Melihat Clara jatuh atas ulahnya sendiri. Wildan masih linglung dan menatap nanar. Tapi setelah mendengar jeritan Bi Kesi, Wildan menjadi sadar. “Tuan Wildan, apa yang anda lakukan!” serunya sambil menuruni anak-anak tangga. Suara tangisan Diva dan histerisnya Bi Kesi menggema di seluruh ruangan. Telinga Wildan berdenging dan kemudian bergegas menuruni anak-anak tangga. “Clara, Clara! Maafkan aku!” teriaknya sembari mengusap kepala Clara yang perlahan merembes darah dari kepalanya. Bi Kesi menelepon ambulans segera. Tidak lama, ambulans datang dengan sirine kencang yang sudah terdengar walau mobil ambulans itu masih ada di ujung jalan. Namun suara sirinenya sangat nyaring terdengar. “Clara, bertahanlah!” seru Wildan sambil menggenggam tangan Clara. Emosi Wildan memang tidak stabi

