"George namanya George.." ujar Risa lirih dengan suara yang tertahan. "Dia kekasihku dan kami sudah bertunangan, dia adalah seorang tentara sepertimu. Dia menghilang lima tahun lalu, teroris menyerang kami di bukit dekat sungai saat George melamarku. Dia berusaha melindungiku hingga akhirnya dia tertembak. Kami hanyut bersama namun hanya aku yang selamat George entah kemana," pilu Risa dengan tatapan kosong.
Ricardo terdiam, dia ikut sedih atas insiden itu. "Namaku Ricardo, aku tidak pernah kehilangan ingatan atau bertugas di Indonesia, tapi aku pernah koma karena serangan di suriah namun aku kembali bertugas seperti biasa."
Risa memejamkan matanya, "Aku yakin kini kamu pasti menganggapku wanita gila kan? tapi wajahmu, cara bicaramu bahkan tatapanmu semuanya persis seperti George. aku tidak tahu apakah kalian adalah anak kembar atau hanya kebetulan saja, mungkin aku terlalu merindukannya."
Ricardo menatap Risa dalam, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa sakit saat melihat air mata itu. jari telunjuk Ricardo mengelus pipi Risa dengan lembut matanya tampak sayu menatap Risa.
Risa menatap Ricardo, "Bolehkah aku memelukmu? aku ingin mendengar detak jantungmu, aku ingin meyakinkan diriku jika Georgeku masih ada di dunia ini," lirihnya dengan nada putus asa.
Ricardo mengangguk pelan tanda setuju, Risa lantas memeluk tubuh kekar itu dengan linangan air mata. "George, aku merindukanmu hiks....... hikss pulanglah George..... " isaknya dengan suara parau.
Tanpa bisa di cegah tangan Ricardo mengelus kepala Risa, bahkan mendekap Risa membiarkan wanita itu menumpahkan isi hatinya. hal itu membuat Risa dejavu akan kenangannya dengan George, dulu George akan memeluknya mengelus kepalanya agar Risa tenang di pelukannya.
Tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan adegan dramatis di antara mereka.
Seorang polisi masuk dengan tampang serius ingin menemui Ricardo.
"Tuan Ricardo, saya mendapatkan kabar anda sudah siuman, kami sudah mendapat perkembangan dan kami sudah mengantongi satu nama yang kemungkinan terlibat dalam insiden ini."
"Apa dia Siska?" tanya Ricardo dengan wajah serius membuat sang polisi terkejut.
"Anda tahu?" ujarnya tak percaya.
"Saya akan menemuinya sendiri."
Polisi mengangguk, "Baik tapi kami akan tetap mengawal anda dari jauh," ujarnya karena bagaimanapun ini adalah tugas mereka dan berada di wilayah mereka.
Setelah polisi pergi, Ricardo menatap Risa dan tatapan itu tampak dalam.
"Kamu wanita yang kuat, aku yakin George sangat berarti bagimu meskipun aku tidak yakin jika aku memiliki hubungan dengan masa lalumu. Tapi untuk saat ini, aku akan membereskan masalahku dengan Siska, karena jika benar dia ingin membunuhku aku harus tahu apa motivasinya melakukan itu."
Risa mengangguk pelan meski berat dia harus mengikuti kemauan Ricardo, "Aku akan tetap disini menunggumu kembali, sebagai pasienku atau lebih dari sekedar itu."
Ricardo tak menjawab, dia hanya menatap mata Risa sejenak sebelum akhirnya mengenakan jaketnya dan pergi untuk mencari tahu segalanya.
Dan kini di luar sana Siska sedang menunggu kehadirannya dengan semua jawaban atas pertanyaan yang ada, siap mengubah jalan hidup mereka semua.
****
Langkah Ricardo tampak tenang, wajahnya datar bahkan tidak ada tanda-tanda dia baru saja lolos dari maut yang mengintainya.
Kondisi apartemen tampak sunyi, Ricardo mencoba mengetuk pintu untuk memberitahu kedatangannya pada si penghuni. Sesaat pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang tampak kacau.
Tanpa mengatakan apapun Ricardo masuk begitu saja, pintu kembali tertutup membuat petugas kepolisian bersiaga disana.
"Ricardo," panggil Siska lirih seakan sedang bersedih atas sesuatu.
"Ada yang ingin kau katakan?" tegas Ricardo memberi ultimatum.
"Maafkan aku, aku dengar kamu mengalami keracunan hebat yang hampir merenggut nyawamu, apakah ada yang sedang mengincarmu?"
Ricardo memberikan senyuman sinisnya, "Mungkin, dan aku ingin kejujuran darimu."
Siska terdiam ekspresinya cukup tenang, dia berjalan ke arah meja meraih gelas dan menenggak air di dalamnya.
"Kejujuran apa?" tanyanya dengan polosnya.
Brak! Ricardo tak tahan lagi dia memukul benda di depannya.
"jangan berpura-pura, kau sengaja memesan makanan itu sebelum berangkat apa yang kau rencanakan!"
Plak, Siska meletakkan gelas itu dengan kasar membuat dentingan keras.
"Kau menuduhku?" ujarnya tak terima.
"Lantas, jika bukan kau siapa yang punya akses ke makananku? kau tau orang-orang yang menyiapkan makananku adalah orang terpercaya termasuk dirimu!" tegasnya.
Siska terpojok, ia menunduk "Mungkin saja itu ulah dari karyawan restoran," kilahnya.
"Oh ya?" balas Ricardo dengan nada tak percaya.
"Ternyata karyawan restoran bisa memasukkan pil sekecil itu di dalam sebuah daging tanpa merusak strukturnya? hebat sekali mereka."
“Aku tidak berniat membunuhmu,” lirihnya dengan suara pelan mengakui perbuatannya.
"Kau sudah merencanakan semua ini?"
Siska menggeleng, memberanikan diri untuk menatap wajah marah Ricardo.
"Aku hanya ingin kau sakit, dengan begitu kau akan disini bersamaku..."
"Hahahhaa, tapi kau hampir membunuhku Siska!" teriak Ricardo.
"Aku hanya ingin kau bersamaku Ricardo, aku tidak ingin kau kembali ke irak sudah cukup penantian panjang ini." Siska berjalan mendekat ke arah Ricardo dan menatap mata tajam itu, "Selama kau di Timur Tengah, kau berubah!"
Nafas Ricardo memburu, "Ini bukan kau, aku tak percaya alasan sepele seperti itu membuatmu nekat melakukan ini.... akui apa motifmu sebenarnya karena aku tidak akan bertanya untuk ke sekian kalinya!"
Siska tersenyum sinis, tampak wajah yang tadinya tenang dan sedih kini berubah menjadi wajah bengis. Namun sebelum dia mengatakan alasan sebenarnya ketukan keras dan pintu terbuka paksa menghentikan pertengkaran mereka.
Polisi segera memborgol tangan Siska, polisi mulai menyeretnya untuk ikut ke kantor polisi namun sebelum benar-benar pergi Siska sempat berujar.
"Apakah kamu akan memilihku, di antara perang atau misi apapun?"
***
Setelah penangkapan Siska kemarin, pagi ini Ricardo mendatangi ruang interogasi kepolisian. Bagaimanapun dia belum mendapatkan jawaban ats pertanyaan kemarin tentang motif Siska melakukan itu, sangat tidak masuk akal jika semua itu hanya karena Siska rindu.
Pintu terbuka, dua petugas tampak mendampingi Siska.
"Siska," panggil Ricardo pelan dia ingin berbicara dengan kondisi tenang pada Siska.
"Aku tahu, kau ingin jawaban kan? baiklah aku akan mengatakannya," ujar Siska dengan wajah serius.
"Jadi semua ini benar, hanya karena sebuah perasaan rindu?" tanya Ricardo dengan wajah datar.
Siska tertawa pelan, tapi matanya menyiratkan cinta yang begitu dalam, "Apa kau menduga ini hanya karena cinta? Ricardo, aku adalah musuhmu orang yang ditugaskan sejak awal untuk mendekatimu."
Tatapannya tampal serius, "Aku seorang agen dari unit operasi dalam, aku ditugaskan untuk mengawasi pergerakanmu. Begitu banyak pihak yang ingin menjatuhkanmu hanya karena kau terlalu banyak tahu."
"Jadi hubungan selama ini adalah kebohongan?"
"Benar namun itu hanya awal, setelah bertahun-tahun bersamamu semuanya mendadak kabur," suara Siska melemah. "Aku mencoba tetap profesional, namun nyatanya aku tak mampu hingga saat aku tahu kau datang kemari dan akan kembali ke irak untuk operasi itu, aku sadar cara terakhir untuk menghentikan semua itu adalah dengan menjatuhkanmu."
Ricardo tak percaya dengan hal itu, dia mengepalkan tangannya, "Kau kejam, aku tidak menyangka kau memiliki sisi pembunuh yang kejam!"
Siska menatap mata Ricardo, "Racun itu tidak akan membunuhmu, hanya cacat. aku ingin kau berhenti Ricardo!"
"Berhenti untuk apa?"
"Berhenti memperjuangkan kebenaran yang bisa membunuh banyak orang," lirihnya dengan tatapan kosong, "Kau tidak tahu berapa banyak dan siapa yang kau hadapi.... ketahuilah mereka lebih kuat dari negara manapun."
Ricardo menghela nafas panjang.
"Jelaskan padaku siapa mereka," desaknya.
Siska tersenyum sinis, "Kau ingin menantangnya? hentikan semua ini atau kau akan kehilangan segalanya."
"Kau takut aku menghancurkan mereka?"
"Hahaha kau serius mengatakan itu? kau hanya butiran kecil Ricardo! setelah ini semuanya akan berakhir dan hidupku akan selesai. Mereka akan membungkamku, tapi kau harus tahu aku mencintaimu meski dengan cara yang salah sekalipun. Jika kau ingin melanjutkan semua ini, maka kau harus siap dengan segala kehilangan, termasuk hilangnya orang yang kau sayangi."
"Kau keterlaluan Siska!"
"Bawa saya masuk pak, sudah cukup perbincangan kita hari ini semoga setelah ini hidupmu baik-baik saja Ricardo. Jaga dirimu."
Siska meninggalkan Ricardo di ruangan introgasi itu, hal itu membuat Ricardo benar-benar marah dia bersumpah akan membalas semua ini.