05 Tiba-tiba Menikah

1550 Words
Tanpa rencana dan tanpa persiapan, begitulah cara Fandy meminang Zhao Wei. Keduanya kini berada di Taiwan, di rumah sang mempelai wanita palsu bersama dengan keluarga besar dari pihak kedua orang tua Zhao Wei. Dengan mengangkat kisah hidup Fandy yang asli, tidak ada seorangpun yang berani bertanya lebih lanjut mengapa tidak ada keluarga yang datang bersama sang mempelai pria. Adalah hal yang tabu dan menyedihkan untuk membicarakan kematian sebelum perayaan hari bahagia. Acara pernikahan pun diatur sepenuhnya oleh orang tua Zhao Wei. Mengerahkan seluruh kenalan dan kekayaan mereka, hari yang seharusnya sakral itu pun dilangsungkan. Yang setengah bulan ini masih berstatus bos dan pegawai baru, kini telah menjadi suami dan istri. Sebelum kembali ke Indonesia, Fandy dan Zhao Wei dipaksa untuk menghabiskan satu minggu di Taiwan setelah pernikahan digelar. Alasannya adalah orang tua Zhao Wei ingin menikmati kebersamaan dengan putri mereka sebelum melepaskannya. Demi membuat permainan peran ini berjalan dengan baik, kedua pemeran suami istri ini mengikuti permintaan tersebut. "Hei, Pak Fandy! Itu tempat tidur saya. Seharusnya saya yang tidur di sana dan Bapak di sofa." Zhao Wei yang baru keluar dari kamar mandi berkacak pinggang melihat suami gadungannya menguasai ranjang. Malam pertama romantis dan intim sebagai suami istri yang ditunggu-tunggu oleh para pengantin normal agaknya tidak akan terjadi di antara Fandy dan Zhao Wei. Sebaliknya, ini adalah malam pertama penuh bencana yang akan mereka lewati sampai beberapa waktu ke depan. Pasalnya rencana awal mereka untuk tinggal terpisah lagi saat kembali ke Indonesia digagalkan oleh perintah papa Zhao Wei. Akan ada orang suruhan yang dikirimkan untuk memantau kehidupan keduanya. Alasannya adalah untuk memastikan bahwa ini adalah pernikahan sungguhan dan bukan akal-akalan Zhao Wei. "Pak Fandy!" Zhao Wei menaikkan suaranya lebih lagi karena yang dipanggil bergeming dan tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia berjalan mendekat ke ranjang lalu menyentuh bahu Fandy dengan telunjuknya sekali, dua kali, dan berkali-kali. Pada akhirnya Fandy merasa terusik lalu menyingkirkan tangan Zhao Wei dengan mengibaskan bahunya. "Saya bos kamu, jadi kamu nggak boleh nyuruh saya tidur di sofa. Kamu aja." "Tapi di sini Bapak itu suami saya. Jadi seharusnya—" "Nggak ada siapa-siapa selain saya dan kamu di sini. Jadi nggak perlu akting." Fandy memotong ucapan Zhao Wei, masih dalam posisinya menelungkup di ranjang. Ia sama sekali tidak memandang yang diajak bicara. Merasa kesal dengan sikap bosnya, Zhao Wei berpura-pura berseru, "Ba, Ma!" Dengan itu Fandy bergerak dari posisinya telungkup dengan desahan kesal. "Kalau kamu mau tidur di sini, tidur sama saya. Saya nggak bisa tidur di sofa. Pegel." Ia menolak pindah dan hanya bergeser ke sisi kanan ranjang, menyisakan bagian kiri kosong. "Apa? Nggak bisa gitu, Pak! Saya nggak bisa berbagi tempat tidur sama orang lain. Apalagi laki-laki." Zhao Wei menolak serta merta. Baginya hal itu merupakan suatu cela yang tidak akan terjadi. Fandy menyandarkan kepalanya di telapak tangannya yang bertumpu pada bantal. Dengan posisi tubuh memiring dan senyuman menggoda yang disengajanya, ia iseng bermain-main dengan istri gadungannya. "Kenapa? Takut sesuatu terjadi? 'Kan saya suami kamu. Harusnya itu biasa." "Ini 'kan pernikahan palsu. Jadi nggak ada yang seperti itu di antara kita." Zhao Wei bergidik memandang lelaki di hadapannya. "Tolong ya, Pak Fandy. Kalau Bapak merasa seperti laki-laki sejati, sudah seharusnya Bapak meninggalkan ranjang dan tidur di sofa." "You wish[1]." Fandy tidak peduli dan kembali tidur. Zhao Wei menjadi kesal sekali dan pada akhirnya mendorong Fandy. Hanya saja ia tidak menyangka kekuatannya cukup besar sampai membuat lelaki itu terjatuh ke lantai. "Ups," komentarnya singkat. Ia memang merasa bersalah tetapi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menguasai tempat tidurnya sendiri. Cepat-cepat ia berbaring di atasnya dan memenuhi seluruh bagiannya. Tidak berlama-lama mengerang kesakitan di lantai, Fandy bangkit lagi dan kembali menjatuhkan diri ke atas ranjang. Ia mendesak Zhao Wei dengan kekuatannya. Pada akhirnya terjadi perang saling mendorong di ranjang. Tidak satupun dari mereka bersedia mengalah. Semakin lama posisi mereka semakin mendekat. Tubuh mereka kini saling menempel. Fandy dan Zhao Wei memakai tangan mereka masing-masing untuk mendorong satu sama lain. Sengitnya perebutan ranjang itu berakhir tiba-tiba ketika tanpa sengaja tangan Zhao Wei memukul bagian bawah yang berharga milik Fandy. "Ups. Maaf." Zhao Wei beranjak dari ranjang dan berdiri dengan urat-urat menegang. Ia mengambil bantal dan menarik selimut lalu berbaring di sofa. Dihadapkannya wajahnya ke sandaran sofa agar tidak melihat lelaki yang masih menahan nyeri itu. Kemudian ia mencoba menutup matanya rapat-rapat, melupakan apa yang telah terjadi. ~~~ Terbiasa bangun pagi, Fandy muncul dengan penampilan rapi saat Zhao Wei membuka matanya. Gadis itu segera memalingkan muka saat bertatapan dengan si bos karena memori semalam muncul kembali. Ia berjalan menuju ke dalam kamar mandi dengan terburu-buru. Sama-sama menghindari kecanggungan, Fandy meninggalkan kamar dan berjalan di balkon lantai dua. Dari sana ia bisa melihat beberapa pembantu rumah tangga berlalu lalang membawa makanan. "Fandy, nǐ qīzi zài nǎlǐ?[2]" Sosok kepala rumah tangga di rumah ini mempertanyakan keberadaan putrinya. Fandy berpaling pada mertuanya itu dan memberitahukan keberadaan Zhao Wei. Awalnya ia berbasa-basi dengan bertanya bagaimana kabar pria itu, tetapi ia menyesalinya sedetik kemudian. Percakapan itu berlanjut bahkan sampai dirinya diajak berkeliling rumah. Melewati sekitar seperempat jam bersama dengan mertuanya, Fandy sudah merasa bosan. Yang mereka bicarakan adalah permainan catur dan berkebun yang sama sekali bukan ketertarikannya. Dengan menggunakan alasan sudah merasa lapar ia berhasil menghentikan kegiatan pagi hari itu. Di ruang makan sudah ada Zhao Wei yang sedang mengobrol dengan mamanya. Entah apa yang mereka bicarakan, mertua wanitanya itu tersenyum geli menatapnya saat ia berjalan mendekat. "Ngomong apa kamu sama mama kamu? Jangan-jangan kamu cerita semalam ya? Kamu mau mempermalukan saya?" Fandy yang langsung mendekati Zhao Wei mencecarnya dengan pertanyaan demi pertanyaan. Zhao Wei mengerutkan dahi memandang lelaki yang lebih tinggi darinya itu. "Kenapa, Pak? Malu?" sahutnya cuek. "Wah, parah. Beneran kamu cerita? Itu kan hal privasi." Fandy menggenggam pergelangan tangan Zhao Wei. Menyadari bahwa perdebatan kecil yang mereka timbulkan menjadi pusat perhatian semuanya, Fandy dan Zhao Wei mengubah cara mereka memperlakukan satu sama lain. Akting romantis ala pasangan yang baru menikah mereka tunjukkan. Senyuman yang palsu pun terpaksa menghiasi wajah keduanya. Diajak untuk duduk, keduanya mengambil tempat bersebelahan di meja makan. Demi memberi kesan nyata, Zhao Wei bertingkah seperti seorang istri melayani suami. Ia mengambilkan makanan dan minuman untuk Fandy. Tidak kalah darinya, Fandy juga terkadang menyuapi Zhao Wei. Percakapan dari topik satu ke yang lainnya tentang rencana apa yang mereka miliki ke depan dipertanyakan. Dengan asal keduanya juga menjawab hingga terkadang jawaban satu sama lain tidak sesuai. Tetapi rupanya mereka sama-sama memiliki kemampuan berdalih dan mengelak sehingga semuanya tampak baik-baik saja. "Ah, capek pura-pura." Masih di ruang makan, Fandy meregangkan tubuhnya setelah kedua orang tua Zhao Wei pergi. Dengan gelas yang masih berisi jus jeruk di tangan, Zhao Wei menoleh pada sang suami gadungan. "Siapa juga yang membuat ide ini?" komentarnya. Fandy pun mencondongkan tubuhnya ke arah Zhao Wei. "Jadi kamu lebih milih untuk dinikahin sama cowok yang kamu nggak cintai demi politik?" "Bukannya saya sekarang posisinya juga menikah dengan cowok yang saya nggak cintai?" Zhao Wei langsung membalas telak perkataan Fandy. Bibir Fandy memanyun. Meskipun itu kenyataannya, entah bagaimana ia merasa tidak terima. "Tapi lebih baik sama saya kali. Kamu jadi bisa kejar mimpi kamu kan?" Zhao Wei tidak menjawab. "Zhao Wei, saya memang suami palsu kamu. Tetapi jujur aja saya dukung kamu kejar mimpi kamu." Fandy menyandarkan kembali tubuhnya pada sandaran kursi. "Saya tahu rasanya gimana untuk punya mimpi besar dan nggak akan berhenti sebelum mengambil setiap kesempatan yang ada. Jadi saya persilakan kamu untuk membuktikan bahwa kamu adalah yang terbaik melalui perusahaan saya." Secara sekilas perkataan itu terdengar manis di telinga Zhao Wei, tetapi ia sadar bahwa Fandy sebenarnya membutuhkannya untuk mengembangkan FL Media Inc. Senyuman menyamping disertai dengusan singkat dipertontonkannya. "Ekspresi apa itu?" "Bukan apa-apa." Decakan terdengar dari mulut Fandy. "Ah, saya ngerti. Kamu pikir saya nggak tulus. Ya kan?" Ia menebak. Bahu Zhao Wei berkedik tidak mau menunjukkan persetujuannya meskipun ia mengiyakan tebakan Fandy. "Oke. Jadi kamu tahu kalau saya butuh keterampilan kamu untuk perkembangan perusahaan saya. Saya akui itu. Tapi bukannya kalau perusahaan saya semakin besar, pada akhirnya kamu juga bisa bersinar?" Fandy menyimpulkan kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan. "Jadi, ayo kita kerjasama. Nggak ada ruginya." "Hm. Dengan dua kondisi." Fandy mendesah. Untuk ukuran seorang pegawai dengan kemampuan spesial seperti Zhao Wei bukanlah sesuatu yang tidak wajar jika ia mengajukan syarat. "Ya, ya. Bilang aja semuanya supaya jelas dari awal." Zhao Wei mengangkat tangannya setengah tiang, menunjukkan jari telunjuknya. "Satu, saya nggak mau ditempatkan di ruangan kecil dan terpencil." "Apa? Kecil dan terpencil?" Mata Fandy membelalak. "Saya udah minta khusus desainer interior untuk mengubah ruangan kecil begitu jadi lapang dan nyaman loh. Tambahan lagi, saya memilih ruangan itu karena itu yang terbaik untuk kamu. Sebagai seorang ilustrator kamu perlu ketenangan." "Mungkin itu berlaku untuk Bapak. Tetapi saya merasa kesepian. Saya mau berada di antara teman-teman." Zhao Wei menyatakan pendapatnya. Menyusul kemudian jari tengah yang berdiri tegak. "Dua, saya sama sekali nggak mau orang-orang tahu tentang pernikahan palsu ini. Jadi meskipun kita tinggal satu rumah, kita bisa berangkat bekerja sendiri seperti biasanya." Tanpa berpikir panjang lagi, Fandy menyetujui. Permintaan Zhao Wei bukanlah sesuatu yang sulit. "Saya pikir semua itu bisa diterima. Deal." Zhao Wei pun beranjak dari tempat duduknya. "Baguslah. Sampai bertemu lagi di adegan selanjutnya." Ia menggunakan istilah yang digunakan dalam pertunjukan teater karena apa yang mereka lakukan memang sekadar sandiwara. [MB] Keterangan: [1] Mimpi aja. [2] Fandy, dimana istrimu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD