"Dulu opa saya jualan bakso, kedainya sempat terkenal di masanya. Dari kecil saya udah nggak asing sama olahan itu." Pembahasan tentang kenapa Rion memilih bakso sebagai usaha yang akan digelutinya masih berlanjut. Kini mereka dalam perjalanan mengunjungi kedai bakso unik berikutnya. "Oh, jadi memang udah basic-nya bakso, ya. Jadi Mas Rion dapat ilmu dari opanya itu?" Rion mengangguk, senyum terus terpatri di bibir laki-laki itu. Kini Kiana paham, Rion ini termasuk laki-laki yang tidak mudah tersenyum pada orang asing. Dia hanya akan membuka diri pada orang-orang yang dikenalnya. Pantas saja Adi berkata jika laki-laki ini ramah, itu terkhususkan hanya untuk orang-orang yang dikenalnya saja. "Opa punya catatan rahasia bakso buatannya, masih saya simpan. Juga, saya mau oma mengingat ke

