Dua tahun telah berlalu sejak jarak dan waktu memisahkan mereka.
Bukan waktu yang singkat untuk sebuah hubungan yang hanya bertahan dari pesan singkat, suara yang tertahan rindu, dan harapan yang tak pernah benar-benar pasti.
Namun berbeda dari kisah pada umumnya—
cinta mereka tidak runtuh.
Ia retak, iya.
Ia lelah, tentu.
Tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Seperti api kecil yang terus dijaga di tengah badai,
mereka tetap memilih bertahan—
meski tangan mereka tak lagi saling menggenggam.
Pertengkaran menjadi hal yang biasa.
Kesalahpahaman datang seperti tamu yang tak diundang.
Dunia di sekitar mereka pun tak henti menggoda, seolah berkata: “Masih yakin ingin bertahan?”
Namun dari semua hal yang mereka hadapi,
ada satu yang tak pernah bisa mereka kalahkan—
rindu.
Rindu yang tidak pernah cukup hanya dengan suara.
Rindu yang tidak bisa disentuh, tapi terasa paling nyata.
Malam itu, dering telepon kembali menghubungkan dua hati yang terlalu lama terpisah.
“Radit…” suara Clara terdengar pelan, hampir seperti bisikan yang takut pecah.
“Iya, Clar…” jawab Raditia, mencoba terdengar biasa, meski dadanya sudah terasa sesak.
“Aku capek…” ucap Clara lirih.
Bukan capek yang sederhana.
Bukan sekadar lelah setelah hari panjang.
Raditia tahu… itu lelah yang datang dari menunggu tanpa kepastian.
“Kamu kenapa?” tanyanya pelan, hati-hati, seolah takut menyentuh luka yang terlalu dalam.
Clara tidak langsung menjawab.
Namun suara napasnya mulai tak teratur.
“Aku kangen… banget…”
Suaranya bergetar, lalu pecah.
“Sudah dua tahun, Dit… dua tahun kita cuma seperti ini…”
“Aku nggak sanggup lagi kalau harus terus begini…”
Air mata yang sudah tak tertahan lagi akhirnya jatuh juga—
bukan satu, tapi banyak, seperti semua rindu yang tak sempat diungkapkan.
Raditia menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokannya.
“Aku juga kangen, Clar…”
“Tapi aku nggak butuh kata-kata itu!” potong Clara.
“Aku cuma butuh kamu… pulang.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara, berat, dan tak bisa dihindari.
“Aku belum bisa pulang, Clar…”
“Aku masih harus di sini… kamu tahu aku lakukan ini untuk masa depan kita.” radit menjelaskan
“Selalu itu jawaban kamu!” suara Clara meninggi.
“Berusaha… berjuang… masa depan…”
Nada suaranya bukan lagi marah—
tapi kecewa yang sudah terlalu lama dipendam.
“Aku melakukan ini buat kita!” balas Radit, suaranya mulai goyah.
“Tapi aku sudah nggak ngerasain ‘kita’ lagi…”
Tangis Clara semakin kuat.
“Aku merasa sendirian… di hubungan yang katanya milik kita berdua…”
Setiap kata Clara seperti hujan kecil yang jatuh satu per satu—
tidak deras, tapi cukup untuk membuat hati Raditia basah dan dingin.
“Aku cuma minta satu hal…”
Suara Clara kini lebih pelan, tapi justru terasa lebih tajam.
“Kamu pulang.”
Raditia menutup matanya.
Permintaan itu terdengar sederhana—
namun baginya, itu seperti diminta memilih antara dua dunia.
“Clar… aku nggak bisa ninggalin semuanya sekarang…”
Hening.
Hening yang kali ini terasa seperti jurang.
“Kalau gitu kamu pilih.”
Deg.
“Pilih?” suara Raditia nyaris tak terdengar.
“Iya… aku sudah capek, Dit.”
“Capek nunggu. Capek merasa sendirian.”
“Pilih aku… atau semua yang kamu kejar di sana.”
Dunia seperti berhenti di detik itu.
“Clar, jangan gitu…”
“Aku serius, Radit.”
“Kalau kamu nggak mau pulang… mungkin kita harus selesai.”
Kalimat itu jatuh—
dan tak ada cara untuk menariknya kembali.
Malam itu, bukan hanya Clara yang menangis.
Di tempat yang jauh, Raditia duduk sendirian, menatap kosong ke arah jendela yang tak benar-benar ia lihat.
Pikirannya penuh.
Hatinya bising.
Kata-kata Clara terus terngiang—
seperti gema yang tak mau pergi.
Ia berada di persimpangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di satu sisi—
ada Clara.
Cinta yang telah ia jaga, rawat, dan perjuangkan selama ini.
Di sisi lain—
ada masa depan.
Mimpi yang ia bangun dengan peluh, kesepian, dan pengorbanan.
Jika ia pulang—
semua yang ia perjuangkan bisa runtuh.
Namun jika ia bertahan—
ia bisa kehilangan orang yang paling berarti.
Dan untuk pertama kalinya,
Raditia menyadari sesuatu yang pahit:
tidak semua pilihan membawa kebahagiaan.
Ada pilihan yang hanya menawarkan kehilangan—
dengan cara yang berbeda.
“Aku harus bagaimana…?” bisiknya pelan.
Tak ada jawaban.
Tak ada suara.
Hanya dirinya sendiri,
dan hati yang perlahan retak tanpa suara.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Raditia benar-benar merasa kehilangan arah.
Dan di antara cinta dan tujuan,
ia harus memilih…
meski ia tahu,
apa pun yang ia pilih nanti—
sebagian dari dirinya akan tetap tertinggal.
BERSAMBUNG...