Ricardo mulai melangkah cepat mengendap tanpa suara menuju sebuah tempat rahasia yang di jaga ketat oleh para pasukan khusus.
Ricardo telah merencanakan ini semalam, dia harus menyusup untuk mencari informasi yang dia butuhkan.
Ricardo melumpuhkan seorang penjaga, untuk mengambil kartu akses masuk ke ruang khusus itu.
Ting!
Pintu besi yang kokoh itu terbuka, membuat abu mulai beterbangan mengisyaratkan jika tempat itu sudah lama tidak dimasuki seseorang.
Dengan gerakan cepat tanpa suaranya, Ricardo menyelinap masuk dia sudah menghapal tata letak tempat itu dan kini dia sudah berada tepat di depan benda yang dia cari.
Ricardo membuka laci dan mengambil berkas itu dari dalamnya dan dia menemukan sesuatu yang membuatnya kaget.
"Misi Agen Siska"
"Subjek G"
Merasa ada yang janggal Ricardo memotret semua isi dokumen itu jam tangannya, dia yakin apa yang di katakan Siska padanya pasti lebih dari itu.
"Penyusup, ada penyusup!" teriak seseorang yang kemungkinan adalah penjaga yang menyadari jika pintu ruang rahasia itu terbuka.
Tanpa kepanikan sedikitpun Ricardo meletakkan dokumen itu dengan pelan kemudian bersembunyi di balik lemari yang gelap.
Terdengar suara langkah kaki orang-orang yang menerobos masuk untuk mencari penyusup itu.
"Aku harus segera pergi dari sini," gumamnya sambil melihat ke arah ventilasi udara di langit-langit ruangan.
Dengan gerakan cepat dan tanpa suara Ricardo memanjat ke arah ventilasi tersebut, dia masuk dan hilang begitu saja di dalam kegelapan malam.
**
Ricardo duduk di dalam kamar hotelnya dengan tenang seolah tidak terjadi apapun sejak tadi, dia sengaja mengubah jadwal kepulangannya menjadi lebih lama untuk menyelidiki sesuatu. Dia sengaja melakukan semua itu tanpa diketahui oleh orang lain.
Satu persatu foto yang dia ambil masuk ke dalam laptopnya, menampilkan gambar yang cukup besar untuk di lihat.
"Aku tidak menyangka Siska melakukan semua ini dengan begitu rapi, dia sangat licik!"
Ricardo terus membaca isi dari dokumen itu hingga matanya terpaku pada satu kalimat yang membuatnya terdiam.
"Pengawasan Subjek G..."
Cukup lama Ricardo menatap kalimat itu, bukankah Siska diperintahkan untuk mengawasi dirinya? lantas siapa subjek G itu apakah ada orang lain selain dirinya yang menjadi target Siska?
Ricardo menggeser gambar setelahnya yang ternyata adalah sebuah lampiran tunggal dengan kop resmi dari Departemen Pertahanan.
Nama : George Emmanuel Hartono
Kode : 233 Shadow Wolf
Status : MIA (Resmi dinyatakan hilang)
Lokasi terakhir : Sungai Larantuka dalam penyerangan teroris
Bukti : Kemungkinan dibawa untuk menjadi aset pengalih
Penyelidikan : Di duga di rekrut dan di cuci otak dengan identitas baru.
Status saat ini : Di duga hidup.
Ricardo terdiam, ini gila bagaimana mungkin seorang manusia di cuci otaknya dengan identitas barunya. Siapa yang sudah berbuat seperti itu? apakah Siska tahu tentang semua ini?
Lantas Risa? apakah pria ini yang Risa katakan, jika iya artinya Risa dalam bahaya dia mungkin sekarang tengah di awasi oleh bahaya yang sangat besar karena Risa adalah saksi hidup dari peristiwa itu.
Ricardo menutup laptopnya, tatapannya kosong dia tidak mungkin mengatakan semua itu pada Risa itu akan berbahaya bagi dirinya.
"Aku harus menjaganya," gumam Ricardo.
"Sampai aku mengetahui dimana George sekarang, dan apa yang mereka lakukan padanya," gumam Ricardo bertekad.
Ricardo menyalin selua daga dalam drive khusus kemudian memasukkannya ke dalam sepatu bot militernya. Dia akan mencari seseorang yang terdapat dalam lampiran dokumen itu, yang mungkin tahu dimana George berada saat ini.
Letnan Kolonel W.S.
**
Langit mendung menghiasi langkah Ricardo hari ini, Ricardo melangkah masuk ke dalam markas militer yang mungkin sudah lama tidak ia kunjungi. Di tangannya sudah ada salinan arsip yang sempat dia curi yang isinya tentang Siska dan George.
Namun Ricardo tidak meminta jawaban dari Siska melainkan pada orang yang seharusnya tahu soal hal itu yaitu Letnan Kolonel W.S.
Ricardo mengetuk pintu
”Masuk!" sahut seseorang dari dalam sana.
Saat pintu terbuka, Ricardo melangkah masuk, terlihat sang Letnan kini sedang sibuk duduk di belakang meja kokoh dengan setumpuk kertas dan secangkir kopi yang sudah tidak mengeluarkan hawa panas.
"Kapten Ricardo gabriel," sambutnya hangat, "Bagaimana kabarmu, aku dengar kau sudah kembali dari lubang kematian."
Ricardo langsung duduk tanpa dipersilahkan, "Saya tidak ingin bergurau, berikan saya jawaban pak!" tegasnya dengan nada dingin.
Letnan tampak bingung, "Jawaban atas apa?"
Ricardo meletakkan salinan itu di atas meja dan menunjuk satu nama, "George"
"Nama ini muncul dalam arsip pengawasan oleh Siska, saya sudah tahu semuanya Letnan namun siapa pria ini dan dimana dia saat ini?"
"Kau mencuri arsip ini?" berang Letnan.
Ricardo memberikan senyum sinisnya, "kau sudah tahu jawabannya, kau mengenal pria ini bukan? katakan padaku apa yang terjadi padanya!"
Letnan menarik nafasnya, dan menatap Ricardo kemudian menggeleng.
"Aku tidak bisa memberikan jawaban pasti padamu," jawabnya tampak ragu, "Kami kehilangan kontak, bukit itu berubah manjadi maut, tak ada yang tahu pasti keadaannya karena jasadnya tidak ditemukan dan dia juga tidak kembali."
"Kau serius? namanya tercatat dalam dokumen resmi dan kau tidak tahu? seseorang bisa saja sedang menyembunyikannya!" tegas Ricardo dengan wajah tak percaya karena bingung dengan tanggapan w.s yang terkesan tak perduli.
W.S bangkit berjalan pelan menuju jendela membelakangi Ricardo.
"Kau tahu? terlalu banyak hal di dunia ini yang di manipulasi, tidak tercatat atau hanya tercatat untuk sebuah dokumen usang. banyak kenyataan bahwa ada misi yang bahkan aku tidak dapat mengaksesnya."
Ricardo mengepalkan tangannya, emosinya memuncak, "Kau pasti tahu sesuatu letkol jujurlah padaku! jangan bermain teka-teki seperti ini!"
Letkol w.s menatap Ricardo dengan tajam, "Dengarkan aku kapten, ada hal di dunia ini yang memilih terkubur untuk muncul dengan sendirinya di kemudian hari, kau tak perlu menggali!" tegasnya.
Ricardo berdiri," Apa maksudmu?" ujarnya dengan nada keras.
Letkol tampak tersenyum tipis, "Jika takdir itu milikmu dia akan membawamu kesana, kau akan bertemu dengan George. Tapi pastikan dirimu siap, karena kenyataan itu mungkin tak kau inginkan."
Ricardo terdiam, dia menatap nama George nafasnya terasa memburu.
W.S kembali berkata, "Semua kini terasa buram, kau tak tahu siapa teman atau musuhmu namun nanti akan jelas kau akan tahu semuanya kapten."
Ricardo berjalan cepat ke arah letkol, "Jawab pertanyaanku letkol, ada seseorang di luar sana dalam keadaan bahaya dan dia memiliki hubungan dengan George!"
Letkol menyipitkan matanya, "Apakah dia dokter Risa?" ujarnya membuat Ricardo terkejut.
"Kau mengenalnya?"
Letkol W.S tampak tak perduli dengan hal itu, "Kau sedang jatuh cinta?"
"Ckk, jangan mengalihkan pembicaraan letkol kau mengenal dokter Risa artinya kau tahu bagaimana nasibnya sekarang, apa rencanami sebenarnya!" tekan Ricardo.
Letkol w.s tampak tenang, "Biarkan waktu yang memberikan jawaban atas semua pertanyaanmu kapten Ricardo." ujarnya sambil tersenyum.