Penyihir Desa
"Antarkan ini ke Nyonya Loine, Vinnick, Nomes, Hessie, dan nyonya Lecyl." Oceh nyonya Jevine cepat.
"Nyonya Loine, Vinnick, Le..Lecyl—Bisa ditulis saja? Kurasa Aku akan melupakan semuanya tiga detik lagi." Pintaku kemudian. Nyonya Jevine sedikit mengerutkan alisnya padaku, tapi untungnya setelah itu dia mulai mengambil kertas kecil dan menuliskannya di sana.
Karena suka wangi roti, sebenarnya Aku suka-suka saja membantu di toko. Tapi karena alasan sentimental, Aku tetap lebih suka saat dapat tugas untuk mengantar roti ke seluruh desa. Karena selain mengantar roti, Aku juga bisa sekalian menikmati lika-liku desa yang kecil ini.
Menonton anak-anak yang lari dengan riang sebenarnya sudah cukup menyenangkan. Tapi kalau boleh jujur, Aku masih lebih suka mendengarkan percakapan orang lain di sana-sini. Selain bisa tahu cerita yang seru, siapa yang tahu, kau juga bisa dapat banyak informasi tentang ini-itu.
Misalnya saja tadi Aku dengar tentang bandit gunung yang akhirnya berhasil ditangkap, atau tentang kenaikan pajak barang-barang yang akan dikirim ke ibukota, bahkan sampai kabar tentang gaya pakaian yang sekarang digemari para bangsawan.
Kurasa sudah hampir setahun Aku di sini? Dari semua desa yang pernah kutempati, kupikir ini salah satu desa yang paling damai. Jadi kalau bisa, Aku ingin tinggal di sini sampai beberapa puluh tahun ke depan. Tapi, yaa.. Itu bukan keputusan yang bisa Aku ambil sendiri.
Pada akhirnya Aku menghabiskan tiga jam untuk jalan-jalan. Nyonya Jevine, seperti biasa, memicingkan matanya padaku. Tapi tanpa menegurku apa-apa, dia hanya mengulurkan tangannya. "Mana uangnya?" Pintanya.
Nyonya Jevine adalah wanita yang sangat baik. Mungkin kecuali saat Aku mulai mengacau, atau siapapun, dia memang bisa menjadi sangat menyeramkan saat marah. Tapi justru karena itulah dia sangat cocok menjadi pemimpin di desa ini. Hanya dengan melotot, semua masalah di desa ini biasanya langsung selesai.
Aku dengar suaminya sudah meninggal sebelum Aku datang kesini. Dan setelah Aku menggosip dengan ibu-ibu penjual buah dan bunga, Aku mengetahui bahwa penyebab kematiannya adalah sakit keras. Sepertinya waktu itu di desa tidak ada tabib atau bahkan herbalis sekalipun. Walaupun sebenarnya, sekarang juga masih tidak ada.
Orang-orang desa hanya tahu bagaimana caranya menyeka darah dan menutup luka. Saat ada yang sakit, yang mereka tahu hanya istirahat dan sup hangat. Mereka bisa saja beruntung kalau ada tabib lewat dan melihat keadaan mereka. Sayangnya, hal itu memang sangat jarang.
Aku sempat berpikir mungkin Aku harus mengajarkan cara membuat obat pada orang-orang desa. Tapi kalau kulakukan, nanti pasti langsung kelihatan kalau Aku adalah seorang penyihir--yang sebenarnya bukan masalah besar. Hanya saja, yah, kapan-kapan kuceritakan.
Lagipula, desa ini sebenarnya dekat dengan ibukota. Tidak sampai sehari kalau mau ke sana. Jadi asalkan kami memasok semua barang dengan pintar, masalah kekurangan harusnya tidak akan terjadi. Desa ini lumayan makmur, kau tahu.
Tapi dipikir-pikir, meski di sini dekat dengan ibukota, Aku belum pernah benar-benar melihat orang-orang dari kerajaan. Walaupun sejujurnya itu bukan hal yang aneh kan…?
"Aria, ayo kita pulang sama-sama!" Suara yang sangat familiar memanggilku dari luar. Matahari sudah terbenam, jadi memang sudah waktunya tutup toko. Aku memandang nyonya Jevine sekilas dan dia mengangguk kecil padaku. Jadi Aku pun langsung mengambil tasku dan keluar dari toko.
"Terima kasih untuk hari ini." Kataku sambil sedikit membungkuk ke arah nyonya Jevine di dalam toko.
Aku tinggal di sebuah villa yang disewakan oleh nyonya Flinny. Di sana ada lima ruangan yang disewakan dan semuanya sudah terisi. Tiga perempuan dan dua laki-laki. Dan jelas, Aku paling akrab dengan Melisa dan Nina.
Sama dengan nyonya Jevine, nyonya Flinny juga sudah tidak mempunyai keluarga. Bahkan kudengar alasan dia menyewakan tempat ini adalah karena dia ingin meramaikan suasana hatinya. Apalagi yang menyewa di sini semuanya seumuran denganku—maksudku seumuran dengan wajahku.
Makan pagi dan makan malam selalu disediakan nyonya Flinny. Jadi kami semua selalu makan bersama di ruang makan yang cukup besar ini. Biasanya kami semua bergantian untuk membantu nyonya Flinny memasak makan malam di dapur. Dan malam ini adalah giliran Nina dan Ged.
GRAKK... GRAKK…
"Bunyi apa itu?" Dris menanyakannya lebih dulu. Suara itu mungkin berasal dari luar, karena tampaknya tidak ada yang terjadi di dapur. Semuanya diam dan menunggu apakah bunyi itu akan berlanjut. "Tidak ada—"
GRAKK! GRAKK! Itu bahkan lebih keras dari sebelumnya.
"Aku akan memeriksanya." Kataku menawarkan diri. Aku pergi dan membuka pintu, tapi tentu saja tidak ada siapa-siapa ataupun apa-apa di sana. Jadi Aku melangkah ke luar dan melihat lebih jauh, tapi tetap tidak ada apa-apa.
Aku sudah akan berpikir itu kucing, tapi kemudian Aku mulai melihat banyak prajurit bermunculan. Seketika, Aku langsung merasa tidak enak dan ingin masuk saja. Tapi kemudian Aku melihat Ali, temanku yang sebulan lalu baru diterima jadi prajurit kerajaan.
"Ali? Ali!" Aku berusaha memanggilnya dengan suara pelan. Tapi untungnya dia mendengar dan mendekat padaku. "Ada apa? Terjadi sesuatu?" Tanyaku.
Wajahnya terlihat tegang tapi kebingungan. "Oh, Aria, Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya ada penyusup..." Katanya masih kelihatan tidak yakin.
"Pokoknya bilang saja pada semua orang untuk tidak berkeliaran keluar. Lalu kalau ada orang mencurigakan, langsung saja panggil prajurit. Sudah, Aku pergi dulu ya." Dan setelah mengatakan itu, Ali langsung lari lagi mengikuti prajurit lain.
Selama sesaat Aku memperhatikannya berlari menjauh. Tiba-tiba merasa harusnya Aku mengomentari jenggot barunya tadi. Padahal bulan lalu dia masih seperti bocah--tunggu, Aku lupa umurnya berapa.
"Ada apa?" Tanya nyonya Flinny begitu Aku kembali. Jadi Aku pun menjelaskan yang terjadi dan menyampaikan pesan Ali supaya tidak ada yang boleh berkeliaran keluar. "Begitu ya. Kalau begitu kita cepat selesaikan makan malamnya supaya kalian bisa kembali ke kamar masing-masing." Katanya lagi.
"Pasti ada penjahat atau semacamnya ya." Kata Ged. Yah memang, sepertinya itu tidak salah lagi.
Memikirkan itu, Aku jadi merasa sedih. Bagaimanapun di desa ini seharusnya jarang ada kejahatan. "Semoga saja bukan masalah besar." Sahutku.
Tapi kemudian Aku teringat lagi sikap Ali yang agak aneh. Yang kelihatan seperti menutupi sesuatu. Daripada ragu, entah kenapa dia lebih terlihat seperti tidak boleh bicara banyak.
Pada akhirnya, makan malam selesai dengan cepat dan kami langsung bersih-bersih meja makan dan dapur. Kecuali Melisa--yang harus menemani Nina yang kelihatan agak ketakutan setelah mendengar masalah tadi, semuanya langsung kembali ke kamar masing-masing. Maklum, anak bawang kami memang butuh perhatian lebih.
Aku kembali ke kamarku sambil berpikir Aku mungkin ingin menyelinap keluar untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Orang yang mengganggu perdamaian desa ini, awas saja kalau tertangkap olehku--
DEG.
A-Ada orang lain! Aku langsung merasakannya saat melangkah masuk ke kamar.
Berusaha tidak panik, Aku menutup pintu pelan-pelan sambil merasakan auranya lagi. Di dalam lemari baju, laki-laki, dan napasnya berat.
Untuk beberapa saat, Aku hanya bisa diam dengan berbagai pikiran liar di kepalaku. Tapi kemudian Aku mulai melihat ada darah yang merembes keluar dari lemari.
Dan begitu saja, Aku langsung melepas semua kehati-hatianku dan berlari. "A-Anu, ada orang ya?" Panggilku langsung. "Itu, uh, kalau kau terluka, Aku bisa mengobati." Lanjutku sambil menunduk di depan lemari.
Baru setelah itu Aku panggil prajurit. Tambahku dalam hati.
Tapi setelah tidak ada jawaban, Aku pun memutuskan untuk membuka lemarinya pelan-pelan. Jantungku berdebar-debar, mungkin karena Aku khawatir dia akan langsung melempar pisau ke wajahku. Tapi Aku segera sadar, dia tidak akan bisa melakukannya.
Di lemariku, ada laki-laki yang sedang terpuruk dan kelihatan sudah tidak berdaya. Dia berusaha melotot tajam padaku, tapi kerutan wajahnya yang pucat dan kesakitan masih lebih mendominasi. Belum lagi darah yang ada di seluruh bajunya.
Dia sempat berjingit saat Aku berlutut di depannya, tapi bagaimanapun dia tidak bisa lari ke mana-mana. Tidak ada tenaga juga sepertinya. Jadi saat Aku mengulurkan tanganku untuk memeriksanya, akhirnya dia cuma bisa gemetar seperti bayi singa yang belum bisa berdiri.
Laki-laki itu terluka di sekujur tubuh, tapi luka di dadanya parah sekali karena hampir mengenai jantung. Dan lukanya… Apa dia ditusuk tombak atau semacamnya? Bentuknya berlubang menyeramkan. Selain itu, luka sayatan pedangnya juga banyak. Dia pasti habis melawan setidaknya sepuluh orang.
Untuk langkah pertama, Aku langsung menggunakan sihir untuk menghentikan pendarahannya dulu. Baru setelah itu Aku buru-buru mengambil obat-obatan yang kupunya. Sebagian untuk disiram ke luka dan sebagian untuk diminum.
Dia kembali memelototiku saat Aku menyodorkannya obat. Tapi karena tidak sabar, Aku langsung saja menjejalkan obat itu ke mulutnya. Baru setelah itu Aku sibuk lagi mengurus lukanya.
Aku mengabaikan luka lain dan langsung menyembuhkan dadanya lebih dulu. Tapi selagi Aku melakukannya, Aku mulai bisa mengira kalau sepertinya Aku akan perlu banyak sihir sampai luka ini bisa benar-benar tertutup. Jadi sambil terus menyembuhkannya, mataku mulai jelalatan memerhatikan luka lainnya untuk memeriksa apakah ada luka parah yang lain. Dan untuk melakukannya, akhirnya Aku harus merobek bajunya.
Dan dia pun kembali melotot padaku. Mungkin karena bajunya bagus? Soalnya pakaian yang dia pakai memang tipe pakaian mewah yang biasa hanya dipakai oleh bangsawan.
Sejujurnya Aku paling tidak suka ada bangsawan yang jadi penjahat--tapi lupakan itu dulu. Karena ternyata luka sayatan di perut kirinya lebih lebar dari yang kukira!
Dan setelah sekian lama yang melelahkan, akhirnya semua lukanya sudah tertutup. Fiuh! Tadinya Aku hanya berniat menutup dua luka yang paling parah dan hanya akan memakaikan perban pada luka yang lain, tapi…
Apa kau tahu yang itu, saat kau tiba-tiba merasa kesal karena hasil pekerjaanmu belum sempurna, dan akhirnya malah jadi begadang semalaman untuk menyempurnakannya? Iya, seperti itu.
Aku memang tidak tahan kalau lihat ada luka yang tersisa, bahkan meski itu hanya luka luar saja. Sehingga akhirnya Aku memaksakan diri untuk menyembuhkan beberapa tulang retak lainnya, sampai setengah, dan sisanya kuserahkan saja pada obat untuk menghemat tenaga.
Selain itu, dia sudah baik-baik saja. Hanya saja karena kehilangan banyak darah, dia masih dalam kondisi yang hampir pingsan. Malah, Aku sebenarnya heran kenapa dia belum pingsan. Mungkin dia sebenarnya orang yang kuat?
Oh, dan berat, karena Aku harus membopongnya sendirian ke kasurku. Baru setelah itu Aku mulai merapikan bajunya dan mengepel lantaiku yang berceceran darah dan--
"--asih." Aku mendengar suara.
"Eh, apa?" Tanyaku. Aku bahkan sedikit mendekatkan kepalaku ke dekatnya.
Barulah laki-laki itu menoleh, dan untuk pertama kalinya, dia menatapku dengan tatapan yang tidak melotot. "Terima...kasih." Dan akhirnya dia pun pingsan.
“...” Kurasa Aku terdiam cukup lama. Kenapa?? Maksudku, Aku sudah banyak bertemu dengan orang jahat, tapi Aku ingat jelas kalau kebanyakan dari mereka biasanya tidak pernah berterima kasih. Dia kelihatan, bagaimana kau menyebutnya, tidak terlalu jahat?
Dan sialnya, ucapan terima kasih yang sepele itu, berhasil membuatku dilema bukan main! Aku jadi galau apa Aku harus memanggil prajurit untuk menangkapnya atau tidak. Aku bahkan sempat berpikir mungkin dia hanya orang lewat dan bukan penjahat yang sedang jadi buronan prajurit istana--
Iya, gawat... Aku mulai tidak bisa berpikir objektif. Karena sudah jelas dia pasti buronannya!
Aku mengintip ke luar jendela dan melihat beberapa prajurit yang berkeliaran. Ali juga kelihatan. Yang perlu kulakukan hanya memanggil mereka dan buronan ini akan segera keluar dari kamarku.
...Tapi ujung-ujungnya Aku hanya bisa menggigit bibir.