KERINDUAN YANG TEROBATI

738 Words
Apakah keputusan ini akan benar-benar berakhir dengan kebahagiaan? Tidak ada yang pernah tahu. Setiap pilihan selalu membawa risikonya sendiri. Jika ia lebih memilih tetap bertahan di perantauan, mungkin masa depannya akan lebih terjamin— atau mungkin juga justru sebaliknya. Namun kini, Raditia telah memilih. Pilihan yang tidak ia sesali. Pilihan yang lahir bukan dari logika semata, melainkan dari hati yang terlalu lama menahan rindu. Karena pada akhirnya— bukan tentang pilihan mana yang paling benar, melainkan tentang keberanian untuk menjalani apa yang telah dipilih. Akhirnya, hari itu tiba. Hari yang selama ini hanya mereka bayangkan dalam doa dan harapan. Hari di mana jarak yang selama dua tahun memisahkan— akhirnya runtuh. Raditia akan pulang. Kembali ke genggaman Clara. Dan Clara… akhirnya bisa kembali memeluk seseorang yang selama ini hanya bisa ia dengar suaranya. Sepanjang perjalanan, mereka tidak bisa saling menghubungi. Sinyal yang terputus-putus seakan ikut menguji kesabaran mereka. Tak ada pesan. Tak ada kabar. Hanya rindu yang terus bertambah… dan harapan yang mereka genggam erat dalam diam. Di sisi lain, Clara tak pernah benar-benar tenang. Cemas. Gelisah. Takut kehilangan—bahkan sebelum sempat kembali memiliki. Ia berulang kali melihat layar ponselnya, berharap ada satu pesan masuk. Namun tak ada. “Ya Tuhan… tolong jaga dia…” bisiknya pelan, hampir seperti doa yang dipaksakan keluar dari hati yang gemetar. Di tengah lelahnya kehidupan kampus, di antara tugas dan rutinitas yang tak ada habisnya— semuanya terasa ringan. Karena hari itu, hatinya dipenuhi satu hal: harapan akan pertemuan. Dua hari yang panjang akhirnya berlalu. Dan di sebuah terminal yang ramai, sebuah bus berwarna biru perlahan berhenti. Clara sudah lebih dulu tiba. Ia berdiri di antara kerumunan orang, dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Matanya tak henti mencari. Satu per satu wajah yang turun dari bus ia perhatikan— namun belum juga menemukan yang ia tunggu. Hingga akhirnya— Ia melihatnya. Sosok yang begitu ia kenal. Sosok yang selama ini hanya hidup dalam rindu dan kenangan. Raditia. Dalam sekejap, dunia di sekitar Clara seakan menghilang. Suara bising terminal memudar. Yang tersisa hanya satu hal— dia. Mata Clara mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Seolah tak percaya bahwa semua ini nyata. Tanpa berpikir panjang, ia berlari. Menembus keramaian, mengabaikan siapa pun di sekitarnya. Sementara itu, Raditia yang menangkap sosok Clara di kejauhan... langsung menghentikan langkahnya— lalu bergegas menghampiri. Tak ada kata-kata. Tak ada rencana. Hanya dua hati yang bergerak mengikuti rindu yang sama. Dan ketika jarak di antara mereka akhirnya hilang— Clara langsung memeluknya. Erat. Seolah takut kehilangan lagi. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Namun kali ini— bukan karena luka. Melainkan karena bahagia yang terlalu lama tertunda. “Kamu jangan pergi lagi…” suara Clara pecah di antara tangisnya. “Jangan pernah tinggalin aku sendirian lagi…” Raditia tersenyum. Senyum yang sudah lama hilang, yang selama ini tertutup oleh kerasnya kehidupan di perantauan. Ia membalas pelukan itu— lebih erat. Seolah ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi. “Iya…” bisiknya pelan. “Aku janji… nggak akan pergi jauh lagi dari kamu, Clar.” Tangannya perlahan mengusap air mata di pipi Clara. Menatap wajah yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. “Aku di sini sekarang…” “Dan aku akan tetap di sini.” Hari itu— rindu akhirnya menemukan jalannya pulang. Semua luka, semua jarak, semua air mata yang pernah jatuh— seakan terbayar dalam satu pelukan. Mereka tidak banyak bicara. Karena pada akhirnya, pertemuan itu sendiri sudah mengatakan segalanya. Sore itu, mereka memutuskan pergi ke sebuah cafe. Tempat sederhana— namun penuh kenangan. Tempat di mana dulu mereka sering tertawa, berbagi cerita, dan bermimpi tentang masa depan yang saat itu terasa begitu jauh. Kini mereka kembali duduk di sana. Berhadapan. Nyata. Bukan lagi lewat layar. Bukan lagi lewat suara. Melainkan benar-benar hadir. Sesekali mereka tertawa kecil. Sesekali terdiam— hanya untuk saling menatap, memastikan bahwa ini bukan ilusi. “Aku masih nggak percaya kamu beneran di sini…” ujar Clara pelan. Raditia tersenyum. “Aku juga…” “Kayak mimpi yang akhirnya jadi nyata.” Kebahagian sudah sepenuhnya mereka rasakan. Dan tanpa terasa malam sudah di depan mata~ mereka kembali berpisah namun bukan ber mil-mil lagi jauhnya. Namun waktu tetaplah waktu. Ia tidak pernah berhenti. Tidak pernah menunggu. Detik demi detik terus berjalan, membawa mereka menjauh dari masa lalu— dan perlahan menuju masa depan. Masa depan yang kini… akan mereka jalani bersama. Dan untuk pertama kalinya— Raditia tidak lagi merasa harus memilih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD