KEKUATAN CINTA

914 Words
Setiap hubungan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Setelah kelulusan Clara, hidup seperti menarik mereka untuk memilih jalan yang berbeda. Raditia memilih pergi merantau ke kota besar, membawa harapan untuk mengubah nasib. Sementara Clara tetap tinggal, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Awalnya, jarak terasa seperti hal kecil. Setiap malam, mereka saling menelepon. Clara sering bercerita tentang dosen yang galak, tugas yang menumpuk, atau sekadar hal-hal lucu di kampus. Raditia, di sisi lain, bercerita tentang kerasnya dunia kerja, tentang atasan yang menuntut, dan kota yang tak pernah benar-benar tidur. “Aku capek banget hari ini,” kata Raditia suatu malam. Clara tersenyum meski hanya lewat suara. “Capek boleh… tapi jangan lupa istirahat. Aku nggak mau kamu sakit.” Raditia tertawa kecil. “Iya, dokter Clara.” Hari-hari terasa hangat. Sampai perlahan, kesibukan mulai menggerus kebiasaan mereka. Suatu malam, Clara menunggu telepon dari Raditia. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas, tapi tak ada kabar. Ia akhirnya mengirim pesan. “Kamu sibuk ya?” Tak ada balasan. Pukul satu dini hari, ponsel Clara akhirnya berbunyi. “Maaf, baru selesai kerja.” Clara membaca pesan itu lama sebelum membalas. “Iya, nggak apa-apa.” Namun sebenarnya, ia merasa kecewa. Keesokan harinya, Raditia mencoba menelepon, tapi Clara tak mengangkat. Malamnya, akhirnya mereka berbicara. “Kamu kenapa sih?” tanya Raditia. Clara menarik napas. “Aku nunggu kamu semalam.” “Aku kerja, Clara. Kamu kira aku sengaja?” “Aku nggak bilang kamu sengaja… tapi setidaknya kasih kabar.” Nada suara mulai meninggi. “Aku juga capek! Jangan selalu minta dimengerti, aku juga butuh dimengerti.” Hening beberapa detik. Clara menahan air mata. “Iya… maaf.” Telepon ditutup tanpa kata selamat malam. Itu pertengkaran kecil pertama mereka sejak berpisah. Setelah itu, hal-hal kecil mulai terasa besar. Kadang Clara kesal karena Raditia lupa hal-hal sederhana, seperti tanggal jadian mereka. Kadang Raditia merasa Clara terlalu menuntut waktu di saat ia sedang tertekan dengan pekerjaan. Suatu sore, Clara melihat Raditia mengunggah foto bersama teman-teman barunya di kota. Ia langsung mengirim pesan. “Kamu lagi sama mereka ya? Seru banget keliatannya.” “Iya, lagi istirahat sebentar.” Clara membaca, lalu mengetik lagi. “Lucu ya… buat mereka kamu ada waktu, tapi buat aku nggak.” Raditia menghela napas panjang sebelum membalas. “Jangan mulai lagi, Clara…” “Aku cuma bilang apa yang aku lihat.” “Aku kerja dari pagi sampai malam! Ini satu-satunya waktu aku santai.” “Terus aku apa?” Pesan itu membuat Raditia terdiam cukup lama. “Kamu itu penting. Tapi jangan selalu bikin aku merasa bersalah.” Clara tak langsung membalas. Hatinya terasa sesak. “Aku cuma kangen, Dit… itu aja.” Beberapa menit berlalu sebelum Raditia menjawab. “Aku juga kangen… tapi caramu nyampeinnya kadang bikin aku capek.” Pertengkaran itu tidak berakhir dengan kata maaf. Mereka sama-sama diam malam itu. Hari berikutnya terasa aneh. Tak ada pesan pagi seperti biasanya. Tak ada kabar sepanjang hari. Sampai akhirnya, menjelang malam, Raditia mengirim pesan singkat. “Kamu udah makan?” Clara menatap layar ponselnya cukup lama. “Udah.” Sederhana, tapi cukup untuk membuka kembali percakapan yang sempat terhenti. Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertengkar. Kali ini karena hal sepele—Clara cemburu pada teman kerja perempuan Raditia yang sering disebut dalam ceritanya. “Kamu deket ya sama dia?” tanya Clara. “Cuma teman kerja, Clara.” “Tapi kamu sering banget cerita tentang dia.” “Karena dia satu tim sama aku!” “Ya aku nggak suka…” Raditia mulai kehilangan kesabaran. “Aku harus gimana lagi? Nggak boleh punya teman?” Clara terdiam, lalu berkata pelan, “Aku cuma takut kehilangan kamu.” Nada suara Clara yang berubah membuat Raditia luluh. Ia menghela napas, lalu berkata lebih lembut. “Aku di sini kerja, bukan cari pengganti kamu.” Clara menggigit bibirnya. “Maaf… aku cuma overthinking.” “Iya, aku ngerti. Tapi tolong percaya sama aku.” “Iya… aku percaya.” Malam itu, mereka tidak saling menyalahkan. Hanya saling menenangkan. Waktu terus berjalan, dan pertengkaran kecil itu tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada saja hal yang memicu—waktu yang tak sejalan, pesan yang terlambat, rasa cemburu, atau sekadar kesalahpahaman. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak berubah: mereka selalu kembali. Selalu ada yang memulai lebih dulu setelah diam terlalu lama. Seperti suatu malam ketika Clara tiba-tiba menelepon. “Aku kangen…” Raditia tersenyum, meski lelah. “Akhirnya kamu bilang juga.” “Kamu nggak kangen?” Raditia menatap langit malam dari jendela kamarnya. “Kangen banget… cuma kadang gengsi bilang duluan.” Clara tertawa kecil. “Bodoh…” “Iya, aku bodoh. Tapi bodohnya cuma ke kamu.” Hening sejenak, tapi kali ini hening yang hangat. “Dit…” panggil Clara pelan. “Iya?” “Kalau nanti kita terus begini… kamu masih mau bertahan?” Raditia tak langsung menjawab. Ia tahu, ini bukan sekadar pertanyaan biasa. “Aku capek, Clara. Kamu juga pasti capek.” “Iya…” “Tapi… aku lebih capek kalau harus mulai lagi sama orang lain.” Clara tersenyum tanpa sadar. “Aku juga…” “Jadi ya… kita jalanin aja. Pelan-pelan. Berantem boleh… tapi jangan pergi.” Clara mengangguk, meski tak terlihat. “Jangan pergi ya, Dit…” “Kamu juga jangan.” Dan di antara jarak yang memisahkan, di antara pertengkaran kecil yang terus datang, mereka memilih satu hal yang sama— Bertahan. Bukan karena semuanya mudah, tapi karena mereka tahu… yang mereka punya terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD