“Bagaimana?” tanya Vanya setelah Arafan selesai dengan panggilan teleponnya. “Dia marah besar.” “Lalu apa rencanamu?” “Aku akan membicarakannya baik-baik.” “Semuanya? Termasuk tentang kita?” Arafan menganggguk. Waktu satu bulan sebelum keberangkatan Vanya ke Jepang akan ia manfaatkan. “Kau serius, Fan?” “Jika hanya Hanania rela untuk berbagi aku tak masalah Vanya. Aku kira memang perlu mempertimbangkannya.” Vanya terdiam. Ide itu jelas tidak sesuai dengan dirinya. Sampai kapan pun ia lebih nyaman menjalani hubungan tanpa komitmen. “Kita berangkat sekarang?” Vanya berusaha mengalihkan fokus pembicaraan. “Boleh.” Mobil milik Jinan Daraha kembali melaju. Membawa Arafan dan Vanya menemui Abrisam di rumah sakit. Setelah berbicara mereka janji akan menjadi orantua yang baik untuk Abr

