti dengan kondisi Pak Kenan. Apalagi kalau sudah orang tua kita yang menyuruh pulang, sudah pasti harus dituruti.” Untuk sepersekian detik jantung Kenan berdegup sangat kencang. Bibirnya mengatup tak sanggup membalas ucapan Naya. Untuk pertama kalinya Kenan merasakan sesuatu yang berbeda dalam diri Naya. Sesuatu yang sanggup meretakkan pondasi dalam hatinya yang masih menyimpan sisa cinta masa lalunya. “Naya, terima kasih,” lirih Kenan. Naya mengangguk cepat dengan senyum yang masih terus terpampang menghiasi wajahnya. Kenan kemudian maju satu langkah lebih mendekat pada Naya. Memegang kedua lengan gadis itu lalu mendaratkan sebuah kecupan di kening Naya. Kedua mata Naya membulat, bibirnya juga sedikit terbuka, bahkan tubuhnya kini membeku di hadapan Kenan. Dikerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan yang barusan terjadi. Masih belum bisa percaya dengan apa yang tadi dilakukan oleh Kenan, Naya mencoba mencubit pipinya dengan kencang untuk memastikan apakah semuanya itu hanya mimpi atau bukan. “Aduh! Sakit!” Naya mengadu kesakitan karena cubitannya sendiri. “Kamu kenapa kok malah nyubit pipi kamu sendiri?” tanya Kenan sambil terkekeh. “Ini bukan mimpi kan, Pak? Yang tadi itu bukan mimpi ‘kan?” Naya berusaha memastikan. Kenan membantu Naya untuk membuatnya yakin dengan cara mencubit pipi gadis itu sama seperti yang dia lakukan sebelumnya. “Aduh! Kok Pak Kenan juga nyubit pipi aku sih?!” Naya mengelus pipinya yang tadi dicubit oleh Kenan. “Sakit ya?” tanya Kenan. “Ya sakitlah, Pak!” jawab Naya ketus. “Kalau begini sakit nggak?” Kenan mengecup kembali kening Naya untuk yang kedua kalinya. Tubuh Naya kembali membeku, tetapi bibirnya masih bisa memberi jawaban.” Nggak sakit kalau itu, Pak.” “Kalau begitu semua ini bukan mimpi,” ucap Kenan dengan senyum mempesonanya. Kenan kemudian membalikkan tubuhnya lalu berjalan kembali ke kursinya. Setelah dia duduk di sana, dia kembali memeriksa dokumen yang menunggu di atas mejanya. Sementara itu Naya tidak bisa menutupi rasa bahagianya sehingga kini dia terus tersenyum dengan wajahnya yang merona kemerahan. Apakah sikap manis Kenan tadi adalah tanda jika pria itu sudah mulai membuka hatinya untuk Naya? Apa Kenan sudah mulai terpesona dengan keluguan Naya?   ____________________   Guys, ramein kolom komentar dengan komentar terbaik kalian ya. Karena setiap minggu selama periode GIVEAWAY berlangsung aku akan pilih pembaca beruntung dengan komentar terbaiknya untuk mendapatkan berupa pulsa atau saldo senilai 25 ribu untuk 2 orang pemenang :) Untuk persyaratan GIVEAWAY kalian wajib tap love, follow akun Dreame / Innovel aku, juga add akun media sosial aku; FB : Aya Warsita IG : aya_ayawars Akun sss juri : Nita Rezky Lalu kalian gunakan #komenGAaya di komentar kalian agar aku bisa tahu kalau kalian ikut event GIVEAWAY ini. Untuk kategori lainnya seperti promo atau review kalian bisa lihat persyaatannya langsung di akun media sosial aku. Kalian bisa dapatkan hadiah sampai 100 ribu rupiah jika beruntung :)) Periode GIVEAWAY 1 – 25 Septermber 2021. Masih banyak waktu kan untuk ikutan :)) Yukk ikut meramaikan GIVEAWAY aya kali ini!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD