Arafan masih termangu. Setelah perawat pergi ia tak kembali ke kamar inap Abrisam. Selain perasaannya yang semakin gusar ia juga perlu kembali ke hotel untuk mempersiapkan kepulangannya. Tak bisa ia terus di Bali saat Hanania dan Hira sudah berada di desa. Ia perlu menjaga keduanya dulu dalam satu rengkuh serta lingkar aman menurutnya. Pikirannya masih ingin mempertahankan keduanya serta menjelaskan rencana besarnya. Arafan meraup wajahnya kasar. Ia bersiap pergi tanpa berpamitan. Namun, pintu kamar inap itu bergeser. “Mau ke mana?” tanya Vanya saat melihat Arafan berdiri. “Balik hotel dulu. Nyiapin koper.” Vanya mendekat, “Mau pulang?” “Iya.” Vanya mengangguk kecil. Tak menjadi masalah baginya sebenarnya. Dari awal kedatangan Arafan bukan untuk menemuinya. Meski siang menjelang so

