KERINDUAN YANG TEROBATI 2

950 Words
Saat ini aku merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Semuanya terasa indah bagiku. Aku bisa bertemu lagi dengan orang yang aku sayang, di tempat yang dulu sering kami kunjungi. Kembali melihat wajahnya, senyumnya, dan mendengar suaranya—yang selama ini hanya bisa kurasakan lewat panggilan video. Pertemuan ini seperti obat bagiku. Aku sudah terlalu lama merindukan momen seperti ini. Meski pertemuan itu tidak berlangsung lama, bagi kami waktu seakan melambat. Seolah-olah waktu enggan mengganggu kebahagiaan yang akhirnya kembali hadir. Bahkan alam pun terasa seperti tidak ingin memisahkan kami lagi. Wajah muram Clara selama dua tahun terakhir kini tak lagi terlihat. Semangatnya kembali, matanya kembali hidup. Ia bercerita tanpa henti, seakan menyimpan begitu banyak kisah yang menunggu untuk dibagikan sejak lama. Saat ini aku merasakan kebahagiaan yang telah lama tidak ku rasakan,Semuanya terasa indah bagiku. aku bisa bertemu lagi dengan orang yang aku sayang. Ditempat yang dulu sering kami kunjungi. Dan kembali melihat wajah,senyum,dan suara yang selama ini hanya bisa aku lihat lewat vidio call.Pertemuan ini bagai obat bagiku,aku sudah terlalu lama merindukan saat seperti ini. Pertemuan pada saat ini tidak lah lama,namun bagi kita berdua terasa seperti waktu melambat...seakan waktu tak mau mengganggu kebahagiaan ini.Alam seperti tidak ingin memisahkan kami lagi. Wajah muram clara selama dua tahun ini sudah tak ku lihat lagi,semangatnya kembali lagi setelah pertemuan itu terjadi.Ia selalu bercerita seakan sudah menyimpan banyak cerita untuk pertemuan kami lagi. Disaat terdiam,kami saling memandang satu sama lain dan entah kenapa kami selalu tersenyum saat saling bertatapan. Kini semua telah kembali sempurna. Di masa depan apakah aku akan menyesali keputusan ini,atau malah takdir berpihak kepada kami berdua,tidak satupun dari kami yang tau. Aku dan clara hanya memikirkan hari ini. Kami berdua yakin akan selalu bersama selamanya. Akan selalu menghadapi suka atau pun duka bersama...Dan berjanji setia sehidup semati Seakan belum puas dengan pertemuan sore tadi...malamnya aku dan clara telfonan lagi.Tak banyak kata yang terucap,kami hanya saling pandang di dalam vidio call.Sampai akhirnya aku dan clara tertidur dengan telvon yang masih tersambung. (tambahkan cerita penutup) Malam itu berlalu begitu saja, tanpa terasa. Layar ponsel masih menyala redup, memperlihatkan wajah kami yang terlelap dalam keheningan yang hangat. Seakan dunia di luar sana berhenti sejenak, memberi ruang bagi dua hati yang akhirnya kembali menemukan jalannya. Pagi datang perlahan, dan ketika aku terbangun, sambungan itu masih ada. Wajah Clara masih di sana, sedikit berantakan, namun justru terlihat begitu nyata—bukan lagi sekadar bayangan yang terpisah jarak. Aku tersenyum kecil, menyadari bahwa kebahagiaan ini bukan lagi sekadar harapan, tapi sesuatu yang benar-benar bisa kurasakan. Hari-hari setelah itu mungkin tidak akan selalu mudah. Akan ada jarak, waktu, dan berbagai hal yang menguji. Tapi pertemuan itu telah mengajarkan satu hal penting—bahwa apa yang kami miliki bukan sesuatu yang rapuh. Ia telah bertahan dari rindu yang panjang, dari waktu yang terasa begitu kejam, dan dari segala keraguan yang pernah muncul. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tidak ada yang benar-benar tahu. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa takut akan hal itu. Karena sekarang aku mengerti… bahwa selama kami masih saling menggenggam, sejauh apa pun jarak memisahkan, kami akan selalu menemukan jalan untuk kembali. Dan jika suatu hari nanti takdir benar-benar berpihak, maka cerita ini bukan hanya tentang pertemuan yang singkat—melainkan awal dari kisah panjang yang akhirnya kami tulis bersama. maksudnya perbaiki dan tambah cerita penutup Berikut versi yang sudah diperbaiki alurnya sekaligus ditambahkan penutup yang lebih kuat dan puitis: Saat ini aku merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Semuanya terasa indah bagiku. Aku bisa bertemu lagi dengan orang yang aku sayang, di tempat yang dulu sering kami kunjungi. Kembali melihat wajahnya, senyumnya, dan mendengar suaranya—yang selama ini hanya bisa kurasakan lewat panggilan video. Pertemuan ini seperti obat bagiku. Aku sudah terlalu lama merindukan momen seperti ini. Meski pertemuan itu tidak berlangsung lama, bagi kami waktu seakan melambat. Seolah-olah waktu enggan mengganggu kebahagiaan yang akhirnya kembali hadir. Bahkan alam pun terasa seperti tidak ingin memisahkan kami lagi. Wajah muram Clara selama dua tahun terakhir kini tak lagi terlihat. Semangatnya kembali, matanya kembali hidup. Ia bercerita tanpa henti, seakan menyimpan begitu banyak kisah yang menunggu untuk dibagikan sejak lama. Dan di sela-sela cerita itu, ketika kami terdiam, kami saling memandang. Entah kenapa, setiap kali mata kami bertemu, selalu ada senyum yang ikut hadir tanpa diminta. Kini semuanya terasa utuh kembali. Aku tidak tahu, di masa depan nanti apakah aku akan menyesali keputusan ini, atau justru takdir benar-benar berpihak kepada kami. Tidak ada satu pun yang tahu. Tapi untuk sekarang, aku dan Clara memilih untuk memikirkan hari ini. Kami percaya bahwa kami akan tetap bersama. Menghadapi suka dan duka, berjalan berdampingan, dan saling menjaga. Kami berjanji, setia sehidup semati. Seakan belum puas dengan pertemuan sore itu, malam harinya kami kembali terhubung lewat panggilan video. Tak banyak kata yang terucap. Kami hanya saling menatap, menikmati kehadiran satu sama lain dalam diam. Hingga akhirnya, tanpa sadar, kami tertidur dengan panggilan yang masih tersambung. Dan di pagi hari, ketika aku terbangun, layar itu masih menyala. Wajah Clara masih ada di sana—tenang, damai, dan begitu nyata. Aku tersenyum. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sendiri lagi. Mungkin perjalanan kami ke depan tidak akan selalu mudah. Akan ada jarak, waktu, dan berbagai hal yang mencoba memisahkan. Tapi jika rindu selama ini saja mampu kami lewati, maka aku percaya… kami juga mampu melewati yang lainnya. Dan jika suatu hari nanti kami harus kembali berpisah oleh keadaan, aku tahu satu hal pasti— kami sudah pernah menemukan jalan untuk kembali. Dan selama hati ini masih saling mengingat, selama itu pula cerita kami belum benar-benar selesai. Ini bukan akhir. Ini adalah awal… dari kisah yang akhirnya kami lanjutkan bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD