Rencana Perjodohan

1369 Words
Keluarga Ailin memiliki sebuah hotel mewah di pusat Ibu Kota. Hotel itu telah dikelola puluhan tahun. Beberapa tahun terakhir, hotel dalam keadaan yang menyedihkan. Penurunan tamu hotel pun sangat signifikan. Bahkan, pernah pada suatu hari, tidak ada tamu yang datang ke hotel. Evaluasi telah dijalankan sedemikian rupa. Semua upaya telah dikerahkan. Namun, memang belum berhasil memanggil kembali para tamu untuk datang ke hotel Wallion milik keluarganya. Itulah yang membuat kebangkrutan hampir melanda bisnis keluarganya yang telah berjalan puluhan tahun. Ayah Ailin pasti hampir frustasi mengurus semuanya sendiri. Anak laki-laki yang diharapkannya, justru membiarkan Ayahnya mengurus bisnis sebesar itu sendiri. Kemarin Ailin gagal bertemu dengan Saka. Kecewa Saja telan sendirian setelah menunggu cukup lama di sebuah restoran tempat mereka janjian. Saka sudah berharap banyak akan menghabiskan waktu bersama sang kekasih. Kekasih jarak jauhnya kini telah kembali dekat. Sudah tidak sabar rasanya untuk memeluk tubuh Ailin. Mengelus rambut Ailin, menatap wajahnya, hingga mendengar suara Ailin yang telah membuat Saka jatuh cinta. Ailin pun merasa kecewa dengan hari kemarin. Semesta tidak berpihak kepadanya. Tak seperti harapannya waktu pagi hari. Sekua rencana Ailin gagal begitu saja sebelum Ailin mulai. Ingin marah, meluapkan semua kekesalannya kepada hari kemarin. Namun, apa Ailin bisa meluapkan amarahnya kepada sang Ayah? Karena, secara tidak langsung Ayah Ailin lah yang membuat Ailin gagal bertemu dengan pujaan hatinya kemarin. Kini, Ailin masih menunggu kabar dari Saka. Bisa atau tidaknya Saka masih bergantung dengan jadwal pekerjaannya. Ailin ingin memaksa dan menyuruh Saka meninggalkan pekerjaannya. Tetapi Ailin sadar, tidak semua orang bisa seperti Ailin. Ailin harus menghargai apapun yang dijalan oleh orang lain. Meskipun, Ailin menggerutu tiada henti. Tak ada pilihan lain selain menunggu kabar dari Saka. Ailin mengecilkan harapan. Agar tidak terjadi kekecewaan besar seperti hari sebelumnya. ~ Siang ini rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Kesibukan telah menyita waktu para staf pekerja di rumah Ailin. Semua berjalan kesana kemari, menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Ailin heran, mengapa hari ini seperti sedang ada gotong royong di rumahnya. Padahal, ini masih hari kerja. Bukan hari libur, weekend, atau hari spesial. Ailin ingin bertanya, tetapi, stafnya seperti tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaannya itu. Apalagi, pertanyaan Ailin pasti hanya ingin tahu. Ada apa di rumah hari ini? Keluar dari kamar, semua terasa semakin bising. Ailin menggelengkan kepalanya, mengapa hari ini semua orang sangat sibuk. Sampai tidak ada yang peduli jika Ailin sudah bangun dan melihat mereka sedang bekerja. Ailin beralih ke meja makan. Di sana tidak ada makanan sama sekali. Justru hanya ada piring dan peralatan makan lainnya yang sedang ditata. Tidak ketinggalan juga ada hiasan dengan lilin, bunga di atas meja. “Apa lagi sih ini? Kemarin berita sedih dari keluarga, kata Ayah suruh mencari jalan keluar bersama. Sekarang, seperti akan mengadakan sebuah pesta. Memang terkadang tidak jelas di rumah ini,” ujar Ailin sembari berlalu dari meja makan dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Ailin kesal, perutnya sudah sangat lapar, tetapi, tidak ada yang peduli menyiapkan makanan untuknya. Ayah dan Ibunya pun entah dimana. Malas mencari, karena salah satunya adalah rumahnya yang sangat besar. Masuk ke dalam kamar, Ailin merebahkan badannya ke tempat tidur. Tidak ada aktivitas yang akan dilakukannya hari ini. Janjinya dengan Saka masih belum pasti. Keluar rumah pun belum tentu mendapatkan izin dari sang Ayah. Hiburan satu-satunya adalah membaca buku di perpustakaan rumahnya. “Perpustakaan lagi. Kenapa tidak ada tempat lain yang bisa aku kunjungi? Apa di dunia ini hanya perpustakaan yang memiliki ijin untuk aku kunjungi?” Ailin mengeluh kesal dengan keadaan. Seakan semua tempat di dunia ini tidak boleh dikunjungi oleh Ailin. Bosan telah melekat dalam kehidupan Ailin. Ingin rasanya berbuat sesuatu untuk kehidupan pribadinya. Mencari pekerjaan, bersosialisasi, kumpul dengan teman, atau sekedar merasakan jalan-jalan sendirian. Mengapa sulit sekali semua itu Ailin dapatkan. Bangun dari rebahan tak berguna, lalu Ailin duduk di meja kerja yang ada di kamarnya. Membuka laptop, mencari kesibukan. Tak sengaja, Ailin mengecek handphone yang ada di samping kanannya. Mengalihkan pikirannya sejenak dari kesibukan palsunya. Pesan telah diterima dari Saka. Ailin tak berharap lebih ketika mengecek handphone nya. Hanya ingin mencari kesibukan lain, namun, justru pesan dari Saka datang dan membuat Ailin merasa hari itu sedikit ada kecerahan. “Hari ini aku bisa ketemu. Ada waktu luang setelah sore nanti. Bagaimana dengan kamu?” Saka memberi kabar kepada Ailin jika dirinya bisa membuat janji hari ini. Ailin seperti menemukan sesuatu yang telah hilang. Ailin bergegas membalas pesan dari Saka sebelum Saka kembali menghilang, melebur bersama pekerjaannya itu. Setelah jawaban pesan untuk Saka sudah terkirim, Ailin langsung pergi ke walk in closet-nya. Memilih kembali outfit apa yang ingin ia kenakan. Hari ini, Ailin ingin mengenakan dress santai berwarna army. Sepertinya akan cocok dengan cuaca nanti di luar. “Ada yang bisa dibantu?” Fashion stylist pribadi Ailin datang, menghampiri Ailin yang tengah sibuk memilih baju. “Hmmm, biar aku dulu yang cari. Kalau aku butuh bantuan, aku pasti akan meminta kamu untuk membantuku.” Ailin menolak bantuan dari fashion stylist. Ia ingin mencari baju sendiri, karena sore ini akan menjadi salah satu sore yang mengesankan untuk Ailin. Pilihan bajunya akan menambah kesan berbeda. Setelah semua telah Ailin temukan, Ailin segera menuju ke kamar mandi. Handuk dan perlengkapan lainnya sudah tergeletak rapi seperti biasa. Ailin bergerak cepat agar tidak banyak membuang waktunya. Sore ini Ailin dan Saka sudah membuat janji untuk bertemu. Setelah 2 tahun lamanya, akhirnya Saka dan Ailin memiliki waktu temu. Rindu yang mereka tumpuk sudah terlalu penuh. Hampir saja hari mereka tak kuat untuk menampungnya. Tetapi, mereka masih bisa menahan sampai waktu temu telah memihak mereka. Kini, akhirnya waktu itu terjadi. Penantian yang tak akan pernah sia-sia. Jam dinding di kamar Ailin telah menunjukkan pukul 4 sore. Ailin mengambil tas yang telah disiapkan. Penampilan Ailin kali ini hasil karyanya sendiri. Ailin tidak membutuhkan fashion stylist di rumahnya. Karena, Ailin ingin penampilannya apa adanya. Tidak ada yang berlebihan ketika nanti Saka melihatnya. “Huhhh, semoga ini memang waktunya. Jadi, aku nggak perlu menelan kecewa lagi.” Ailin menenteng tasnya, menuju ke bawah melewati tangga besar di rumahnya. Suara heels nya menghiasi seisi rumah. Hampir setiap staf yang sedang sibuk menghentikan pekerjaan mereka, hanya sekedar untuk melihat Ailin berjalan menuruni tangga. Ailin meminta kunci mobil kepada salah satu supir yang sedang membantu mengangkat meja dan kursi di dalam rumah. Baru saja kunci itu berpindah tangan ke tangan Ailin, Ayah Ailin kembali melarangnya. “Jangan berikan kunci itu ke Ailin!” Ayah Ailin datang bersama Ibunya. Selama pagi hingga siang Ayah dan Ibu sama sekali tidak terlihat. Giliran Ailin ingin pergi dan memerlukan mobil, kedua orang tuanya justru kompak datang. Ailin geram, namun, hanya bisa ia tahan dalam hatinya. Meski suara di tenggorokan sudah ingin berteriak sekencang mungkin. “Ada apa lagi sih Ayah?” Ailin hampir putus asa mendengarkan semua larangan dari sang Ayah. “Ailin, Ayah kan sudah bilang. Ayah memutihkan bantuanmu untuk mempertahankan hotel kita,” Ayahnya duduk di sofa mewah yang ada di sekitar bawah tangga. Ibunya ikut duduk di samping Ayahnya. “Ayah butuh kamu, Ailin. Hanya kamu harapan keluarga,” Ibu Ailin ikut membela Ayahnya. “Iya, Ailin kan sekarang sudah berada di Indonesia , Yah, Bu. Tapi kali ini izinkan Ailin untuk pergi untuk menepati janji.” Ailin mulai mengeluarkan nada kesalnya. Sebab, dari kemarin selalu saja ada kegagalan untuk bertemu dengan Saka. “Malam ini kita akan menerima tamu,” ujar sang Ayah yang membuat Ailin terkejut. “Lalu, apa hubungannya dengan Ailin?” Ailin berusaha untuk tetap menolak diam di rumah. Ailin harus bisa keluar dan bertemu dengan sang pujaan hati. Sejak Ailin mendarat di Indonesia, Ailin belum bertemu ataupun sekedar melihat wajah sang kekasih. 2 tahun menanti sudah cukup menumpuk rindu di hati. Ailin ingin rindu ini cair, tidak beku terus menerus. Namun, mengapa semua terasa sangat sulit? “Tamu itu akan bertemu denganmu,” Ibu Ailin kali ini yang membuat Ailin terkejut. Semua ini tidak ada dalam bayangan Ailin sebelumnya. “Siapa? Keluarga? Saudara? Teman lama? Atau, siapa?” Ailin penasaran juga takut akan perkataan Ibunya. “Mereka hampir sampai, sekarang lebih baik kamu bersiap dulu. Supaya ketika mereka datang, kamu terlihat lebih cantik,” Ayahnya menyuruh Ailin untuk berganti pakaian. Tampilan Ailin kali ini masih belum cukup baik Dimata sang Ayah. Ailin harus mengganti dress berwarna putih, supaya lebih terlihat elegan dan anggun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD