Stevia benar-benar melakukan aksinya. Diam-diam dia mulai sering memperhatikan Akira. Setelah artikel kehamilan, hal yang menguatkan dugaan Stevia adalah saat dia menyadari Akira selalu memakai flat shoes setiap kali masuk kerja. Padahal di awal-awal dulu, ia sempat melihat gadis itu memakai sepatu hak tinggi. Lagi pula Albert sendiri memang memberlakukan aturan bahwa setiap karyawan harus selalu menjaga penampilan.
Tidak hanya itu, Stevia beberapa kali juga mendapati Akira sedang mual-mual dan muntah di toilet. Stevia tidak bisa menahan diri lagi. Akhirnya pada suatu ketika dia menceritakan hal itu pada teman karyawannya yang bernama Kania.
“Kamu tahu Akira bukan?” ujar Stevia.
“Akira yang menjadi asisten Pak Albert itu?” tanya Kania memastikan. Saat itu mereka berdua sedang berjalan di lorong kantor.
“Iya. Akira yang itu.”
“Aku pernah melihatnya beberapa kali. Memangnya kenapa?”
“Sebenarnya aku mencurigai sesuatu tentang dia,” gumam Stevia.
“Curiga bagaimana?” tanya Kania mulai ikut penasaran. Stevia memang begitu lihai dalam menarik perhatian seseorang agar masuk dalam isu yang dia bawa.
“Aku curiga bahwa sebenarnya dia sedang hamil,” ucap Stevia sontak membuat Kania kaget dan ternganga.
“Jangan sembarangan bicara. Ini perkara sensitif,” nasihat Kania.
“Aku tidak akan berbicara seperti ini kalau dugaanku belum kuat, Nia. Aku beritahu padamu. Aku pernah mendapati Akira membaca artikel-artikel tentang kehamilan di layar komputernya. Dia juga sering memakai flat shoes belakangan ini. Selain itu dia juga sering terlihat mual-mual dan muntah.”
“Lalu apa hubungannya semua itu dengan kehamilan?”
“Aduh, Nia, kamu ini bagaimana sih? Ya jelas ada hubungannya. Pertama, untuk apa dia membaca artikel kehamilan kalau bukan karena dia sedang mengalami hal itu. Kedua, orang hamil biasanya memang dilarang menggunakan sepatu hak tinggi karena takut terjatuh dan membahayakan kehamilannya. Ketiga, mual-mual adalah gejala paling jelas yang bisa diamati dari seseorang yang tengah hamil muda. Aku sangat yakin bahwa Akira itu sedang menyembunyikan kehamilannya dari kita semua.”
“Tapi bagaimana dia bisa hamil? Bukankah dia belum menikah?” tanya Kania lagi-lagi membuat Stevia merutuki diri sendiri karena berbicara dengan temannya yang berotak udang.
“Jelas bisa, Kania Fahira. Hari gini sudah banyak perempuan yang tidak virgin padahal belum menikah. Entah itu karena melakukan perbuatan terlarang dengan seorang kekasih atau bekerja sampingan sebagai pemuas laki-laki. Tidak ada yang mustahil,” jelas Stevia panjang lebar. Kania hanya manggut-manggut memahami.
“Tapi jangan menyebarkan berita ini sebelum kamu punya buktinya dengan jelas. Sudah aku katakan ini perkara sensitif. Kalau dugaanmu yang salah, bisa-bisa martabatmu sendiri yang akan jatuh,” kata Kania memperingati.
Mereka asik berbicara tanpa menyadari bahwa Albert berjalan tak jauh di belakang mereka. Laki-laki itu dapat mendengar semua pembicaraan Stevia. Ia tidak meragukan keahlian karyawannya itu dalam bergosip.
Tapi bukannya melerai, Albert justru tersenyum licik. Dia memiliki sebuah ide cemerlang dan akan menggunakan Stevia sebagai umpan yang akan melancarkan usahanya. Stevia akan menjadi sumbu yang akan membuat Akira meledak. Sementara dirinya cukup menjadi pemantik yang bekerja dari kejauhan.
Albert kembali ke ruangannya dengan tersenyum senang. Dia akan memulai rencananya dengan memanfaatkan kesempatan yang ada melalui Stevia. Diam-diam Albert masih menyimpan surat keterangan dari dokter yang menyatakan bahwa Akira sedang hamil.
Albert melakukan aksi liciknya dengan rapi. Dia mengganti kartu ponselnya agar nomornya tidak dikenali. Dia kemudian memotret surat keterangan itu dan mengirimkannya pada nomor w******p milik Stevia.
“Aku punya bukti yang akan memperjelas dugaanmu tentang kehamilan Akira. Ini adalah surat keterangan dari dokter yang bisa kamu gunakan sebagai bukti. Bongkar kebohongan gadis itu dan buat dia malu di hadapan semua orang. Kamu tidak perlu tahu siapa aku yang jelas aku memihak padamu,” tulis Albert dan mengirimkannya pada Stevia beserta gambar surat itu. Setelahnya, Albert langsung melepaskan kartu itu kembali dan mematahkannya. Dia tersenyum senang sudah berhasil menyulut sumbu itu.
“Bersiaplah menunggu hari burukmu, Akira” gumamnya di dalam ruangan itu. Melihat Akira menderita cukup menghadirkan kesenangan tersendiri baginya.
Sementara itu si penerima pesan justru merasa terkejut namun sekaligus kegirangan. Jalannya semakin mulus dengan dukungan dari orang tak dikenal. Stevia tidak bisa menebak siapa pengirimnya. Tapi dapat disimpulkan bahwa orang itu cukup dekat dengan Akira sampai mengetahui rahasia besarnya.
Stevia tak melewatkan kesempatan itu untuk mempermalukan si asisten baru. Namun perempuan itu lebih suka bermain secara perlahan agar ledakan yang dibuatnya menjadi semakin keras. Stevia tidak langsung menyebarkan bukti yang ia miliki.
Dia berencana akan menghasud para karyawan terlebih dahulu sehingga memiliki kecurigaan yang sama dengan dirinya. Biarlah tatapan-tatapan curiga itu menusuk Akira satu persatu sebelum akhirnya gadis itu benar-benar ia jatuhkan di hadapan semua orang di kantor.
Bahkan sasaran utama yang Stevia harapkan adalah Albert. Dia berharap pimpinannya itu akan marah besar atau sekalian saja memecat Akira dari pekerjaan sebagai asistennya.
“Tapi bagaimana kalau ternyata yang menghamili Akira justru adalah Pak Albert? Apa kamu siap untuk membeberkan semua itu?” tanya Kania di lain waktu saat mereka membahas hal itu lagi.
“Apa yang kau bicarakan ini? Tidak mungkin Pak Albert menghamili Akira,” bantah Stevia dengan tegas.
“Ya siapa yang tahu. Persoalan seorang bos berhubungan dengan karyawannya sudah menjadi sesuatu yang tidak asing lagi. Seorang atasan bermain gila dengan sekretaris perempuannya sudah kerap kali terjadi. Akira adalah asisten Pak Albert yang selalu mendampingi dalam banyak hal. Siapa yang bisa menjamin bahwa mereka tidak akan khilaf di sela-sela bekerja bersama,” kata Kania menyampaikan argumennya.
“Kania, bodoh!” umpat Stevia. “Itu tidak mungkin. Seorang CEO seperti Pak Albert mana mau pada gadis seperti Akira yang menurutku tidak menarik. Dengan uang dan kekuasaannya, dia bisa membayar perempuan mana pun agar bertekuk lutut dan melayaninya dengan sepenuh hati,” imbuh Stevia.
“Aku kira kamu bahkan lebih parah dari itu,” ujar Kania.
“Maksudmu?”
“Ya. Aku tahu kamu sangat tergila-gila pada Pak Albert. Bahkan tanpa imbalan uang sekalipun, mungkin kamu akan rela menghabiskan satu malam dengannya,” seloroh Kania. Namun bukannya marah dan merasa tersinggung, Stevia justru membalasnya dengan canda.
“Jangankan satu malam, setiap malam pun aku rela menghabiskan waktu dengan Pak Albert. Bukankah aku juga yang akan beruntung jika bisa mengandung bayi CEO,” kata Stevia sembari tertawa lebar.
“Kamu benar-benar sudah gila, Stev” ucap Kania sembari geleng-geleng kepala.
Sebagai teman akrab, Kania sudah tidak heran dengan sikap Stevia yang seperti itu. Ia tahu betul bahwa tidak mudah bagi temannya untuk bisa menarik perhatian Albert. Tapi meski mereka begitu dekat, Stevia masih menyimpan bukti yang ia punya dengan rapat. Dia berpikir akan lebih seru jika Kania juga tahu di saat yang tepat.