04 Mendadak Tunangan

1596 Words
Presentasi Zhao Wei yang pertama berujung pada kesuksesan. Ia mendapatkan mandat dari Fandy kembali di beberapa kesempatan berikutnya. Pasalnya konsep ilustrasi bikinannya dianggap berhasil karena langsung disukai oleh klien yang memesannya. Di satu sisi gadis itu merasa bangga, tetapi di sisi lain ia merasa terlalu diandalkan. Sebagai pegawai baru di perusahaan, sudah seharusnya Zhao Wei mengerjakan proyek seperlunya. Ia masih harus beradaptasi dengan sistem dan lingkungan kerja. Namun Fandy seolah memaksanya menjadi seperti seorang anak kecil yang disuruh beranjak dewasa dengan cepat. Bahkan kemarin ia dipasrahi tiga proyek dari klien baru. Untung saja kreativitas tak terbatasnya itu masih dalam stok cukup. "Ci Zao Wey," panggil seorang pegawai yang tampak lebih muda darinya. "Zhao Wei." Si pemilik nama buru-buru mengoreksi agar gadis di sampingnya itu tidak salah sebut lagi. "Oh ya. Ci Zhao Wei," panggilnya lagi. "Iya, bagaimana?" Deretan gigi gadis itu nampak. "Cici hebat ya?" pujinya. Ia mengangkat gelas berisi kopi di tangan kanannya yang bertumpu pada meja makan. "Hebat bagaimana?" tanya Zhao Wei heran sambil membuka kotak bekal makannya. Hari ini menu makanannya adalah pasta dengan irisan ham dan jamur. "Hm, gimana ya bilangnya? Pak Fandy itu kan antik. Tapi cici masih baru udah dipercayain proyek banyak. Coba aku hitung." Matanya memandang ke awang-awang lalu menjentikkan jari. "Dua belas hari. Cici baru kerja selama itu." Zhao Wei tersenyum. "Kalau boleh berpendapat, sebenarnya saya lebih suka agak santai. Memang saya ingin segera sukses, tetapi saya juga ingin punya kehidupan yang bisa saya nikmati," ujarnya terus terang. "Oh ya. Kamu tahu nama saya tapi saya nggak tahu nama kamu. Nama kamu siapa? Kita belum berkenalan." Yang diajak berkenalan langsung antusias mengulurkan tangannya. "Oh ya. Cici fenomenal sih. Aku Cindy." Mereka lalu berjabat tangan. "Kamu bilang saya fenomenal? Kenapa begitu?" Zhao Wei menyendok pastanya dan mulai menikmati makan siang buatannya itu. Cindy pun dengan lancar menceritakan kejadian demi kejadian lucu di antara Zhao Wei dan Fandy sejak hari pertama. Ternyata semua itu tersebar begitu cepat entah siapa yang menjadi biang gosipnya. "Terus tambahan lagi, Pak Fandy udah agak berubah. Biasanya dia cerewet banget komentarin ilustrasi ini masih kurang di sini lah, di sana lah. Revisi bisa sampai berkali-kali. Tapi sekarang makin jarang. Mungkin karena ilustrasi bikinan cici yang keren." Desahannya mengakhiri ceritanya yang panjang dan lebar. "Tapi di balik itu semua ada proses yang kamu nggak tahu, Cindy. Beberapa proyek yang saya handle itu setiap kali presentasi selalu dicari-cari kesalahannya. Saya kesal sekali sebenarnya. Padahal akhirnya pekerjaan saya dipakai dan disukai klien. Bos kamu itu memang aneh." Zhao Wei menyatakan unek-uneknya. "Dia sepertinya harus belajar memuji dengan tulus juga. Masa iya dia bisa mengkritik tapi nggak bisa memuji? Sebagai seorang pemimpin, seharusnya dua hal itu bisa seimbang." Deheman keras terdengar hingga kedua gadis yang sedang mengobrol di pantry itu berpaling ke arah sumber suara. "Pujian itu awal kejatuhan, kritikan membangun itu awal kesuksesan." Sang CEO FL Media Inc. berdiri sambil bersandar ke ambang pintu. Dagunya naik tetapi tatapannya datar. "Saya rasa kutipan Bapak kurang tepat. Pujian itu bisa membangun, asal tidak berlebihan." Zhao Wei menyanggah disertai senyuman. Cindy yang hanya berperan sebagai penonton kemudian melipat bibirnya melihat ketegangan di antara keduanya. Ia tidak ingin terlibat jika terjadi Perang Dunia ketiga di ruangan sempit itu, maka ia meminta diri dan pergi. Alhasil keadaan di antara bos dan pegawai baru itu menegang. Zhao Wei memalingkan wajahnya ke arah bekal makanannya dan lanjut makan. Sementara itu, Fandy tidak juga pergi dari sana seperti hendak mengobrol tetapi gengsi untuk mengatakannya. "Bapak kenapa masih di sini? Ada yang mau dibicarakan dengan saya? Atau mau minta tolong saya membelikan makan siang sehat lagi?" Tanpa ragu Zhao Wei mempertanyakan kehadiran sang bos. "Kamu ... masih ngobrol sama Sakura kan?" Akhirnya Fandy menyampaikan apa yang ada di hatinya. Beberapa waktu terakhir ini kehadiran Zhao Wei terus mengingatkannya tentang wanita itu. Lirikan tajam dilemparkan Zhao Wei seketika itu juga kepada atasannya. "Masih," jawabnya singkat. "Dia baik-baik aja?" tanyanya lebih lanjut. "Lebih dari baik. Dia bahagia dengan suami dan anak-anaknya," Zhao Wei menegaskan jawabannya dengan senyuman yang terkesan dipaksakan. Ia tidak suka jika kebahagiaan sahabatnya diusik oleh pihak ketiga, pasalnya ia merasa familiar dengan situasi seperti itu jika berkaca pada keluarganya sendiri. Mendengar jawaban ketus gadis itu, Fandy merasa tersinggung. "Hei, Nona Zhao Wei. Tolong denger baik-baik ya. Saya nggak akan mencoba untuk mengganggu kehidupan Sakura. Saya cuma tanya gimana keadaannya saat ini karena udah lama nggak kontak." Ia memberitahukan tujuannya bertanya. "Baguslah." Singkat sekali Zhao Wei memberi tanggapan. Dialihkannya pandangannya dari Fandy ke makan siangnya lagi. Dengan sendoknya ia menyuapkan sedikit demi sedikit pasta yang tinggal setengah itu. "Ada lagi yang mau dibicarakan, Pak?" Cewek nyebelin! Fandy mengumpat dalam hatinya. Ia mendorong dinding dalam pipinya dengan lidah dari kanan ke kiri. "Setelah selesai makan siang, datang ke kantor saya. Ada yang perlu kamu kerjakan," perintahnya. "Oke." Zhao Wei tidak banyak berkata-kata. Ia sengaja membuat atasannya merasa kesal karena membuatnya kesal lebih dahulu. Keluar dari pantry, emosi Fandy naik gara-gara pegawai barunya itu. Ia langsung menuju ke tempat Cecilia. Namun ia tidak mendapati sekretarisnya itu berada di tempat. Karena itu ia pergi menyambangi kantor terbuka dan bertanya pada beberapa pegawai yang masih ada di sana. "Ah, tadi sepertinya Bu Cecilia terburu-buru keluar. Tapi saya kurang tahu dia kemana." Salah satu pegawai memberitahu. "Oke, makasih." Fandy berbalik dan masuk ke dalam kantornya. Sampai di ruangannya, ia duduk di kursi kerjanya yang dihadapkan ke jendela. Dipasangnya temperatur AC serendah mungkin demi mendinginkan kepalanya yang panas. Ia menatap keluar kaca bening di depannya ke arah langit yang agak mendung. Barusan ia merasa penasaran akan progres terbaru pekerjaan Sakura dengan menengok akun Instagramnya. Wanita itu kini tidak hanya memasang gambar-gambar fotografi serta karya ilustrasinya tetapi juga beberapa foto keluarga kecilnya yang bahagia. Hatinya begitu terganggu melihat kenyataan itu. Di saat mantan gebetannya itu sudah move on, dia masih di tempat yang sama. Suara-suara berisik yang tiba-tiba terdengar menambah pikirannya yang sudah kacau. Baru kali ini ada keributan di kantornya. Fandy yang merasa penasaran akan apa yang terjadi langsung meninggalkan tempat untuk menuju ke sumber kebisingan. Tampak seorang wanita tua dengan sanggul dan pakaian berkelas serta seorang pria yang seumuran sedang marah-marah. Dua pegawai perusahaan ini sedang mencoba berkomunikasi dengan mereka tetapi tampaknya ada kesalahpahaman. Dari tempat Fandy berdiri, Zhao Wei datang mendekat dan terlihat marah pada kedua orang tua tersebut. "Bà mā! Nǐ wèishéme zài zhè?[1]" Dengan perkataan itu, Fandy yang memahami bahasa Mandarin pun tahu bahwa pria dan wanita tersebut adalah orang tua Zhao Wei. Ia menggeleng-geleng heran kenapa seorang wanita dewasa sepertinya masih didatangi oleh orang tuanya. Ia pun berjalan mendekat untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. "Duìbùqǐ. Zhèlǐ fāshēngle shénme?[2]" Wanita dengan wajah putih tetapi garang itu menatap tajam pada Fandy. Ia berkata bahwa itu bukan urusannya dan kemudian lanjut mencecar putrinya dengan perkataan-perkataan penuh kemarahan. Fandy pun menyuruh kedua pegawainya pergi. Setelah itu ia meminta agar kedua pasangan itu masuk ke dalam kantornya untuk berbicara. "Maaf, Pak. Saya nggak tahu kenapa orang tua saya bisa menemukan saya di sini," bisik Zhao Wei sepanjang mereka berjalan menuju ke ruangan Fandy. Tidak mengerti apa maksud perkataan gadis itu, Fandy berbisik kembali, "Apa maksudnya? Jangan-jangan kamu melarikan diri dari tanggung jawab besar?" Zhao Wei mengangguk-angguk. "Iya. Saya seharusnya dinikahkan dengan seorang pria di Taiwan. Tapi itu demi kepentingan politik dan sebagainya." Tidak punya pilihan, ia menceritakan kejadian di balik semua ini. "Mereka kesini untuk memaksa saya pulang." Setelah dipersilakan masuk ke dalam ruang kantor Fandy, pria dan wanita tersebut segera menempatkan diri di sofa seolah ruangan tersebut milik mereka. Zhao Wei merasa malu melihat tingkah kedua orang tuanya sampai ia menggeleng-geleng. Sementara papa Zhao Wei mulai angkat bicara memberikan keluhan demi keluhan, pikiran Fandy justru terarah pada kehilangan pegawai barunya yang berarti kemunduran perusahaannya. Alasan mengapa ia ingin berbicara dengan Zhao Wei setelah makan siang adalah untuk memberitahukan tentang klien yang merasa puas dengan pekerjaan Zhao Wei ingin mengambil proyek lebih besar lagi. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu kembali ke Taiwan begitu saja di tengah proyek penting ini. "Bàba, māmā, nǐmen liǎ dōu hěn zìsī.[3]" Zhao Wei memprotes dan kedua tangannya mengepal karena begitu marahnya atas keegoisan kedua orang tuanya. Jika ia harus kembali sekarang, itu artinya ia harus menyerahkan impiannya yang besar. "Siapa nama papa dan mamamu?" Pertanyaan Fandy membuat Zhao Wei mengerutkan dahi heran. Namun gadis itu tetap menjawab dalam bisikan, "Panggil saja Om Jiāhǎi dan Tante Qiying." Fandy mengangguk mengerti. Di pikirannya ide liar yang entah dari mana bisa muncul ini adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan situasi keduanya. "Jiǎbóshū hé qí yīng yímā zhàowēi yīnwèi wǒ zài zhèlǐ. Wǒmen dìnghūnle, yào jiéhūnle.[4]" Demi mendengar ide aneh itu, Zhao Wei terperanjat. "Apa maksudnya? Sudah bertunangan? Akan menikah?" ia berkomentar penuh keheranan. "Ikuti aja permainan ini kalau kamu masih mau di sini," bisiknya. Pada akhirnya Zhao Wei yang tidak punya pilihan pun setuju. Ia mendukung pernyataan Fandy dengan menyatakan bahwa inilah alasan ia melarikan diri. Pria dan wanita itu pun menanyakan siapa Fandy. Begitu mengetahui bahwa ia adalah pemilik dari perusahaan ini, keduanya tidak menyatakan keluhan lebih lanjut. "Alright. You'll get married next week.[5]" Mama Zhao Wei memutuskan secara sepihak agar keduanya menikah minggu depan. Meskipun tercengang dan tidak bisa berkata-kata, baik Fandy dan Zhao Wei menyetujuinya. Bagaimanapun juga ini adalah cara terbaik untuk membiarkan kedua orang tua tersebut melepaskan cengkeramannya dari Zhao Wei. [MB] Keterangan: [1] Pa, Ma! Kenapa kalian ada di sini? [2] Permisi. Apa yang terjadi di sini? [3] Pa, Ma, kalian berdua egois. [4] Om Jiāhǎi dan Tante Qiying, Zhao Wei di sini karena saya. Kami berdua sudah bertunangan dan akan menikah. [5] Oke. Kalian akan menikah minggu depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD