Malam merangkak naik, Ara bergelung di pelukan Nino, punggungnya menempel di d**a lelaki itu, tarikan nafas mereka seirama. Percintaan mereka tadi menguras tenaga, cukup lama mereka tak mengeluarkan suara, hanya perasaan damai yang kini meliputi keduanya. "Aku mau ke Singkawang, No". "Kapan?" "Minggu depan, aku mau ambil cuti". "Berapa lama? kau kembali kan?" Ara tersenyum mendengar nada cemas di suara pria itu. "Kalaupun aku mau menghilang lagi, kau bisa menggunakan satelit untuk melacakku, hatimu tertinggal di dalam sini kan?" Ara mengambil tangan Nino dan membawanya ke d**a, tempat dimana tak hanya jantungnya saja berada tapi juga jantung Kivlan Nino. Nino tertawa kecil "tapi hatiku tak terpasang GPS, Ra" mereka tertawa bersama-sama. "Aku takkan mengambil tawaran minggu besok, ak

