Bagian 3 - Fakta Baru Yang Terungkap

1355 Words
“Jadi dia beneran yang namanya Kyara? Kalau saingan aku seperti ini sih kayaknya sulit untuk dikalahkan deh. Eh, tapi Kyara ini istrinya Pak Rayyan kan? Artinya kesempatanku membuat Pak Kenan jatuh cinta terbuka lebar kan?” Naya bermonolog dalam hatinya. Mereka semua berbincang hangat sambil menikmati santapan yang sudah tersedia di atas meja, terkecuali Naya. Gadis itu tampak gugup harus berhadapan dengan Kyara yang selama ini hanya dia dengar namanya. Sesekali Naya melirik ke arah Kenan, melihat lelaki matang itu menatap Kyara dengan sangat lembut. Kyara bersama suaminya tampak tidak merasa aneh dengan tatapan Kenan yang seperti itu. Mungkin karena mereka bertiga bersahabat, jadi mereka berdua sudah merasa biasa saja dengan tatapan Kenan. “Naya, kenapa kamu makannya sedikit banget?” tanya Kyara dengan nada suara yang sangat ramah di telinga. “Eh, anu … enggak apa-apa kok, saya hanya gak terlalu lapar,” jawab Naya terbata. “Jangan sedikit makannya, karena Kenan gak suka cewek yang makannya sedikit. Apalagi jadi sekretaris dia itu pasti berat banget kan, dia galak kan!” seru Kyara. Kenan berdalih, “Kata siapa sih, Kya? Kamu jangan merusak image orang deh! Aku gak galak kok, hanya tegas saja.” “Anyway, Ken, lu gak ada niat cari istri lagi? Lu mau negjomblo sampai kapan sih? usia lu tuh udah matang banget untuk berkeluarga!” Pertanyaan Rayyan sontak membuat Kenan sekaligus Kyara terdiam dan saling melirik canggung. Sikap mereka barusan tidak luput dari perhatian Naya. Kenan dan Kyara yang tadinya tampak santai kini menjadi tegang dan canggung. “Mas, kamu kalau mau nanyain hal itu jangan di depanku ya,” pinta Kyara. “Tau lo, Ray! Kan gak enak gue sama Kyara,” timpal Kenan. Naya mencium sesuatu dari sikap mereka yang langsung berubah. Atau jangan-jangan selama ini Kyara itu adalah …. Ah, sudahlah. Naya juga tak ingin langsung mengambil kesimpulan sampai dia benar-benar mengetahui semuanya dengan jelas. Rayyan membelai rambut sang istri, mengecup pucuk kepalanya dan meminta maaf karena menanyakan hal tadi di waktu yang tidak pas. Naya langsung melirik ke arah Kenan, dan tampak Kenan menyunggingkan senyum dengan kepala yang menunduk seakan tidak mau melihat kemesraan sahabatnya itu. Kecanggungan tadi hanya berlangsung untuk beberapa saat, karena suasana kembali mencair saat Kenan mulai menanyakan Ilona dan Nevan, anak-anak dari sahabatnya itu. Kyara juga langsung bersemangat saat menceritakan Ilona dan Nevan yang terkadang sering berebut mainan, juga Nevan yang kadang mengganggu kakaknya saat sedang belajar karena ingin menggunakan crayon yang sama yang sedang digunakan oleh kakaknya itu. Mata Kenan memandang lurus saat Kyara menceritakan semua itu dengan senyum yang berbeda dari yang tadi. Senyumnya kali ini sangat lembut dan penuh perasaan. Naya kali ini melirik ke arah Rayyan, penasaran dengan sikap Rayyan saat mendapati sahabatnya memberikan pandangan yang tak biasa pada istrinya. Hal yang tak terduga, Rayyan menatap Kenan dengan tatapan prihatin. Dia tidak menatap Kenan seperti lelaki yang sedang cemburu, namun Rayyan tersenyum tipis dan menatap sabahatanya dengan prihatin. Mungkin prihatin karena belum memiliki pasangan. Begitulah yang dipikirkan Naya, karena Naya sama sekali belum mengetahui kisa mereka bertiga sebelumnya. Hari semakin malam, Rayyan dan Kenan kini sedang saling berebut membayar tagihan makan malam di meja kasir. Kenan dengan senang hati bersedia membayar total makan mereka berempat, tetapi Rayyan merasa gengsi jika harus ditraktir oleh sahabatnya itu. Alhasil, mereka berdua kini sedikit berdebat di meja kasir sambil masing-masing menyodorkan kardu debit pada kasir di sana. “Naya,” panggil Kyara. “Iya, Bu,” sahut Naya. “Jangan panggil Ibu, panggil Kyara saja gak apa-apa kok,” pinta wanita cantik itu. Naya mengangguk segan mengiyakan permintaan Kyara. Walau di dalam hatinya dia merasa sangat canggung jika hanya memanggil Kyara dengan sebutan namanya saja. “Aku boleh minta tolong?” Kyara menatap Naya dengan tatapan memohon. Naya sedikit bingung, mereka baru bertemu untuk pertama kalinya tetapi wanita cantik itu sudah meminta tolong pada Naya. “Minta tolong apa?” tanya Naya penasaran. “Tolong jaga Kenan baik-baik ya. Aku tahu kamu hanya sekretarisnya saja untuk saat ini, tetapi aku punya keyakinan jika kamu bisa menjaga Kenan dengan baik.” Kalimat yang keluar dari mulut Kyara tentu membuat Naya mengernyitkan dahinya. “Maksudnya gimana? Aku dan Pak Kenan kan gak ada hubungan lebih.” “Walau sebenarnya aku memang mau mempunyai hubungan yang lebih” sambungnya dalam hati. Kyara tersenyum lalu berkata, “Mungkin saat ini memang kalian belum mempunyai hubungan lebih, tetapi aku percayakan Kenan sama kamu ya. Dia pernah menikah satu kali karena perjodohan kedua orang tuanya. Tetapi pernikahannya kandas di tengah jalan karena tidak ada rasa cinta. Dia juga sepertinya sampai sekarang belum bisa melupakan perasaannya pada wanita yang pernah dia cintai. Jadi aku minta tolong padamu agar kamu bisa menjaga Kenan dan membuatnya melupakan masa lalu dan perasaannya itu.” “Apa? Pernah menikah? Jadi maksudnya Pak Kenan itu duda? Apa yang dimaksud Kyara tadi Pak Kenan belum bisa melupakan mantan istrinya itu?” di dalam hatinya Naya dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Sesaat kemudian Rayyan dan Kenan kembali ke tempat mereka. Pada akhirnya Rayyanlah yang membayar semua makanan tadi karena dia sangat bersikeras dan merasa gengsi jika harus ditraktir oleh Kenan. Begitulah Rayyan, dia selalu bersikeras untuk segala keinginannya, termasuk mendapatkan Kyara. Sampai-sampai sahabatnya sendiri pernah ditikung olehnya. Di dalam mobil, Naya penasaran dengan apa yang dikatakan oleh istrinya Rayyan tadi di restoran. Dia melirik ke kaca spion di dashboard mobil, melihat Kenan yang tersenyum menatap ke luar jendela. Naya menarik nafas panjang, memberanikan diri menanyakan langsung pada Kenan. “Pak, saya boleh tanya sesuatu?” Kenan mengalihkan pandangannya dan menatap bahu Naya yang duduk di depan. “Mau tanya apa?” “Hmm sebenarnya Kyara itu siapa sih, Pak? Kyara itu mantan sekretaris Pak Kenan atau istri temannya Pak Kenan tadi? Atau jangan-jangan dia mantan sekretaris Pak Kenan yang beruntung menjadi istrinya Pak Rayyan?” Kenan tampak tersenyum tipis menanggapi pertanyaan sekretarisnya itu. Lucu, tetapi enggan dijawab oleh Kenan. Sedangkan Naya terus menerus menunggu jawaban terlontar dari mulut lelaki tampan itu. Hanya saja Kenan kembali melempar pandangannya keluar jendela. Merasa kesal, Naya akhirnya menegur Kenan dan meminta jawaban dari lelaki itu. “Pak, kok saya malah dicuekin sih! Itu pertanyaan saya tadi dijawab dulu, kan saya penasaran sama yang namanya Kyara. Dia itu sebenarnya satu orang atau dua orang sih???” “Dia satu orang yang sama, dan dia tidak pernah menjadi sekretaris saya. Apa saya pernah bilang kalau saya punya sekretaris bernama Kyara?” mata Kenan melirik tajam pada kaca dashboard. “Jadi Kyara yang selama ini Pak Kenan sebut itu, Kyara istrinya Pak Rayyan???” “Iya,” jawab Kenan dengan tegas. Nyali Naya langsung menciut jika memang Kyara yang selama ini dibicarakan oleh Kenan itu adalah Kyara yang tadi. Wanita itu sangat cantik dan anggun. Bahkan mempunyai hati yang sangat baik. Sedangkan dia, hanya wanita biasa dengan penampilan yang biasa, yang bahkan selalu dimarahi karena kinerjanya yang belum sesuai dengan keinginan Kenan. “Ada pertanyaan lainnya?” tanya Kenan dengan nada sinis. Naya menundukkan kepala. Sebenarnya dia semakin penasaran ada hubungan apa antara Kenan dan Kyara, sampai-sampai image Kyara di mata Kenan sangatlah sempurna, dan juga untuk apa Kyara menitipkan Kenan padanya. Apakah mereka berdua pernah mempunyai hubungan di masa lalu? “Jika kamu penasaran apa aku dan Kyara pernah mempunyai hubungan di masa lalu, maka jawabannya adalah iya. Kami pernah menjalin cinta, sampai pada akhirnya aku harus menikah dengan pilihan orang tuaku. Kyara pun direbut oleh Rayyan dan kini mereka hidup bahagia.” Kenan seperti bisa membaca pikiran Naya dan menjawab semuanya tanpa jeda. Pernyataan yang keluar dari mulut Rayyan membuat jantung Naya seakan berhenti sesaat. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Pastinya, kini satu fakta terungkap dan membuat Naya sangat terkejut dengan fakta tersebut. “Kamu pernah bilang kalau kamu akan menggantikan Kyara ‘kan? Setelah kamu bertemu langsung dengan Kyara, apa kamu yakin bisa menggantikan dia? Karena kalian sungguh berbeda 180 derajat.” Ucapan seakan menyudutkan Naya. Entah kenapa hati Naya terasa seperti teriris, padahal Kenan hanya mengungkap hal yang sebenarnya. Naya hanya merasa langsung kalah setelah bertemu dengan wanita yang menempati hati Kenan dulu. Naya berpikir ulang, apakah dia bisa menggantikan posisi Kyara? Menggantikannya di hati Kenan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD