Lepas subuh Arafan bersiap. Ia tak sempat berpamitan dengan Hanania. Lebih tepatnya tak tega. Arafan tahu betul istrinya itu begadang semalaman. Hira sempat terbangun beberapa kali. Ia mendengarnya tapi kondisi tubuh yang cukup lelah membuatnya tak berdaya untuk sekadar bangun. Ia juga paham pikiran Hanania pun sedang bercabang. Bahkan saat ia bersiap, leptop di depan Hanania masih menyala meski perempuan itu terlelap dengan kepala menempel di meja. Slide presentasi yang sedang disimak Hanania cukup membuat Arafan paham. Tidak mungkin ia melarang sedangkan istrinya sedang semangat-semangatnya. Mungkin nanti atau suatu hari nanti saat keadaan sudah lebih baik. Kamar Hira Arafan buka sebentar. Ia juga tak berani menyapa putri kecilnya itu. Di pagi yang masih gelap, Arafan bertolak dari rum

