Arafan melihat kondisi Abrisam yang sudah siuman dari balik kaca pintu menuju ruang perawatan. Di sana tampak bocah sepuluh tahun itu tengah berbincang dengan perawat yanh tengah memeriksa infus. Sekilas ia perhatikan wajah mereka nyaris sama. Arafan pun menarik napas dalam. Sebelum akhirnya menggeser pintu itu ke sebelah kanan. Kedatangannya menjadi pusat perhatian. Bocah laki-laki itu menarik garis bibir sebagai bentuk penyambutan begitu juga dengan Arafan. "Bagaimana kondisinya, Sus?" tanya Arafan sebagai pengantar. Tidak mungkin ia mengusir perawat itu begitu saja. "Sudah membaik. Tinggal istirahat yang cukup dan pemulihan." Arafan mengangguk. Berita itu cukup membuatnya semangat. "Oke sudah. Lekas sembuh, ya. Kalau ketemu Bunda gak mau ini udah ada ayahnya. Jangan sedih lagi." A

