Jawaban

739 Words
Nayang duduk di kursi teras sambil menggumankan lagu pengantar tidur, membiarkan Kai yang sudah mengantuk mempermainkan jemarinya ,” Thanks.” Disambutnya uluran botol s**u dan memberikannya pada Kai. Dimas tak menyahut, duduk di lengan kursi tersenyum mengamati mata Kai yang sudah separoh terpejam sementara mulutnya menyesap s**u dengan penuh semangat. Sedikit bergeser ketika Nayang memindahkan posisi Kai setelah menghabiskan s**u, mendekapnya didada sambil mengusap usap punggung sampai pangeran kecil itu bersendawa ,” Kodoknya keluar.” Nayang tertawa pelan, mengangkat wajahnya menatap Dimas dan segera memalingkan wajah ketika mendengar suara kamera ,” Arga ....” Arga berlagak tidak mendengar ,” Lumayan nih buat iklan keluarga muda.” Disodorkannya kamera pada Rei dan istrinya. “ Apaan sih ?” Nayang menghampiri, menyerahkan Kai pada ibunya. “ Sini.” Rei menepuk sofa disampingnya, menyerahkan kamera ,” Sini Dim, kalau mau lihat. Aku menidurkan Kai sebentar.” Dimas Duduk disamping Nayang, terdiam melihat foto mereka bertiga ... ini yang kuimpikan .. “ Ga ... yang beredar di media itu bukan dari kamu khan ?“ Nayang mendekap kamera, mendekap mimpi yang tak berani digapainya. “ Ini maksudmu ?” Arganta mendorong laptopnya, membuka akun yang berisi foto foto Nayang dan Dimas ,” Setahun, dan postingannya sudah ribuan. Tapi gak ada satupun yang dari aku lho ....” Nayang terdiam, menatap lelaki yang duduk tenang disampingnya sambil membuka satu persatu foto mereka. Dimulai dari acara launching drama mereka setahun yang lalu dengan video pendek saat Dimas mengambil mikrofon dari tangan Nayang, foto saat Dimas menarik rambutnya dan mendekat sambil berbisik. Lalu ada beberapa foto saat mereka promo offair dan onair, Ada pula saat mereka bersama pada acara lamaran Arganta dan yang terbaru acara di Thailand dan Filiphine beberapa minggu lalu. “ Sudah setahun. Nay ...” guman Dimas bersandar ,” Masih belum siap juga memberikan jawaban ? Waktu setahun itu cukup panjang untuk mempertimbangkannya kan ?” “ Aku .... gak tahu.” “ Kamu tahu Nay ....” sergah Arganta jengkel. Menarik laptopnya setelah menatap Rei, dilihatnya lelaki itu mengangguk ,” Perasaan kalian terlihat jelas jauh sebelum launching ....” membuka sebuah folder dan mendorongnya kembali pada Nayang dan Dimas. Nayang dan Dimas berpandangan melihat puluhan bahkan mungkin ratusan foto yang mengekspresikan peraasaan mereka dengan begitu jelas. “ Nay ... sejak ayah dan ibu meninggal, kamu selalu menatap mentari pagi sendirian. Kamu bilang dulu sering melakukannya bersama ayah ibu, menatap matahari terbit bersama artinya berbagi mimpi, rencana dan semangat. Itu yang kamu yakini selama bertahun tahun.” Rei memeluk Nayang dari belakang, mencium ujung kepala yang tertunduk itu ,” Lihatlah ... di hari kamu memutuskan berakting, kamu melakukannya bersama Dimas.” Rei menggerakkan tangannya membuka foto yang dimaksud. “ Dan ini dikirimkan Paman padaku, diambil dari ponselnya.” Arganta membuka foto yang lain. Foto yang terlihat buram dan tidak fokus karena jarak itu memperlihatkan mereka berdua bergandengan tangan di malam menjelang episode terakhir ..., saat ia bersandar dipelukan Dimas, saat keduanya menatap matahari pagi dan bergandengan menyusuri pantai setelahnya. “ Kamu tidak semudah itu menumpahkan tangis dan bersandar, kamu tidak membiarkan siapapun mengganggu rutinitasmu melihat matahari terbit. Kamu nyaman bersamanya dari awal, Nay ....” Rei mempererat pelukannya menyadari tubuh adiknya bergetar ,” Jangan takut sayang ... akan selalu ada kami. Dan yang pasti sudah kamu sadari, ada Dimas yang akan selalu melindungimu dari ketidaknyamanan atas publik.” Diciumnya ujung kepala Nayang, beranjak meraih gelas diatas meja dan meneguk isinya sampai tandas. Nayang menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dimas meraih tangan Nayang, menggenggamnya lembut ,” Hidupmu adalah pilihanmu, Nay. Kamu hanya perlu jujur pada hatimu sendiri. Kedepannya, mau didepan atau di belakang layar atau bahkan tidak melakukan keduanya pun, tidak jadi masalah ... selama kamu ijinkan aku disampingmu.” Nayang menatapnya ... lelaki ini mengucapkan hal yang sama setahun yang lalu, dan tetap menunggunya kendati berulangkali pertanyaan yang sama tidak mendapat jawaban ... mereka semua benar, aku hanya perlu jujur. Aku nyaman bersamanya, bagiku bersamanya adalah pulang ... ke tempat seharusnya aku berada. Tidak selalu mudah, tapi akan selalu ada dia ... Aku harus mengalahkan ketakutan terbesarku ... tapi itu sangat layak untuk mendapatkan mimpi terbesarku .... Dipejamkannya mata sejenak, mencoba menghadirkan mimpinya. Saat membuka mata, dibiarkannya Dimas melihat keyakinan disana ... Dan Dimas melihatnya ..... tersenyum, lelaki itu menarik kepalanya lembut mengecup keningnya sekilas sebelum memeluknya erat ,” Terima kasih.” Ditatapnya Arganta dan Rei yang mengangguk pelan, memberikan restunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD