#Flashback
“ Pada saat orang tua kami meninggal, mereka baru saja menjengukku di lokasi syuting. Nayang ada bersama mereka ... melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ayah dan ibu terseret arus , tergulung ombak dan tidak dapat ditemukan, sementara Nayang berhasil diselamatkan tim SAR.” Beberapa hari lalu Rei berdiri disini bersamanya menatap langit yang gelap ,” Pada saat itu, karirku sedang dipuncak, dan orang hanya terkonsentrasi padaku untuk dikasihani dan diberi simpati. Mereka semua melewatkan Nayang yang saat itu trauma berat. Tapi syukurlah ... situasi itu malah membantu Nayang lebih cepat pulih.” Ditariknya nafas panjang,” Depresi yang kualami jauh lebih lama karena publik terus menerus mengingat dan mengkaitkan kecelakaan itu denganku.”
Dimas menyodorkan sebotol air mineral. Ia sempat mengikuti berita tersebut, karena Rei merupakan salah satu idolanya. Setelah beberapa tahun, ia menyadari setiap kali peristiwa ini diungkit nama Rei selalu disebut, dan ia tahu itu tidak mudah bagi lelaki jangkung dengan senyum khas nya itu.
“ Kemudian Nayang, yang masih sangat muda saat itu, bekerja keras membangkitkanku dari tekanan. Belum selesai merawatku, Ibu Sammy meninggal ...Paman Dan dan Sammy mengalami hal yang sama denganku ... dan lagi lagi Nayang terselamatkan karena publik tidak mengenalnya. Jadi dia kembali bisa membantu paman Dan serta Sammy untuk bangkit. Itu sebabnya dia berkeras untuk berada di balik layar, mengubur semua minat dan bakatnya yang luar biasa. Hanya menulis cerita dan naskah yang bisa dia lakukan. Kesenangannya akan akting disalurkan untuk menjadi partner berlatih dalam hampir sebagian besar film Dan beberapa tahun terakhir, sampai saat terjadi hal buruk yang menimpa Sammy.”
#Flashback off
Nayang menggerakkan kepalanya, matanya terbuka perlahan menatap laut yang mulai sedikit terang.
“ Pagi.”
Nayang menarik diri cepat ,” Pagi ...” sahutnya kikuk, menyadari ia dalam pelukan Dimas sepanjang malam. Wajahnya memerah dengan cepat.
Dimas meregangkan tubuhnya dan bangkit ,” Ayo .... matahari sebentar lagi terbit.” Diulurkannya tangan membantu gadis yang menyambutnya sambil menunduk. Perlahan keduanya mendekati bibir pantai dan berdiri diam disana menatap matahari yang mulai muncul.
Selamat pagi .... matahari kembali bersinar. Malam yang gelap dan sulit sudah aku lalui. Ayah ... Ibu .... Aku berharap semua akan lebih mudah kujalani setelah hari ini. Aku ingin kembali punya mimpi untuk diriku sendiri ... Aku ingin menikmati apa yang ada dihari-hariku selanjutnya.
Nayang menatap Dimas, dan lelaki itu kembali dalam posisi seperti waktu itu, mengangkat wajahnya ke arah matahari dengan mata terpejam dan tangan tenggelam dalam saku ,” Terima kasih.” Bisiknya lirih
Dimas tersenyum, kembali meraih tangan Nayang mengajaknya berjalan sepanjang pantai ,” Apa yang akan kamu lakukan setelah ini ?”
Nayang mengangkat bahunya tipis ,” Entahlah, menjalani rentetan acara pasca produksi masih menjadi bebanku. Aku mau fokus kesitu dulu.”
“ Menjadi beban yang lebih berat dari proses produksi ?”
Nayang tersenyum getir, lelaki ini memahaminya.
“ Itu lebih menakutkan buatmu, berhadapan dengan khalayak umum ?”
“ Aku tidak terbiasa.”
“ Semua pasti dimulai dari tidak biasa.”
“ Dan tidak ingin terbiasa.” sahutnya lirih, tapi Dimas mendengarnya.
“ Kamu dilahirkan ditengah dunia ini. Lihatlah siapa orang orang terdekatmu.”
“ Aku tahu .... Aku sudah memutuskan untuk tidak terlihat, tapi setelah proyek ini ....” Nayang mendesah putus asa ,” Tidak lagi bisa bersembunyi seperti dulu.”
“ Jadi ?”
Nayang tersenyum kecut.