03 Kesalahpahaman Pertama

1539 Words
Fandy memperhatikan Zhao Wei dengan seksama ketika gadis itu mempresentasikan pemikirannya. Ia merasa bangga karena tidak pernah salah menilai orang. Pegawai barunya ini memiliki kreativitas bak angin segar. Namun di satu sisi ia justru kembali teringat pada cinta lamanya. Sosok Sakura yang tidak pernah terhapus dari pikirannya itu juga memiliki kemampuan desain yang luar biasa. Bahkan ia merasa bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi ekspektasinya sebelum bertemu dengan Zhao Wei. Tetapi jika harus dibandingkan, ia masih akan tetap memilih Sakura yang menurutnya adalah seorang wanita paket komplit. Desahan napas tanpa sadar diperdengarkan oleh Fandy hingga Zhao Wei menoleh ke arahnya. "Maaf?" tanya gadis itu. Karena gengsi jika ketahuan sempat tidak fokus, Fandy berujar sekenanya. "Ada apa? Kok berhenti?" "Tadi Pak Fandy seperti ... begini." Zhao Wei menirukan persis seperti apa yang Fandy lakukan dengan desahannya. "Nggak. Kamu salah denger kali. Suara AC atau jalanan di luar." Fandy menambah alibi asal. Zhao Wei menggaruk pelipisnya. "Saya pikir ruangan ini kedap suara, jadi nggak akan terdengar suara dari jalanan. AC-nya juga baik-baik saja kelihatannya." Ia mendongak ke atas, meneliti dengan seksama untuk membuktikan perkataan bosnya tidak benar. Fandy pun menjentikkan jemarinya. "Hei, kamu mau ulur-ulur waktu karena nggak bisa presentasi atau gimana? Mau selesai sekarang?" Ia segera menutup pembicaraan tentang hal itu agar tidak ada celah bagi Zhao Wei yang polos itu mengusik lebih dalam. Zhao Wei memanyunkan bibirnya tetapi kemudian tersadar bahwa ia sedang ada di hadapan seorang kepala perusahaan bukan temannya. "Baiklah. Saya lanjutkan, tapi saya harap tidak ada gangguan apapun lagi karena yang selanjutnya ini penting." "Kamu lagi nuduh saya yang bikin gangguan?" Fandy jadi tidak terima. Kedua manik mata Zhao Wei berputar searah jarum jam sekali. "Memangnya saya menyinggung Pak Fandy ya?" Fandy tidak menyahut. "Kalau bapak mengira seperti itu, saya minta maaf. Jangan pecat saya karena hal sepele ini. Itu nggak bijaksana." Zhao Wei sedikit memohon dan memberi wejangan pada saat yang sama. Jadi cewek aneh banget? Dia nyadar nggak sih lagi ngomong sama siapa? Fandy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mau ngobrol terus?" Zhao Wei menggeleng. Ia tahu perutnya agak lapar dan ia berharap bisa cepat menyelesaikan presentasi ini lalu makan siang. "Saya lanjutkan ya." Selama sepuluh menit ke depan gadis itu menyampaikan penjelasan lebih mendalam dan terperinci mengenai konsep desainnya. Sang bospun merasa tidak ada yang perlu direvisi sehingga ia menerimanya. Zhao Wei merasa lega akhirnya tugasnya bisa selesai. Ia hendak buru-buru keluar meninggalkan ruangan tetapi ia teringat akan flash drive-nya yang masih menancap di komputer Fandy. Karena itulah ia berdiri di depan meja pria itu sambil membuka telapak tangannya. "Apaan tuh?" Fandy memandang pegawainya itu dengan bingung. "Minta duit?" Bisakah orang seperti ini dimusnahkan dari muka bumi ya, Tuhan? Zhao Wei menampilkan senyuman datar. "Bukan, Pak. Saya perlu flash drive saya kembali," katanya. "Oh." Fandy pun mencabut benda mungil penyimpan data itu dari komputer setelah menyalin data presentasi Zhao Wei. "Kalau minta sesuatu tuh yang jelas. Jangan cuma buka tangan gitu. Kaya pengemis. Di FL Media Inc. nggak ada yang melakukan sesuatu nggak berkelas seperti itu." Zhao Wei menggerutu dalam hati karena pria itu banyak mengomel. "Saya baru akan bicara, Pak. Tapi Bapak cepat sekali berkomentar sampai saya nggak sempat berbicara." Sedikit emosi akhirnya turut tertuang dalam nada bicaranya yang lembut tapi penuh sindiran itu. Selama bekerja sebagai CEO perusahaan ini, tidak ada seorangpun pegawai yang berani berkata seperti itu pada Fandy. Karena itulah ia terkejut saat mendengarnya. Ia hendak membalas tetapi akhirnya mengurungkan niat. Ia yakin jika ini diteruskan pasti akan berujung pada perdebatan. Saat ini keberadaan Zhao Wei dibutuhkan di perusahaan. "Kalau begitu, saya pergi—" "Tunggu." Meskipun Fandy tidak membalasnya dengan perkataan, ia merasa bahwa pegawai seperti Zhao Wei perlu diberi pelajaran. "Tolong pesankan saya makan siang sehat. Menu apapun boleh. Tapi jangan ada tomat atau kacang-kacangannya ya. Lalu saya perlu infused water[1] sebagai minuman." "Uh, bukannya itu tugas sekretaris?" Zhao Wei berusaha mengelak tugas baru yang tidak ada dalam job description-nya. Jari telunjuk Fandy bergerak ke kanan dan kiri singkat. "Cecilia sedang mengerjakan hal lain dan saya nggak mau bikin pekerjaan dia lambat. Saya rasa kamu nggak ada kerjaan lagi setelah ini, 'kan?" Tidak bisa beralasan lagi, Zhao Wei akhirnya berakhir dengan anggukan saja. Ia meninggalkan ruangan dengan ekspresi yang jelas menunjukkan bahwa ia mendongkol tetapi ditahan. Fandy tersenyum-senyum puas. Ia berpikir bahwa ia berhasil mengerjai gadis itu. "Siapa suruh main-main sama aku?" gumamnya. Tubuhnya bersandar pada kursi empuknya itu. Sambil menatap ruang kantornya yang kosong, pikirannya terbawa kembali ke situasi tiga tahun lalu dimana Sakura sempat menghabiskan waktu di sini. Sepanjang wanita itu membantu memberikan pelatihan pada para ilustratornya, ia sering memandang keluar melalui pintu kaca. Dari dalam ruangannya, ia bisa melihat bagian kantor terbuka dimana para ilustrator bekerja. Hatinya merindukan sosok itu, tetapi ia tahu bahwa tidak mungkin untuk mendapatkannya kembali. Sakura sudah bahagia bersama dengan keluarga kecilnya dan ia berhak bahagia. Hanya dirinyalah satu-satunya yang belum bisa beranjak dari kenangan indah itu di antara keduanya. "Pak? Apa Bapak begitu mengharapkan makanan dan minuman sehat ini sampai tersenyum sendiri melihat saya sudah datang?" Zhao Wei muncul dengan membawakan sebuah wadah makanan dan botol minuman. Tertangkap basah seperti itu, Fandy tidak punya alasan lain untuk mengelak. "Ya saya memang suka makan makanan sehat. Tapi bukan kedatangan kamu yang bikin saya senang ya." Ia buru-buru menjelaskan agar tidak mengakibatkan kesalahpahaman. Sampai saat ini ia tidak berniat untuk mengijinkan lawan jenisnya membuatnya tertarik dengan cara apapun. "Memangnya saya bilang apa tadi?" Lagi-lagi Zhao Wei tidak mau disalahkan. Ia merasa tidak mengatakan sesuatu yang salah. Ia pun meletakkan kedua benda di tangannya itu. Melihat kotak bekal dan botol minum berwarna pink dihiasi gambar karakter animasi Winnie The Pooh, Fandy langsung tertawa terbahak-bahak. "Apa ini? Jangan bilang kamu asal beli makanan sehat khusus anak-anak. Mana beruang kuning ini gendut, beda banget sama saya yang keren dan ganteng begini." Ia tidak mengerti akan apa yang Zhao Wei pikirkan. "Mohon jangan merendahkan karakter imut ini. Mohon jangan meninggikan diri juga, Pak. Kesombongan adalah awal dari kejatuhan." Zhao Wei mengutarakan permintaan sekaligus wejangan untuk yang kedua kalinya. Demi mendengarnya, Fandy menelan ludah. Ia merasa bahwa gadis itu seperti sedang merutukinya. "Terus ini dari mana? Dan isinya bukan bento kan?" Zhao Wei tidak banyak bicara. Ia membuka kotak bekal itu di hadapan Fandy. "Ini makanan sehat. Nggak ada kacang atau tomat seperti yang Bapak minta." Ia kemudian melanjutkan membuka botol minumannya dan menunjukkan isinya. "Yang ini infused water dengan lemon." Fandy tersenyum dan mengangguk-angguk. "Hebat juga kamu bisa dapetin makanan yang saya mau secepat ini. Dimana kamu belinya? Apa ada di dekat sini? Dapat bocoran dari anak-anak?" Tanpa sadar ia mencecar pegawai barunya itu dengan tiga pertanyaan sekaligus. Kata 'anak-anak' terdengar aneh di telinga Zhao Wei hingga ia mempertanyakannya. "Bapak sedang berusaha bercanda sebagai tanda permintaan maaf kepada saya? Maaf, menurut saya itu kurang lucu jadi saya nggak merasa terhibur." Kini Fandy justru menjadi bingung dibuatnya. "Ngomong apa sih dia?" gumamnya. "Udah lah. Lupain aja." Zhao Wei juga tidak ambil pusing. Ia sudah merasa lapar dan ingin cepat-cepat pergi dari situ. "Sebagai jawaban dari pertanyaan Bapak, ini semua adalah bekal saya. Bapak meminta saya untuk cepat membawakan makan siang, jadi saya membawakan bekal saya karena menunya tepat seperti yang Bapak minta," beritahunya agak panjang. Dalam hati Fandy merasa sedikit bersalah sekarang. Ia seperti mengambil bekal anak lain sebayanya jika begini. "Kalau gitu, kamu aja yang makan. Saya pesan makan siang saya sendiri." "Bapak takut saya racuni ya?" Zhao Wei agak tersinggung. "Saya butuh pekerjaan ini jadi saya nggak akan melakukannya. Tenang saja." Dengan satu tarikan napas panjang Fandy menjawab, "Saya nggak mikir begitu. Silakan bawa kembali bekal kamu dan makan hasil kerja keras kamu." "Permisi." Salah seorang pegawai laki-laki datang dari balik pintu dan berjalan mendekat. Begitu melihat apa yang ada di meja, matanya membelalak terkejut. "Ah, maaf kalau saya menginterupsi momen Bapak dan Nona Zhao Wei." Baik Fandy dan Zhao Wei langsung terperanjat mendengar kata-kata itu hingga sama-sama berkata, "Nggak!" Lelaki itu justru tersenyum penuh arti. "Bapak dan Nona Zhao Wei teh nggak perlu sungkan sama saya. Dan saya juga janji nggak akan bocorkan ini ke pegawai-pegawai lain," katanya meyakinkan. "Gini ya, Wawan. Kamu jangan asal tarik kesimpulan dan sekarang jangan kemana-mana sebelum kamu sampaikan apa yang jadi tujuan kamu ke sini," perintah Fandy tegas. "Dan kamu Zhao Wei, silakan bawa kembali kotak bekal dan botol minuman kamu." Pegawai yang sedikit melambai itu memperdengarkan desahan terkejut. "Astaga, Nona Zhao Wei. Barusan nembak Pak Fandy tapi ditolak ya?" duganya asal. Sementara Zhao Wei tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Wawan akibat keterbatasan bahasa, Fandy justru menggeleng-geleng agak kesal karena staf administrasinya itu. "Kamu mau saya pecat sekarang, Wan?" "Eh, jangan dong, Pak Fandy." Wawan melambaikan tangannya tanda tak mau. "Ya udah, sekarang kamu duduk. Dan Zhao Wei, silakan pergi." Nada suara Fandy terdengar sedikit menyebalkan. Zhao Wei yang sudah lapar tidak menunggu lama untuk mengambil kembali bekal yang sudah disiapkannya. Ia pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang sedikit kesal tetapi lega. Akhirnya ia menjauh dari bos anehnya dan ia tidak perlu membeli makan siang lainnya. [MB] Keterangan: [1] Infused water pada dasarnya adalah air mineral yang dicampur dengan potongan buah, terutama lemon. Cairan ini juga disebut sebagai air detoks karena diklaim bisa membuang racun di dalam tubuh, meningkatkan energi, dan membantu mengurangi berat badan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD