02 Memulai Dari Awal

1757 Words
Gara-gara ilustrasi bikinan Zhao Wei, Fandy berpikir keras. Perpaduan antara kreativitas dan atmosfer yang diciptakan gadis itu menyentuh hatinya. Ini artinya bahwa Zhao Wei merupakan kandidat yang tepat untuk menjadi bagian FL Media Inc. Jarang-jarang ada seorang ilustrator dengan kemampuan seperti ini. Fandy tidak berlama-lama memberitahu agar sekretarisnya memberi kabar pada Zhao Wei tentang penerimaannya hari itu juga. Ia bahkan memberi mandat agar gadis itu mulai bekerja keesokan harinya. Meskipun mengakibatkan gelengan kepala tak berkesudahan, Cecilia menjalankannya dengan segera. Itulah yang membuat Zhao Wei riang sekali. Memang dirinya terkejut karena sempat berpikir bahwa si CEO dingin dan arogan itu akan menolaknya. Tetapi karena kesempatan emas ini bisa didapatkannya, ia tidak mau menyia-nyiakannya. Zhao Wei datang setengah jam sebelum jam kerja dimulai. Para pegawai yang lain sudah mulai menampakkan batang hidung mereka juga. Ini adalah salah satu kode etik utama bekerja di bawah Fandy Lim. Begitulah setidaknya yang ia lihat di dinding tempatnya duduk menunggu. Tidak lama pula sosok kharismatik Fandy muncul dari arah pintu masuk. Ia berjalan melewati Zhao Wei tapi bertingkah seolah tidak melihatnya ada di sana. “Kalau bukan bos, sudah aku olesin sambal dia,” gumam Zhao Wei dengan desisan pelan. “Masih pagi sudah buat aku kesal.” Ia membuang napas singkat lalu berusaha melupakannya. Ini adalah hari pertamanya bekerja dan ia ingin ada mood yang baik. Cecilia muncul di dari lorong yang menghubungkan lobi resepsionis ke ruang kerja terbuka. “Nona Zao Wey, silakan ikut saya,” pintanya dengan senyuman terbaik. Salah menyebutkan namanya seperti kebanyakan orang Indonesia yang sudah ia temui adalah hal yang lazim. Zhao Wei berniat melakukan perkenalan yang baik dan rinci agar semua orang tahu pelafalan namanya yang benar. Ia kurang suka mengulang informasi dan mengoreksi kesalahan, jadi semuanya harus jelas di awal. Berjalan di atas hak tinggi dengan lincah adalah salah satu kepiawaian Zhao Wei. Ia mampu mengikuti langkah sang sekretaris yang berjalan cepat dengan flat shoes-nya. Mereka berhenti di sebuah ruangan terbuka dengan meja-meja yang berjejer rapi. Bayangan akan memiliki teman-teman kerja yang bisa diajak mengobrol sudah membuatnya semangat. “Nona Zao Wey, Anda bisa melihat para pegawai di sini datang tepat waktu dan berdandan dengan gaya yang menarik. Saya pikir Anda juga sudah memperlihatkan kualitas itu sejak pertama kali bekerja. Maka dari itu, saya akan lewati penjelasan mengenai hal ini. Mari kita menuju ke ruangan Nona.” “Oh? S-saya nggak bergabung dengan mereka?” tanya Zhao Wei heran. Tangannya menunjuk ke arah ruang kerja terbuka itu tapi justru menghantam keras seseorang di belakangnya hingga ia berbalik. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Fandy terbatuk-batuk gara-gara pukulan itu menghujam tepat di dadanya. “M-maaf, maaf. Saya nggak sengaja.” Tangan Fandy mengusap-usap dadanya sambil mengatur napas. “Lain kali kamu perlu hati-hati. Jangan ceroboh,” peringatnya menahan batuk susulan. Diam-diam justru sang sekretaris merasa geli. Begitu pula dengan para pegawai yang sempat menyaksikan pemandangan itu. Mereka baru pertama kali melihat CEO mereka dipermalukan seperti ini oleh seseorang yang sama sekali baru. Masing-masing berpikir bahwa akan ada sejarah baru dicetak di perusahaan ini ke depannya. “Iya. Maaf,” sahut Zhao Wei menundukkan kepalanya satu kali. “Mari lanjut, Nona Zao Wey.” Cecilia memecah ketegangan dengan mengajak Zhao Wei kembali berjalan. Tentu saja Zhao Wei tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melarikan diri dari si galak Fandy. Ia berjalan menyusul di samping sang sekretaris yang baik itu. Ruangan paling ujung adalah tempat dimana mereka akhirnya berhenti. Cecilia membuka pintunya dan membiarkan Zhao Wei masuk lebih dulu sebelum ia menyusul. “Ini ruang kantor Anda, Nona.” Zhao Wei terperanjat karena ruangan ini tidak besar, tidak sanggup berkata-kata. Bukan karena merasa tersanjung memiliki kantor sendiri, tetapi syok melihat keadaannya. Ruangan itu hanya memiliki satu jendela kaca yang tidak bisa dibuka permanen. Ditambah lagi lokasinya sudah seperti pulau terpencil. Ia akan bekerja di tempat yang jauh dari pegawai lainnya. “Yah, kok begini?” komentar Zhao Wei kecewa tanpa sadar. “Maaf, Nona?” Cecilia menoleh pada pegawai baru pilihan bosnya. Zhao Wei cepat-cepat menggeleng dan melambaikan tangannya sembari berkata, “Nggak. Saya nggak bilang apa-apa.” Ia tidak ingin hal sekecil apapun membuatnya didepak dari perusahaan ini. Ya udah, aku harus berusaha bertahan. Aku akan buktikan kalau aku nggak pantas diasingkan begini. “Ada komputer, lengkap dengan semua yang Anda butuhkan untuk mengerjakan tugas sebagai seorang ilustrator, Nona.” Cecilia menunjuk dengan tangan dengan jemari lentiknya. “Hari-hari ini kami sedang mengerjakan beberapa proyek penting, jadi harap Nona tidak terkejut kalau mendapatkan tugas hari ini juga dari Pak Fandy.” Dalam hati Zhao Wei memang sudah tahu bahwa bekerja di perusahaan internasional seperti ini akan ada konsekuensinya. Ia tidak masalah dengan hal itu. “Oh, ya. Ibu namanya siapa?” tanyanya. “Ah ya. Nama saya Cecilia. Saya sekretaris Pak Fandy. Kalau Nona Zao Wey ada pertanyaan atau bantuan apapun, silakan datang ke saya,” jawabnya ramah. “Ruangan saya ada tepat di sebelah ruang kantor Pak Fandy. Kemarin Nona sudah ke sana ya.” Zhao Wei mengangguk. “Kalau begitu, saya akan tinggal Nona untuk beradaptasi di sini.” “Ah, tunggu. Apa saya nggak akan diperkenalkan dengan pegawai-pegawai lainnya?” Itulah ekspektasi Zhao Wei berdasarkan drama yang seringkali ia tonton. Setidaknya begitu pula perusahaan di Taiwan yang menjadi lokasinya magang dulu. Cecilia tampak memahami apa maksud Zhao Wei. Akan tetapi ia menggeleng sambil berujar, “Hal seperti itu tidak ada di perusahaan ini, Nona. Dan mungkin Nona perlu membedakan perusahaan ini dengan yang lainnya. Pak Fandy memang spesial, jadi semua yang ada di sini juga spesial.” Nadanya dalam mengucapkan kata ‘spesial’ diikuti oleh penekanan hingga apa yang dimaksudkannya dapat dimengerti dengan jelas. “Nggak heran sih,” celetuk Zhao Wei yang kemudian tersadar akan ucapannya. “Maaf, maaf. Saya nggak bermaksud--” “Tenang, Nona. Semua orang di sini berpikir Pak Fandy seperti itu di awalnya. Tetapi pada akhirnya mereka suka dengan beliau meskipun pembawaan dan sikapnya bisa jadi menyebalkan,” jelas Cecilia yang merasa mengerti bosnya itu. Apa yang bisa disukai dari laki-laki es batu itu? Zhao pun hanya tersenyum tanpa berkomentar lebih mengenainya. “Oh satu lagi, Bu Cecilia. Nama saya Zhao Wei. Zhao seperti di kata ‘cara’ dan Wei seperti di ‘wawancara’. Cou Wei, bukan Zao Wey.” Ia akhirnya punya kesempatan untuk mengoreksi pelafalan yang salah itu. “Ah, maafkan saya, Nona. Iya, iya. Zhao Wei.” Cecilia mengulang kembali cara melafalkan yang benar. Mendengar pelafalan yang benar itu menjadikan Zhao Wei senang. “Baiklah. Terima kasih, Bu Cecilia,” ucapnya dengan anggukan satu kali. Setelah itu sang sekretaris meninggalkan Zhao Wei untuk mengeksplorasi ruang kerjanya. Ia memandangi semuanya dari sudut ke sudut. Ukuran ruangan itu hanya tiga kali tiga meter, cukup menyesakkan. Untung saja ia memiliki otak kreatif yang tidak terbatas oleh ruang maupun waktu. Dimanapun ia berada, selalu ada ide yang mengalir. Zhao Wei meletakkan tasnya di atas meja dan mencoba kursinya. Tidak disangkanya rasanya nyaman sekali. Ia pasti betah duduk di sana dalam waktu yang lama tanpa merasakan sakit. Pendingin ruangan pun bekerja dengan baik. Komputer yang barusan ia nyalakan juga memiliki kecepatan yang tinggi. Pikirnya ruang kerja ini tidak terlalu buruk seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Sekitar beberapa menit setelah jam kerja dimulai, telepon yang ada di atas mejanya berdering. Zhao Wei agak bingung kenapa perlu ada telepon di sana karena terbiasa berkomunikasi melalui aplikasi khusus bisnis sewaktu magang. Alhasil ia menjawab panggilan telepon itu ala kadarnya. “Halo, ini Zhao Wei.” “Ya, saya tahu.” Suara dari seberang telepon jelas menunjukkan siapa pemiliknya. Zhao Wei menampilkan ekspresi kesalnya sambil memimikkan ucapan Fandy tanpa suara. “Di komputer ada aplikasi Slack dan sudah otomatis masuk ke akun kamu. Tolong buka pesan dari saya. Di sana ada tugas yang kamu perlu kerjakan segera. Saya tunggu sebelum makan siang untuk presentasi konsep. Terima kasih.” Dengan itu panggilan diselesaikan. Tidak ada kesempatan untuk bertanya atau bahkan memberi tanggapan. Zhao Wei kesal sekali sampai kedua tangannya mengepal dan membuka beberapa kali di samping kepalanya. Wajahnya pun membentuk ekspresi jelek demi mengutarakan perasaannya yang mendongkol. “Ini baru satu hari. Ya Tuhan, kuatkan aku.” Mulut Zhao Wei komat-kamit menyampaikan doa singkat dadakannya itu. Ia membuang napas dan berfokus melakukan instruksi sang bos. Ketika dilihatnya file yang Fandy kirimkan di Slack, Zhao Wei langsung memahami apa yang akan ia buat. Ditulisnya semua ide yang muncul menjadi sebuah konsep dalam Google Docs lalu ia membuat ilustrasi yang masih mentah sebagai contoh. Kurang lebih dalam waktu dua jam ia sudah bisa menyelesaikan tugas itu. Permintaan Fandy adalah memberikan presentasi sebelum makan siang, dan saat ini sudah pukul sebelas seperempat. Merasa ini waktu yang tepat, Zhao Wei memberikan pesan kepada Fandy melalui Slack bahwa ia sudah selesai. Namun mengingat bosnya yang super duper perfect itu bisa jadi mengomel kalau ada kesalahan, ia memutuskan untuk bertanya lebih dulu pada Cecilia. Dengan arahan dari Cecilia melalui Slack, Zhao Wei menjadi lebih mengerti apa yang harus ia lakukan untuk memberikan presentasi yang benar. Sudah siap perang, ia meninggalkan tempatnya untuk menuju ke ruang kantor Fandy. Ketukan tiga kali yang mendarat di pintu Fandy membawanya masuk. Ia mendekati meja sang CEO yang sedang menatap serius monitor komputernya. “Permisi, Pak Fandy. Tugas saya sudah selesai dan saya siap presentasi.” Zhao Wei memberitahukan maksudnya datang. Fandy mengangguk tapi tidak memandang yang sedang berbicara. Ia membuka telapak tangannya. Zhao Wei kebingungan apa yang dimaksud dengan itu. Dengan polosnya ia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tangan Fandy. Dengan itu mata Fandy yang tadinya terpaku ke layar monitor bergerak cepat ke arah kedua tangan yang kini menyatu itu. “Apa ini?” tanyanya. “Flash drive. Bukan tangan. Memangnya saya mau ajak dansa apa gimana?” Cepat-cepat Zhao Wei menarik tangannya kembali. Ia merasa malu karena hal itu. Bisa-bisanya aku nggak ngerti apa maksud dia. Bodoh kamu. “Apa kamu mau berdiri mematung di sana sampai alien datang menyerbu bumi?” Fandy melontarkan perkataan yang pedas tapi ada yang tidak pas di sana. Zhao Wei merasa tergelitik mendengarnya tetapi ia menjaga diri agar tidak tertawa. Kemudian diberikannya benda pipih berwarna pink kepada Fandy. Tatapan datar Fandy pada Zhao Wei berpindah pada layar monitornya. Ia memasang flash drive itu ke komputernya dan menekan sebuah tombol pada remote control yang kemudian diberikan pada Zhao Wei. Layar putih besar pun bergulir turun dari dinding sebelah barat. “Silakan mulai presentasinya. Saya nggak punya banyak waktu,” pintanya. Kenapa ada orang menyebalkan kaya dia ya? Ya Tuhan. Zhao Wei memutuskan untuk tidak bicara lebih lanjut. “Baik. Saya akan mulai presentasinya,” katanya yakin dan penuh kepercayaan diri. [MWB]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD