Ajakan Menikah

1186 Words
Sejak saat itu, Albert menjadi lebih sering mengunjungi rumah Clarissa. Dia terus menemui Akira dengan menggunakan berbagai alasan. Terkadang membawa makanan, buah-buahan dan lainnya. Semakin hari Akira semakin merasa risih dengan sikap Albert yang patut dipertanyakan. “Aku bilang juga apa. Pasti si Albert itu suka sama kamu,” kata Clarissa mengutarakan pendapatnya pada suatu ketika. “Selalu itu saja yang kau katakan tentang dia,” jawab Akira ketus. “Aku serius, Akira. Apa semua sikap yang dia tunjukkan selama ini tidak mampu membuatmu memahami?” “Sebenarnya dugaan yang sama juga terbersit dalam pikiranku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Apa sebaiknya aku menghindar dan menjauhi Pak Albert?” tanya Akira meminta saran. “Gadis bodoh!” keluh Clarissa sembari melempar Akira dengan bantal. “Kenapa kamu harus menjauh dari orang yang menyukaimu? Baru kali ini aku menyaksikan ada orang yang berusaha menghindar dari kebahagiaan,” imbuh Clarissa tak habis pikir. “Tapi keadaanku saat ini sudah berbeda, Cla. Seandainya aku masih Akira yang dulu, mungkin aku akan merasa lebih bebas memilih seseorang untuk mencintai dan dicintai. Tapi sekarang aku hanyalah seorang perempuan korban p*********n yang sedang hamil muda tanpa tahu siapa ayah dari bayiku. Lihatlah dari sisi Pak Albert. Dia bukan orang sembarangan. Dia seorang CEO perusahaan besar. Apa yang akan dikatakan orang nantinya jika tahu dia menyukai gadis rendahan seperti aku. Kenyataannya aku dan dia tidak pantas untuk bersanding, Clarissa” jelas Akira panjang lebar. “Masa bodoh dengan anggapan orang lain, Akira. Hal yang terpenting adalah kebahagiaan kalian sendiri. Satu hal lagi, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri dan menganggap dirimu rendah karena insiden itu. Kita sama-sama tahu kamu hanya korban. Kalau bisa meminta, kamu juga tidak ingin hal seperti itu terjadi bukan?” “Terima kasih karena kamu selalu memahami aku, Clarissa. Tapi orang lain belum tentu memiliki pandangan yang sama sepertimu,” jawab Akira. “Pokoknya aku tidak mau tahu. Jalani saja dulu dan ikuti alurnya. Jangan pernah melakukan tindakan bodoh dengan menjauh dari Albert,” kata Clarissa memberi peringatan. “Yah, dia membahas Pak Albert lagi. Aku heran seberapa mahal dia membayarmu agar menjadi pendukungnya,” gurau Akira. Dua sahabat itu pun tertawa bersama. Akira menjalani hari-harinya dengan tenang di rumah Clarissa. Akira juga rutin menghubungi Sofia melalui telepon dan memastikan kabar ibunya baik-baik saja. Perutnya belum tampak membesar tapi dia masih sering mengalami morning sickness. Akira juga mulai mengonsumsi s**u hamil yang pernah dibelikan Albert. Selain itu, Akira juga mulai mencari kesibukan dengan memulai bisnis online shop. Itu adalah pekerjaan yang sesuai karena dia tidak harus sering keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang. Bagaimana pun juga Akira tetap merasa dirinya harus terus berada dalam persembunyian. Pada suatu hari, Albert kembali datang menemui Akira. Kali ini Albert membuat alasan kedatangan yang cukup mencengangkan. Dia mengatakan akan mengantar Akira ke rumah sakit untuk jadwal periksa kandungan. Akira sempat tercekat karena dia sendiri tidak begitu memperhatikan masalah pemeriksaan. Albert terus memaksa hingga Akira tidak kuasa menolaknya. Albert terlalu hebat untuk membuat alasan yang tak bisa dibantah. Setelah berganti baju terlebih dahulu, Akira pun akhirnya ikut bersama laki-laki itu. Mereka kembali menemui Dokter Mega, dokter yang dulu sempat menangani Akira. Tidak sampai di situ, Albert bahkan ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dia begitu telaten membantu Akira untuk berbaring pada ranjang. Batin Akira sempat merasa tersentuh mendapat perlakuan seperti itu. Dokter Mega hanya tersenyum melihat sikap Albert yang begitu perhatian. Pikirannya tidak meragukan Albert sebagai sosok suami siaga. Dokter Mega pun menjalankan tugasnya. Setelah melewati serangkaian proses pemeriksaan, Albert dan Akira duduk berdampingan untuk mendengarkan penjelasan dari Dokter Mega. “Saya senang sekali melihat kalian berdua begitu kompak menghadapi proses kehamilan ini. Pak Albert juga tampaknya menjadi suami yang begitu siaga dan sangat perhatian pada Ibu Akira. Perhatian-perhatian kecil seperti itu sangat baik bagi psikologi ibu hamil,” papar Dokter Mega mengawali dengan pujian. “Bagaimana kondisi kandungan Akira, Dok?” tanya Albert mendahului. Akira melihat Albert tampak antusias. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Kondisi ibu dan janinnya sama-sama sehat.” “Tapi saya masih sering mengalami mual dan pusing terutama di pagi hari, Dok” timpal Akira. “Itu namanya gejala morning sickness. Biasa terjadi pada awal-awal kehamilan. Ibu Akira akan terus mengalaminya setidaknya selama trimester pertama,” jawab Dokter Mega. Wajah Akira tampak lesu mendengar penuturan itu. Sebenarnya dia begitu tersiksa setiap kali mengalami muntah-muntah di pagi hari hingga menguras banyak tenaga. Ekspresi wajah Akira langsung bisa dibaca dengan cepat oleh Dokter Mega. “Tidak apa-apa. Ini memang tidak mudah. Tapi setelah melihat sikap Pak Albert, saya yakin dia adalah suami yang bertanggung jawab dan akan selalu mendukungmu dalam menjalai setiap prosesnya sampai melahirkan nanti,” ujar Dokter Mega dengan ramah sembari tersenyum meyakinkan Akira. Sementara Akira hanya saling lempar pandang dengan Albert. Semakin jauh Dokter Mega semakin mengira mereka adalah pasangan suami istri. Akira sendiri tidak mengerti mengapa Albert hanya diam saja menanggapi kesalah pahaman itu. Setelah selesai dengan Dokter Mega, Akira sudah merasa tidak tahan untuk tidak menodong Albert dan meminta jawaban. Dia merasa semua yang terjadi antara mereka berdua belakangan ini tidak bisa lagi didiamkan. Akira terlalu takut jika perhatian-perhatian yang diberikan Albert justru akan membuatnya berharap lebih. Akira sadar memiliki harapan pada Albert hanya sebuah mimpi yang terlalu tinggi. Dia lebih memilih untuk tidak menaikinya sama sekali dari pada harus jatuh di kemudian hari. Hidupnya sekarang saja sudah cukup tak beraturan. “Saya rasa kita tidak bisa terus seperti ini, Pak Albert” kata Akira memulai pembicaraan setelah mereka berada di dalam mobil. “Apa maksudmu, Akira?” tanya Albert belum mengerti arah pembicaraan mereka. Laki-laki itu masih terus melajukan mobilnya. “Kenapa bapak hanya diam saja ketika Dokter Mega menyangka kita adalah suami istri?” tanya Akira. “Apa ada yang salah dengan itu?” ujar Albert dengan begitu santai seolah tidak ada apa-apa. “Tolong berhentilah pura-pura tidak mengerti apa pun. Apa yang sebenarnya bapak inginkan dengan melakukan semua ini pada saya? Bapak membantu saya dan memberikan banyak perhatian. Bapak selalu datang ke rumah Clarissa dengan berbagai alasan. Saya sudah lepas dari pekerjaan saya sebagai asisten bapak. Lebih dari itu kita juga tidak punya hubungan special apa pun. Jadi tolong jangan semakin memperkeruh keadaan dengan terus menunjukkan sikap seperti ini. Saya rasa apa yang bapak lakukan tidak bisa lagi dianggap sekedar kebaikan. Ini sudah berlebihan,” ujar Akira mengungkapkan apa yang dia rasakan. Mendengar hal itu, Albert pun memelankan laju kendaraannya dan berhenti di samping jalan. Membicarakan sesuatu yang serius sambil mengemudi bisa membahayakan. “Baiklah, Akira. Maukah kamu menikah denganku?” ujar Albert dengan nada santai seakan bukan membicarakan sesuatu yang penting. “Apa?” respon Akira terkejut. “Bapak sedang bercanda ya?” tanya Akira karena melihat ekspresi Albert yang begitu datar. “Aku serius, Akira. Aku ingin menikahimu jika kamu setuju,” tegas Albert sembari memandangi wajah Akira. Akira langsung terdiam dan menelan ludah kasar. Dia tidak tahu respon seperti apa yang harus dia berikan. Dia sendiri tidak menyangka hal seperti itu akan diutarakan oleh Albert. Itu pun dilakukan hanya di dalam mobil yang sedang terparkir di sisi jalan. Sama sekali tidak ada sisi romantis yang membuat terkesan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD