Setelah percakapan malam itu—
semuanya berubah menjadi sunyi.
Tak ada pesan.
Tak ada panggilan.
Tak ada kabar.
Seolah-olah, dalam satu malam saja,
mereka menghapus keberadaan satu sama lain dari hidup yang dulu begitu penuh.
Satu minggu berlalu dalam diam yang menyiksa.
Namun diam itu tidak pernah benar-benar hening bagi Raditia.
Di balik kesunyian,
pikirannya justru berisik—
dipenuhi suara-suara yang saling bertabrakan.
Ia mulai kehilangan fokus.
Pekerjaan yang dulu ia kejar dengan penuh tekad, kini terasa hampa.
Angka-angka, target, dan rutinitas—
semuanya terlihat kabur di matanya.
Ia sering melamun.
Menatap jauh, tapi tidak benar-benar melihat apa pun.
Dan setiap malam—
adalah medan perang.
Perang antara logika dan perasaan.
Antara mimpi dan cinta.
Antara masa depan… dan seseorang yang ia sebut rumah.
Ia mengulang kembali semua kenangan.
Tawa Clara.
Tangisnya.
Cara ia memanggil namanya.
Dan di sela-sela itu,
muncul satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
“Apa arti semua ini… jika pada akhirnya aku harus kehilangannya?”
Dua pilihan berdiri di hadapannya—
sama-sama benar,
dan sama-sama menyakitkan.
Jika ia bertahan—
ia mungkin akan mendapatkan masa depan yang ia impikan.
Namun jika ia pulang—
ia akan kembali pada cinta yang selama ini ia jaga.
Dan pada akhirnya,
setelah satu minggu yang terasa seperti satu kehidupan—
Raditia memilih.
Bukan pilihan yang mudah.
Bukan pilihan yang logis.
Namun pilihan yang… jujur pada hatinya.
Ia memilih untuk meninggalkan kerasnya kehidupan di perantauan.
Ia memilih untuk pulang.
Pulang kepada seseorang yang selama ini ia rindukan—
bukan hanya sebagai kekasih,
tapi sebagai tempat ia merasa utuh.
“Di sini aku punya uang… tapi aku sendirian…”
gumamnya pelan dalam hati.
“Di sana, aku mungkin harus memulai dari nol…”
“tapi aku punya seseorang yang membuat semua itu layak diperjuangkan…”
Suara hatinya berbisik.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
dadanya terasa sedikit lebih lega.
Karena akhirnya—
ia berhenti berlari dari apa yang benar-benar ia inginkan.
Tanpa menunda, Raditia segera menghubungi Clara.
Nada dering itu terdengar panjang.
Setiap detiknya terasa seperti ujian kesabaran.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia takut.
Takut jika Clara sudah lelah.
Takut jika suara yang ia rindukan itu… tidak lagi ingin ia dengar.
Hingga akhirnya—
“...halo…”
Suara Clara terdengar pelan.
Ragu.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan luka.
“Clar…”
suara Radit tertahan.
“Kamu ke mana aja…” lanjutnya, dengan nada yang sulit disembunyikan—antara rindu dan cemas.
Namun ia tidak memberi waktu untuk jeda.
“Maaf… aku butuh waktu buat mikir.”
“Dan sekarang… aku sudah punya jawaban dari pertanyaan kamu minggu lalu…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—
Clara memotong.
“Apapun keputusan kamu… aku bisa ngerti kok.”
Suaranya datar.
Tenang—tapi justru terasa lebih menyakitkan.
“Aku nggak akan maksa kamu buat pulang…”
“Mungkin itu memang yang terbaik buat kamu.”
Hening sejenak.
“Aku juga minta maaf soal yang kemarin…”
“Kalau hubungan kita harus selesai… aku nggak apa-apa…”
Nada suaranya begitu pasrah.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lelah berharap.
“Mungkin… aku memang sudah nggak ada artinya lagi buat kamu…”
Kalimat itu—
menusuk lebih dalam dari yang Raditia bayangkan.
“Clar…”
nadanya berubah tegas.
“Kok kamu ngomong gitu? Aku belum selesai.”
“Denger dulu apa yang mau aku bilang…”
“Jangan langsung nyimpulin sendiri.”
Hening.
“Iya… aku minta maaf…” jawab Clara pelan.
Raditia menarik napas panjang.
Seolah-olah seluruh keberaniannya ia kumpulkan di satu kalimat.
“Aku… udah mutusin buat pulang.”
Sunyi.
Beberapa detik—
yang terasa seperti selamanya.
“Kamu… serius?”
Suara Clara berubah.
Ada harap yang perlahan hidup kembali di dalamnya.
“Kamu nggak bercanda kan…?”
“Aku nggak salah denger…?”
“Iya, Clar…”
suara Radit kini lebih tenang.
“Besok lusa… aku pulang.”
Dan di ujung sana—
tangis Clara kembali pecah.
Namun kali ini, bukan karena luka.
Melainkan karena harapan yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
Malam itu—
tidak ada lagi pertengkaran.
Tidak ada lagi nada tinggi.
Tidak ada lagi kata-kata yang saling melukai.
Yang tersisa hanyalah dua hati
yang akhirnya kembali saling menemukan.
Semua rasa sakit,
semua kesalahpahaman,
semua jarak yang memisahkan—
seakan luluh dalam satu keputusan.
Mereka kembali tertawa.
Kembali berbicara seperti dulu.
Seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar memisahkan mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun—
rindu tidak lagi terasa sebagai luka.
Melainkan…
janji yang sebentar lagi akan terbayar.
Karena kali ini—
Raditia benar-benar pulang.
Bukan hanya pulang ke sebuah tempat,
tapi pulang…
kepada seseorang yang selalu ia sebut rumah.